Gunung Lawe, Sumber di sini

Memori Gunung Lawe

Saya bukan anak pecinta alam.

Saya juga tidak terlalu tertarik dengan aktivitas mendaki gunung.

Tapi saya suka jika alam tetap lestari dengan cara ikut menjaga kebersihan lingkungan, tidak merusak pepohonan dan semacamnya.

Sempat terbersit saat kelas 1 SMK untuk  ikutan kegiatan ekskul pecinta alam yang tergabung dalam PALASE (Pecinta Alam Sekolah Ekonomi). Apa daya, niat tinggal niat saja. Akhirnya saya malah memilih ikutan ekskul bola volley.

Alasan pertama dan selanjutnya setengah hati ikutan ekskul pecinta alam adalah:

  • Kegiatannya pasti menyenangkan tapi bakalan susah, menyita waktu, tenaga juga.
  • Dulu jaman sekolah, ikut ekskul pecinta alam merupakan hal yang membanggakan dan prestisius.
  • Bisa kenal dengan senior-senior pecinta alam yang sudah kadung tenar dan punya banyak       penggemar cewek-cewek.
  • Punya nilai plus tersendiri ketika tahun ajaran baru karena bakalan terlihat keren saat murid-murid yang masih berseragam putih-biru mengikuti kegiatan MOS (Masa Orientasi Siswa).
  • Karena rumah saya yang jauh dari sekolah, selain itu saya juga tidak ngekost alias *balat, maka bakalan pulang sore terus dan tidak kebagian angkutan umum. Pasti jalan kaki sampai rumah!
  • Fisik atau stamina yang mudah ngedrop, saya sendiri tipe orang yang males berolahraga. Dulu kebetulan saja suka olahraga bola volley dan murid kelas 1 SMK wajib ikut ekskul maka dipilihlah ekskul bola volley.
  • Yang terakhir adalah, untuk ikutan ekskul pecinta alam harus mendapat persetujuan (surat pernyataan diperbolehkan mengikuti ekskul pecinta alam dari orang tua) yang sudah jelas dan pasti, orang tua tidak bakalan mau tanda tangan alias tidak setuju.

Jadi…sudah jelas, kalau kemungkinan ikut ekskul pecinta alam tidak akan pernah terjadi selama 3 tahun di SMK.

Namun, kemungkinan bisa terjadi kapan saja. Manusia hanya bisa menerka-nerka, namun terkadang niat spontan dan tak terduga datang secara tiba-tiba.

Saat libur sehabis ulangan tengah semester, banyak kawan yang berniat untuk mendaki dan camping di Gunung Lawe. Saat itu hari sabtu, saya dengan spontan memutuskan mengiyakan ajakan teman-teman tadi.

Oh ya..sebenarnya Gunung Lawe itu hanya sebutan orang-orang saja. Sebenarnya ini bukanlah sebuah gunung yang berada pada ketinggian ribuan meter. Ini hanya berupa bukit terjal bertebing bebatuan keras yang berada di kecamatan Banjarmangu-Banjarnegara. Lokasinya persis di sebelah utara kota Banjarnegara.

Dari kejauhan pun Gunung Lawe ini terlihat jelas dengan tebing yang seperti terbelah. Orang akan langsung paham jika itu merupakan sosok Gunung Lawe. Jika kita makin mendekat, maka sosok Gunung Lawe berada persis di pinggir jalan raya menuju ke Karangkobar hingga Dieng.

Jalan menanjak dan meliuk-liuk tadi persis mengelilingi sebelah selatan kaki Gunung Lawe. Jika dilihat dari atas sana, mobil-mobil dan kendaraan lainnya akan terlihat kecil sekali saat merayap mengikuti jalanan di bawah sana.

Dulu, Gunung Lawe ini menjadi salah satu destinasi favorit anak muda pada masanya. Cowok-cewek tiap akhir pekan bakalan ramai berkunjung ke sini.

***

Selepas jam pelajaran terakhir bahasa inggris, saat itu masih teringat jelas, guru bahasa inggris yang baru saja datang dari ibukota Jakarta, namanya ibu Shanti Anggraeni. Ibu guru muda yang masih gadis alias masih single. Kacamata khas yang tertempel. Barisan gigi yang terkawat dengan rapi. Tubuh yang langsing-malah terkesan kurus. Sungguh ingatan itu masih menempel kuat di dalam otak hingga detik ini.

Saya dan teman-teman lainnya sangat antusias sekali saat diajar oleh bu Shanti. Terkadang malah seringnya dijadikan bahan becandaan dengan terus meledek saat bu Shanti sedang berbicara di depan kelas. Ada saja bahan becandaan saat jam pelajaran berlangsung, mulai dari tiba-tiba menyeletuk hingga memotong pembicaraan beliau. Sungguh saat itu, kami seakan sedang berbicara dengan teman sebaya.

Selain lebih berasa akrab saat diajar oleh bu Shanti, beliau juga punya banyak ide cemerlang dan kadang anti mainstream saat mengajar. Saat jam pelajaran terakhir dan kebetulan jadwalnya mata pelajaran bahasa inggris plus cuacanya super panas (maklum, sekolah kami merupakan bangunan tua dengan tembok yang tebal, jendela yang tinggi dan lebar minusnya dekat toilet siswa) maka beliau berinisiatif mengajar di taman sekolah. Ya lebih tepatnya duduk-duduk santai di bawah rindangnya pepohonan sambil diajar bahasa inggris.

Saat jam terakhir itulah, kami dan teman-teman spontan memutuskan untuk mendaki dan camping di Gunung Lawe. Tak ada bekal yang mencukupi saat itu. Seragam pramuka juga terpaksa masih dipakai hingga di puncak Gunung Lawe. Hanya berbekal uang jajan yang lumayan cukup jumlahnya saja saat itu. Tenda? Sudah ada yang mempersiapkan. Alasan kenapa harus bawa uang yang cukup, akan saya jawab pada akhir cerita.

Saya, Fauzi, Agus, Margo, Akhmad, Budi, Arif dan Aris, kami berdelapan saat itu. Dengan menggunakan mikro bis, kami menempuh perjalanan menuju pertigaan Gayam-Banjarnegara. Saya pokoknya terima beres saja. Sambil berganti bis yang menuju arah Karangkobar, beberapa dari kami berteduh di emperan pertokoan. Sementara sebagian teman yang kebetulan rumahnya berada di sekitar kota, ada yang pulang terlebih dahulu mempersiapkan perbekalan.

Sekitar pukul 12 lebih, saat matahari sedang terik-teriknya, kami masuk ke dalam bis yang penuh sesak oleh penumpang. Mulai dari barang belanjaan hingga hewan ternak tumplek-plek menjadi satu. Bau dan hawa panas bercampur aduk. Saya mendapat jatah tempat duduk pada bagian jok belakang yang sudah sangat penuh. Untuk menggerakan kaki saja sangat susah plus perjalanan kami ke depan adalah jalanan menanjak dan berkelok-kelok. Belum ditambah lagi dengan udara panas di dalam bis.

Bis melaju melewati pertigaan arah Wanadadi-Banjarmangu-Banjarnegara. Semakin naik dan naik, perlahan tapi pasti, kami meninggalkan kota Banjarnegara.

Lawe adalah nama sebuah gunung yang merupakan bukit wisata dan bumi perkemahan yang terletak di desa Kendaga, Kecamatan Banjarmangu Kabupaten Banjarnegara. Gunung Lawe memiliki bentuk unik seperti unta dan dapat terlihat ke arah utara dari kota Banjarnegara, dan dari atas puncak gunung Lawe orang dapat melihat pemandangan seluruh penjuru Banjarnegara yang indah.

Wisata pendakian

Gunung Lawe, Sumber di sini

Gunung Lawe, aksi corat-coret ini jangan ditiru ya! Sumber di sini

Gunung Lawe oleh masyarakat Banjarnegara sudah dikenal sebagai ajang wisata pendakian gunung, yang lumayan “enak” untuk didaki. Disamping akses yang mudah ke wilayah pendakian, tinggi gunung juga tidak terlalu melelahkan untuk didaki.

Jalur pendakian utama yang paling mudah adalah melalui desa Kendaga, jalur utama kendaraan jurusan Banjarnegara-Karangkobar. Dari pusat kota kurang lebih hanya memakan waktu 20 menit, pendaki bisa turun di pintu gerbang pendakian di desa Kendaga. Dan untuk mendaki gunung berbatu ini, hanya dibutuhkan waktu lebih kurang 1 jam dari bawah untuk sampai ke puncaknya, sebuah pendakian yang cukup dapat dinikmati oleh pendaki pemula, bahkan oleh sebuah keluarga secara bersama sama, baik laki laki maupun perempuan.

267436_246561142023519_340845_n

Tebing gunung Lawe l sumber di sini

Di puncak pendakian, para pengunjung dapat melihat pemandangan wilayah kota Banjarnegara yang terhampar luas dari pusat kota hingga kecamatan-kecamatan di sebelah barat. Bendungan Jendral Sudirman atau lebih dikenal dengan sebutan “Waduk Mrican”, terlihat jelas dari puncak gunung. Demikian pula aliran sungai Serayu, sungai Mrawu dan hamparan persawahan.

Sumber: Wikipedia Bahasa Indonesia

Jangan tanya perlengkapan standar macam perbekalan yang memadai, sepatu gunung, ransel, atau pun celana kargo. Saya saat itu hanya terima beres saja, biar teman-teman yang membawa perlengkapan untuk Camping.

Karena baru pertama kali, pastinya nafas ini ngos-ngosan saat satu persatu tebing kami lewati. Rimbunnya pohon pinus menambah suasana asri.

Perjalanan mendaki sampai puncak memang tidak memakan waktu lama, akan tetapi kami sampai puncak lebih dari satu jam. Sebagai pendaki amatiran tentunya ini suatu prestasi.

Saat kami sampai area untuk mendirikan tenda, saya terkejut karena di pinggiran tenda-tenda sudah ada warung penjual aneka macam gorengan, mie instant hingga aneka minuman.

Sementara itu aneka bentuk pohon pinus menemani kami, berharmoni dengan tenda-tenda yang sudah berdiri di bawah pohon-pohon.

Ahh..saya baru paham kenapa teman-teman tidak terlalu banyak membawa perbekalan , ya karena di sini sudah ada yang jual. Kalau lapar tinggal ke warung saja.

Setelah beberapa lama berjuang mendirikan tenda, kami disambut dengan kabut tebal yang makin pekat plus angin yang lumayan cukup kencang. Sore itu sekitar pukul 17.30 tenda sudah selesai dipasang.

Semakin gelap suasana di sekitar tenda, semakin terlihat jelas dari kejauhan cahaya lampu berupa titik-titik yang begitu indah. Ya itu pemandangan kota Banjarnegara dari atas sini.

Seperti remaja kebanyakan saat itu, kami asik bersenda-gurau dengan teman diiringi alunan gitar. Hmm suasananya lebih seperti sedang ikut perkemahan Pramuka.

Saya yang sudah kelelahan malah tidur lebih awal disaat teman-teman yang lain masih asik bersenda-gurau. Berbekal sarung yang saya bawa dari rumah, malam itu saya lewati dengan suhu udara yang dingin menusuk hingga ke tulang. Salah sendiri tidak membawa jaket tebal, kaus kaki.

Pagi hari tiba……

Ini merupakan masa-masa krisis bagi saya.

Saya yang terbiasa buang hajat rutin tiap pagi atau tiap bangun pagi, harus buru-buru mencari semak-semak terdekat. Sayangnya di sini jarang ada semak-semak, walhasil saya harus menuruni bukit beberapa meter untuk sekedar buang hajat plus dekat dengan sumber air.

Entah keberanian apa yang saya punya saat itu.

Cuaca pagi masih begitu gelap, dengan hanya memakai naluri dan berpengangan deretan pohon pinus, saya menuruni bukit hingga ke bawah.

Ah…sepertinya di sini cocok nih…

Dengan seribu langkah dan menahan perut yang sudah makin mules dan berkontraksi, secepat kilat saya berlindung di balik semak-semak.

Ah..legaaaa….

Tenang..di belakang saya ada sebuah aliran sungai kecil, jadi bisa buat cebok.

Setelah puas, saya baru sadar kalau saya buang hajat dekat sekali dengan punden berupa bebatuan yang terlihat mistis. Bulu kuduk saya merinding.

Duh..maaf..siapa pun penunggu atau penguasa daerah ini, saya lancang di rumah orang.

Maafkan..kelancangan saya.

Secepat kilat pun saya berlari menuju tempat kami mendirikan tenda.

Keringat mengucur deras…

Kaki pegal..

Perut pun agak sedikit mules lagi..

Ah…semoga cukup mulesnya..

Karena buang hajat tersebut, saya pun ditinggal teman-teman yang ternyata sudah mendaki hingga sampai puncak gunung Lawe ini yang berupa bebatuan mirip tanduk.

Sinar matahari dari arah timur semakin terang.

Saya pun hanya duduk di tenda sambil menyaksikan orang-orang mendaki sampai puncak.

Ahhh…saya terlewat momen penting itu, menyaksikan matahari terbit dari puncak sana.

Hari makin siang, satu persatu orang-orang mulai mengemasi barang-barang dan membokar tenda masing-masing.

Ini waktunya turun gunung dan pulang.

Semua barang sudah dikemas, kami pun satu persatu turun gunung dengan muka yang kelelahan. Saat turun gunung terasa begitu cepat, entahlah sebabnya.

Kami sampai di pinggir jalan raya menuju rumah masing-masing. Saya dan Akhmad menuju daerah Wanadadi karena kita satu arah. Sementara teman yang lain ada yang kembali ke kota Banjarnegara.

Itulah sedikit pengalaman mendaki gunung Lawe sekitar sepuluh tahun yang lalu, sudah sangat lama sekali, akan tetapi saya masih ingat terus momen-momen yang berkesan tadi.

Advertisements

30 thoughts on “Memori Gunung Lawe

  1. Adie Riyanto

    Gak perlu ikut jadi anggota mapala untuk bisa naik gunung. Tapi, di mapala memang kemampuan dasar ini diajarkan. Biasanya sampai praktek juga langsung di lapangan. Jadi tetep fun. Yang paling gw benci sih cuma masalah senior yunior aja, selebihnya, gw suka pergaulan di antara anak2 mapala. Btw, gw belum pernah mendaki gunung di kawasan Jawa Tengah nih. hehehe 🙂 #kode

    Like

    Reply
  2. Fanny f nila

    Akupun ga cocok utk ikutan klub pecinta alam mas ;p.. tau dirilah ama kondisi bdn yg ga terlatih utk naik2 gunung gitu… walopuuun, aku ttp lebih suka dngn wisata gunung drpd pantai 😉

    Liked by 1 person

    Reply
  3. Gara

    Lain kali lihat-lihat sekitar kali ya Mas kalau mau buang hajat :haha. Syukurlah tapi tidak ada yang terjadi–cuma saya penasaran dengan pundennya, seperti apakah kelihatannya? Gunungnya bagus, kalau mau pendakian ekstrem bagi para profesional mungkin bisa ya, untuk pendakian keluarga pun boleh. Cuma ya jangan terlalu dekat sisi terjal, kalau kenapa-kenapa lumayan peer juga.
    Mas, bagaimana itu caranya menulis dengan ada alineanya? Bagi tipsnya dong :hehe.

    Like

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      Duh maklum saat itu pagi masih gelap banget dan juga sudah kebelet banget.
      Hmm bentuknya hanya batu-batu yang berserakan tapi dikelilingi semacam tanaman mirip kuburan gitu.
      Kalau yang sudah ahli malah ada yang lebih milih mendaki tebing bebatuannya itu layaknya olahraga panjat tebing.
      Untuk keluarga bisa banget, cuma di atas tempatnya tidak terlalu luas jadi harus bergantian.
      copas kode tadi dan letakan di kode html saat mau menulis di blog ya heheh

      Liked by 1 person

      Reply
  4. susi

    Sebener nya saya juga udah lama pengen naik lawe cuman nyali belum kumpul .. pengen nya juga sendirian tapi ya gitu masih takut sama yg berbau mistis jadi masih ragu ragu

    Liked by 1 person

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      Kalau bisa sih jangan sendirian hehehe,a syiknya kan rame-rame. Memang di lawe ada pundennya gitu, dulu sempat sadar setelah habis buang hajat gitu hehehe

      Like

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s