Hari Yang Dinanti

Semua barang-barang yang dibutuhkan sudah tertata rapi di dalam tas ransel.

Baju, aneka makanan, obat-obatan sudah saya siapkan sejak beberapa hari yang lalu.

Hanya keberanian dan mental yang belum seratus persen.

Pagi ini, Sabtu, 23 Januari 2016 seperti biasa, pagi hari dimulai dengan ritual mandi pagi dan segala macam tetek bengeknya. Saya termasuk tipe orang yang paling males kalau disuruh menyetrika baju. Lebih milih disuruh cuci baju seember penuh daripada harus berpanas-panas ria menyetrika baju.

Sebuah kemeja batik terlihat kucel tergantung di dalam lemari.

Tiap kali mau pakai baju atau kaos, saya selalu mendadak menyetrikanya ketika akan digunakan saja, sisanya dibiarkan saja tergantung atau terlipat dalam tumpukan pakaian di dalam lemari.

Dag..dig..dug…

Jantung ini seakan berdetak begitu cepat, lebih cepat dari biasanya. Hari ini..ya  hari ini adalah hari yang dinanti itu tiba.

Ijab Qabul?

Bukan..bukan..lebih tepatnya belum.

Hari ini, rencana yang digadang-gadang seminggu sebelumnya akhirnya datang juga. Saya berencana mendaki gunung Sindoro bersama teman-teman yang sama sekali belum saya kenal sebelumnya. Hanya Wedwi saja yang saya tau.

Tapi bukan pagi ini.

Niatnya saya berangkat sekitar pukul dua siang selepas pulang kerja. Maka sabtu pagi ini dimulai dan diakhiri dengan rutinitas seperti biasanya.

Sayangnya, karena rasa antusias yang begitu tinggi sungguh membuat seluruh tubuh ini bak berada dalam kondisi yang tidak normal. Suhu tubuh terasa naik beberapa derajat celcius dari biasanya. Memang..saya merasa agak meriang.

Sebagai seorang pemula yang punya rencana mendaki gunung, tentu perasaan akan campur aduk. Pada satu sisi merasa tertantang, sementara pada sisi yang lain merasa mampu atau tidak. Tapi niat ini sudah bulat, saya harus menerima apa pun konsekuensinya nanti.

***

Ternyata saat bekerja pun saya tidak bisa konsentrasi. Berkat alasan itulah, saya memutuskan untuk pulang lebih awal sekitar pukul 12.30 siang, toh ini hari sabtu. Niat awal agar saya bisa istirahat sebentar sembari menenangkan diri sambil menunggu pukul dua siang itu tiba.

Rencana tinggal rencana…

Lima menit, sepuluh menit, tiga puluh menit, satu jam lebih…

Badan ini hanya gulang-guling sana sini, mata enggan terpejam, pikiran melayang ke mana-mana. Badan di Banjarnegara tapi pikiran sudah menjelajah jauh di Kledung-Gunung Sindoro.

“Ah..daripada capek mending mandi saja” Saran saya pada diri sendiri.

Setelah badan lumayan segar karena sehabis mandi, saya memutuskan untuk mengisi perut sebagai bekal perjalanan beberapa menit lagi.

Karena keasikan mandi dan mengisi perut, ternyata waktu sudah menunjukan pukul 14.30. Ah biarkan saja toh tumbenan sabtu sore begini cuaca begitu cerah. Mungkin Tuhan merestui rencana perjalanan saya kali ini.

Ibu terlihat duduk-duduk santai di beranda rumah.

Saya keluar dengan memakai kaos, celana jeans dan sandal gunung. Sementara itu, ransel yang tidak terlalu besar tapi cukup berat sudah terpasang rapi di punggung.

“Bu..saya pamit dulu ya” Sapa saya pada ibu

“Iya..hati-hati ya di sana…” Jawab ibu dengan nada yang sedikit agak kurang sreg.

Saya pun langsung meluncur-menepi ke pinggir jalan raya. Oh ya..saya akhirnya memutuskan untuk naik bis saja daripada bawa motor sendiri.

Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit…

Tak terasa, saya sudah berdiri hampir lima belas menit dan belum ada tanda-tanda keberadaan bis yang lewat depan rumah. Saya sedikit sangsi karena hari sudah semakin sore dan biasanya intensitas bis yang lewat semakin jarang, bahkan kadang sudah pulang ke garasi masing-masing. Maklum, karena ini bukan kota besar, jadi trayek bis biasanya tidak sampai pukul 15.00 apalagi yang menuju ke kota kabupaten.

Terdengar samar-samar suara deru mesin kendaraan dari arah barat sana….

Ah..itu bisnya datang juga akhirnya….

“Bu..saya pergi dulu ya…” Sekali lagi saya pamit pada ibu, kali ini dengan agak terburu-buru.

***

Sejurus kemudian saya sudah duduk anteng di dalam bis. Tidak banyak penumpang sore itu, hanya ada saya, sang sopir dan kenek. Lah..ini mah namanya kosong-mlompong…semoga bis ini tetap sampai kota kabupaten.

Syukurlah..di pertigaan pasar manis, bis ini mengangkut penumpang para siswa SMA yang baru saja pulang hingga sore begini. Sampai terminal Wanadadi pun bis ini tetap penuh dengan penumpang yang tadi diangkut sepanjang jalan Punggelan-Wanadadi.

Oh..ya niatnya saya hanya akan naik bis ini sampai terminal Mrican saja karena nanti harus berganti bis lagi yang menuju ke arah Semarang. Nah diantara Proyek Mrican-Semarang, saya akan turun di daerah Kledung, perbatasan Wonosobo dan Temanggung.

Saat sedang ngetem menunggu penumpang di terminal Wanadadi, saya secara tidak sengaja bertemu dengan seorang kakek-kakek yang hendak menuju RS Hj.Anna Lasmanah Sumitro Kolopaking-Banjarnegara. Rencananya sang kakek tadi akan menjenguk cucunya yang hendak melahirkan. Si cucu tersebut ternyata sudah mondok lebih dari tiga malam namun belum ada tanda-tanda kelahiran sang cicit yang dinanti-nanti oleh seluruh anggota keluarga.

Obrolan ngalor-ngidul tadi cukup membuat suasana sedikit tidak membosankan di tengah acara ngetem yang lumayan lama ini.

Cuaca di luar bis semakin terik, matahari semakin bersinar cerah. Tidak ada tanda cuaca mendung sama sekali.

Badan yang tadi terasa segar kini berganti dengan keringat yang mengucur deras. Suasana  di dalam bis begitu panas, maklum ini angkutan umum. Tidak ada penyejuk udara atau minimal kipas angin. Hanya ada jendela kaca yang bisa dibuka seadanya, namun itu akan bekerja jika bis ini sudah mulai melaju.

Akhirnya..setelah bis ini penuh oleh penumpang, akhirnya melaju juga.

Lega……..

Setahun lalu ketika hendak ke kota Jogjakarta, tarif bis dari rumah sampai terminal Mrican sekitar Rp 6,000,- namun sekarang tarifnya naik menjadi Rp 10,000,-. Entahlah, katanya harga BBM sudah turun, akan tetapi tarif angkutan umum masih betah pada angka saat BBM naik.

Perjalanan dari Wanadadi-Terminal Proyek Mrican sungguh berasa dalam perjalanan melintasi daerah terpencil lain di Indonesia. Jalan rusak dengan lubang yang menganga hampir memenuhi badan jalan ini. Bis ini melaju sangat pelan, namun goncangannya seakan cukup membuat seseorang yang mabuk kendaraan akan muntah-muntah dan pusing dibuatnya. Ini sudah seperti sedang mencoba menaiki wahana yang menantang macam yang ada di pasar malam.

Lima-Proyek-Bina-Marga-Putus-Kontrak

Jalan raya Wanadadi-Tapen yang rusak parah l sumber : radarbanyumas.co.id

Perut berontak…

Makanan yang tadi baru masuk sebelum berangkat seakan dikocok secara perlahan dengan goyangan yang bertubi-tubi dari guncangan bis ini.

Kepala sedikit pusing dibuatnya, untunglah saya tidak sampai harus muntah-muntah.

Saya jadi teringat akan pengalaman sang penjelajah Agustinus Wibowo dalam buku-bukunya. Dimana beliau menceritakan pengalamannya menaiki kendaraan di Negara yang masih dalam kondisi perang, Afghanistan. Ah…mungkin ini terlalu berlebihan dan bukan bandingannya akan tetapi saya merasa syok ketika jalan vital ini sungguh super hancur dan tidak kunjung ada perbaikan sama sekali.

Setelah hampir setengah jam merasakan guncangan hebat, akhirnya saya bisa terbebas juga dari penderitaan ini. Bis ini melaju terus, berganti dengan jalanan yang lumayan mulus. Maklum kami makin mendekati kota, jadi jalanan sedikit mulai diperhatikan.

Di sebelah saya terdapat seorang ibu dengan dua putrinya yang sedang asik mengantuk menikmati semilir angin dari balik kaca bis. Bahkan putri yang kira-kira berumur lima tahunan itu tertidur pulas di pinggang ibunya. Saya hanya bisa mengamatinya dari samping sini.

Di depan saya terdapat seorang kakek berpeci bak seorang kyai, lagi-lagi sedang dalam kondisi mengantuk yang cukup hebat. Saat bis tergoncang, si kakek tadi tidak goyah barang lima senti dari kursinya. Namun bau apek dari aroma tubuhnya begitu menusuk hidung saya saat ini. Saya harus rela menutup hidung beberapa saat karena terganggu dengan aroma tubuhnya. Ya..begitulah uniknya menaiki kendaran umum macam bis ini.

Gerbang Proyek Mrican terpampang di depan sana. Persis bersebelahan dengan lampu merah di pertigaan jalan raya ini. Ah..tujuan saya hampir sampai.

Waktu menujukan pukul 15.30. Saat lampu merah di pertigaan jalan raya tadi, saya memutuskan untuk turun saja di sini. Niatnya ingin istirahat sebentar sambil menunaikan kewajiban sholat Ashar di komplek perumahan PT.Indonesia Power.

Sebuah masjid cukup besar berada di belakang terminal Proyek Mrican ini. Saya bergegas ke sana. Suara adzan berkumandang mengajak umat muslim untuk berhenti sejenak dari aktivitasnya.  Beban ransel di punggung ini pun sudah cukup membuat saya tidak nyaman.

Setelah kurang lebih lima belas menit menunaikan sholat Ashar dan juga istirahat, saya melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki menuju terminal. Saya membuka tas dan mengambil satu sachet cairan anti masuk angin. Sebelum benar-benar masuk angin, saya lebih memilih mencegahnya terlebih dahulu.

Suasana sore itu begitu cerah. Kendaraan besar kecil berlalu lalang di jalan raya yang ramai ini. Langkah kaki ini semakin cepat, takut-takut ketinggalan bis berikutnya. Namun bis yang dinanti belum ada tanda akan lewat juga. Saya duduk sejenak sambil sesekali jari jemari ini mengusap-usap layar handphone.

Ah..itu bisnya datang juga…sesosok bis yang kondisinya lumayan jelek sudah terpampang di depan saya saat ini. Oke langsung saja saya bergegas masuk.

Bismilah…saya sudah siap…ini hari yang dinanti berminggu-minggu yang lalu, semoga semua lancar dan selamat sampai tujuan..aamiin.

Advertisements

8 thoughts on “Hari Yang Dinanti

  1. Gara

    Pengalaman pertama memang menegangkan banget ya, terasa sampai sini nih demam panggungnya :hehe. Kalau sudah begitu, memang mengamati sekitar bisa menjadi obat. Suka deh dengan pengamatanmu Mas, menyeluruh begitu pandangan matanya, jadi membuat kita penasaran dengan apa yang ada di benak pikiran orang-orang. Oke memang itu artinya saya kepo…

    Liked by 1 person

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s