Pagi Itu, Kami Berangkat…

Panggilan alam ternyata datang lebih cepat dari perkiraan. Saya terbangun dari tidur yang sangat amat tidak nyenyak sekali karena hawa dingin yang begitu menusuk tulang.

Saya bergegas pergi meninggalkan base camp tempat kami dan begitu banyak rombongan dari berbagai daerah semalam menginap. Suara adzan subuh terdengar begitu merdu. Letak masjid yang hanya beberapa meter saja dari base camp, membuat telinga ini awas saat panggilan sholat itu datang.

Semilir angin dingin khas daerah pegunungan begitu terasa hingga tengkuk. Langkah gontai sembari mengalungkan sarung ke seluruh tubuh ini seakan bisa sedikit menepis hawa dingin itu.

Baru saja kaki ini hendak menaiki anak tangga menuju masjid, terlihat seorang pemuda yang berbalik arah sambil memberi tahu,

“Mas, air untuk wudhu ternyata masih belum mengalir”

“Oh masih belum ngalir juga ya?” saya pun menegaskan kembali maksud dari perkataan si mas tadi.

“Iya belum”

Untunglah selalu ada saja orang yang dengan sukarela berbaik hati menawarkan bantuan, apalagi ini menolong orang yang sedang kesusahan mencari air untuk berwudhu, tentu Allah akan membalas kebaikan orang tadi.

“Mari sini mas, ikut saya berwudhu ke rumah saya di bawah sana” Ajak si bapak tadi kepada kami.

“Terima kasih sebelumnya ya pak” Balas saya dengan hati riang tentunya.

Minggu pagi ini, cuaca sangat cerah. Langit bersih berwarna biru seakan menjadi  peneduh puncak gunung Sindoro dan sumbing.

Barisan petak-petak lahan pertanian sayur  mayur menghiasi punggung gunung hingga hampir menutupi seluruh kaki gunung.

IMG_20160125_161838

Hamparan kebun sayur milik warga di kaki gunung

Langkah kaki penuh semangat menyambut pagi, menjadi pemandangan yang khas ketika melihat penduduk sekitar memulai aktivitas di tempat yang dingin ini.

Kami bersebelas orang sudah siap dengan tas ransel dan bawaan masing-masing. Semua berkumpul di halaman base camp untuk bersiap-siap. Sesekali ada yang mencoba melenturkan otot-otot tubuh dengan pemanasan seadanya. Tawa riang dan candaan khas anak muda seakan menjadi bumbu yang khas saat ini, sebelum memulai pendakian.

Salah satu leader atau sweeper kami yaitu Bayu, mencoba melapor kepada petugas base camp yang pagi itu sudah siaga di base camp. Sebelumnya, sebuah mobil bak terbuka sudah terlihat terparkir di halaman ini. Mereka menawarkan jasa angkutan bagi para pendaki menuju Pos 1 seharga seratus ribu rupiah, begitu ujar si penawar jasa tadi. Kami lebih memilih berjalan kaki saja sambil menikmati semilir sejuk udara khas pegunungan pagi itu.

Tak lupa sebelum berangkat, kami berfoto bersama dengan latar belakang gedung base camp. Ada yang tiba-tiba menyeletuk “semoga semuanya selamat sampai puncak hingga turun kembali ke base camp, semoga tidak ada yang kembali hanya tinggal nama saja” sebuah lelucon yang lumayan satir, kami hanya tertawa kecut saat itu.

Perjalanan menuju pos 1 melewati jalan berbatu yang membelah perumahan warga sekitar. Terlihat aktivitas warga sekitar yang begitu beragam. Mulai dari yang sedang menjemur pakaian, menjemur kentang-kentang basah hingga ibu-ibu yang sudah siap dengan caping gunungnya menuju lahan pertanian mereka di kaki gunung Sindoro.

catatanhariankeong.com

Peta rute Gunung Sindoro l Sumber

Entah kenapa, saat itu semangat saya perlahan mengendur. Malam sebelumnya yang penuh semangat menggebu, berganti dengan rasa malas saat membayangkan susahnya mendaki gunung di depan saya saat ini.

Sempat terbersit di dalam pikiran

“lebih enak berwisata ke tempat yang sudah umum atau malah di rumah saja sambil nonton tv, tidak seperti ini-bersusah-susah membawa beban berat menuju puncak sana”.

Ah..dasar…masa baru berjalan beberapa meter saja sudah mau menyerah?

Salah satu hal yang membuat semangat saya mengendur adalah beban bawaan di ransel ini. Saya merasa ransel ini begitu berat, untuk berjalan saja sudah bikin nafas sesak. Saya tidak membayangkan bagaimana rasanya nanti saat jalan setapak penuh rintangan itu malah semakin menanjak terus. Untunglah, Wedwi dengan baik hati menawarkan bantuan untuk memindahkan beberapa bawaan di dalam tas saya ke tasnya. Mungkin inilah inti dari sebuah pendakian, rasa peka, berbagi dan saling bekerjasama.

Semangat saya belum kembali seratus persen. Kami melewati hamparan tanaman kubis yang membentang di sisi kanan-kiri jalan ini. Beberapa teman sudah terlihat kelelahan dan duduk-duduk di pinggir jalan sambil sesekali menghela nafas panjang. Saya pun ikut istirahat sambil mengeluarkan sebungkus coklat dari dalam tas. Saya masih meyakini, sebungkus coklat bisa membuat tenaga menjadi bertambah secara cepat.

IMG_20160125_160544

Terlihat Atun yang sedang kelelahan

Sementara itu rombongan cewek-cowok, April, Atun, Anjar dan Said masih tertinggal di belakang sana. Entahlah, sepertinya mereka sengaja memperlambat ritme agar nanti kuat sampai puncak sana. Sedangkan saya malah berjalan cepat karena pikiran masih terpecah antara lanjut atau menyerah saja. Aneh..memang itulah saya saat itu.

Obrolan demi obrolan perlahan membuat suasana menjadi lebih cair. Kami yang sebelumnya masih terlihat kaku satu sama lain, perlahan mulai luwes dan saling sapa seakan sudah kenal lama. Manjur! Ternyata dengan obrolan dan saling berinteraksi tadi membuat semangat saya kembali. Saya semakin yakin untuk terus melanjutkan perjalanan hingga sampai puncak. Saya pun seakan sudah lupa dengan perasaan menyerah beberapa puluh menit yang lalu. Aneh, tapi begitulah adanya saat itu.

Waktu berjalan lambat. Kami yang tadinya hanya bersebelas orang perlahan semakin mendekati pos 1, saat kami beristirahat di sana, rombongan pendaki dari berbagai macam usia pun berdatangan satu persatu dengan rombongannya masing-masing. Kami saling sapa dan bercerita secara singkat saat itu. Hmmm..mungkin inilah salah satu momen yang unik saat kita mendaki. Kami tidak kenal satu sama lain tapi kami saling sapa dan mencoba akrab satu sama lain.  Yang menyatukan kami semuanya adalah tujuan kami, menggapai puncak Sindoro.

Pos 1

IMG_20160124_080846

Tidak ada plang bertuliskan pos 1, hanya tertera tulisan “kawasan wajib senyum”.

Pos satu pendakian gunung sindoro hanyalah sebuah plang sederhana yang terletak di pinggir jalan yang lumayan masih lebar. Sementara itu hamparan pohon pinus hutan berukuran tidak terlalu tinggi, mewarnai lokasi ini. Saat kami berhenti di sini, terdapat beberapa tenda yang terpasang di sekitar lokasi pos satu ini.

Selain itu, para pendaki akan akrab jika pos satu ini identik dengan lokasi mangkal para tukang ojek. Ya tukang ojek yang selalu standby selama masih ada orang yang hendak mendaki. Biasanya tukang ojek ini akan mengantar para pendaki yang hendak menuju base camp saat perjalanan turun dari puncak. Tarifnya sekitar Rp 15,000,- sekali jalan.

Pos satu sendiri lokasinya masih dekat dengan lahan pertanian warga, jadi masih terlihat beberapa orang penduduk sekitar yang hendak bercocok tanam pada lahan pertanian masing-masing. Sesekali para pendaki juga bisa melihat aktivitas perempuan-perempuan tangguh yang sudah berumur namun masih sangat kuat menggendong bergulung-gulung kayu bakar dari hutan di sekitar pos satu ini.

Jalanan di depan sana tidak terlalu menanjak. Sungguh tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Kami masih memasuki kawasan hutan pinus yang berbeda dari sebelumnya yang biasa saya lihat saat berada di Watu Belah. Suasana lembab dan sedikit berkabut mengiringi langkah kami secara perlahan. Masih terlihat jelas embun-embun yang menetes dan masih terjebak pada ujung daun pinus itu. Hanya terdengar suara ocehan burung-burung liar saat itu. Suasana terkadang hening dan sesekali pecah dengan candaan teman-teman.

Satu persatu dari kami mulai mengeluarkan bekal yang mereka bawa di dalam ransel. Cokelat, sirup anti masuk angin, buah rambutan dan tentunya air mineral yang siap minum dalam botol-botol plastik.

Sesekali juga, kami berpapasan dengan para pendaki yang hendak turun gunung. Sebelumnya juga ada beberapa rombongan yang berangkat subuh-subuh dalam kondisi masih gelap dan dingin. Mungkin saat ini mereka sudah duduk santai di dalam tenda sambil menikmati sebungkus mie instant hangat.

Pos 2

IMG_20160124_100203

Memasuki pos 2 pendakian gunung Sindoro

Perjalanan menuju pos dua sedikit berbeda. Kami harus berjalan memutar, mengelilingi hutan di sebelah kanan kami. Sesekali kami harus menuruni sebuah jalan setapak-melintasi aliran air dari atas sana yang terlihat mengering. Di lokasi inilah berdasarkan cerita dari beberapa teman pendaki, lokasi ditemukannya seorang pendaki yang terjatuh ke dalam jurang tempat aliran air dari atas sana. Memang, saat kabut tiba-tiba datang datang, terkadang suasana berubah drastis. Kondisi hutan yang sebelumnya cerah bisa saja berubah menjadi gelap karena kabut. Itu belum diperparah jika hujan lebat disertai angin datang  secara tiba-tiba. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana situasinya jika kami mengalaminya. Untunglah hari ini cuaca sangat bersahabat, langit begitu cerahnya.

“Pos dua masih jauhkah?” Tanya rekan-rekan pada rombongan pendaki yang hendak turun gunung.

“Kurang lebih sejam lagi, kalian bakal sampai di pos dua” jawab mereka dengan penuh keyakinan.

Namun, perjalanan sejam dalam pendakian plus jalur yang dilewati berupa tanjakan tentunya sangat berbeda jauh dengan sejam berjalan dalam jalanan yang rata. Kenyataan terkadang berbeda sangat jauh. Kami harus menempuh waktu hampir dua jam hingga sampai di pos dua.

Sebuah gubuk berada di seberang jalan setapak. Dua buah batang pohon lapuk yang telah roboh menjadi bangku-bangku tempat istirahat para pendaki. Di bawah sebuah gubuk tadi berdiri sebuah tenda yang di sekitarnya masih terlihat sisa-sisa arang dan bekas memasak mie instant.

Hmmm perut mendadak keroncongan saat itu.

Hanya ada seorang lelaki berambut gondrong yang terlihat asik tiduran dengan separuh badan terlihat keluar dari tenda. Ia sedang menikmati secangkir kopi hangat serta nyala api kecil yang terlihat mengepul. Entahlah..apa memang diperbolehkan membuat api di kawasan pegunungan seperti ini?.

Hanya sebentar kami di sini. Perjalanan pun berlanjut.

Kawasan hutan pinus pun masih terlihat  diantara pepohonan sejenis rumpun albasia atau kalbi dalam bahasa Banjarnegara. Namun kali ini jalanan setapak dihiasi dengan aneka bebatuan berbagai ukuran yang melintang di tengah jalan. Terkadang kami harus memutari bebatuan tadi untuk mengikuti jalanan setapak di depan sana.

Dimana ada bebatuan besar, disitu dijadikan aksi vandalism oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Aneka jenis tulisan beraneka warna bisa dilihat di atas bebatuan tadi. Hmmm..sangat disayangkan tentunya.

Vegetasi pun berubah dari pepohonan menjadi semak belukar dan rerumputan. Bebatuan pun semakin rapat memenuhi jalan setapak ini. Kali ini kami harus benar-benar merangkak-melewati satu persatu batu yang terkadang menjadi pijakan untuk semakin naik ke atas.

Rombongan kami pun semakin terpencar menjadi beberapa bagian. Atun, April, Anjar dan Said sudah tidak terlihat. Sepertinya mereka tertinggal di belakang sana. Apalagi saya baru sadar kalau si April sedang mengalami gejala PMS karena datang bulan. Ia mengeluhkan sakit perut yang terasa menusuk, begitu kata Yuni yang pas awal-awal masih satu rombongan dengan April dan kawan-kawan.

Sementara itu, saya, Wedwi, Yuni, Indah, Alwi, Fadli dan Bayu sudah hampir sampai di pos tiga-lokasi mendirikan tenda. Namun kami tidak seegois itu untuk meninggalkan rombongan yang masih tertinggal di belakang. Kami menunggu di kawasan semak dan rerumputan yang membelah jalanan setapak nan curam ini. Lebih dari tiga puluh menit kami berada di sini sambil berbincang-bincang.

Kabut perlahan semakin datang secara cepat-naik menuju lokasi pos tiga yang tinggal beberapa puluh meter lagi. Seandainya tidak berkabut, tentu kami bisa melihat kawasan kledung di bawah sana. Tapi sekali lagi saya bersyukur, walaupun berkabut namun tidak mendung apalagi turun hujan.

Suara tawa khas seorang Atun terdengar semakin jelas, itu tandanya rombongan yang tertinggal tadi semakin mendekat. Kami pun memberikan tanda pada mereka jika lokasi pos tiga semakin dekat dan kami berencana naik duluan. Alasannya simpel agar saat sampai lokasi, kami masih kebagian lokasi tempat mendirikan tenda terlebih dahulu.

Apa saya merasa capek? Alhamdulillah dan ajaibnya rasa capek itu hilang sama sekali. Saya begitu menikmati perjalanan ini. Sungguh sangat kontras dengan kondisi saat awal-awal perjalanan menuju pos satu tadi.

Pos 3

12513677_1069771133085538_358607579387402544_o

Terlihat Indah dan April berpose di plang lokasi pos 3 tempat kami berkemah.

Sebuah pohon berdiri persis di jalur masuk menuju pos tiga ini. Pada bagian batangnya yang landai bisa digunakan untuk duduk-duduk menikmati semilir angin khas pegunungan.

Kabut semakin pekat. Hanya tenda berwarna mencolok yang terlihat oleh mata. Sisanya abu-abu dan tidak jelas.

Tercengang!

Suasana pos tiga ini sedikit demi sedikit terlihat saat kabun perlahan pergi meninggalkan lokasi ini. Deretan tenda berwarna-warni memenuhi hampir setiap jengkal tanah yang rata di pos tiga ini. Kalau boleh menyeletuk, ini mirip perkemahan pramuka jaman SMP dulu.

Namun semua itu bisa dimaklumi. Hari ini adalah hari minggu, malam sebelumnya tentu banyak sekali para pendaki yang hendak menghabiskan akhir pekannya dengan mendaki gunung sindoro ini. Belum lagi, inilah adalah satu-satunya lokasi yang diperbolehkan bagi para pendaki untuk mendirikan tenda, jadi wajar saja jika harus saling berjubel seperti ini.

Memang ada lokasi mendirikan tenda di dekat puncak sana, namun karena asap belerang dan sering ditemukannya babi hutan membuat petugas setempat melarang pendaki untuk mendirikan tenda di luar area ini.

Alhamdulillah, hampir separuh pendaki ternyata hendak berkemas dan akan turun gunung. Kami harus sabar untuk bergantian menunggu mereka mengemasi tenda masing-masing.

Angin dari lembah menuju puncak begitu besar. Salah-salah, tenda bisa terhempas dan terbawa angin.

Akhirnya giliran kami pun tiba. Kami bersebelas memutuskan untuk mendirikan tiga tenda yang lokasinya berundak-undak. Tenda bagian bawah berisi rombongan cewek (Atun, April, Indah dan Yuni) berjumlah empat orang. Tenda bagian tengah berisi tiga orang, saya, Wedwi dan Bayu. Sementara itu tenda pada bagian atas diisi oleh Anjar, Fadli, Alwi dan Said.

IMG_20160124_162208

Perlahan kabut menghilang begitu juga dengan para pendaki yang hendak turun gunung.

Setelah beberapa saat mendirikan tenda, hujan rintik-rintik disertai angin tiba-tiba saja datang. Perut lapar karena sedari awal di base camp hanya terisi oleh tempe goreng, coklat dan air minum saja.

Tenda milik rombongan cewek terlihat ramai dengan aktivitas memasak. Sebuah kompor dan sebotol gas sudah terpasang. Tenda yang besarnya tidak seberapa, terpaksa dijadikan tempat berteduh sambil menunggu mie instant, sosis, sarden dan lontong siap tersaji. Betapa bodohnya kami, jumlah pendaki yang sebelas orang, namun hanya berbekal sebuah kompor kecil ini.

Sebagian terpaksa duduk di luar tenda sambil diguyur rintik hujan, sementara saya, Wedwi, Said dan empat cewek lainnya rela berhimpitan di tenda yang sempit ini.

Sepiring mie hangat dengan sosis, sarden dan lontong sudah tersaji di depan kami saat ini. Jangan Tanya kami makan pakai apa. Sendok? Lupakan. Kami saat itu makan dengan tangan seperti sedang menyantap nasi, namun menggunakan sarung tangan plastik. Saya pun harus rela berbagi sepiring berdua dengan Wedwi. Ah…namun belum pernah saya rasakan senikmat ini menyantap mie instant di atas ketinggian ini. Sebelumnya saya adalah tipe orang yang tidak suka dengan yang namanya mie instant, kalau boleh milih, malah lebih suka menyantap tempe goreng.

Perut sudah kenyang. Hujan rintik-rintik disertai angin kencang menemani kami sore itu. Mari melepas lelah sambil rebahan di dalam tenda ini.

Sekitar pukul lima sore, cuaca berganti cerah. Pemandangan Kledung dan kota Wonosobo terlihat begitu indah dari atas sini. Belum pernah saya merasa beruntung sekali dapat menikmati pemandangan indah sore ini.

Langit semakin gelap. Hawa dingin semakin datang. Pelan tapi pasti, kami harus berganti pakaian yang tebal demi mengusir hawa dingin ini.

Setengah jam pertama-saya hanya bisa berdiam diri saja di dalam tenda. Tubuh belum bisa beradaptasi dengan hawa dingin di luar sana. Padahal pemandangan kota Wonosobo dengan kelap-kelip lampunya sudah menarik perhatian teman-teman yang lain. Dari tawa cekikikan yang saya dengar, sepertinya mereka sedang asik berfoto-foto.

Saya pun tergerak untuk melihat keluar. Sungguh sangat disayangkan jika berada di ketinggian seperti ini namun melewatkan begitu saja apa yang terjadi di luar sana. Hati pun berontak.

Saya mengamati tingkah polah mereka yang ceria itu sambil sesekali mengabadikannya.

Waktu menunjukan pukul tujuh malam lebih. Sesekali semilir angin masih begitu kencang. Biarpun di tempat yang gelap seperti ini namun kita masih bisa melihat dengan jelas bagaimana bentuk langit dari puncak sini.

Rombongan cewek kembali berkutat dengan kompor. Kali ini mereka merebus air untuk membuat minuman hangat penghalau hawa dingin. Secangkir coklat hangat, kopi, hingga teh satu persatu tersaji secara bergantian. Candaan khas remaja seumuran mereka seakan menjadi pemecah hening dan hawa dingin ini. Saya hanya menyimak dari luar tenda ini. Duduk di atas rerumputan sembari memandang langit ditemani secangkir teh hangat.

Hari makin larut. Rasa capek, ngantuk dan hawa dingin makin menusuk tulang saja. Saya bergegas masuk ke dalam tenda dan buru-buru memakai sleeping bag. Sementara itu mereka masih belum lelah bercerita satu sama lain. Biarlah saya terlelap sendiri di dalam tenda ini dan menikmati momen ini.

IMG_20160124_164810

Terlihat gunung Sumbing dengan hiasan awan putih pada bagian puncaknya.

Esok pagi, pendakian yang sebenarnya malah baru dimulai. Kami harus bangun pagi-pagi sekali dan mendaki hingga puncak sindoro sebelum pukul dua belas siang.

Semoga rencana besok berjalan lancar, semoga…

Mari..tidur saja…

Advertisements

9 thoughts on “Pagi Itu, Kami Berangkat…

  1. Gara

    Sepertinya di semua papan petunjuk juga selalu ada coret-coretan. Hadeh. Seolah-olah kertas di bumi ini sudah sangat kurang makanya mereka mencoret batu dan papan. Mudah-mudahan kita tidak jadi orang yang seperti itu ya.
    Pendakian memang menyenangkan… tadi saya sempat merasa hiking ala-ala dan ketika sampai di atas memang senang banget. Kalau gunung setinggi Sindoro pasti rasa senang di puncak itu berkali-kali lipat, ya.

    Liked by 1 person

    Reply
  2. Rifqy Faiza Rahman

    Kerasa banget nanjak dan lelahnya… :O

    Tapi kabut dan mendung itu ada sisi positifnya, trekking gak terasa panas dan gobyos 😀

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s