Teman-teman yang menginap rame-rame di base camp kledung l sumber foto fb Aprilia.kurnia

Semalam di Kledung

“Bu,,,sekarang apa masih masuk waktu sholat maghrib?” tanya saya pada seorang ibu yang baru saja keluar dari pintu masjid dan hendak mengambil sandal.

“Masih mas, ini baru saja selesai sholat maghrib berjamaah” Jawab si ibu tadi

Mata ini memandang ke arah tempat wudhu di sebelah kanan pintu masuk masjid. Terlihat orang-orang yang kecewa karena ternyata air sedang tidak mengalir di tempat wudhu. Saya pun langsung bingung mau wudhu dimana coba?

“Bu, permisi…kalau mau numpang wudhu dimana ya?” saya pun bertanya lagi pada si ibu tadi.

“Hmmm..coba wudhu di rumah itu, di situ ada keran air di depan rumah” Si ibu tadi menunjuk ke arah rumah yang berada persis di seberang jalan, depan masjid ini.

“Oh gitu,,terima kasih ya bu..”

Saya pun bergegas melipat celana panjang ini dan berlari menuju rumah yang ditunjukan si ibu tadi.

“Nah itu dia keran air yang dimaksud si ibut tadi” dalam hati merasa gembira.

Krek..krek..krek…saya mencoba memutar keran air ke kanan dan ke kiri. Nihil. Ternyata di sini air juga tidak mengalir.

Jaket sudah saya lepas dan tertaruh di pundak.

Ransel yang super berat masih tergendong di punggung.

Celana sudah terlanjur dilipat.

Sandal gunung yang sedari tadi terlepas, terpaksa dipakai seadanya saja tanpa mengikat kembali ikatannya.

Saya melangkah gontai bak kehilangan arah di tengah halaman pemukiman warga ini.

Suasana sudah gelap. Semilir angin dingin makin menusuk-menembus kaos yang super tipis ini.

Saya mencoba berjalan menuju rumah di ujung gang ini. Maksud saya adalah ingin mencoba numpang wudhu di rumah yang terlihat terang benderang itu.

“thok..thok..thokasalamualaikum….” Saya mencoba memberi salam sambil mengetuk pintu rumah ini.

Nihil! Tidak ada tanda-tanda keberadaan sang tuan rumah, padahal ruang tamu terlihat dari luar dalam keadaan redup. Saya bisa melihat bebas, suasana di dalam rumah dari jendela kaca ini karena gorden tidak ditutup.

Saya pun menyerah setelah hampir lima menit lebih mencoba mencari keberadaan sang tuan rumah.

Langkah kaki berjalan kembali ke arah rumah yang ditunjukan oleh si ibu tadi. Pintu rumah terlihat terbuka dan tadi saya melihat sekilas, si ibu tadi masuk rumah ini. Namun saat saya dekati ternyata si ibu tadi sudah tidak terlihat jejaknya.

IMG_20160125_051041

Titik-titik cahaya lampu di sekitar pemukiman daerah kledung

Saya berdiri di depan rumah berbentuk joglo dengan ukiran khas pada kayu-kayunya. Ruangan utama terlihat luas, khas rumah jawa tradisional. Lampu nan redup menerangi seisi ruangan ini. Saya hanya bisa melongo di depan pintu.

“Permisi,,,,asalamualaikum,,,,” Sekali lagi saya mencoba memberi salam pada si tuan rumah.

Sekali..dua kali..tiga kali…..belum ada tanda-tanda keberadaan sang tuan rumah yang keluar dari dalam rumah joglo ini.

Saya kembali berjalan gontai bak orang linglung. Duduk sebentar di teras rumah ini dan kembali mencoba mengetuk pintu.

“Permisi,,,,asalamualaikum,,,” Akhirnya si ibu tadi yang saya temui di luar masjid keluar menemui saya. Dari bahasa tubuhnya, sepertinya ini bukan rumah si ibu tadi. Sepertinya beliau sedang berkunjung ke rumah tetangganya ini.

Si ibu tadi memanggil keluar pemilik asli rumah ini dan memberikan penjelasan maksud dan tujuan saya di sini.

“Silakan mas ikut saya ke kamar mandi yang ada di belakang” Si ibu pemilik rumah ini pun mempersilakan saya masuk dan mengantar sampai ke kamar mandi belakang dengan ramahnya.

“Permisi..permisi…” sapa saya pada anggota keluarga yang terlihat sedang duduk santai di depan layar televisi.

“Maaf mas..air memang sedang tidak mengalir sudah dari kemarin, sepertinya sumber mata air yang berasal dari hutan gunung Sindoro terkena longsoran tanah” Si ibu menjelaskan kenapa air beberapa hari ini tidak mengalir.

“Oh gitu….” Jawab saya dengan singkat.

Si ibu pun mengantar saya pada sebuah tempat penampungan air hujan dan sebuah gentong yang terbuat dari tanah liat untuk dijadikan tempat wudhu.

Brrrrrrrr……….dingin banget airnya…

Perut yang sedari berangkat di bis tadi terasa bergemuruh, seperti menemukan tempat yang cocok untuk dilampiaskan. Kebetulan sekali ada toilet jongkok yang nganggur dan kabar gembiranya masih ada air untuk sekedar mengguyur dan cebok.

Mules…bergemuruh dan terdengar riuh saat saya buang hajat. Saya agak malu kalau sampai terdengar si pemilik rumah di depan sana. Buru-buru ketika ngeden langsung saya siram dengan air segayung untuk meredakan suara bising ketika buang hajat.

Setelah puas di dalam toilet, saya bergegas mengambil air wudhu dan buru-buru pamitan pada si ibu pemilik rumah. Saya mengejar waktu agar masih bisa menunaikan sholat maghrib. Alhamdulillah, masih keburu ternyata…lega…

***

Karena saya sudah tahu kalau teman-teman yang dari Semarang masih berada dalam perjalanan, saya memutuskan berlama-lama di dalam masjid. Selain untuk mengistirahatkan tubuh dan menghangatkan diri, saya juga sekalian menunggu waktu sholat Isya tiba. Tidak lucu kalau harus batal wudhu dan mencari lagi air yang ternyata sedang tidak mengalir.

Tak terasa, waktu sholat isya sudah lewat sedari tadi. Saya memutuskan keluar masjid dan duduk-duduk di serambinya. Saya mengeluarkan roti dari dalam tas yang saya bawa dari rumah.

Ada notifikasi BBM masuk…..

“Hendi..kami sudah sampai di base camp, kamu dimana?” tanya Wedwi dalam chat BBM yang ia kirim.

“Saya sehabis sholat isya dan segera turun ke base camp” Jawab saya singkat.

IMG_20160125_175615

Dari keramaian orang-orang yang sedang berkerumun di depan base camp terlihat lambaian tangan yang ditujukan pada saya.

“Hend…saya di sini…” sahut Wedwi dari kejauhan.

Saya pun bergegas berlari menuju base camp. Di dalam sana ternyata sudah banyak orang yang hendak mendaki maupun yang sehabis mendaki. Semua tumplek-plek menjadi satu. Cowok-cewek, remaja maupun yang sudah agak tua terlihat sedang santai di dalam base camp ini. Sepeda motor milik para pendaki pun diparkir dan dititipkan di dalam sini secara rapi berjejer.

Di sebuah pojokan telah berkumpul teman-teman baru saya dari Semarang, beberapa belum saya kenal. Hanya Atun seorang yang saya kenal karena ia adalah tetangga satu desa.

Teman-teman yang menginap rame-rame di base camp kledung l sumber foto fb Aprilia.kurnia

Teman-teman yang menginap rame-rame di base camp kledung l sumber foto fb Aprilia.kurnia

“Kenalkan ini Yuni, April, Indah, Anjar, Bayu, Said, Fadli, dan Alwi” Wedwi memperkenalkan satu persatu teman-temannya.

“Eh kalau ini saya sudah kenal..Atun kan?” Jawab saya sambil terkekeh..kekeh.

“Ih.. mas ini bisa saja” Jawab Atun sambil tersipu malu.

Setelah perkenalan yang begitu singkat, saya langsung saja meletakan ransel yang sedari tadi tergendong. Saya masih belum begitu akrab dengan mereka dan hanya bercanda dengan Wedwi dan Atun.

Malam semakin larut. Udara dingin makin menusuk. Saya meminta Wedwi untuk menemani saya membeli beberapa botol air mineral di minimarket yang jaraknya lumayan jauh dengan berjalan kaki.

Jalanan gelap dingin dan berkabut. Di sisi kiri saya terlihat gagah sosok gunung Sindoro yang samar-samar tertutup kabut tebal pada bagian puncaknya. Kebetulan malam hari ini bulan begitu cerah, sepertinya masuk bulan purnama. Kami melangkah lebih jauh dan pulang membawa dua botol air mineral ukuran 1.5 Liter serta sebuah jas hujan yang terbuat dari plastik.

Kurang lebih setengah jam kemudian, kami sudah sampai base camp kembali. Kami bergegas tidur beralaskan sebuah terpal di atas lantai keramik. Sungguh dingin..super dingin hingga menusuk tulang. Hampir beberapa jam mencoba memejamkan mata namun gagal. Rasa dingin lebih kuat membuat kami terus terjaga.

Saya lupa, jika masing-masing dari kami sudah mendapat jatah sebuah sleeping bag. Kenapa tidak dari tadi kepikiran buat dipakai saja? Duh..malah dijadikan bantal. Langsung saja saya membuka sleeping bag tadi dan tubuh ini masuk kedalamnya. Lumayan..tubuh ini terasa hangat biarpun masih terasa dingin pada bagian punggung karena masih menempel dinginnya lantai keramik.

Total, saya hanya bisa tidur beberapa jam saja (kira-kira). Mau tidak mau, saya harus tidur karena besok merupakan hari pendakian dan akan menyita tenaga.

Sungguh malam yang dingin di daerah Kledung ini…..

Advertisements

5 thoughts on “Semalam di Kledung

  1. alrisblog

    Begitulah kalau sulit air ya, mas Hen. Apalagi sumber air mengandalkan dari pegunungan yang rawan longsor. Orang kampung biasanya ramah-ramah.
    Gimana cerita perjalanan selanjutnya? Ditunggu.

    Liked by 1 person

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      woww akhirnya ada yang mampir komen juga hehehe.
      Iya kemarin karena hujan lebat jadi sumber mata airnya tertutup longsoran tanah, maklum daerah pegunungan gitu.
      Orang lokalnya sangat ramah kok asal kita juga mau ramah kepada mereka.
      Cerita selanjutnya ditunggu ya hehehe

      Like

      Reply
  2. Rifqy Faiza Rahman

    Saya belum pernah mendaki Sindoro dan Sumbing sih. Tapi saat melintas di jalan raya Temanggung-Wonosobo, agak miris dan ngeri melihat lahan pertanian sudah merambah hingga cukup tinggi di tubuh gunung. Matinya sumber air karena gundulnya hutan, sehingga resapan air berkurang. Sindoro Sumbing mendesak banget direstorasi :((

    Coba kalau wudhu pakai air asli sumber dari Sindoro, pasti lebih dingin yaa 😀

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s