Menggapai Puncak Sindoro

Suara adzan subuh samar-samar masih terdengar dari kejauhan. Hawa dingin masih bisa menembus dari sela-sela tenda ini. Perut saya sudah mulai berkontraksi, pertanda panggilan alam harus segera ditunaikan. Celotehan bahasa sunda samar-samar terdengar dari tenda yang berada di depan kami.

Saya bergegas bangun. Mata masih sulit untuk dibuka, namun saya paksa terus pagi itu. Satu persatu benda-benda yang membuat badan ini lumayan hangat, saya tanggalkan. Sleeping bag, sarung, saya lepas. Sejurus kemudian, saya sudah berada di luar tenda-melangkahi dua teman saya yang terlihat masih pulas menikmati tidur.

Langit masih begitu gelap pagi itu. Dari kejauhan, titik-titik cahaya masih terlihat berkerumun bak kunang-kunang. Semilir angin dari lembah sana masih begitu kencang hingga tempat kami mendirikan tenda.

Saya memandang ke depan. Beberapa pendaki yang sedari tadi berceloteh dalam bahasa sunda, sudah terlihat siap sedia meneruskan perjalanan menikmati matahari terbit dari puncak Sindoro. Jaket parasut, head lamp, dan tas ransel kecil sudah menempel pada tubuh mereka masing-masing. Entahlah..saya malah masih bermalas-malasan duduk di atas rumput menikmati dinginnya pagi seorang diri.

Hampir lima belas menit lebih-saya masih belum beranjak dari sini. Sementara itu terlihat Wedwi keluar dari tenda. Teman-teman yang dalam tenda lain pun satu persatu bangun dan berjalan lesu keluar dari tendanya masing-masing.

Rasa mulas dari perut ini makin kuat. Dengan berbekal senter dan beberapa lembar tissue, saya melangkah cepat menuju semak-semak yang lumayan tinggi di ujung sana-jauh dari lokasi tempat mendirikan tenda. Jangan tanya-apa yang saya perbuat. Lega….

Langit berwarna orange dan kemerahan-menyembul-mengintip dari balik barisan pegunungan nun jauh di sana. Di tenda sebelah sudah terlihat ramai dengan teman-teman yang sedang merebus air untuk membuat kopi panas. Saya enggan bergabung. Saya masih asik sendiri menikmati fenomena saat pagi hari tiba ini.

IMG_20160125_053907

Menikmati langit oranye dari balik ranting-ranting kering

Sedianya kami akan menikmati matahari terbit dari puncak Sindoro, namun rencana tinggal rencana. Mayoritas dari kami masih sulit bangun pagi. Padahal untuk bisa menikmati matahari terbit, kami harus bangun pagi-pagi sekali dan memulai pendakian ke puncak dalam kondisi masih super gelap. Waktu yang ditempuh bisa lebih dari tiga jam. Ya..itu kenyataan yang saya dapat setelah mencoba langsung. Perkiraan awal, mungkin hanya sejam atau lebih. Tapi itu sungguh jauh berbeda.

Secangkir teh panas sudah tersaji di depan saya. Siapa yang membuatkan? Tentu saya sendiri, lha siapa lagi?. Karena saya termasuk tipe orang yang mudah lapar, maka saya berinisiatif untuk sesegera mungkin sarapan seadanya untuk bekal mendaki nanti. Dua bungkus mie goreng instant sudah saya siapkan disaat teman-teman yang lain masih menikmati minuman hangatnya masing-masing.

Karena dua bungkus mie goreng instant itu porsinya cukup banyak, maka saya membagi sarapan pagi itu dengan Wedwi. Hanya kami berdua yang terlihat sarapan yang lumayan berat pagi itu. Sarapan sederhana itu ditemani dengan matahari terbit dari ujung timur sana. Ya..kami akhirnya menikmati matahari terbit dari pos tiga ini. Berubah dari rencana sebelumnya yang sedianya akan dilihat dari puncak Sindoro.

IMG_20160125_051829

Pemandangan pagi hari dari pos 3

Entah apa yang ada dalam pikiran saya saat itu. Memulai lagi perjalanan yang jelas-jelas harus merangkak karena kemiringan tanah yang begitu curam, namun hanya berbekal sebotol air mineral ukuran kurang dari satu liter, sebungkus cokelat, asam mefenamat, sirup anti masuk angin dan sebuah balsem anti nyeri. Saya sama sekali tidak kepikiran untuk membawa tas ransel kecil saat mendaki ke puncak. Kami hanya saling mengandalkan urusan air minum satu sama lainnya, padahal jumlah kami sebelas orang dan ternyata air yang dibawa hanya satu liter saja…ya satu liter untuk sebelas orang plus sebotol kecil air minum bekal saya tadi.

Perjalanan yang dikira sebelumnya berjarak begitu dekat namun ternyata sebaliknya. Jalanan setapak penuh batu dan curam begitu menanjak hingga terkadang kami harus merangkak pelan melewati bebatuan tadi sebagai pijakan kaki.

IMG_20160125_060059

Perjalanan menuju kawah dengan angin yang lumayan kencang

Lupakan kekompakan dan kebersamaan…sifat egois dari kami perlahan nampak saat pendakian ke puncak Sindoro. Begitu juga saya yang amatiran ini. Memang benar kalau ada kalimat yang mengatakan:

Jika ingin mengetahui sifat asli seseorang, cobalah mendaki gunung secara bersama, maka akan muncul sifat asli seseorang tadi”

Begitulah kurang lebih kalimat tersebut.

Setengah jam pertama, kami masih bisa berhaha-hihi bersama-sama. Jalanan yang sulit dan menanjak tadi seakan bukan suatu masalah. Kencangnya angin pegunungan mengiringi langkah kami setapak demi setapak menginjak bebatuan yang menjadi pijakan kami.

Vegetasi tanaman mendekati puncak sindoro terlihat begitu gersang, padahal sekarang sudah memasuki musim penghujan. Ya sekarang saya sudah memasuki kawasan hutan mati. Mungkin wajar jika mendekati bibir kawah, tanaman semakin gundul karena hawa panas dan bau belerang yang menusuk. Tapi ini masih jauh dari puncak sana. Masih terlihat jelas sisa-sisa kebakaran hutan beberapa waktu lalu. Bekas-bekas pepohonan yang terbakar hanya menyisakan arang-arang berwarna hitam. Benar-benar gundul di sekeliling saya saat ini.

Rerumputan liar berukuran cukup tinggi mendominasi pemandangan saat perjalanan menuju puncak ini. Saya belum menemukan sebatang pun bunga Edelweiss. Gersang..sungguh gersang. Untunglah cuaca yang terik masih bisa  diimbangi dengan semilir angin yang lumayan kencang hingga menjadikan ini semacam penyejuk udara alami.

Satu persatu rombongan kami terlihat kelelahan. Intensitas beristirahat semakin sering. Kami pun semakin merasakan rasa haus hingga harus berkali-kali menenggak air minum dari botol yang kami bawa. Untunglah, saya tidak merasa kelelahan-hanya rasa haus yang sedari tadi tidak terpuaskan. Sesekali saya menggigit sebatang cokelat yang saya simpan dalam saku celana ini. Mungkin berkat sarapan mie goreng instant tadi, tenaga saya masih full.

Awalnya kami berombongan, namun kini sudah tercerai berai menjadi kelompok-kelompok kecil. Saya masih berjalan pelan bersama Wedwi, sementara di belakang saya masih tertinggal jauh rombongan (April, Atun, Yuni, Said). Sedangkan Bayu, Indah, Anjar, Alwi, Dan Fadli sudah berjalan jauh meninggalkan kami.

Drama pun dimulai…..

Hari makin siang. Langit semakin cerah dengan awan yang menyebar menaungi perjalanan kami ini. Saya pun sekarang berjalan seorang diri, padahal beberapa menit lalu kami masih sempat berfoto-foto bersama karena ada beberapa orang yang berjalan cepat dan mengejar kami. Saya sama sekali tidak membawa sebotol air minum pun. Tadi botol air minum itu saya titipkan ke Wedwi. Entahlah..mungkin pas ketemu nanti bakalan sudah tak bersisa setetes pun.

Dari kabar yang saya dengar, April dan Yuni mengalami kelelahan dan kehausan yang lumayan parah hingga enggan meneruskan perjalanan menuju puncak. Ya mereka hanya berdua tertinggal di antah berantah di tengah hutan tanpa bekal yang memadai.

Alhamdulillah, saya merasa masih kuat, hanya rasa haus yang lagi-lagi datang secara tiba-tiba. Bibir mulai terasa kering, kerongkongan pun terasa makin kering karena haus. Saya yang sekarang seorang sendiri hanya bisa duduk di antara rimbunnya rerumputan liar. Belum ada tanda-tanda pendaki lain yang melintas saat ini.

Jiwa bertahan hidup di tengah hutan dan kesulitan ini pun datang secara tiba-tiba. Berbekal ingatan saat sering melihat film documenter tentang cara bertahan hidup di hutan, saya mencoba mencari batang rumput liar yang ukurannya lumayan besar untuk diambil airnya. Lumayan saat saya memamahnya seperti sedang makan tebu, keluarlah air yang lumayan untuk membasahi kerongkongan ini. Saya pun mencoba berulang kali-begitu seterusnya hingga sedikit meredakan rasa haus.

IMG_20160125_070217

Gunung Sumbing terlihat begitu dekat

Saya masih terus berjalan melewati jalanan setapak nan berbatu dan menanjak ini. Langkah kaki semakin dipercepat agar bisa mengejar teman lain yang sudah berada di depan sana. Syukurlah..terlihat Wedwi yang sedang tiduran dan terlihat kelelahan di atas rerumputan. Saya pun bertanya.

IMG_20160125_082138

Puncak masih jauh di ujung sana

“Apa air minumnya masih ada?”

“Boro-boro, saya sendiri saja sedari tadi kehausan, malah tadi sempat meminum kubangan air kotor yang berada di ceruk bebatuan itu” jawab Wedwi dengan nada kekecewaan.

“Lha apa si Bayu bekal air minumnya sudah habis” tanya saya lagi pada Wedwi.

“Iya ternyata cuma bawa satu liter air dan sudah habis sedari awal perjalanan tadi”

“Wah..bahaya nih..gimana nanti? Kan ini belum nyampai puncak dan gimana saat turun nanti?” Sahut saya pada Wedwi.

“Hmmm…saya pun tak tahu” Jawab Wedwi, singkat.

Kami pun melanjutkan perjalanan apapun rintangannya. Saya sudah bertekad harus mencapai puncak Sindoro, apapun caranya. Sedari awal kami sudah diberi arahan agar mendaki puncak tidak melebihi pukul dua belas siang karena biasanya lewat jam tersebut, kawah mengeluarkan gas beracun yang bisa membahayakan manusia yang menghirupnya. Kami pun seakan berkejar dengan waktu, mendaki sampai puncak sebelum jam dua belas siang.

Setelah hampir tiga jam lebih berjalan terseok-seok penuh perjuangan, kami berpapasan dengan para pendaki lain yang hendak turun menuju lokasi pos tiga. Berbekal informasi dari mereka, kami pun diberi tahu kalau puncak Sindoro tinggal setengah jam lagi. Selain itu kami disuruh berhati-hati dan siap dengan kacamata dan masker karena asap belerang begitu pekat hingga bisa menyebabkan iritasi mata. Untunglah, saya sudah siapkan masker sedari tadi karena tau bakalan menemui belerang di puncak sana.

Puncak Sindoro semakin dekat. Asap mengepul berwarna agak kekuning-kuningan sudah terlihat di depan mata. Beberapa bunga Edelweiss (Anaphalis Javanica) terlihat di antara gersangnya kawasan ini. Kami pun berpapasan dengan Bayu dan Alwi. Ternyata mereka sudah sampai puncak beberapa saat yang lalu, namun di sana mereka tidak lama karena tidak kuat dengan pekatnya asap belerang. Kami pun diingatkan untuk tidak lama-lama di sana. Beberapa saat, kami mendapat dua buah sachet sirup anti masuk angin dari tas Bayu. Ya hanya itu yang tersisa dari dalam tasnya saat itu.

“Itu puncak Sindoro tinggal beberapa meter lagi!” sahut Wedwi dengan nada penuh semangat.

“Baiklah..saya segera menyusul” Jawab saya sama dengan penuh semangat.

Allahuakbar……………..! Teriak saya penuh emosi dan rasa syukur.

Saya pun sujud syukur di samping plang bertuliskan Puncak Gunung Sindoro 3153 Mdpl-Jalur Kledung merayakan keberhasilan saat itu. Saya tidak menyangka jika seorang yang baru pertama kali mendaki gunung bisa sampai puncak Sindoro, ini semacam mimpi..tapi ini sungguh bukan mimpi, ini nyata.

IMG_20160125_091518

Kami sampai puncak Sindoro

Saya, Atun, Wedwi, Indah dan Said saling berjabat tangan tanda rasa syukur dan puas. Itu setelah satu persatu rombongan yang tertinggal tadi, sampai puncak tidak lama setelah saya dan Wedwi berada di sini. Jadi total dari empat cewek yang mendaki sampai puncak, hanya Indah dan Atun saja yang berhasil menggapainya.

Langit seakan merestui kami saat berada di sini. Asap yang sebelumnya pekat-perlahan hilang terbawa angin menuju ke lembah. Walhasil, kami bisa berada lama-lama menikmati puncak Sindoro sambil berfoto-foto mengabadikan momen langka ini.

Saya, Wedwi dan Atun menjadi orang dari desa Karangsari pertama yang mencapai puncak Sindoro. Hmmm kami boleh berbangga hati, setidaknya untuk saat ini.

Allahuakbar….sekali lagi saya masih belum percaya kalau bisa sampai puncak Sindoro, Alhamdulillah…..

Advertisements

19 thoughts on “Menggapai Puncak Sindoro

  1. Halim Santoso

    Baca ketegangan bgini jadi ngeri sedap mo mendaki gunung. Memang daku bukan penikmat ketinggian, lebih pilih pantai yang dirasa lebih aman. Meski parno juga kalau diterjang tsunami. Hahaha. Semua sungguh nasib yang tak bisa diduga, hanya butuh keberanian dan tekad. 🙂

    Liked by 1 person

    Reply
  2. iyoskusuma

    “Jika ingin mengetahui sifat asli seseorang, cobalah mendaki gunung secara bersama, maka akan muncul sifat asli seseorang tadi”

    Ini banget! Sifat egois, bossy, tukang ngeluh, keluar semua. Ada hikmahnya sih. Naik gunung jadi bukan sekedar olah raga atau membuat diri-sendiri-merasa-kecil-setelah-melihat-kebesaran-karya-Tuhan, tapi juga bikin saya belajar cara nanganin orang-orang yang sifatnya ‘unik’ selama pendakian. Saya juga belajar nahan emosi demi ngejaga mood pendakian biar tetep menyenangkan. Hehe.

    …dan, memang bener. Salah satu hal yang harus ditaklukin pas lagi pendakian adalah rasa malas bangun untuk muncak! Haha. Capek dan dingin. Godaannya strong! 😂

    Liked by 1 person

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      Jujur, saat awal-awal mendaki, saya termasuk orang yang saat itu ingin menyerah namun seiring jalannya waktu dan saling mengobrol akhirnya semangat itu mulai ada.
      hahaaha banyak banget cobaan saat hendak mendaki, sabar aja pokoknya.
      Sebenarnya saya malah tidak bisa tidur nyenyak, jadi saya bangun lebih pagi saat itu.
      Patut diakui, saat itu saya pun agak egois namun masih dalam tahap wajar lah.

      Like

      Reply
  3. Rifqy Faiza Rahman

    Alah bisa karena terbiasa. Saya saat pertama pun juga begitu berambisi tentang puncak. Tapi, semakin ke sini, saya sadar, bahwa memilih mengalah dan pasrah malah akan membuat hati lapang dan perjalanan begitu mudah.

    Tapi yang paling penting dalam tim pendakian itu adalah harus ada pembagian tugas. Yang pokok adalah adanya leader tim dan koordinator masing-masing divisi: konsumsi, perlengkapan, dan perencanaan perjalanan. Termasuk antisipasi ketika terjadi hal darurat.

    Turun dengan selamat adalah tujuan utama. Tapi, jangan kapok naik gunung! 😀 🙂

    Liked by 1 person

    Reply
  4. Hendi Setiyanto Post author

    Salut sama kalian-kalian yang sudah berpengalaman mendaki banyak gunung. Perlu konsistensi dan niat yang cukup banyak agar bisa jalan terus.
    Iya setuju, semua harus punya peran karena seharusnya satu tim. Yang kemarin sepertinya bisa menjadi pelajaran buat saya pribadi. Pengalaman pertama memang berkesan walaupun banyak kekurangan sana-sini.

    Like

    Reply
  5. Pingback: 9 Barang Wajib Untuk Traveler Lokal Versiku | NDAYENG

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s