Maju Makmur

Jam di layar handphone menunjukan pukul 16.05.

Sebuah terminal sederhana dan terkesan kurang terawat berada persis di depan saya saat ini.

maxresdefault

Terminal Proyek-Mrican, kondisinya parah l Sumber : youtube.com

Sebuah atap memanjang berbentuk joglo terlihat berdiri di pinggir  jalan raya ini.

Deretan bangku yang terbuat dari cor-coran semen terlihat memanjang dari kanan ke  kiri, sementara itu di belakangnya juga persis sama.

Sore itu, bangku-bangku tadi terlihat penuh dengan para penumpang yang hendak bepergian dengan tujuan yang berbeda-beda.

Saya hanya sempat duduk beberapa menit saja, sekedar melepaskan rasa lelah karena menggendong ransel yang lumayan berat.

Sempat sekilas melihat orang sekampung yang juga sedang menunggu bis, tapi entahlah..ia benar-benar orang yang saya kenal atau bukan. Secepat kilat, saya mengalihkan pandangan tertuju pada jalan raya yang lumayan sibuk sore itu.

Mata ini awas mengamati satu persatu bis yang melintas dan kadang berhenti untuk menurunkan dan menaikan penumpang. Sesekali bis yang berukuran besar terlihat melintas dengan cepatnya. Sayang itu bukan bis yang saya maksud  dan tunggu-tunggu.

Selang beberapa menit kemudian….

maju-makmur

Tampak bis Maju Makmur dengan kondisi yang memprihatinkan l sumber : jadwalbis.com

Sebuah bis berukuran sedang dengan dua pintu berada di bagian depan dan belakang terlihat berhenti menepi ke pinggir jalan. Kondisinya cukup mengenaskan, dengan bodi bis yang sudah ringsek sana-sini. Cat yang menutupi bodi bis pun sudah terlihat mengelupas. Kaca-kaca jendela terlihat kusam seakan sudah beberapa tahun tidak dicuci. Asap pembuangan kendaraan yang keluar dari knalpot pun terlihat hitam pekat. Tidak bisa dibayangkan bagaimana rasanya terpapar asap tadi dalam kondisi yang cukup lama.

Ya…tapi itu bis yang saya tunggu-tunggu dari tadi.

Sebuah tulisan terpampang di kaca depan bis ini, Semarang-Purwokerto. Sementara itu pada bagian samping badan bis ini tertulis besar-besar “Maju Makmur”, sayangnya tulisan ini sudah hampir tidak terlihat karena saking kusamnya. Semoga bis ini bisa membawa saya maju dan makmur, semoga….

***

Langkah kaki ini seakan dipercepat saat pintu bis bagian depan terlihat terbuka. Sejurus kemudian, badan ini sudah berada pada bangku nomor tiga di belakang supir. Di sebelah kanan saya terdapat seorang perempuan tua yang terlihat mengantuk. Sementara itu di sebelah kiri saya terlihat seorang ibu tambun dengan bayi lucunya yang sedang asik bersenda gurau.

Tak lama, bis ini berhenti di sini. Beberapa menit kemudian, bis ini sudah melaju pelan menembus ramainya jalanan kota Banjarnegara. Saya buru-buru mengeluarkan sebuah buku bacaan dari dalam tas yang terpangku di atas paha. Kali ini saya tertarik dengan buku yang memang sudah jauh-jauh hari saya persiapkan. Sebuah buku penuh humor sarkasme, buku karya Valiant Budi Yogi, berjudul “kedai 1001 mimpi”. Buku yang menceritakan pengalaman sang penulis saat bekerja sebagai “barista” di kedai kopi Sky Rabbit-KSA. Aslinya cerita yang menyedihkan, namu disampaikan dengan cara yang menyenangkan. Pembaca seakan diajak mengikuti alur cerita tentang plus-minus kehidupan orang-orang di Saudi Arabia.

Walaupun pelan, bis ini sudah melaju melewati terminal kota Banjarnegara. Sekarang terus melaju menuju perbatasan Banjarnegara-Wonosobo. Semakin meninggalkan kota tercinta ini, cuaca semakin mendung menggelayut. Matahari semakin menghilang dari ujung barat. Sudah bisa ditebak, saat memasuki wilayah Sigaluh-Wonosobo, hujan rintik-rintik datang. Cuaca semakin dingin.

Saya makin asik dan terhanyut terbawa cerita buku yang saya baca. Jaket yang masih tertata rapi di dalam tas akhirnya saya keluarkan demi menerpa hawa dingin ini. Penumpang naik-turun masih menjadi pemandangan yang monoton sepanjang perjalanan ini. Si ibu dan anaknya masih tetap ceria. Ibu-ibu tua di sebelah saya makin lelap saja tidurnya. Hening…bis ini melaju dengan pelannya hingga suasana terasa membosankan dan juga lama.

Hanya sesekali jalanan yang menghubungkan Banjarnegara-Wonosobo ini seakan menjadi pengingat saya untuk tidak terlalu terlelap. Ya..sudah ditebak, jalan propinsi yang melintas di Banjarnegara ini kondisinya tidak mulus. Bergelombang di sana-sini. Jalanan yang berliku-liku seakan menembus gelapnya kabut sore ini.

Pemandangan dan suasana seakan berubah drastis saat bis ini melintasi gapura selamat jalan dari arah Banjarnegara. Gapura batas yang dibangun oleh kabupaten Banjarnegara terlihat lapuk, kusam dan ditumbuhi rumput-rumput liar. Beda sekali dengan pemandangan di depan saya saat ini. Sebuah gapura cukup besar berwarna emas dan berbentuk gunungan wayang pada bagian kanan-kirinya terlihat gagah, terawat dan juga baru.

Ya saat ini saya memasuki wilayah kabupaten Wonosobo. Seakan berpadu dengan kondisi gapura yang terlihat gagah, kondisi jalan di wilayah Wonosobo pun sangat mulus dan lebar meski berkelok-kelok. Rambu-rambu lalu lintas terlihat terawat dan dalam kondisi yang cukup baik. Lampu penerangan jalan pun terlihat cukup terang dan dalam kondisi baik. Sungguh sangat kontras sekali kondisinya bila dibandingkan dengan kabupaten Banjarnegara. Sebuah batas wilayah yang hanya berjarak beberapa meter saja sudah menyimbolkan suasana yang sangat kontras. Entahlah..apa ada jawaban kenapa kabupaten Banjarnegara ini selalu tertinggal dari daerah-daerah lain di sekitarnya.

Semakin memasuki jantung kota Wonosobo, pemandangan asri begitu mencolok. Aneka tanaman hias berjejer rapi di sepanjang jalan yang dilewati bis ini. Deretan pertokoan baik lama maupun baru terlihat rapi dan ramai dengan orang-orang yang hendak berbelanja. Ya saat ini adalah malam minggu, banyak orang-orang yang pergi ke pusat-pusat kota mencari hiburan bersama keluarganya masing-masing. Pantas saja kalau kabupaten Wonosobo mendapat julukan “Wonosobo Asri” macam “Banjarnegara Gilar-Gilar”.

Bis maju makmur ini berhenti di perempatan jalan seberang pusat perbelanjaan yang cukup terkenal di kota Wonosobo. Padahal sudah terlihat jelas rambu lalu lintas di depan sana yang melarang kendaraan berhenti pada lokasi ini. Entahlah..seakan peraturan dibuat untuk dilanggar. Berderet angkutan umum dari mulai ukuran yang paling kecil hingga besar terlihat bergantian ngetem seenaknya sendiri. Di seberangnya deretan pertokoan terlihat ramai oleh pembeli.

Perut terasa mulas pada saat yang tidak tepat begini. Niat hati ingin turun sebentar dan mencari toilet umum di sekitar sini namun rasa takut akan ditinggal bis masih lebih besar. Saya mengurungkan niat. Biarlah saya tahan sebentar sampai Kledung nanti.

Penumpang semakin banyak saat ngetem di Wonosobo tadi. Hari makin gelap, sebentar lagi mungkin adzan maghrib akan segera berkumandang. Kabut makin tebal. Rintik-rintik hujan makin deras saja. Hawa dingin makin menusuk tulang ini.

“Ya Tuhan…kenapa bis ini pelan banget?” Gerutu dalam hati.

Padahal seharusnya perjalanan Banjarnegara-Kledung tidak lebih dari dua jam. Tapi ini terasa lama sekali, mana hari makin gelap dan belum sholat maghrib. Tidak ada sama sekali tanda-tanda lampu dari dalam bis ini akan dinyalakan. Gelap..gelap dan dingin yang terasa. Bokong seakan terasa panas saking lama tidak beranjak dari kursi jok yang lapuk ini.

Perjalanan semakin menanjak. Ah..ini sudah memasuki wilayah Kretek-Wonosobo, sebentar lagi daerah Kledung semakin dekat. Mata ini semakin awas mengamati plang-plang yang berada di sepanjang jalan. Saya pun beranjak dari kursi jok ini, berpindah menuju kursi jok dekat pintu keluar dekat sopir.

Sesekali jari jemari ini mengusap-usap layar handphone. Saya mengecek BBM yang dikirimkan oleh Wedwi.

“Saya belum sampai Kledung, ini lagi istirahat sekalian mengisi perut, kamu tunggu di base camp kledung saja!” Begitulah bunyi BBM yang dikirimkan Wedwi, teman saya yang naik motor dari Semarang.

Saya pun googling dengan kata kunci “base camp kledung”…ya saya belum tau sama sekali seperti apa base camp kledung ini dan lokasinya berada dimana.

Saya menyimpan foto lokasi base camp kledung di layar handphone dan menunjukannya pada sang kenek.

“Pak..nanti turun di base camp kledung ya”, sambil menunjukan foto base camp kledung dari layar handphone.

“Oh..oke..bentar lagi sampai kok, itu di kiri jalan” jawab sang kenek tanda tau maksud saya.

Tidak beberapa lama saya pun turun persis di depan base camp kledung. Lokasinya yang berada di pinggir jalan raya ternyata cukup mudah dicari.

“Pelan-pelan mas, kaki kiri dulu” sang kenek memberi saran pada saya

“Iya pak…”

Sebuah bangunan balai dusun lumayan besar menyambut saya petang itu. Di depannya terdapat plang bertuliskan “Base camp pendakian gunung Sindoro via Kledung”. Ah saya sudah sampai. Ini tempat yang saya maksud sedari tadi.

IMG_20160125_175615

Selamat datang di Base Camp Kledung

Langit sudah semakin gelap. Sepertinya sholat maghrib telah usai. Saya bergegas menuju masjid terdekat. Kebetulan berada di atas base camp kledung. Syukurlah, waktu menunjukan pukul 18.35. Ah…masih keburu sholat maghrib ini. Saya pun bergegas menaiki anak tangga memasuki masjid yang cukup besar ini.

Saya harus berterima kasih pada bis Maju Makmur ini, biarpun pelan tapi bisa membawa saya sampai kledung ini dengan selamat dan tentunya saya masih bisa menunaikan sholat maghrib…..

Advertisements

24 thoughts on “Maju Makmur

  1. Gara

    Hmm… karena di gambar itu dibilang basecamp-nya ada di Temanggug, saya tadi mengecek aplikasi peta buat tahu bus ini lewat mana. Kok kayaknya dia lewat jalan yang mau ke Situs Liyangan… ternyata benar sajah! Ternyata naiknya bus Purwokerto–Semarang ya… cuma dari Parakan menuju situsnya yang saya agak bingung :haha *kok malah lost fowkes begini*.
    Kalau Kabupaten Wonosobo tampak lebih maju mungkin karena pendapatan dari sektor pariwisatanya jos banget kali ya, sementara di Banjarnegara belum semaju Wonosobo…

    Liked by 1 person

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      Yes bener pakai bis PWT-SMG terus turunnya di perbatasan wonosobo-temanggung yaitu kledung itu. secara lokasi sih masih deket ke wonosobo daripada temanggung tapi kan udah masuk wilayah kab.lain.
      Hmmm..mungkin pemda dan warga Banjarnegara sendiri yang belum pengin maju hehehe

      Liked by 2 people

      Reply
  2. Johanes Anggoro

    hehehe beginilah bus ekonomi mas.
    kenyamanan jauh dari kata layak. tapi sebanding dg harganya
    aku pernah naik ini dari wonosobo ke semarang masa 25rb??? pdhl aku sengaja pake duit 50-an karena gatau tarifnya. eh dikasih kembalian 25, kalo yg kenek nakal bisa saja dimahalin
    keneknya ramah. aku baru sadar hal ni jarang ditemukan pada bis bis patas. malah cenderung galak.

    Liked by 1 person

    Reply
  3. ghozaliq

    wkwkw aku angger numpak bis iki, senenge nang mburi cedak lawang, angine semiliiirr, tapi ya ora penake angger nang tanjakan kledung, asep knalpote bisa mlebu ming mburi…wkwkw
    Langganan 2006-2009 Banjar-Semarang, saiki tak wes mending travel apa bis patas, perlu waktu yang lebih ringkas angger pindah kota.

    kayak miniatur Indonesia, tua lan ngeden ra maju-maju,

    Liked by 1 person

    Reply
      1. ghozaliq

        kabehane sering, baisane aku menyesuaikan mbe jadwal keberangkatan,

        pengen cepet + brisik = sumber alam

        pengen alon + ayem = mitra,

        nek liyane esih seimbang antara kenyamanan dan kecepatan,

        Liked by 1 person

      2. ghozaliq

        sumber alam 70k, nek mitra dsb kui 90k, angka-angka kui lah..
        nomere mbuh, golet baen nang terminal mrican, aku biasane sih nang banjar, QQ travel (bangjo gayam maju sekitar 300 meter kidul dalan,,

        Like

      3. Hendi Setiyanto Post author

        nek qq travel, langgananku nek meng jogja hahaha, biarpun mahal dikit tapi nyaman karena ga desak-desakan terus armadanya kece…jadi masih satu dengan qq travel toh…

        Like

      4. ghozaliq

        iya, satu atap untuk pemesanan,

        nek jogja angele ora ana bis langsung, dadine kudu travel angger pingin cepet,

        mbiyen ya kui, banjar-sobo, sobo-magelang, magelang-jogja, jogja-sambung transjogja…awkaw

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s