Menapaki Anak Tangga Menuju Curug Pitu

Cerita sebelumnya di sini

Setelah melewati rimbunnya perkebunan salak yang sudah berbuah dan juga pepohonan durian yang wangi, akhirnya kami sampai di pintu masuk curug Pitu.Sebuah tempat parkir terlihat di sisi kiri jalan. Di depannya terdapat sebuah bangunan berbentuk joglo tempat petugas menjual tiket masuk. Sebuah warung makan sederhana berdiri persis di belakang loket penjualan tiket tadi. Di seberang jalan terdapat beberapa bangunan toilet dan kamar mandi. Kalau dilihat dari tampilannya, sepertinya ini merupakan bangunan baru. Bau cat yang masih menusuk hidung dan mengkilap dengan dominasi warna hijau terang.

Sebuah anak tangga lebar dan masih baru berada persis di ujung jalan, makin naik menuju sebuah gazebo megah. Sepasang papan peringatan berdiri di bagian kanan-kiri gazebo tadi. Seakan mengingatkan pengunjung untuk menaati aturan yang berlaku di lokasi curug ini. Sebuah bak sampah warna hitam juga terlihat masih baru dan bersih. Sungguh, pemerintah daerah sepertinya bersungguh-sungguh menjadikan Curug Pitu ini sebagai destinasi wisata yang mudah diakses.

CURUG TINGKAT SATU

IMG_20151220_134659

Curug tingkat satu dihiasi pepohonan yang rindang

Sesuai namanya “Curug Pitu” yang berarti air terjun yang berjumlah tujuh, maka curug ini juga terdiri dari tujuh tingkat. Tingkat pertama persis di bawah gazebo pintu masuk utama. Terdapat barisan rapi anak tangga menuruni tebing yang lumayan tinggi. Muka curug ini tertutupi rimbunnya pohon liar yang hijau. Gemericik air dari tingkat di atasnya terlihat deras dengan bebatuan tebing berwarna gelap. Kolam yang terdapat di curug ini tidak terlalu lebar dan gelap dengan warna air yang agak keruh, maklum saat musim penghujan seperti ini aliran air bercampur lumpur. Sementara itu bebatuan besar seakan menjadi pembendung aliran air yang deras pada bagian pinggirnya. Saat kami ke sini, suasana lumayan sepi. Hanya ada beberapa remaja tanggung yang tengah asik berfoto-foto berlatar belakang curug ini.

Panas terik dan rasa lelah menyeruak selepas sampai di gazebo pemberhentian pertama curug Pitu. Remaja-remaja tanggung sedang asik duduk-duduk menikmati semilir angin khas perbukitan. Sementara itu anak-anak kecil tengah asik loncat sana-sini. Kami langsung saja menuju curug tingkat dua. Para pengunjung sudah dipermudah dengan adanya anak tangga yang mengular-naik menempel di tebing-tebing batu. Pembatas tangga berwarna mengkilap menandakan jika ini belum lama dibangun. Kesan pertama memasuki lokasi wisata ini, bersih, tidak terlalu ramai pengunjung.

CURUG TINGKAT DUA

IMG_20151220_123707

Curug tingkat dua dengan sebuah gazebo di depannya

 

IMG_20151220_132241

Sebuah gazebo yang terlihat masih baru

Langkah kaki ini gontai menaiki puluhan tangga yang terbentang naik menuju bukit di depan mata. Rasa lelah setelah menjelajahi Curug Pletuk seakan menyisakan rasa capek luar biasa pada kaki. Pemandangan dari ujung tangga ini adalah hamparan perkebunan salak pondoh yang rimbun-rapat. Di sela-selanya terdapat beberapa pohon durian berukuran lumayan tinggi yang sudah berbuah dan siap panen. Terlihat juga sulur-sulur hijau pohon petai yang sudah berbuah.

Badan ini sekarang persis berdiri di puncak anak tangga ini. Untuk menuju curug tingkat dua, kita harus menuruni anak tangga lagi di depan sana setelah mencapai puncak. Persis di depan aliran curug yang tidak terlalu tinggi ini, terdapat sebuah gazebo lagi. Sama seperti gazebo yang terletak di curug tingkat pertama, bangunannya masih baru dan bagus. Pengunjung bisa beristirahat sejenak-sekedar meluruskan kaki dan menghela nafas.

Di curug tingkat dua ini sedikit bebatuannya sehingga kolam airnya bisa digunakan untuk sekedar merendam kaki di bawah guyuran air curug. Hanya terlihat beberapa pasang anak manusia yang sedang menikmati keindahan alam dengan gadget yang menempel di tangannya masing-masing. Saya hanya tertunduk lesu dan berteduh di bawah lindungan atap gazebo ini. Pusing dan sakit kepala tiba-tiba saja datang. Sungguh waktu dan tempat yang tidak pas untuk sakit begini.

CURUG TINGKAT TIGA

Kaki ini terus menaiki anak tangga yang makin naik ke atas, tapi kali ini berupa anak tangga alami dari tanah. Jalur ini menjadi titik penting arus lalu lalang naik-turun para penduduk sekitar mencari rumput dan juga mengangkut hasil panen salak. Tidak lebar memang jalan menanjak ini. Saat kita berpapasan, harus bergantian antara yang mau naik dan turun.

Lagi-lagi harum semerbak wangi parfum seakan mengikuti langkah kami hingga curug tingkat tiga ini. Tak lain dan tak bukan sumber bau wangi parfum ini adalah dari dua orang remaja tadi yang saat kami berangkat hampir bersamaan. Semerbak wangi parfum bercampur dengan harumnya buah salak pondoh yang berjatuhan begitu saja dari tangkainya. Jikalau pengunjung berkenan maka bisa sekedar mencicipi rasa manis dan masir salak pondoh khas desa Kemiri-Sigaluh ini.

Untuk menuju curug tingkat tiga ini, sebelumnya kami harus menaiki tebing licin dari tanah, setelah itu kami menuruni jalan setapak yang super licin dengan jurang di sampingnya. Harus ekstra hati-hati agar tidak terpeleset dan jatuh ke jurang. Selain itu juga hati-hati dengan tanaman salak di sampingnya yang berduri cukup tajam.

Curug tingkat tiga ini tidak lumayan tinggi namun alirannya rapi menyusuri punggung tebing batu. Di kanan-kirinya diapit rimbunnya tanaman salak milik warga. Jadi hampir semua lokasi curug ini masuk dalam lahan perkebunan salak milik warga. Sebagai pengunjung, kami harus menjaga diri agar tidak merusak tanaman milik warga. Keringat mengalir deras dari sela-sela rambut, panas makin terik. Saya pun melepas lelah dengan duduk di atas batu yang teronggok di bawah curug. Sesekali kaki ini mencelup-celupkannya ke dalam air yang segar dan sejuk. Sedangkan si Wedwi sibuk dengan kameranya, memotret aneka serangga yang hinggap dan terbang kesana kemari.

CURUG TINGKAT EMPAT

IMG_20151220_132354

Lebih mirip saluran air atau kalen dan curugnya berada di ujung sana

Makin ke atas jalanan makin menanjak dan makin susah. Kami harus melintasi rimbunnya tanaman salak yang tumbuh subur. Kulit buah dan remah-remah salak berceceran di bawah tangkai buah. Sepertinya si hewan luak sangat gemar melahap buah yang manis dan harum ini.

Curug tingkat empat ini berada persis di pinggir jalan setapak. Sebenarnya aliran airnya tidak terlalu lebar dan mirip sebuah “kalen” dalam bahasa jawa. Namun bebatuan besar menghiasi pinggiran sungai kecil ini. Di atas batu besar tadi terlihat sepasang muda-mudi yang sedang memadu kasih. Kami hanya melihatnya sekilas saja. Pandangan mata kami berfokus kembali ke aliran air yang mengalir dari ketinggian di atas sana. Tidak lama kami di sini, hanya sekedar memuaskan dan menuntaskan tiap curug yang bertingkat-tingkat ini.

CURUG TINGKAT LIMA

IMG_20151220_133020

Bocah-bocah yang tengah asik bermain air

Semerbak wangi masih terus mengikuti indera penciuman kami walaupun anak muda tadi berada di belakang kami. Sempat kami ingin sekedar menyapa mereka tapi hingga kami turun sama sekali tidak kesampaian juga. Sebenarnya agak merasa bersalah juga karena sedari berangkat tadi cuma fokus membicarakan bau parfum yang menyengat, tapi mau gimana lagi memang begitu adanya.

Curug tingkat lima sendiri, letaknya berada di balik semak-semak dan bebatuan besar. Untuk menuju ke sana kami harus melintasi aliran air yang cukup deras di bawahnya. Saat itu kebetulan beberapa bocah juga menuju curug tingkat lima. Dari gelagatnya sepertinya mereka ingin bermain air. Benar saja tiga bocah berperawakan kurus itu langsung melepaskan pakaian mereka dan tiba-tiba nyemplung ke kolam berwarna kecoklatan.

Tidak seperti bocah-bocah yang enggan difoto saat kami berkunjung ke curug Pletuk, mereka di sini dengan senang hati malah kegirangan dan langsung berpose saat Wedwi hendak memotret. Mereka seakan tidak peduli dengan air keruh karena sehabis hujan, belum lagi aneka batang bambu kering yang teronggok di pinggiran kolam. Maklum, di atas curug tingkat lima ini ditumbuhi tanaman bambu yang terlihat lebat menjulang tinggi.

Satu persatu bocah-bocah tadi berenang dengan asiknya. Sesekali bocah tadi menaiki tebing yang berada di bagian atas kemudian meloncat dan byurrrr. Mereka sangat riang sekali. Tanpa disuruh pun mereka melakukan hal yang sama tadi berulang-ulang. Kami cuma asik mengabadikan tingkah polah unik mereka sambil duduk di atas batu besar. Coba di tas kami ada semacam cemilan, mungkin cocok sekali dinikmati saat seperti ini. Sayang..hanya sebotol air minum mineral yang tersedia di dalam tas kami.

CURUG TINGKAT ENAM

IMG_20151220_130827

Letak curugnya tersembunyi di balik semak-semak

Saat kami menaiki jalan setapak menuju curug tingkat enam, lagi-lagi kami berpapasan lagi dengan cowok yang harum semerbak wangi parfum tadi. Kali ini kami menyapa mereka dengan sepatah kalimat “Permisi, mas..kami duluan ya” ya hanya kalimat itu saja yang terucap dari mulut kami. Makin naik ke atas ketinggian curug tidak terlalu susah dijangkau, selain itu aliran airnya juga semakin tidak terlalu deras dan juga menyempit.

Ada satu hal menarik saat berada di curug tingkat enam ini. Saat kami akan menyeberang sungai yang berbatu tiba-tiba dari seberang terlihat sepasang remaja cowok-cewek yang terlihat gugup melihat kedatangan kami. Mereka kemudian buru-buru memakai jaket mereka masing-masing. Entahlah apa yang mereka lakukan sebelum kedatangan kami ke tempat ini. Kami hanya tertawa terkekeh-kekeh dan berpikir positif saja. Mungkin mereka kepanasan sehingga melepaskan pakaian mereka.

Supaya suasana tidak terlihat tegang dan sedikit mencair, saya berinisiatif menyapa mereka “mas, permisi mau tanya, arah ke curug tingkat enam lewat mana ya?”

Si remaja tadi pun masih terlihat gugup dan menjawab dengan tidak terlalu jelas. “ Ya lewat sini saja mas”

Kami pun langsung saja mengikuti arah jalan yang mereka tunjukan dan benar saja ternyata itu jalan buntu, malah kami semakin masuk ke dalam rimbunnya tanaman salak yang makin gelap.

“Sial….kami kena tipu nih!!!”

Langsung saja kami memutuskan berbalik arah menuju jalan yang tadi sebelum  ke sini. Di seberang sana sepasang remaja tadi terlihat terkekeh-kekeh. Dengan jaket dan sandal yang masih tertenteng, si remaja tadi berbalik arah menuruni jalan pulang.

Sebenarnya curug tingkat enam ini lebih mirip aliran air biasa karena tingginya paling hanya  dua meter saja, selain itu lokasinya juga tersembunyi di balik semak-semak. Kami pun hanya melihatnya saja dari kejauhan tanpa mengabadikannya.

GAGAL MENUJU CURUG TINGKAT  TUJUH

IMG_20151220_131223

Jalanan setapak ini menuju puncak sana (curug tingkat tujuh) katanya, karena kami tidak menemukannya

Curug tingkat tujuh dan yang terakhir sepertinya masih berada jauh di ketinggian tebing di atas sana. Saya yang sedari tadi pusing dan kaki sedikit kram, hanya bisa duduk, ngaso menghela nafas yang makin sesak saja. Sementara itu si Wedwi masih penasaran di mana lokasi curug tingkat tujuh berada. Dia sudah makin jauh meninggalkan saya saat ini. Aku pasrah menunggu saja sendirian di pinggiran tebing ini. Dia berujar, belum ada tanda-tanda keberadaan curug tingkat tujuh. Yang ada hanya hamparan pepohonan durian dan semak-semak liar yang makin lebat. Beberapa lama kemudian, dia pun memutuskan turun dan gagal menemukan curug tingkat tujuh.

“Gagal..tidak ada tanda-tanda keberadaan curug tingkat tujuh!!!” Wedwi pun pasrah.

“Yaudah kita turun saja, lagian udah makin siang ini, aku juga udah pusing banget dan uring-uringan sedari tadi”

Kami pun akhirnya berjalan gontai pulang menuruni jalanan setapak yang super licin. Pengunjung makin sepi, kami hanya sesekali berpapasan dengan petani yang memikul rumput di pundaknya. Hari sudah semakin sore, matahari pun sudah semakin menghilang. Saya beberapa kali harus rela terpeleset dan sukses bikin Wedwi kegirangan saat melihatnya. Jalanan menurun yang seharusnya terlihat mudah, malah sungguh menyiksa karena saya harus fokus dengan jalan licin agar tidak terpeleset dan jatuh ke jurang.

Akhirnya kami sampai juga di gazebo depan pintu masuk. Saya meluruskan kaki ini yang terasa kaku. Kami hanya beberapa menit saja menikmati semilir angin nan sejuk di bawah teduhnya gazebo ini. Kami mengakhiri perjalanan sore itu dengan rasa lelah dan sedikit rasa puas. Walaupun kami gagal menemukan curug tingkat tujuh, tapi setidaknya kami bisa memuaskan rasa penasaran kami akan keberadaan curug Pitu ini yang lokasinya tidak jauh dari pusat kota Banjarnegara.

Advertisements

32 thoughts on “Menapaki Anak Tangga Menuju Curug Pitu

  1. Jejak Parmantos

    Ini lokasinya daerah mana mas? saya mencium bau kalo ini potensinya bisa dikembangkan menjadi PLT Mikrohidro yang ramah lingkungan, selain untuk wisata air terjun. Dan, kl musim kemarau debit airnya gimana ya kira2?

    Like

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      di desa kemiri kecamatan sigaluh-Banjarnegara. entahlah apa bisa dijadikan PLT mikrohidro, tapi memang debitnya lumayan sih. wah aku kemarin ke sini pas awal-awal musim penghujan

      Like

      Reply
      1. Jejak Parmantos

        Wahh, kapan2 boleh saya ikutan survei nih. Dulu waktu S1 saya sempat jd tukang teliti mikrohidro, dan dilihat dari poto2 mas potensial banget untuk dikembangkan berbasis community development.
        Di sekitar lokasi, kira2 kehidupan warganya disana gmn ya mas (selain pertanian)? apa ada industri tahu atau semacamnya gitu?

        Like

      2. Hendi Setiyanto Post author

        Memang sih aliran airnya berundak-undak gitu walaupun sungainya tidak terlalu lebar. Sebenarnya aliran air dari ketinggian di atas sana berada di tengah kebun durian, dan tanaman salak. Wah kurang tau juga apa ada industri tahu atau semacamnya. Setahuku sih kebanyakan petani salak, durian gitu. Sisanya dijadikan saluran irigasi untuk sawah-sawah.

        Like

      3. Hendi Setiyanto Post author

        memang banyak sekali sumber mata air di Banjarnegara, apalagi yang berada di daerah pegunungan gitu. Masih sedikit sekali dimanfaatkan untuk wisata ataupun energi. Masih mengandalkan aliran sungai Serayu yang dibendung menjadi PLTA Panglima Besar Jenderal Soedirman di Proyek-Mrica

        Like

      4. Jejak Parmantos

        Aliran listrik udah masuk ke daerah2 itu ya mas? kl udah, mungkin faktor itulah yang membuat pemerintah setempat tidak terlalu perhatian dengan potensinya. Padahal, pembangkit kecil2an, kl banyak ya jadinya besar juga. Dan itu semua gratis lagi ramah lingkungan… 🙂
        Saya dulu survei, baru sampe wonosobo, blm pernah ke banjar. Ngga tau, ternyata banjarnegara punya potensi bagus begini…

        Like

      5. Jejak Parmantos

        Iya mas, di Jogja. Saya ambil T. Nuklir, tapi juga suka berkecimpung di project2 energi terbarukan lainnya. Salah satunya, ya mikrohidro ini. Project pertama saya di Klaten mas waktu itu, debitnya besar tapi elevasinya rendah jadi daya outputnya cuma sekitar 25-35 kW (cukup untuk satu dusun).

        Like

  2. BaRTZap

    Jadi kalau sedang tidak musim hujan airnya jernih? Atau malah alirannya juga ikut sedikit? Soalnya kayaknya enak tuh mandi-mandi di kolamnya. Saya suka gak tahan kalau lihat air, bawaannya pengen nyemplung aja 😀

    Liked by 1 person

    Reply
  3. Avant Garde

    dari curug pertama ke enam berapa jam mas? salut deh mau treking kesemuanya
    di kerinci ada air terjun 13 tingkat plus mata air panas, kalo capek treking ke air terjun bisa rendam badan di air panas 🙂

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s