Pesta Rakyat Kecamatan Punggelan

Punggelan, salah satu kecamatan terluas dan berada pada daerah yang berbukit-bukit di kabupaten Banjarnegara ini sedang punya hajatan besar.

Saya tidak tahu persis asal mula kecamatan ini disebut kecamatan Punggelan. Tidak ada bukti sejarah ataupun cerita dari mulut ke mulut yang bisa menjelaskan arti kata Punggelan. Namun kalau boleh diartikan secara bebas, mungkin kata Punggelan berawal dari kata dasar punggel  yang artinya terbelah atau jika mendapat imbuhan –an artinya kurang lebih menjadi wilayah yang terbelah.

Selain itu saya juga tidak tahu tahun kelahiran dari kecamatan Punggelan. Mungkin saat itu penamaan tahun lahir masih kurang begitu penting karena harus bermain kucing-kucingan dengan para penjajah Belanda.

Hari ini, Sabtu, 20 Februari 2016 merupakan hari bersejarah untuk kecamatan Punggelan. Lokasi kantor pada jaman dahulu dinamakan Tri Tunggal karena kecamatan yang lama berada di dusun Ribug-berbatasan dengan tiga desa yaitu : Punggelan, Badakarya, dan Sidarata. Lokasinya persis di pertigaan jalan raya yang menghubungkan tiga desa tadi.

Sejarah mencatat sejak awal berdirinya Kecamatan Punggelan ini, lokasinya sudah berpindah tempat beberapa kali. Mulai dari rumah warga hingga kini berdiri di tanah hasil swadaya sumbangan masyarakat pada jaman dahulu.

Kecamatan Punggelan sendiri sudah ada sebelum masa kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Saat itu kecamatan Punggelan masih bergabung dengan Kawedanan Wanadadi yang lokasinya di seberang sungai Pekacangan.

Saat itu peran kantor kecamatan sendiri masih sebagai tempat urun rembug para warga pribumi untuk menyampaikan aspirasi dan perjuangan membela tanah air. Namun karena wilayah Banjarnegara sendiri terbagi atas Wilayah Indonesia dan Wilayah Hindia-Belanda, maka peran penjajah Belanda saat itu masih mendominasi.

Sampai sekarang batas wilayah Indonesia-Hindia-Belanda masih bisa disaksikan melalui tugu batas wilayah yang berada di kecamatan Purwareja-Klampok. Karena batas wilayah itu membelah kabupaten Banjarnegara dari ujung timur hingga barat maka berimbas pada sebagian wilayah kecamatan Punggelan sebagian ada yang masuk wilayah jajahan Hindia-Belanda.

***

Salah satu bangunan sekolah peninggalan Hindia-Belanda masih bisa disaksikan keberadaannya di desa Kecepit-Punggelan. Sekarang ini bangunan bersejarah tersebut menjadi gedung sekolah SDN 1 Kecepit. Dari total gedung peninggalan Hindia-Belanda itu sekarang tinggal tersisa tiga unit gedung yang digunakan sebagai ruang kelas.

Arsitektur khas percampuran budaya Hindia-Belanda dengan Indonesia masih bisa dilihat dengan tampilan jendela-jendela bukaan pada bagian depan yang besar dan panjang-panjang. Untuk ukuran gedung di sekitar desa Kecepit, bisa dibilang gedung ini berukuran jangkung dengan sirkulasi udara yang bisa bebas keluar-masuk.

Tembok-tembok tebal nan kuat masih bisa dinikmati hingga sekarang ini. Bentuk atap khas limasan dengan genteng tebal jaman dahulu. Untuk pintu dan daun pintu serta jendela masih berupa peninggalan jaman dahulu.

Lantai di dalam gedung ini berupa lantai tegel atau ‘tehel dalam bahasa Banyumasan. Plafonnya berupa anyaman bambu yang dibuat sedemikian rupa dengan lapisan kapur putih sebagai catnya atau disebut ‘labur.

Untuk meja-kursi terbuat dari kayu jati keras. Tak heran hingga kini masih awet bertahan dimakan usia. Bentuk mejanya sendiri sangat khas dengan tampilan meja yang tidak rata namun dibuat miring serta di bawahnya terdapat laci untuk menyimpan tas dan peralatan sekolah. Kursinya pun menjadi satu seperangkat dengan meja tadi, persis seperti kursi-kursi yang berada pada gereja-gereja tua di Indonesia.

Bentuk bangunan tadi mengingatkan saya dengan sekolah SMKN N 1 Bawang yang pada jaman dahulu disebut SMEA. Bangunannya pun sama persis dengan bangunan SDN 1 Kecepit tadi. Beruntung saat itu saya masih bisa menikmati peninggalan bersejarah tersebut beserta bangku dan mejanya. Sayang, kini bangunan bersejarah di SMKN 1 Bawang tersebut telah diubah menjadi gedung bertingkat modern. Semua bentuk khas gedung jaman dahulu tersebut telah hilang.

***

Karena seiring dengan kebutuhan pelayanan kepada masyarakat yang semakin berkembang, maka kantor kecamatan Punggelan diusulkan berpindah dari dusun Ribug ke dusun Punggelan sendiri yang notabene dijadikan nama kecamatan.

Lokasinya berada di belakang, sebelah timur pertigaan Pasar Manis Punggelan. Satu komplek dengan Kantor DINDIKPORA, KUD Hikmat Punggelan dan Pasar Manis Punggelan yang berada pada bagian selatan. Serta SMPN 1 Punggelan, Puskesmas Punggelan 1 pada bagian barat.

Sementara itu lokasi kantor kecamatan yang baru berada di ujung utara SMPN 1 Punggelan dan bersebelahan dengan Kantor Kepala Desa Punggelan. Di depan kantor Kecamatan Punggelan yang baru ini terdapat sebuah lapangan besar semacam alun-alunnya kecamatan Punggelan.

Gedung yang baru ini terdiri atas tiga dua bangunan utama dan sebuah Pendopo tertutup. Dulunya ini merupakan bekas perkebunan tebu milik pemerintah desa setempat. Semoga dengan adanya gedung baru ini bisa semakin menambah semangat dalam meningkatkan pelayanan kepada masyarakat Punggelan.

***

Untuk mengiringi prosesi perpindahan kecamatan ini, panitia telah mempersiapkan beberapa acara diantaranya adalah :

  1. Arak-arakan dari perwakilan perangkat desa se kecamatan Punggelan dan juga dari dinas setempat plus karyawan kecamatan Punggelan dari dusun Ribug ke desa Punggelan dengan menggunakan pakaian adat Jawa lengkap.
  2. Gebyar hiburan musik dangdut yang digelar di atas mobil peti kemas terbuka yang disulap menjadi panggung berjalan.
  3. Hiburan musik dangdut, menyambut peserta arak-arakan yang berlokasi di lapangan desa Punggelan.
  4. Serah terima, pemotongan tumpeng dan peresmian gedung kecamatan yang baru oleh Bupati Banjarnegara, Ketua DPRD Banjarnegara dan juga Wakil ketua DPR RI.
  5. Hiburan kesenian tradisional dari unsur perwakilan tiap sekolah-sekolah yang ada di kecamatan Punggelan.
  6. Hiburan wayang kulit semalam suntuk dengan dalang muda dari Notog-Banyumas yaitu cucu dari almarhum dalang senior Sugino Siswocarito tak lain dan tak bukan adalah Yakut AGN.

***

Malam itu hujan rintik-rintik menemani rangkaian acara peresmian kantor kecamatan yang baru. Begitu pula menjelang malam pagelaran wayang kulit semalam suntuk ini.

IMG_20160220_120156

Sebuah tenda megah telah berdiri untuk pagelaran wayang kulit semalam suntuk

Awalnya saya tidak niat sama sekali untuk ikut menyaksikan pertunjukan wayang tersebut. Pagi hingga sorenya saya sudah terkuras tenaganya karena rutinitas kerja. Namun tak dinyana, antusias warga Punggelan untuk turut menyaksikan pagelaran wayang ini begitu besar. Dari ujung desa hingga ke desa tetangga, semua tumplek-plek menjadi satu.

Lokasi parkir yang dipusatkan di lapangan desa Punggelan pun banyak menampung kendaraan bermotor saat itu. Pedagang makanan, jajanan hingga mainan satu persatu menggelar lapak dagangannya dan mendirikan tenda sederhana yang terbuat dari terpal.

Sungguh suasananya melebihi sebuah pasar malam. Maklum, kami tinggal di daerah terpencil dan jarang sekali ada hiburan yang banyak menyedot penonton seperti ini.

Satu persatu orang-orang pun berdatangan. Suasana makin ramai, pedagang laku keras dan semua bisa tersenyum bahagia.

Jalanan sempit yang membelah perkebunan tebu ini kini penuh sesak dengan lautan manusia. Tua-muda besar-kecil semua bercampur menjadi satu.

Masih teringat jelas, terakhir menyaksikan pagelaran wayang kulit saat ada prosesi Ruwatan Bumi yang digelar beberapa bulan lalu di pendopo kantor kepala desa Punggelan. Memang saat itu tidak terlalu ramai oleh pengunjung karena sejak pagi hingga malam, desa Punggelan diguyur hujan lebat. Namun saya masih bisa menikmati pagelaran wayang kulit tersebut hingga pukul 1 malam.

Mengapa saya selalu bersemangat ketika ada pagelaran wayang kulit? Alasannya sederhana, karena hanya dengan menonton pagelaran wayang kulitlah semua penonton bisa teratur duduk dimana saja tanpa perlu was-was bakalan terjadi kerusuhan karena saling senggol. Bukan bermaksud menyudutkan pertunjukan dangdut, namun kenyataannya begitu.

Kita bisa lebih fokus menikmati pagelaran wayang kulit dengan suasana tenang dari penonton. Selain itu juga bisa sekalian bernostalgia mengenang masa-masa kecil pada jaman dahulu. Ya hanya karena alasan itulah mengapa saya begitu bersemangat, tentu jika lokasinya tidak jauh dari rumah.

***

Sebuah tenda berukuran raksasa nan megah berdiri persis di depan halaman kantor kecamatan. Tiang-tiang penyangga tenda begitu gagah dengan balutan kain berwarna kuning menyala. Kursi-kursi plastik tertata rapi hingga berjumlah ratusan. Pencahayaan pun dibuat sangat terang. Sungguh sepertinya panitia sudah benar-benar menyiapkan pagelaran wayang kulit malam ini dengan sungguh-sungguh.

Dekorasi cantik bak acara pernikahan pun terpasang menutupi langit-langit tenda dengan guratan kain khas aneka bentuk dan warna. Sound system berkualitas mumpuni terpasang pada bagian samping kanan dan kiri tenda raksasa ini. Sementara itu di ujung sana terdapat sebuah panggung megah dengan kelir berwarna emas dan berhiaskan ukiran khas jawa yang tertata rapi.

Deretan wayang beraneka bentuk terjejer rapi pada bagian kanan-kiri. Masing-masing tertancap kuat di atas bongkahan pelepah pohon pisang berukuran besar. Seperangkat gamelan dan para penabuh tertata rapi di belakangnya. Barisan sinden berbusana kebaya warna oranye dan bersanggul nan cantik dan masih muda duduk manis berada di sisi kanan sang dalang yang hendak beraksi.

Yang membuat saya dan penonton terkejut adalah sosok dalang yang masih berusia muda, lebih tepatnya berusia 23 tahun. Dengan perawakan tinggi kurus, berbusana pria jawa lengkap,kulit putih dan rambut panjang di balik blangkon sungguh membuat orang penasaran siapa gerangan ia?

Ia bernama Yakut Aghib Ganta Nuraidin, pemuda asli kelahiran Notog-Banyumas yang kurang lebih berusia 23 tahun dan masih tercatat sebagai mahasiswa jurusan ilmu komunikasi di Universitas Jenderal Soedirman.

Siapa sangka pemuda ini adalah seorang dalang muda. Orang akan kaget ketika melihat kesehariannya yang terlihat stylish seperti mahasiswa pada umumnya. Bahkan sebuah mobil pribadi berwarna hijau yang selalu menemaninya saat pentas seakan menjadi bukti bahwa dengan menekuni dunia perwayangan, ia bisa hidup berkecukupan.

Memang, salah satu yang menjadi ciri khasnya saat pentas adalah pagelaran wayang yang meriah, sedikit berimprovisasi tanpa meninggalkan pakem dunia perwayangan.

Yang lebih membuat pentasnya semarak adalah penggunaan cahaya laser warna-warni serta kepulan asap buatan setiap adegan peperangan dilakonkan. Iringan gamelannya pun dibuat berbeda dengan ditambahkannya organ tunggal, bass yang menggelegar dan juga gitar.

Bahkan rata-rata sinden yang ia bawa ikut serta saat pentas juga masih berstatus mahasiswi di perguruan tinggi ternama di Jawa Tengah. Bahkan salah satu sindennya adalah lulusan ISI Jogjakarta. Sementara sinden yang lainnya adalah kekasih dari sang dalang sendiri. Tentu penampilan mereka sedap dipandang karena masih muda-muda dan tau cara berdandan saat pentas.

Dari cerita yang ia tuturkan saat pagelaran berlangsung. Sang dalang juga pernah mencicipi pagelaran wayang kulit di luar negeri. Wah..saya pun sampai terkagum-kagum dengan prestasi yang telah ia raih.

Mungkin darah seni khususnya seni mendalang sudah mengalir kuat karena ia merupakan cucu dari dalang senior terkenal dari Banyumas yaitu Ki Dalang Sugino Siswocarito. Intinya saya sangat salut sekali dengan pilihan profesinya yang terbilang langka untuk jaman sekarang ini.

***

Sinar bulan malam itu terlihat menyembul di atas langit gedung kantor kecamatan yang baru ini. Sangat kontras dengan kondisi langit beberapa jam lalu yang begitu mendung bahkan sempat hujan gerimis.

Kepulan asap rokok dari para penonton yang terlihat asyik menikmati pagelaran wayang ini semakin pekat saja. Semua orang terlihat anteng menyaksikan dengan seksama sambil duduk-duduk santai di atas rerumputan.

Saya pun memutuskan maju ke area tenda utama yang telah tersedia beberapa kursi kosong yang disediakan khusus bagi para penonton malam itu.

Lakon yang dipentaskan malam itu adalah “Gatotkaca Ratu Pringgondani”. Menceritakan perjuangan sang ratu yang baru saja naik tahta dan ditentang oleh anggota keluarganya yang iri terhadapnya. Pertarungan sengit pun berlangsung sejak babak awal lakon ini dimainkan.

Dari bocoran yang saya dengar, sang dalam memang mendapat permintaan khusus dari panitia untuk mementaskan lakon wayang lain dari yang lain. Biasanya sebuah pagelaran wayang dimulai dengan adegan monolog yang lumayan lama namun kali ini langsung dimainkan adegan peperangan. Hmmm semoga ini tidak menyalahi pakem namun semua penonton yang menyaksikan saat itu terlihat sangat antusias dan bersemangat. Bukti dari antusias tersebut adalah, penonton tidak beranjak dari tempat duduk mereka masing-masing hingga hampir pukul 2 pagi.

Di sela-sela pagelaran wayang juga disuguhkan hiburan campursari dari paras sinden yang terlihat anggun malam itu. Saya pun bertahan hingga pukul dua lebih dini hari. Aslinya masih penasaran dengan kelanjutan ceritanya namun rasa kantuk sudah tidak tertahankan.

Sungguh ini benar-benar pesta rakyat yang sederhana namun tetap berkesan. Saya sangat mengapresiasi panitia yang lebih mengedepankan hiburan untuk rakyat yang kini sangat jarang sekali diadakan. Semoga dengan diresmikannya kantor kecamatan yang baru ini, seluruh warga masyarakat dapat menikmati layanan yang maksimal.

Salam…

Advertisements

11 thoughts on “Pesta Rakyat Kecamatan Punggelan

  1. Jejak Parmantos

    Mantab… didaerah saya kalo wayangan masih menganut aliran konservatif. Kalau nanggap biasanya dalang yang sudah bapak2 dengan jam terbang tinggi… lebih gayeng terutama saat adegan goro2 😀

    Liked by 1 person

    Reply
  2. Pingback: Pecel Punya Cerita | NDAYENG

  3. hamzah

    Kepada jajaran pemerintah daerah banjarnegara,,informasi Akses jalan dari kalibening menuju dusun pingit lor mohon di perbaiki,,terima kasih.

    Liked by 1 person

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      Hampir semuanya di daerah Banjarnegara jalannya hancur parah. Bahkan kemarin dua hari angkutan mikro bus jurusan Banjarnegara-Punggelan mogok total. Hari ini beberpa jalan raya ditanami pohon pisang sebagai bentuk protes terhadap pemerintah. Kami juga iri karena kab. tetangga (Purbalingga) yang notabene bersebelahan kondisinya berbanding terbalik, jalannya mulus hingga ke pelosok2.

      Like

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s