Dari Nasi Uduk Jakarta Hingga Semerbak Aneka Wewangian

Rasa lapar menyeruak, membuat pikiran susah untuk konsentrasi. Sejauh mata memandang-jalan yang kami lewati jarang sekali ada warung makan. Hanya terpampang menu popular khas Indonesia, bakso, mie ayam yang tersebar sepanjang jalan tadi

Laju motor kami meninggalkan deretan perbukitan-perumahan pinggiran kota hingga kini memasuki perempatan lampu merah Pasar Wage-Banjarnegara. Dengan hanya memakai celana pendek, sandal jepit dan ransel yang tergendong di punggung, kami memasuki kota Banjarnegara. Kepalang tanggung dari berbasah-basahan saat di curug Pletuk hingga kering kembali saat memasuki kota. Kami tidak menghiraukan apa yang menempel di tubuh. Tujuan kami adalah mencari warung makan terdekat untuk mengganjal perut yang sudah kelaparan.

Deretan pertokoan terlihat lengang di minggu siang ini. Hanya ada satu dua toko yang masih buka. Jalur pedestrian pun sepi oleh orang-orang yang berlalu lalang. Lalu lalang mobil beraneka bentuk menghiasi jalanan kota Banjarnegara. Terlihat riuh ramai orang dan deretan motor yang berbaris rapi di halaman utama Klenteng Hok Tek Bio. Dari spanduk yang terpampang di depan gapura pintu masuk klenteng, terlihat ada acara festival seni kuda lumping tingkat Kabupaten Banjarnegara. Mata ini hanya melihat sekilas saja, saya lebih fokus mencari warung makan terdekat di sekitar sini.

Setelah laju motor ini melintasi deretan ruko-ruko yang terbentang rapi di sepanjang jalan, kami menemukan sebuah tenda sederhana yang berdiri di pinggir jalan. Kami memutuskan berbelok ke arah kanan dan menepikan motor. Sebuah bangunan tenda sederhana berdiri persis di jalur pedestrian. Pada bagian depan dibatasi spanduk besar bertuliskan “Warung Nasi Uduk Jakarta”. Sementara itu sebuah gerobak besar dengan mayoritas bahan kaca berdiri gagah. Atapnya hanya terbuat dari terpal sederhana yang dipasang sedemikian rupa hanya untuk melindungi pengunjung dari terik matahari dan hujan. Kalau dilihat, tenda ini semi permanen karena sewaktu-waktu bisa dibongkar dan jalur pedestrian ini berfungsi kembali sebagaimana mestinya.

“Bu, pesen nasi uduknya dua porsi ya?”

“Yah…udah abis mas, adanya tinggal nasi biasa saja, gimana?”

“Yaudah bu, nasi biasa saja juga gak apa-apa”

Hanya tersisa menu oreg tempe, mie, dan balado tongkol saja. Nasi uduk hanya tersedia saat pagi hari tiba, saat siang begini pastilah sudah habis. Dalam beberapa jam saja si ibu tiap harinya bisa memasak nasi uduk hingga tiga kilo lebih. Sementara itu masih tersisa tiga tempe goreng dan juga rontokan tepung gorengan kering. Si ibu ini sudah berjualan di jalur pedestrian ini hampir tiga tahun. Saya pun berpikir, apa enggak kena gusur satpol pp? padahal secara  tata letak, tenda ini memakan jalur pedestrian yang seharusnya untuk lalu lalang pejalan kaki.

Seporsi nasi rames dengan lauk balado tongkol, oreg tempe, mie, tempe goreng dan sesendok sambal terasi sudah tersaji di depan mata. Kami fokus melahap makanan ini, rasa lapar sudah menyeruak sedari tadi. Sambil sesekali si Wedwi googling lokasi curug Pitu di kecamatan Sigaluh.

Tidak butuh waktu lama untuk menghabiskan seporsi nasi lengkap tadi. Ahhh..lega juga rasanya, perut ini sudah terisi penuh. Kami hanya membayar Rp 17,000,- untuk dua porsi nasi lengkap plus tiga tempe goreng, lumayan lah harganya terjangkau.

***

Matahari semakin terik, cuaca perkotaan semakin terasa panas apalagi saat melintasi jalanan beraspal yang terpapar panas matahari selama berjam-jam. Jalur Banjarnegara-Wonosobo kami lewati saat cuaca terik siang itu. Ruko-ruko yang berderet rapi di pinggir jalan masih sepi bahkan tutup saat hari minggu begini. Banjarnegara memang hanya sebuah kota kecil dan hanya menjadi jalur lintasan Purwokerto-Banjarnegara-Wonosobo-Semarang. Tidak luas memang, hanya beberapa jam saja kita sudah bisa menjelajahi sudut-sudut kota Dawet ini.

Kecamatan Sigaluh berada di sisi timur kota Banjarnegara. Kecamatan ini dilintasi aliran sungai Serayu yang biasa digunakan untuk olahraga arung jeram. Sigaluh sendiri identik dengan hasil pertanian berupa salak pondoh, petai, dan durian. Kebetulan saat ini memasuki musim panen durian. Hampir sepanjang jalan yang kami lewati banyak berjejer lapak-lapak beraneka bentuk yang menjual buah salak dan durian. Tinggal luangkan waktu sejenak-menepi ke pinggir jalan dan nikmati manisnya salak pondoh dan legitnya durian Sigaluh.

Laju motor kebablasan beberapa puluh meter. Kami tidak jeli melihat pintu gerbang desa Kemiri dan juga plang lokasi wisata curug Pitu. Padahal pintu gerbang terlihat gagah berdiri. Kami pun berbalik arah menuju desa Kemiri kecamatan Sigaluh. Setelah melewati pangkalan ojek yang berdiri persis di pinggir jalan menanjak, kami melaju mulus melewati hamparan hijau persawahan.

Jalanan super halus mengiringi laju motor ini melewati hamparan persawahan hijau nan sejuk. Harum semerbak wangi buah durian yang sudah matang di pohon menjadi keunikan tersendiri. Karena tidak terlalu banyak persimpangan jalan, kami pun melenggang mulus tanpa halangan berarti. Jalanan di depan sedikit menanjak, maklum lokasi curug berada pada lereng perbukitan yang tidak terlalu terjal.

Di sepanjang perjalanan, hidung kami mencium semerbak wangi. Bukan..ini bukan harum buah durian yang sudah matang tapi ini bau parfum pengendara motor di depan kami yang sepertinya juga akan pergi ke curug Pitu. Entahlah, disaat kami sudah berpeluh kecut keringat dan terik panas matahari, pengendara motor di depan kami malah super duper harum dengan pakaian yang super kece. Memakai kaos v-neck warna pink,celana jeans warna hitam, kacamata hitam, dan sepatu yang cocok digunakan untuk pergi jalan ke Mall.

Bersambung….

Advertisements

12 thoughts on “Dari Nasi Uduk Jakarta Hingga Semerbak Aneka Wewangian

    1. Hendi Setiyanto Post author

      yang dua orang lelaki super kece itu ya? beneran dong, kami malah jadi nggak fokus nyinyirin kedua orang tadi, abisnya menggelitik banget sih. Kami aja bak gembel, lha dia pakaiannya super kece

      Liked by 1 person

      Reply
  1. Pingback: Menapaki Anak Tangga Menuju Curug Pitu | nDayeng

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s