Si Muncar Yang Kini Terlupakan

Berawal dari rasa penasaran akan keberadaan potensi wisata di kecamatan Punggelan yang begitu luas, sudah beberapa hari ini saya mencari tahu info ataupun kabar burung yang beredar di masyarakat mengenai obyek alami yang bisa dijadikan tempat wisata. Salah satu yang membuat saya penasaran adalah keberadaan Curug Muncar yang populer menjadi lokasi favorit anak muda pada tahun 90-an. Ya generasi kakak saya saat itu begitu menggandrungi curug ini.

Berbekal cerita dari mulut ke mulut, saya mulai mencari info lokasi curug ini melalui rekan kerja yang kebetulan rumahnya masih satu desa dengan lokasi Curug Muncar. Hanya inilah satu-satunya cara yang bisa saya usahakan untuk menggali lebih lanjut sosok Curug Muncar ini.

Pak Rohman namanya, lelaki tinggi besar, kulit sawo matang, perut sedikit buncit, kumis tebal dan rambut yang sedikit ikal. Sekilas tampak menakutkan tampilan Pak Rohman ini, akan tetapi aslinya orang baik, ramah dan sangat royal dengan sesama rekan kerja.

Eka Purwanti namanya, perempuan bertubuh mungil dan sudah mempunyai anak tiga ini menceritakan kenangan masa lalunya saat masih SMA. Saat itu perempuan mungil ini memiliki rambut yang super panjang akan tetapi sedikit tomboy. Sama seperti anak muda di berbagai belahan dunia, dia pun sangat suka sekali jika diajak kelayaban atau ndayeng. Karena sifatnya yang sedikit tomboy itulah, dia bebas bepergian dengan laki-laki sebayanya.

Dari pengalaman Eka Purwanti dan Pak Rohman lah semua informasi mengenai Curug Muncar saya peroleh dengan lengkap. Saat masih muda merekalah yang pernah mencicipi ketenaran Curug Muncar yang lokasinya tidak terlalu jauh karena masih berada di wilayah kecamatan Punggelan.

Menjelajah hutan dan sungai seperti sudah menjadi hal yang lumrah saat itu. Berjalan kaki hingga berpuluh-puluh kilometer ramai-ramai tidak terasa melelahkan karena dilakukan secara bersama-sama. Pada masanya, sepeda motor pun masih jarang apalagi angkutan umum yang melewati trayek ke daerah Punggelan yang berbukit-bukit. Akan jamak ditemui walaupun anak-anak gunung ini banyak yang bersekolah ke kecamatan tetangga. Seringkali saat mengikuti kegiatan sekolah hingga sore hari, mereka-mereka ini harus rela berjalan kaki yang lumayan jauh hanya untuk sekedar bisa sampai rumah.

Saya pun masih mengalami kondisi seperti tadi. Berjalan kelelahan saat matahari mulai tenggelam dengan tas masih tergendong di punggung. Menahan rasa lapar hingga mata ini harus jeli melihat kendaraan yang kebetulan lewat menuju daerah atas sana. Sembarang kendaraan mulai dari truk besar, angkutan barang hingga sepeda motor tua yang kebetulan lewat pun seperti sebuah kesempatan emas untuk  sekedar mencoba peruntungan.

Jaman sudah berubah, kini orang bisa bepergian jauh hingga ke ujung bumi. Apalagi kecanggihan teknologi juga berperan penting. Semua orang yang bisa mengakses internet bisa mencari lokasi-lokasi wisata yang sudah populer atau malah yang masih jarang orang tau.

***

Rencana awal adalah, sebelum mengunjungi Curug Muncar, saya sekalian mampir ke rumah Pak Rohman. Di sekitar rumahnya banyak terdapat tanaman salak pondoh, durian, hingga beberapa kolam ikan yang berisi aneka macam jenis. Kapan tepatnya harus ke sana saya masih ragu. Apa harus menjelajah sendiri atau mengajak teman, saya pun masih belum memutuskannya.

Hari minggu (27/12/2015) ini merupakan libur yang cukup lama karena hari sebelumnya adalah tanggal merah memperingati Maulid Nabi-Hari Natal-Sabtu hari kejepit. Saya malah menghabiskan libur yang cukup lama tadi hanya berdiam diri  di rumah sambil sesekali melahap buku-buku yang beberapa minggu lalu dibeli.

Setelah jenuh dengan rutinitas yang itu-itu saja, akhirnya saya memutuskan hari minggu pagi sekitar pukul 08.00 menyiapkan barang yang diperlukan untuk menjelajah. Semua rapi, dari tongsis, bekal hingga baju ganti sudah masuk dalam tas. Karena kali ini saya menjelajah sendiri walhasil mau tidak mau harus membawa tongsis. Sebelumnya barang ini jarang sekali digunakan saat bepergian.

Tangki sepeda motor sudah terisi bensin. Dengan memakai celana pendek, saya memulai perjalanan ini dari rumah di desa Karangsari. Melewati Pasar Manis mengikuti jalan raya ke arah timur. Kali ini saya memilih jalur kantor kecamatan Punggelan naik terus melewati perbukitan di ujung utaranya. Oh ya, curug Muncar sendiri berada di dusun Menggora-desa Tanjungtirta-kec.Punggelan. Sebenarnya bisa juga menuju ke sini via desa Bondolharjo, akan tetapi terlalu jauh jaraknya dari rumah.

Rute jalan di depan adalah menanjak dengan dominasi perumahan di pinggir jalan. Mayoritas penduduk desa adalah petani dengan hasil bumi berupa pisang, salak pondoh dan durian. Jujur penjelajahan kali ini hanya bermodalkan nekat saja. Walaupun sebelumnya sudah tanya rute pada Pak Rohman akan tetapi saat menjelajah sendiri tentu beda.

Kesasar? Pasti…….

Saya dengan pedenya sudah mengendarai motor ini terlalu jauh hingga mendekati dusun Tangkisan yang berada di bawah perbukitan. Untungnya ada beberapa pekerja sekitar desa yang sedang memperbaiki jalan hingga saya memutuskan untuk bertanya. Karena sudah kebablasan lumayan jauh, akhirnya saya berbalik arah menuruni jalan kembali ke titik awal.

Berbekal bertanya kesana-kemari mulai dari tukang batu yang sedang mengangkut batu ke pinggir jalan, kakek-kakek yang sedang merumput hingga bapak-bapak ramah yang terlihat sangat reaktif saat saya menepi di pinggir jalan dan terlihat kebingungan.

Lagi-lagi kendala utama adalah kondisi jalan yang mulus-sedikit mulus-rusak-rusak parah-jalan berbatu hingga jalan hotmix yang masih baru. Naik-turun, belok kanan-kiri seperti sudah menjadi hal yang lumrah saat menelusuri dusun-dusun di kecamatan Punggelan.

Selalu percaya jika di jaman yang katanya modern ini masih banyak orang baik yang bisa ditemui dimana saja. Saat jalan sudah buntu dan tidak tahu lagi harus bertanya kepada siapa, datanglah sesosok anak muda di persimpangan jalan di depan. Pemuda berkulit bersih dengan rambut lurus agak gondrong. Menaiki sepeda motor ber cc besar dengan menggendong knalpot di punggungnya.

Sebut saja namanya Luki.

“Permisi, mas..mau tanya, kalau arah menuju dusun Menggora yang terdapat curug Muncar lewat mana ya?”

“Oh Dusun Menggora masih lumayan jauh mas, emang yakin mau ke curug Muncar? Asli kalau sudah kesana bakalan kecewa karena jelek banget curugnya”

Saat mas-mas tadi berkata begitu, saya agak kecewa juga karena membayangkan sosok curug Muncar tadi yang digambarkannya.

“Iya mas, mau ke curug Muncar, yah..biarpun curugnya katanya jelek tapi saya masih penasaran ingin melihat langsung bagaimana kondisinya”

“Kalau begitu, kamu ikuti saya saja di belakang, kebetulan saya juga mau menuju ke arah dusun Menggora”

Mas Luki pun dengan baik hati menawarkan bantuannya.

Karena jalanan berbatu, maka saya pun mengikuti laju motor mas Luki tadi secara perlahan. Naik turun bukit hingga melewati jalan rusak-mulus pun dengan sabar saya mengikutinya. Hingga kami akhirnya menemui jalanan beraspal mulus meninggalkan jalanan pedusunan tadi. Sekelilingnya di sambut dengan barisan pepohonan palem yang teduh, berjajar rapi di pinggir jalan. Sebuah bengkel motor dan warung sederhana terlihat di bawah rindangnya pohon palem tadi.

Di ujung jalan pertigaan terlihat sebuah bangunan sekolah dasar, disinilah tempat kami berpisah melanjutkan perjalanannya masing-masing.

“Terima kasih ya mas atas kemurahan hatinya”

“Sama-sama, semoga sampai lokasi curug dengan selamat ya”

Perjalanan kami dipisahkan oleh dua lajur jalan yang saling bertolak-belakang. Saya menuju jalanan yang menanjak dengan lubang yang menganga di badan jalan. Sedangkan Mas Luki menuju jalanan yang menurun berkelok dan mulus. Padahal jarak keduanya begitu dekat, namun garis batas desa membuat keduanya berbeda sangat jauh.

Hal yang tak terduga menyambut saya saat melintasi jalanan menanjak ini. Sebuah pemandangan yang terlihat antara lucu dan mengenaskan tersaji di depan mata. Sebuah sepeda motor bebek dengan tiga orang penumpang dalam satu motor terlihat jungkir balik dan terperosok menuju selokan di samping jalan. Untungnya tidak sampai ada yang terluka, hanya sepeda motor saja yang nyungsep begitu saja. Saya hanya berhenti sejenak kemudian melanjutkan lagi perjalanan.

Di sebelah kiri seberang jalan sana terdapat deretan rapi rumah-rumah beratapkan asbes dengan cat putih yang terlihat seragam mengikuti lajur jalan kecil di tengah permukiman. Menurut warga sekitar yang saya temui, perumahan baru ini adalah salah satu tempat relokasi pengungsi tanah longsor yang beberapa waktu lalu terjadi di kecamatan Punggelan. Permukiman ini terlihat mencolok diantara rimbunnya tanaman perkebunan milik warga. Terlihat jemuran baju yang terpampang di depan halaman rumah masing-masing warga.

Nampak dari kejauhan, deretan perbukitan terjal yang ditumbuhi pepohonan pinus. Semakin mendekat semakin terlihat pucuk-pucuk pohon pinus yang terlihat rapi memenuhi punggung perbukitan. Pada beberapa bagian jalan masih terlihat bekas longsoran tanah yang terlihat menganga dari atas sana. Susunan bebatuan rapi yang berbalut rangka-rangka kawat besi terlihat teronggok di pinggir jalan. Sepertinya proyek pembuatan tanggul penahan tanah pada tebing masih belum selesai dikerjakan.

Kali ini jalanan yang dilewati berupa jalan yang terbuat dari cor-coran semen, yang dikerjakan swadaya oleh masyarakat dusun Menggora. Sebuah madrasah ibtidaiyah berdiri di seberang jalan dengan bocah-bocah cilik berbusana muslimah, sedangkan untuk bocah laki-laki memakai pakaian koko dengan topiah di kepalanya. Mereka tengah asyik berlarian kesana-kemari sambil tangannya memegang aneka macam jajanan. Meskipun berada di daerah terpencil akan tetapi fasilitas umum macam sekolah dasar dan balai pengajian terlihat tersebar di sepanjang jalan yang saya lewati.

Prakkkkkk…!!!!

Hampir saja motor ini nyungsep dan jatuh saat melewati jalan yang menurun. Mata ini seakan disadarkan untuk lebih waspada karena jurang yang cukup dalam terlihat di depan mata. Jalan rusak dan sempit ini berujung jalan buntu di antara pemukiman warga dusun Menggora. Saya harus lincah mengendarai motor melewati halaman serta  lorong-lorong rumah warga yang terlihat berimpitan.

Sebuah pemandian umum dan tempat mencuci terlihat di tengah-tengah pemukiman warga. Seorang ibu bertubuh tambun sedang jongkok sambil mengucek cucian pakaian kotor. Saya pun bertanya.

“Permisi bu, lokasi curug Mancur lewat mana ya?”

“Oh di ujung jalan setapak ini, mas. Nanti saat menemui rumah paling akhir di ujung jalan ini kamu belok ke kiri nah di sekitar situ kok letak curugnya”

“Apakah motor bisa lewat sampai bawah sana, bu?”

“Bisa sih, tapi lumayan susah karena jalannya sempit melewati rumah-rumah”

“Oh, gitu, terima kasih ya bu”

“Sama-sama , mas”

Akhirnya motor ini saya titipkan persis di sebelah tempat pemandian umum ini karena tidak ingin mengambil resiko terperosok ke jurang sana jika nekat menuruni jalanan di antara perumahan warga.

***

Sebuah perkebunan salak pondoh menyambut saya membelah jalan setapak menuju curug Muncar. Suara gemericik air sudah makin dekat.

Sepi..sungguh sepi.

Ini bukan tempat wisata, jadi jarang orang yang berkunjung ke sini. Hanya sebuah motor terparkir di pinggir jalan tanah nan becek. Sepertinya ini merupakan motor milik salah satu petani yang sedang membersihkan rumput liar di sekitar tanaman salak.

Tidak ada jalan permanen menuju curug Muncar di jurang sana. Saya harus melewati semak-semak, rimbunnya pohon salak dan tanaman singkong milik warga. Di bawah sana, rimbunan tanaman bambu menyambut saya dengan hawa yang sejuk dan teduh.

Akhirnya si Muncar yang terlupakan ini sudah berada persis di depan mata.

20151227_095049

Curug Muncar yang tidak lebar dan tinggi

Penampakan curug Muncar tidak terlalu istimewa memang. Dengan curug dua tingkat yang tidak terlalu lebar di antara celah tebing tadi, alirannya begitu deras dan jernih. Tinggi curug ini tidak lebih dari 10 meter tetapi sungguh tidak menyangka, di kecamatan Punggelan ternyata  terdapat curug juga. Kolam di bawahnya lumayan dangkal dengan bebatuan kecil yang mengapit alirannya. Sayang, sampah terdapat di mana-mana terbawa aliran curug ini sepertinya. Ranting-ranting pohon yang  terbawa arus air teronggok di pinggiran.

20151227_095240

Aliran air nan sejuk dan deras

20151227_094348

Jangan ditiru, buang sampah sembarangan!!!

Sejuk..sejuk memang hawa di sini.

20151227_095205

Sebuah keluarga sedang berkebun dan minta difoto bersama-sama

Setelah mencuci muka dengan aliran air curug Muncar ini, saya duduk termenung di atas batu, menikmati kesunyian tempat ini. Lebih suka suasana seperti ini memang, sepi..jauh dari hiruk pikuk suara kendaraan bermotor. Ternyata saya tidak sendiri, di atas tebing sana terdapat sekelompok orang yang sepertinya masih satu keluarga, sedang berkebun-membersihkan rumput-rumput liar. Seorang suami-istri dengan dua orang anak lelakinya terlihat begitu kompak belepotan dengan tanah basah.

20151227_093600

Ranting-ranting pohon yang tersangkut bebatuan sungai

Saya pun menyapa mereka berempat dari bawah. Dengan ramah, mereka berbincang-bincang dari kejauhan. Setelah beberapa lama, mereka pun turun dan tertarik ingin di foto berempat. Dengan senang hati saya menerima permintaan mereka. Masih tidak percaya di tempat terpencil ini masih ada orang yang sedang bertani. Dengan berdiri sambil berjejer, mereka tersenyum sambil matanya melirik ke arah kamera handphone yang saya bawa.

Kami pun berpisah setelah sesi berfoto berakhir. Guratan senyum sederhana terlihat dari mimik wajah mereka. Ah…hanya hal kecil tapi sudah membuat mereka bahagia, senang rasanya.

Tidak lama saya menikmati curug Muncar ini. Setelah puas berfoto, saya pun memutuskan untuk mengakhiri perjalanan ini. Sungguh begitu singkat menikmati curug Muncar ini, akan tetapi rasa puas dan penasaran sudah terobati. Hari masih siang. Waktu di handphone menunjukan pukul 10.30, ya masih siang jika mampir ke tempat lain, akan tetapi saya memutuskan untuk langsung pulang saja.

Niat awal tadi, saat pulang akan mampir ke rumah Pak Rohman, akan tetapi setelah beberapa menit mencari-cari alamatnya, hanya kegagalan yang didapat. Ya sudah mending pulang saja, panas terik sudah cukup membuat kepala yang berbalut helm ini kleyengan. Yang pasti saya sudah membuktikan keberadaan curug Muncar di daerah kecamatan Punggelan yang dulu terkenal akan tetapi kini sudah terlupakan oleh orang-orang.

Selesai….

Advertisements

31 thoughts on “Si Muncar Yang Kini Terlupakan

      1. Avant Garde

        aku juga seneng ndayeng (kalo di tempatku namanya mblusuk) ke tempat2 yg masih sepi.. kalo di desa gitu masih berasa kearifan lokal dan keramahan warganya 🙂

        Liked by 1 person

  1. Gara

    Menurut saya air terjunnya bagus, meski sederhana… kadang saya berpikir tak apalah suatu air terjun susah dicapai, asal masih asli dan terjaga, ketimbang terkenal dan banyak sampahnya… jadi yang bisa mencapai sana cuma orang-orang yang benar-benar peduli dan berniat :hehe. Tapi ya di sekitar sana ada masyarakat yang pasti bisa lebih sejahtera kalau pariwisata berkembang, ah, ini agak dilema.

    Like

    Reply
  2. Revorma

    Kalo air terjun sepi gini malah enak ya, bisa puas menikmati pemandangan sambil main air. kalo udah rame mah boro-boro menikmati, yang ada malah desak-desakan. bisa terjaga juga kelestariannya, gak banyak sampah berserakan. keep traveling gan..

    Liked by 1 person

    Reply
      1. Latif pujianto

        Saya org Bondolharjo mas..
        Salam kenal..
        Keren ini artikelnya lengkap bgt mbahasnya.. 🙂

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s