Di Luar Ekspektasi

“Lihat, ada plang bertuliskan “Watu Belah”

“Yang di sebelah mana?” tanyaku pada Wedwi.

“Lah itu di kiri jalan yang menanjak itu lho”

“Oh..yang banyak pohon pinusnya itu tho…”

“Yups..betul”

Sungguh kontras sekali ketika barisan hutan pinus dan damar yang begitu rapat, hijau dan tinggi-tinggi berada persis di pinggir jalan raya yang menanjak ini. Beberapa deretan perumahan warga berada persis di seberang jalan ini. Letaknya berada di antara lereng tanah yang curam.

Selamat datang di Kecamatan Pagedongan!!

IMG_20151220_110035

Jalan di antara pohon damar di Pagedongan

Kami memasuki wilayah kecamatan Pagedongan-Banjarnegara. Lokasinya berada di sisi selatan kota Banjarnegara. Sebuah kecamatan yang letaknya tidak jauh dari kota kabupaten, akan tetapi pemandangannya begitu kontras.

Hamparan sawah hijau bak permadani, tergelar di sisi kanan-kiri jalan.

Aliran anak sungai yang bercabang-cabang menjadi semacam nadi untuk mengairi sawah-sawah milik warga.

Deretan pohon durian, petai, salak berjejer rapi.

Semua pemandangan tadi berganti menjadi kawasan hutan Pinus-Damar ketika kita semakin mengikuti jalanan yang menanjak di atas sana.

Jalanan sempit nan mulus diapit oleh hutan pinus dan damar yang terlihat sangat rapat. Aroma semerbak getah pinus dan damar menyeruak hidung bagi siapa pun yang melewati kawasan ini.

***

Motor kami menepi menuju jalan setapak yang terdapat plang bertuliskan “Watu Belah”. Di sebelah jalan setapak ini terdapat sebuah bangunan semi permanen yang digunakan untuk menampung beberapa drum-drum yang telah terisi oleh getah pinus. Baunya semerbak wangi khas dan bagi saya malah sangat menyegarkan.

Setelah menepi, motor kami masuk ke dalam kawasan hutan ini. Di depan kami terdapat banyak pohon pinus yang berdiri tegak gagah. Tinggi..tinggi sekali. Pada bagian batang pohonnya terdapat bekas sayatan-sayatan yang masih mengeluarkan getah berwarna putih tidak terlalu bersih. Dengan mangkok-mangkok yang terbuat dari batok kelapa yang dijadikan sebagai tempat penampungan getah-getah tadi.

Hawa di sini sungguh sejuk, malah pada beberapa bagian dekat pohon yang teduh, suasananya bikin merinding. Entah kenapa seakan hawa mistis saya rasakan saat berdiri di depan sebuah rumah sederhana bercat putih semi hijau dengan berlantaikan tanah ini.

Rumah yang saya maksud tadi merupakan tempat para pekerja PERHUTANI berkumpul. Pada bagian dalam terdapat bangku-bangku kayu sederhana. Meja lapuk teronggok pada beberapa bagian. Papan putih yang terlihat kotor tertempel pada bilik kayu yang dijadikan sebagai tempat mencatat hasil panen getah pinus per hari.

IMG_20151220_112921

Jalan di antara pohon damar di Pagedongan

Sungguh sepi..saat kami masuk ke sini, di dalam rumah tidak ada tanda-tanda keberadaan orang. Hanya sebuah tas, topi dan sepatu boots yang tergeletak di meja lapuk itu. Seandainya kami orang yang hendak berbuat jahat, tentu ini merupakan kesempatan emas untuk mengambil barang-barang tadi. Tapi tidak..kami ke sini dengan niat dan tujuan yang baik.

***

Selain sebagai tempat mengumpulkan getah pohon pinus, Watu Belah ini juga dijadikan sebagai lokasi pembenihan dan penyemaian aneka macam bibit pohon, terutama pohon pinus, damar, dan jati.

IMG_20151220_111254

Bibit pohon damar

Sungguh, kami tak mengira kalau “Watu Belah” ini merupakan hanya sebagai nama tempat saja. Sebelumnya saya pikir kalau penamaan Watu Belah karena terdapat batu berukuran besar yang terbelah.

Ah…..ini benar-benar di luar ekspektasi….

Karena sudah terlanjur mampir ke sini, kenapa tidak menjelajahi sudut-sudut tempat ini yang begitu indah ? tentu saja kami tidak melewatkan kesempatan ini jika tidak berfoto-foto di antara rimbunnya pohon pinus.

IMG_20151220_112051

Hutan pinus di Watu Belah

Saat kami ke sini hanya ada beberapa rombongan muda-mudi yang terlihat stylish sekali.  Untuk remaja lelaki memakai celana jeans, sepatu gunung, dan  Koleksi Kemeja Flanel yang terlihat sangat pas sekali dengan umur mereka. Mereka pun asik berfoto dengan latar belakang pohon pinus yang super tinggi di belakang mereka. Ah…ditambah lagi mereka masing-masing menggandeng pasangannya masing-masing.

Lah kami…?

Saya ke tempat ini bersama teman akrab saya, Wedwi namanya. Sudah beberapa kali, kami sering menjelajah dan nDayeng bersama. Mulai dari hutan, curug, dataran tinggi Dieng sudah pernah kami kunjungi bersama-sama.

Yang lebih membuat kami sedikit terganggu adalah penampilan kami yang bak gembel. Maklum..kami baru saja mengunjungi Curug Pletuk dan baju kami basah semua, walhasil saat ini kami hanya memakai celana pendek lusuh, sandal gunung, kaos oblong dan ransel yang tergendong di punggung. Sungguh sangat kontras dengan penampilan mereka yang terlihat menarik. Memang sesekali boleh juga tampil menarik saat travelling. Walaupun bukan pergi ke tempat wisata yang berada di kota, akan tetapi tampil menarik, tidak berlebihan dan juga sesuai dengan lokasi yang dikunjungi juga sah-sah saja sesekali dicoba.

Kami pun hanya cuek saja dengan penampilan kami saat itu. Mau gimana lagi hanya ini satu-satunya baju yang tersisa dan kering. Sisanya basah kuyup terkena air saat di Curug Pletuk. Tapi dengan moment tadi, saya jadi berpikir kalau ke depannya bakalan lebih memperhatikan penampilan saat travelling.

Salah satu hambatan tinggal di kota kecil seperti Banjarnegara ini adalah, terbatasnya pilihan barang dan toko saat hendak berbelanja. Namun di era digital seperti ini, hambatan seperti itu bukanlah suatu masalah besar. Saat ini sudah begitu banyak Toko Online yang bertebaran. Tinggal browsing toko online, pilih barang, bayar, dan nunggu barang sampai di rumah, mudah kan?

***

Semakin lama kami menyusuri jalan setapak ini, tak terasa langkah kami makin masuk ke dalam rimbunnya pohon pinus. Sementara itu si Wedwi masih sibuk dengan kameranya. Jepret sana-sini, mencari objek yang terlihat menarik dan bisa diposting ke Instagram.

IMG_20151220_113038

IMG_20151220_113100

Saya sendiri hanya duduk termenung di atas rerumputan hijau sambil sesekali mengurut kaki ini yang terasa pegal. Sungguh rasa lelah masih begitu terasa setelah kami pulang dari Curug Pletuk tadi. Udara sejuk, semilir angin dan semerbak wangi getah pinus menemani saya saat itu.

Ah….segar rasanya…

Sejenak melupakan rutinitas kepenatan selama senin hingga sabtu kemarin yang terkadang sangat membosankan. Saya hanya punya jatah libur tiap hari minggu saja dan sungguh saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.

Muda-mudi tadi masih terlihat bahagia di ujung sana. Nampak dari kejauhan, mereka sedang asik berfoto-foto secara bergantian. Kami sudah lelah dan hendak memutuskan untuk mengakhiri penjelajahan di Watu Belah ini. Saat kami hendak pulang pun, belum ada tanda-tanda orang di dalam rumah di tengah hutan ini. Agak heran juga, dimanakah mereka?

Ah..sudahlah…lupakan tentang rumah itu…

Perlahan, motor ini pergi meninggalkan tempat ini. Bau harum getah pinus semakin menghilang seiring laju motor ini pergi semakin menjauh.

Perut sudah sangat kelaparan, belum terlihat warung makan di sepanjang jalan ini. Kami terus melaju semakin cepat mencari warung makan terdekat yang barangkali ada. Setelah sekian lama tidak menemukan tanda-tanda keberadaan warung makan, akhirnya kami memutuskan untuk mengisi perut di kota saja. Biarlah beberapa puluh menit ke depan, kami menahan lapar. Toh peribahasa juga berkata “Berakit-rakit ke hulu-berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dulu- bersenang-senang kemudian”.

Advertisements

31 thoughts on “Di Luar Ekspektasi

  1. Gara

    Batu belahnya memang pasti bikin penasaran… tapi kalau sudah tak ada, mungkin itu hanya masa lalu. Pohon pinusnya bagus… sejuk pasti di sana ya. Pengen merasakan sejuknya, yang sampai membuat pinus berbuah, pasti udara di sana segar sekali. Kalau hujan, petrikornya bakal sangat berasa tuh…

    Liked by 1 person

    Reply
      1. Gara

        Iya, habisnya kalau memikirkan pinus, saya pasti keingat sama tanah basah, dan petrikor, haha. Kecampur dengan bau getah pinus lagi, aaaak keren keren.

        Like

  2. abah shofi

    pemandanganya bagus mas… pernah eksplor hutan pinus di hutan lindung nani wartabone gorontalo. wanginya campur antara udara yang segar dengan aroma khas getah pinus 😀

    btw tulisannya ciamik mas, mantap.

    Liked by 1 person

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s