Tak Berjalan Mulus

Sekujur tubuh ini sudah berbau belerang semua. Asap pekat tipis berwarna kekuningan itu, sesekali masih beterbangan.

Wedwi, Atun dan Indah masih asik berpose begini-begitu. Pemandangan berbeda terjadi pada saya. Langkah kaki yang sedikit ngilu pada bagian samping-belakang lutut makin terasa ketika kaki ini baru saja melangkah turun.

Saya pun meraih sebuah bilah cabang kayu yang teronggok di depan sana. Seharusnya perjalanan menuruni jalan ini bisa sangat mudah dilakukan karena terbantu gaya gravitasi.

Kali ini perjalanan pulang terasa berbeda untuk saya pribadi. Sungguh lutut ini akan terasa sangat sakit dan nyeri saat saya mencoba menekuknya.

Sial!

“Perjalanan pulang menuju pos tiga ini bakalan memakan waktu lama dan penuh derita” gerutu saya dalam hati.

Saya sengaja berjalan sendirian mendahului tiga orang tadi yang masih berada di puncak, alasannya adalah agar saya tidak tertinggal rombongan karena jalan saya yang sangat pelan-persis seperti orang tua jompo. Dengan terseok-seok, langkah demi langkah kecil saya lalui dengan penuh sabar dan menahan rasa sakit. Tujuannya sudah jelas, supaya rasa sakit ini tidak semakin parah karena perjalanan pulang masih begitu jauh.

Apa yang saya takutkan pun menjadi kenyataan. Awalnya lutut ini masih bisa ditekuk walaupun harus secara perlahan tapi kali ini sudah tidak bisa lagi. Saya harus rela berjalan bak robot dengan lutut yang harus sejajar tegak saat turun. Bisa dibayangkan bagaimana rasanya berjalan seperti itu tiga jam lebih ke depan.

IMG_20160125_072615

Pemandangan gunung Sumbing inilah yang menjadi penyemangat kami menuruni jalan setapak sambil menahan rasa sakit

Tiga orang tadi pun kini sudah berada persis berjalan turun bersama dengan saya. Mereka pun bertanya.

“Ada apa dengak kakimu?”

“Ini lutut bagian samping dan belakang terasa nyeri saat ditekuk” Jawab saya sambil meringis menahan sakit.

“Oh gitu, mungkin kram atau terlalu capek”

“Mungkin saja” Jawab saya dengan nada datar.

Pelan tapi pasti mereka sudah berjalan mulus meninggalkan saya seorang diri bak orang tua jompo.

“Ya Tuhan, kenapa harus saat ini sakitnya?”

“Kenapa tadi saat berangkat masih kuat dan tidak merasakan sakit sama sekali?”

“Rasanya saya agak menyesal, seandainya tetap ikut rombongan orang kantor ikut acara perpisahan di Dieng, tentu saya tidak begini nasibnya”

”Astaghfirulloh hal’adzim, apa yang ada di pikiran saya saat ini?, kenapa begitu takabur?”

”Saya harus kuat, bagaimanapun caranya”. Toh cuma lutut yang sakit, padahal tenggorokan sudah beberapa jam tidak terbasahi oleh air, bahkan sedari tadi hanya sempat makan sepotong coklat tapi tenaga masih sangat kuat”

Ajaibnya adalah saya tidak merasa kelelahan atau lemas sama sekali, padahal teman-teman saat mendaki beberapa saat lalu sudah merasa letih dan hilang tenaga.

“Oke..saya tidak boleh menyerah, saya tidak mau pulang tinggal nama, apalagi sampai menyusahkan orang lain”.

Satu persatu bebatuan-bebatuan ini menjadi pijakan kaki sambil bertumpu pada bilah cabang kayu yang dijadikan tongkat menjadi penopang tubuh. Kurang konsentrasi sedikit, saya bisa terpeleset dan terperosok ke jurang sana.

Sesekali beristirahat sebentar sambil mengendorkan otot kaki. Hanya semilir angin dan rerumputan kering yang menjadi teman setia saya hingga detik ini. Lupakan tawa canda dan kebersamaan yang semu itu. Tidak ada orang yang peduli dengan penderitaan saya saat ini. Semua sibuk dengan ego masing-masing untuk cepat sampai ke tenda masing-masing.

IMG_20160124_155700

Terkadang kabut bisa tiba-tiba datang saat kami hendak turun

Saya mengeluarkan satu strip obat asam mefenamat, dan sebuah balsem anti nyeri. Namun obat tadi saya urungkan untuk diminum, mau bagaimana cara meminumnya? lha air saja tidak ada. Saya lebih memilih mengoleskan banyak-banyak balsem sambil sesekali saya urut sendiri secara perlahan. Biarlah panas kulit ini asalkan rasa nyeri bisa sedikit hilang, minimal sampai pos tiga nanti.

Ada beberapa jalan setapak yang sangat curam. Untuk dalam kondisi normal saja seseorang harus merangkak secara perlahan apalagi untuk saya yang sedang cedera saat ini? Saya memilih untuk menyeret bokong sebagai cara untuk mengerem tekanan gaya gravitasi yang begitu kuat. Sementara itu tangan kanan dan kiri berpegangan pada rerumputan liar yang tumbuh di kanan-kiri jalan ini. Mulut masih komat-kamit membaca doa-doa dan memasrahkan diri pada sang pencipta.

Titik jenuh pun datang saat lokasi pos tiga tidak kunjung terlihat, padahal saya merasa sudah menuruni jalanan ini begitu lama.

Apa saya harus mati konyol di sini seorang diri dan dimakan binatang buas? Atau ditemukan terbujur kaku di antara semak belukar oleh tim SAR? Ya Allah, pikiran buruk macam apa ini yang tiba-tiba datang?.

Sepertinya Tuhan menjawab doa kecil saya dalam hati atau Tuhan tidak tega dengan kondisi saya saat ini. Entah kebetulan atau tidak, Tuhan mengirim sesosok malaikat dalam wujud manusia yang sama-sama sedang cedera lutut.

“Oh..ya Tuhan..terima kasih atas petunjukMu ini”.

Orang yang saya maksud tadi adalah seorang lelaki Sunda, saya lupa menanyakan namanya tapi lebih enak dipanggil Ujang saja. Usut punya usut, ternyata si Ujang ini adalah rekan pendaki yang mendirikan tenda persis di depan tenda kami di pos tiga. Kebetulan yang begitu dekat.

“Permisi,mas…apa mas juga cedera seperti saya?” Tanya saya basa-basi, padahal senang karena punya teman yang senasib seperti saya.

“Lha, mas kok tahu?” Jawa si Ujang dengan heran.

“Ya tau lah mas, kan mas ini pakai tongkat saat berjalan turun dan dari langkahnya terlihat sedang menahan sakit” Jawab saya dengan mantap.

Begitulah, berawal dari basa-basi akhirnya kami bercerita satu sama lain mengenai cedera lutut yang kebetulan sama persis pada bagian lutut kanan. Selain itu kami juga berbincang-bincang mengenai aktivitas pendakian yang pernah dilakukan hingga kosakata lucu dalam bahasa masing-masing (Jawa-Sunda).

Berbekal obrolan itulah saya baru tau kalau rombongan si Ujang ini berasal dari Tasikmalaya-Jabar dan sedang punya misi menggapai puncak tiga gunung di Jawa Tengah yaitu, Gunung Sumbing, Sindoro dan Slamet.

Perlahan tapi pasti, perjalanan yang awalnya sangat lambat, sakit, sepi dan membosankan berubah menjadi perjalanan pulang yang menarik karena merasa senasib dan sepenanggungan.

Saya berinisiatif menawarkan obat penghilang nyeri dan balsem yang sedari tadi tersimpan di dalam saku celana. Dengan senang hati, si Ujang menerima tawaran bantuan saya dengan gembira. Sebagai rasa terimakasih, ia memberikan sebagian air minum yang berada dalam botolnya. Alhamdulillah..tidak ada yang sia-sia saat kita menolong orang lain yang sedang kesusahan. Ya hanya beberapa teguk air minum namun sangat berarti dalam kondisi seperti ini.

Kami pun berjalan pelan-pelan sambil sesekali berpapasan dengan pendaki yang hendak menuju puncak.

Dalam hati, saya berpikir “padahal hari makin siang dan hampir jam dua belas, tapi kok masih ada saja pendaki yang nekat mendekati puncak Sindoro di atas sana?”

Ah biarlah mereka menanggung resiko masing-masing, toh pihak yang berwenang sudah mengingatkan sering kali sebelum pendakian dimulai.

Dari cerita si Ujang lah saya baru tahu kalau ia sudah hampir menamatkan seluruh gunung-gunung yang ada di Jawa Tengah. Dan berita sedihnya adalah tinggal gunung Slamet saja yang belum didaki, namun karena cedera lutut yang dideritanya sepertinya niat itu akan diurungkan. Sedih….

Saya sudah lupa dengan rombongan teman pendaki yang sejak awal selalu bersama-sama. Mungkin mereka sedang leyeh-leyeh sambil menikmati mie instant hangat di dalam tenda. Ah sudahlah…toh yang peduli pada diri sendiri siapa lagi kalau bukan kita sendiri.

Dari kejauhan titik-titik tenda berwarna-warni mulai terlihat samar-samar. Mungkin tinggal setengah jam lagi kami bakal sampai ke pos tiga dan mengakhiri penderitaan ini. Untunglah..lagi-lagi cuaca sangat bersahabat. Tidak bisa dibayangkan jika terjadi hujan badai, mungkin kami akan mati karena kelaparan dan hipotermia.

Nyeri lutut makin menjadi-jadi dan hampir mendekati kram. Sabar..tinggal beberapa puluh meter lagi bakalan sampai. Dengan sisa semangat terakhir, saya terus berusaha kuat mental untuk tidak menyerah hingga titik-titik berwarna itu.

IMG_20160124_162208

Satu persatu para pendaki berkemas dan hendak turun gunung

Allahuakbar….saya pun berteriak lagi, kali ini di dalam hati. Sungguh ini seperti flashback kejadian saat beberapa jam lalu sampai di puncak Sindoro. Menakjubkan. Sungguh tidak bisa dipercaya, kalau saya sampai pos tiga dengan selamat. Kami pun tersenyum dan bersyukur. Si Ujang terlihat bahagia karena penderitaannya pun berakhir, setidaknya sampai di pos tiga ini.

Setelah berganti pakaian, saya bergegas menuju ke sebuah gubuk milik dua orang penduduk sekitar yang mendapat tugas berjaga saat ada pendakian dan menginap berhari-hari di pos tiga ini. Tadi saya diberitahu oleh si Ujang kalau si bapak tadi bisa mengurut jika ada yang terkena cedera atau keseleo. Saya menunggu antrian bergantian dengan Ujang yang terlebih dahulu menikmati pijatan tradisional dari si bapak tadi.

Giliran saya pun tiba. Langsung saja saya menjelaskan kejadian cedera yang dialami persis seperti kondisi si Ujang, jadi si bapak langsung paham bagian mana yang harus dipijat dan diurut. Si bapak pun sambil bercerita jika beberapa waktu lalu ada seorang mahasiswa dari universitas di Jogjakarta yang meninggal dunia karena terjebak kabut dan terperosok ke dalam jurang. Evakuasi berlangsung lama dan melibatkan banyak tim SAR. Si mahasiswa naas itu terpisah dari rombongan karena berjalan sendirian dan terjebak kabut hingga tersesat.

Saya merinding mendengar kisah yang dituturkan si bapak tadi. Syukurlah..tak henti-hentinya saya mengucap syukur pada Tuhan. Saya masih diberi kesempatan untuk hidup. Yang lebih membuat saya semakin mengucap syukur, si bapak tadi tidak mau menerima imbalan uang yang saya berikan. Padahal sudah dipaksa namun tetap menolak. Saya pun tidak menyerah dan mencari cara, akhirnya saya punya ide untuk membeli sebotol besar air yang dijual si bapak tadi. Harganya sepuluh ribu rupiah, saya meninggalkan uang dua puluh ribu rupiah dan langsung melengos pergi. Maksud saya adalah agar uang kembaliannya tidak usah saya terima, eh malah si bapak tadi tetap memaksa mengembalikan.

“Mas..ini sudah jadi tugas saya, jadi nggak usah pakai uang atau imbalan, biarlah Tuhan yang membalas” Sanggah si bapak tadi

Saya pun menyerah. Dan sekali lagi mengucap terimakasih.

Ajaib..lutut kanan saya perlahan hilang rasa nyerinya. Minimal bisa dipakai berjalan hingga base camp nanti.

Semangkok mie instant sudah tersaji. Dengan lahap saya menyantapnya, dilanjutkan dengan berkemas-kemas tenda dan barang bawaan. Kami akan segera turun gunung sebelum hari semakin gelap.

O ya ternyata ada yang masih tertinggal di belakang sana. Yuni namanya. Ia tadi tidak sempat sampai ke puncak karena cedera. Ia terlihat turun dari jalan setapak mendekati tenda dengan langkah pincang dan sambil menangis tersedu-sedu. “Kok tadi saya tidak lihat dia ya?” batin saya dalam hati.

Usut punya usut, jempol kakinya bengkak dan melepuh. Sambil terisak, ia duduk sendirian. Tidak ada seorang pun yang peduli. Saya pun mendekatinya karena tidak tega dan sedikit tau rasanya gimana terabaikan saat sedang sakit seperti tadi. Peralatan P3K yang saya bawa, saya keluarkan dari dalam tas dan langsung merawat sebisanya lecet dan bengkak yang ia derita.

Singkat cerita, dengan Yuni lah saya turun gunung berdua-mendahului yang lain karena takut tertinggal jika turun secara bersama-sama. Dengan langkah yang super pelan karena cedera, kami berjalan menuruni jengkal demi jengkal jalan setapak mulai dari berbatu hingga tanah liat licin. Gerimis rintik-rintik menemani perjalanan kami dari pos tiga-pos dua-hingga pos satu.

IMG_20160125_152940

Rombongan di belakang kami saat melewati hutan yang basah karena hujan

Kami pun berbagi bekal minum yang tadi saya beli dari si bapak yang memijat saya saat di pos tiga. Pelan tapi pasti, kami sampai di pos satu. Beberapa tukang ojek sudah siaga di sana. Kami pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Kami masing-masing naik ojek hingga base camp di Kledung dengan membayar Rp 15,000-.

Kami menjadi orang pertama dari rombongan tadi yang sampai di base camp. Alhamdulillah. Setelah mengisi perut di warung, mandi dan sholat  saya pamit dengan teman-teman yang sudah kumpul semua di base camp.

Sekitar pukul 18.15 malam saya pulang ke Banjarnegara menggunakan bis jurusan Semarang-Purwokerto. Di terminal proyek mrican sudah menunggu ‘uwa saya yang siap menjemput hingga sampai rumah.

Pukul 22.00 malal, saya sampai rumah dengan selamat. Kaki makin sulit digerakan karena kini dua-duanya cedera. Tapi tidak masalah karena saya sudah bisa tidur santai di kasur empuk ini. Sementara itu saya bertanya melalui aplikasi chat BBM pada Wedwi dan ia masih terjebak di jalan karena salah satu motornya mogok. Antara mau tertawa dan prihatin campur aduk jadi satu. Mungkin biar mereka bisa merasakan apa yang saya rasakan saat kesusahan.

Entahlah….sejatinya mendaki gunung adalah pelajaran mental, fisik, rasa peka, saling peduli, sabar dan pasrah. Mungkin ini bisa menjadi pelajaran bagi diri saya pribadi dan juga bisa untuk orang lain.

Selesai….

Advertisements

10 thoughts on “Tak Berjalan Mulus

  1. ardiologi

    sifat aslinya pada ketauan tuh.hehe

    analisis saya sih sakit di salah satu lutut karena lutut itu dominan jadi tumpuan beban ketika naik, biasanya bisa sedikit reda dengan counterpain atau krim nyeri otot sejenis 🙂

    tapi beruntung bisa ada tukang urut di atas, pasti berjasa banget tuh

    Liked by 1 person

    Reply
  2. Hendi Setiyanto Post author

    Bener banget, mana teman mana bukan saat krisis begini ketahuan banget.
    Kata pendaki lain sih begitu, mungkin karena kaget juga, untungnya ketemu yang senasib waktu itu hehehe

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s