Restu Ibu

Semua berawal dari pesan yang masuk melalui aplikasi blackberry messenger.
“Tanggal 24 mau ikut nggak ke puncak Sindoro?” tanya Wedwi melalui blackberry messenger.
“Wihh..tertarik…tapi kuat nggak ya…?”
“Kalau nggak kuat ya, istirahat dong”
“Apa banyak rombongannya?”
“Dua belas orang…..gimana?”
“Boleh..boleh…”

Tanpa berpikir panjang dan mempertimbangkan segala resikonya, saya mengiyakan saja ajakan Wedwi. Padahal, seingat saya terakhir camping kurang lebih sepuluh tahun yang lalu, itu pun mendaki perbukitan cadas Lawe di Banjarmangu-Banjarnegara.

Oh..ya..rencananya kami akan berangkat bersama-sama dengan rombongan mahasiswa dari Semarang yang kebetulan adalah teman dari Wedwi. Kami sebelumnya belum pernah bertatap muka sama sekali, jadi ini adalah pertama kalinya saya bertemu saat di base camp Kledung nanti.

Entah kebetulan atau tidak, hari minggu besok, kantor akan mengadakan acara perpisahan pimpinan yang lama yang harus dirotasi ke tempat lain. Rencananya acara perpisahan akan diadakan di dataran tinggi Dieng. Saya yang sudah terlanjur deal dengan Wedwi ke puncak Sindoro, harus rela untuk tidak ikut acara perpisahan kantor tadi. Untunglah..bisa ijin untuk tidak ikut.

Puncak Gunung Sindoro?

Hmmmm…selama ini saya hanya tau jika menyebut gunung Sindoro pasti diikuti dengan pasangannya yaitu gunung Sumbing.

IMG_20160130_111831

Saya hanya tau sosok gunung tadi saat pagi hari tiba. Dari arah timur terlihat jelas kedua gunung tadi yang berdampingan sejajar di perbatasan Wonosobo-Temanggung. Sisanya…tidak ada bayangan sama sekali seperti apa kondisinya.

***

Chatting pun berlanjut dengan diskusi super panjang mengenai jalur pendakian, lokasi bertemu hingga persiapan perbekalan apa yang harus dibawa.

Awalnya saya dan Wedwi akan berangkat dari Banjarnegara, padahal saat itu Wedwi sudah berada di Semarang. Jadi niat awal, Wedwi akan pulang dulu ke Banjarnegara pada hari sabtu tapi dipikir-pikir lagi ternyata menyita waktu dan tenaga saja karena besoknya harus berangkat lagi ke Sindoro. Berangkat dari pertimbangan tadi maka diputuskan, saya berangkat sendiri dari Banjarnegara.

Masalah berikutnya pun muncul. Sedianya kami akan naik ke puncak Sindoro pada hari minggu pagi, tapi setelah pertimbangan ini itu, jadwal pun berubah. Kita akan ke puncak Sindoro sabtu sore. Saya pun kelabakan karena waktunya yang begitu mepet, sementara itu pada hari sabtunya saya masih harus masuk kerja.
Okelah…ini bukan masalah besar..saya bisa minta ijin untuk pulang lebih awal pas hari sabtu nanti.

Diskusi selanjutnya adalah apakah saya harus bawa motor sendiri atau naik bis saja? Setelah saran ini itu dan saat sekarang ini sedang rawan patroli kendaraan maka saya memutuskan untuk naik bis saja. Selain lebih tenang tentunya bisa santai karena tinggal duduk anteng.

Berikut adalah beberapa barang-barang yang saya bawa sebagai persiapan pendakian ke puncak Sindoro:

Pakaian

1.Satu buah jaket tebal biasa (seandainya ada jaket parasut, tapi belum punya)
2.Dua buah celana panjang (satu celana kargo, yang satunya celana jeans elastic)
3.Dua buah kaos jersey (saya memilih kaos jersey karena ringan dan mudah kering)
4.Satu buah celana pendek plus daleman
5.Sepasang kaos kaki, sarung tangan, dan topi hangat (beani hat)
6.Satu stel jas hujan atasan dan bawahan
7.Satu buah kaos berlengan panjang dan empat buah masker
8.Sepasang sandal gunung (kebetulan saya belum punya sepatu gunung, jadi hanya bawa sandal)
9.Sebuah tas ransel biasa (ukuran berapa liter, saya kurang paham)
10.Beberapa kantong kresek berbagai ukuran dan plastik klip untuk tempat gadget
11.Sebuah sarung yang bisa digunakan untuk selimut juga sebagai penghangat leher kala dingin
12.Satu buah senter, charger hp, dan handphone (barang tambahan)

Perbekalan

1.Lima bungkus sereal siap seduh
2.Lima bungkus cokelat
3.Lima bungkus roti gandum
4.Lima bungkus mie instan
5.Lima bungkus sirup anti masuk angin
6.Lima buah sosis siap makan
7.Empat liter air mineral (sebagai seorang pemula, saat itu saya rasa air segini sudah cukup, ternyata tidak)

Saya tidak membawa peralatan memasak, tenda, sleeping bag, beras dan keperluan memasak lainnya karena ada teman yang mendapat tugas untuk membawa keperluan tadi.

Peralatan P3K

1.Sepuluh tablet paracetamol
2.Sepuluh tablet asam mefenamat
3.Sepuluh tablet diaform (obat anti diare)
4.Sepuluh tablet antasida
5.Sepuluh tablet ctm (bisa untuk alergi/gatal-gatal)
6.Sepuluh tablet sodium bicarbonate (kadang saya menggunakan obat ini ketika dehidrasi)
7.Sebotol OBH (obat batuk hitam)
8.Sebotol kecil alcohol untuk rawat luka
9.Satu rol kecil perban
10.Satu rol kecil plester
11.Sebotol kecil betadhine
12.Sepuluh bungkus oralit untuk mencegah dehidrasi
13.Sebotol kecil minyak kayu putih
14.Sebotol kecil balsem otot

Selain itu saya juga dimintai uang untuk iuran kelompok sebesar Rp 50,000,- dan Rp 75,000,- untuk keperluan lain-lain.

Kurang lebih seperti itulah beberapa perbekalan yang saya bawa, tentunya masih kurang sana-sini. Itu pun saya mempersiapkannya berdasar referensi artikel serta video dari youtube.

***

Oke…perbekalan sudah siap semua….

Persiapan berikutnya adalah persiapan fisik. Ya persiapan fisik sangat penting sekali, karena sudah sejak seminggu sebelumnya, si Wedwi sudah wanti-wanti agar saya mulai olahraga ringan. Padahal tau sendiri, saya adalah tipe orang yang malas bergerak. Saya sadar, pendakian gunung adalah berbekal fisik yang prima tentunya.

Jujur..saya hanya melakukan olahraga ringan macam angkat beban, lari-lari kecil hingga pemanasan tiap pagi dan sore. Ah…saya sadar itu belum cukup, tapi waktu yang mepet sungguh membuat gundah gulana.
Selanjutnya adalah persiapan mental….

Menurut saya, inilah persiapan yang sungguh membuat saya selalu kepikiran tiap hari. Pagi-siang-malam hingga saat kerja pun sungguh mengganggu hingga tidak bisa berkonsentrasi.
Perasaan seakan dibuat campur aduk antara antusias hingga rasa cemas jika kemungkinan terburuk terjadi…naudzubillah

Hari ini semangat sekali dengan rencana pendakian, tapi semua bisa berubah saat esok harinya. Perasaan tidak mampu seakan berkecamuk di dalam otak.

Apa nanti saya kuat hingga sampai puncak?
Apa nanti aman hingga sampai puncak?
Apa nanti saya tidak tersesat?
Bagaimana kalau hujan badai dan berkabut?
Bagaimana jika saya tertinggal dari rombongan?
Bagaimana jika saya cedera, siapa yang menolong?
Apa rekan-rekan saya nanti sudah berpengalaman?
Bagaimana kalau “amit-amit” ada yang celaka dan pulang tinggal nama?

Arghhhhh…pertanyaan-pertanyaan tadi seakan menghantui tiap detik nafas ini terhembus. Mungkin terlihat lebay, tapi begitulah adanya yang saya rasakan. Sebagai seorang pemula, tentu kita tidak tahu seperti apa rasanya naik gunung dan resikonya secara langsung jika belum mencobanya.

Ah..semoga ketakutan-ketakutan tadi hanya pertanyaan-pertanyaan yang wajar saat seorang pemula seperti saya, antusias hingga terbawa pikiran.

Ternyata mencoba tegar dan rileks belum cukup mampu membuat rasa gelisah ini berkurang.

Semakin mendekati hari H, saya malah harus terkena demam hingga diare. Ah..mungkin ini gejala demam panggung, saking antusiasnya.

Saya mencoba tidur lebih awal saat malam hari, maksudnya agar bisa lebih tenang. Sayang…semuanya gagal, malah saya seakan terkena insomnia, mata enggan terpejam hingga lewat tengah malam.

Untunglah..obat-obat tadi bisa menjadi dopping saat rasa cemas dan gejala demam panggung datang.

Saya harus siap fisik, mental dan lahir-batin, apa pun alasannya.

Saya tidak boleh menyerah sebelum mencoba..ya sebelum mencoba!

***

Setelah semua tantangan tadi, saya masih melewatkan satu hal penting. Ya…saya belum meminta restu pada ibu. Tau sendiri, ibu saya adalah tipe orang yang walau pun dalam keseharian tidak menampakan sifat peduli atau manja pada anak-anaknya akan tetapi aslinya orang yang sangat sayang pada anaknya. Buktinya tiap saya bepergian, ibu selalu cemas jika tidak menelepon saat sudah sampai tempat tujuan, atau pun tidak berpamitan saat hendak pergi.

Hati ibu mana yang tidak cemas saat anaknya hendak bepergian hingga pulang ke rumah dalam keadaan selamat. Semua ibu pasti merasakan hal tadi, minimal saya tau saat ibu bercerita rasa cemasnya ketika saya bepergian.

Momen yang tepat saat meminta ijin pada ibu adalah sore ini. Selepas pulang kerja, tiba-tiba teronggok sebuah paketan dari salah satu online shop di meja. Saya bukan sengaja belanja, tapi itu semua dikarenakan saya mendapat voucher belanja gratis.
Sebuah kaos, sepasang sandal gunung, dan dua buah buku traveling terhampar di meja ruang tamu. Saya kaget karena paketannya datang lebih awal, perkiraan saya adalah nyampai seminggu kemudian tetapi ternyata lebih cepat dari jadwal.

Aha..ini bisa jadi alasan ke ibu untuk meminta ijin mendaki gunung Sindoro. Saya pun mengutarakannya secara perlahan. Berawal dari hobi saya yang suka menulis di blog hingga hobi dadakan sering jalan-jalan. Saya beralasan jika hobi jalan-jalan selama ini adalah demi keberlangsungan blog yang saya kelola. Dan dari blog lah saya bisa mendapat rejeki ini itu. Ibu dan bapak pun mengangguk tanda paham atau pun malah sebaliknya.

”Bu..rencananya besok saya akan camping ke daerah Kledung”
“Sama siapa?”
“Sama Wedwi, bu”
“Sekarang kan musim hujan, apa tidak terlalu beresiko?”
“Tenang, bu,,kan kami bawa tenda dan juga bawa bekal, lagian semoga saja cuaca cerah”
“Lha emang berapa hari?”
“Rencananya berangkat sabtu sore terus pulangnya senin malam” “gimana, bu..boleh kan ya?”
“Kalau memang begitu, jelas sama siapa perginya ya silakan saja, tapi awas jangan sampai coba-coba mendaki gunung!”
“Sipp lah bu..”

Saya tidak berterus terang kalau sebenarnya, camping tadi dilakukan di puncak Sindoro. Maaf..bu..saya sedikit berbohong, tapi kalau jujur pasti bakalan dilarang.
Entahlah..kalau saya dibilang anak mami yang kemana-mana masih minta ijin sama orang tua, khususnya ibu. Saya percaya jika restu ibu itu merupakan sebuah doa, begitu pun sebaliknya. Itu juga berlaku bagi kakak laki-laki saya yang sudah berkeluarga, tiap bepergian pasti wajib meminta ijin dan doa restu terlebih dahulu kepada ibu.

Ahhh..lumayan lega walau pun saya setengah berbohong, akan tetapi setidaknya ibu tau kemana saya pergi. Plus..satu ciri khas ibu…”Kalau sudah sampai tempat tujuan, jangan lupa telpon ke rumah!”

Babak awal rencana perjalanan lumayan mulus terlewati, walau pun penuh perjuangan sana-sini. Saya tinggal memantapkan persiapan mental dan fisik mendekati hari H nanti.
Bagi saya, doa dan restu ibu adalah segalanya…..

Advertisements

25 thoughts on “Restu Ibu

  1. nunoorange

    Nah..lho..ketahuan kalo motornya bodong..hahaha..sampe takut razia segala. Tapi aku sendiri kadang pengen naik gunung, cuma ga bisa sama 1 hal…ga bisa eek sembarangan! :))

    Liked by 1 person

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      Hmmm..sengaja tak bikin banyak cerita dan bersambung biar tak terlewat satu momen pun pas pendakian kemarin.
      Akhirnya bilang sehabis mendaki gunung sindoro dan sampai puncak pas pulang malam-malam.
      Awalnya syok tapi memahami juga hehehe

      Like

      Reply
  2. Gara

    Kalau saya pergi ke suatu tempat dulu, setelah di lokasi baru telepon ke orang rumah (ini juga salah, sih). Tapi ya sesekali memang anak laki-laki kudu pergi ke tempat yang tak terduga, buat membuktikan ke diri sendiri kalau kita bisa. Dengan catatan, semua risiko mau kita tanggung, dan kita hati-hati di dalam perjalanan. Jangan lupa juga berdoa. Betul katamu, kalau kita belum coba, mana mungkin tahu bagaimana rasanya?
    Ditunggu lanjutan ceritanya! Seru nih.

    Liked by 1 person

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      Mungkin saya agak beda dikit ya..tetep minta ijin dulu biar ibu nggak was-was gitu hehehe toh ntar kalau sudah sampai lokasi mau nggak mau ya tetap diijinkan.
      Lanjutannya sudah ada kok tinggal nunggu momen yang pas aja biar nggak bosen gitu heheh

      Liked by 1 person

      Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      Saya juga ga pamit mau mendaki gunung hehehe, karena tau kalau ibu bakalan khawatir. Saya pamitnya camping di perkebunan teh gitu, tapi kakak laki-laki saya sudah curiga hehehe

      Like

      Reply
  3. cumilebay.com

    Jadi kamu ama wedwi jadian trus di restuin nyokap lw gitu ???? Hmmmmm.

    Btw gw sampai detik ini meskipun terpisah jarak jakarta gresik, tiap mau kemanapun selalu telp nyokap dan mminta restu. Walaupun itu cuman mau ke puncak bogor

    Liked by 1 person

    Reply
  4. ghozaliq

    pengalaman naik Sindoro jalur Kledung pas musim udan, sampe ketinggian 2500an masih kena hujan deras mas, padahal estimasi awan hujan ra bakal melu tekan 2000+, alhasil set4 sore tekan 10 wengi nembe rampung udane,,,ahahah
    lewat jalur sigedang (lor), malah pas blas ora udan, panase ngentang-ngentang…wkwkekwe

    moga ngesuk cuaca cerah mas, aman dari hujan dan babi 😀

    Liked by 1 person

    Reply
  5. Chocky Sihombing

    Restu ibu itu penting ya… saya jg kalo ke mana2 selalu bilang sama ortu, terutama ibu. meskipun kadang agak ngeyel karena selalu dikasi wejangan dulu di depan. ya namanya orang tua ya, hehehe… nice story anyway masbro! 😀

    Liked by 1 person

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      Sampai detik ini ya masih begitu dan semoga sampai seterusnya biar pas kita pergi, orang di rumah tidak cemas. Lagian kita pun jadi enak dan tanpa beban hehehe…terima kasih sudah mampir dan komen : )

      Like

      Reply
  6. zen

    gan saya kalau mau naik gunung juga tak lupa izin sungkem sama ibu, begitu juga dengan temen temen yang lain, soalnya kadang kita kalau mau naik gunung starnya dari rumah saya hehehe

    Liked by 1 person

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      haha ya benar, selain karena naik gunung kan penuh resiko jadi akan sangat durhaka jika “amit2” sampai terjadi hal buruk dan orang tua sampai tidak tahu sama sekali

      Like

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s