Jelajah Pagedongan-Bagian Akhir : Celetuk Curug Pletuk

Cerita sebelumnya di sini

Kaki-kaki basah dan belepotan lumpur ini menuruni jalan tanah yang licin menuju sungai di depan sana. Dari kejauhan terdengar suara riuh anak-anak yang berteriak riang gembira. Makin mendekat suara-suara itu makin terdengar jelas. Sepuluhan anak seumuran tujuh-delapan tahunan,lelaki-perempuan sedang asik bermain air di antara bebatuan besar. Aliran sungai ini begitu deras dengan airnya yang super jernih. Lebar sungai ini hanya sekitar dua setengah meter dan kedalaman sebatas lutut kami.

Kami berhenti sejenak menyaksikan tingkah polah bocah-bocah ini. Sementara itu di atas batu besar terlihat sesosok perempuan berjilbab yang tengah asik mencelup-celupkan kakinya yang putih itu ke dalam air. Sesekali mata awasnya memandangi dengan teliti bocah-bocah di depannya. Ya itu bocah-bocah sekitar desa yang sedang menikmati keindahan alam karya Tuhan. Mereka tidak perlu direpotkan dengan biaya masuk, transportasi atau pun uang jajan hanya untuk menikmati bermain air. Beda dengan bocah-bocah kota yang harus mengeluarkan uang dan lainnya hanya untuk menikmati rasanya bermain air macam di waterboom.

Setelah puas melihat tingkah polah bocah-bocah tadi, kami memutuskan untuk menyeberangi sungai ini. Dengan hati-hati dan melipat celana panjang, kami melompati bebatuan secara bergantian. Naas salah satu dari kami tercebur ke dalam air, walhasil celana basah hingga bagian paha. Dari kejauhan sudah nampak aliran deras air dari atas bukit yang jatuh berpuluh-puluh meter ke bawah. Kawasan hutan bambu menyambut kami di sepanjang jalanan sempit licin dan menanjak. Kami lebih menyebutnya bukan jalan tetapi semacam menaiki tebing dari tanah cadas.

Sandal dan kaki yang sudah licin penuh lumpur membuat langkah saya terseok-seok. Sesekali kami harus berhenti sejenak untuk mengendorkan jari-jemari kaki yang mengapit japit sandal. Nafas ngos-ngosan, dada sesak. Kami memang anak desa, tapi jarang sekali melintasi hutan desa seperti ini. Kami sudah lupa rasanya menjelajah hutan dan kebun, tidak seperti waktu jaman kecil dulu yang sudah terbiasa mencari rumput hingga naik turun bukit. Tak ada rasa lelah yang tergambar, yang ada rasa senang menghabiskan waktu seharian selepas pulang sekolah. Namun jaman sudah berubah, usia pun makin bertambah dan jadi mudah lelah.

***

Di samping kanan kami terlihat segerombolan lelaki tua-muda yang sedang menebang rimbunan bilah-bilah tanaman bambu.  Terlihat juga bapak-bapak yang sedang memanen tanaman kapulaga di antara semak-semak dedaunannya yang rapat. Memang tempat ini begitu alami, jarang kami melihat sampah selain dedaunan kering dan ranting pohon yang sudah berjatuhan. Semak-semak liar di pinggiran tebing juga sudah rapi. Sepertinya warga sekitar berinisiatif sedikit memudahkan akses bagi pengunjung untuk menaiki tebing ini menuju titik tetesan air berada.

Rimbunan tanaman bambu ini persis di bawah curug, akan tetapi lintasan air seperti berbelok di pinggir tanaman bambu. Jika dilihat dari bawah, curug ini bertingkat tiga dengan akses yang sulit menuju atas sana. Tingkat terbawah aliran sungai melebar-mengalir lembut diatas bebatuan lebar. Riakan airnya begitu halus dan rapi bak curug buatan yang berada di taman-taman.  Sementara itu di tingkat atasnya lagi berupa bebatuan besar yang teronggok selang-seling. Di sela-sela bebatuan mengalir deras aliran air dari curug diatasnya.

IMG_20151220_102324

Hamparan kebun warga dan rimbunnya tanaman bambu

Terlihat dua orang bocah yang tengah asik berjemur menikmati pancaran sinar matahari. Makin mendekat, embun dari tetesan air yang terbawa ingin membuat hawa dingin serta membuat tempat di sekitarnya basah. Dengan susah payah menaiki tebing, pijakan berupa bebatuan licin serta berpegangan pada semak-semak yang tumbuh liar, akhirnya kami sampai persis di bawah curug ini.

IMG_20151220_093205

curug Pletuk yang super deras alirannya

IMG_20151220_093057

Sebelum kami sampai sini, dua orang remaja ini sudah duduk-duduk di atas batu

Dingin..dingin..dingin dan basah menyambut kami saat itu. Kami makin naik ke atas sana. Saat ini kami persis di bawah curug ini. Hanya kuat sebentar berdiri di sini. Kami memutuskan berpindah menaiki tebing di sisi kanan curug ini. Pada bagian tebing kanan curug ini terdapat tanah rata dan bisa dijadikan tempat untuk menyaksikan dari dekat curug ini tanpa harus basah kuyup. Terlihat sisa-sisa arang dan kayu kering. Sepertinya beberapa orang sebelum kami sehabis membuat api unggun kecil di sini. Di sebelahnya terdapat dua buah batu yang bisa dijadikan tempat duduk untuk memandangi keindahan ciptaan Tuhan ini.

Kami meletakan tas ransel dan melepaskan celana panjang kami yang basah, kemudian menjemurnya. Sebenarnya celana yang basah adalah milik partner saya, Wedwi namanya. Dia yang tadi tercebur saat melintasi sungai yang berisi bocah-bocah sedang bermain air. Dimana ada sisa jejak manusia pasti ada jejak sampah yang tercecer, begitu juga pemandangan di sekitar kami saat ini. Walaupun tidak terlalu banyak sampah yang berserakan, namun cukup disayangkan akan kurangnya kesadaran menjaga kelestarian alam.

Saya duduk sambil menghangatkan tubuh di bawah sinar matahari. Sementar itu Wedwi tengah asik memotret curug dan pemandangan di sekitarnya. Perut keroncongan, di dalam ransel hanya terdapat dua botol air minum. Saya lupa tidak membawa makanan atau pun cemilan saat berangkat tadi. Walhasil saya harus menahan perut menunggu warung terdekat nanti.

Curug Pletuk ini begitu tinggi dengan tebing yang nyaris tegak. Aliran air begitu deras dari atas sana. Kolam di bawahnya tidak begitu luas dan orang tidak bisa bermain air di bawahnya. Bahaya dan penuh resiko jika nekat melakukan itu, ditambah lagi derasnya aliran air dari atas sana.  Nun jauh di depan sana terdapat hamparan perbukitan hijau yang ditanami mayoritas pohon albasia, pohon yang penuh nilai ekonomis tinggi. Sangat susah sekali sekedar mengabadikan kecantikan curug Pletuk ini. Bak perawan yang bersolek ayu, tidak mudah menyapa si cantik Pletuk ini. Pelangi melengkung indah di depan sana. Terpaan guyuran air yang berjatuhan ditambah sinar matahari terik menghasilkan karya indah ciptaan Tuhan, pelangi.

Bocah-bocah terlihat makin mendekati curug ini. Dengan hanya bertelanjang dada, mereka asik bermain air-menahan kuat dinginnya air pegunungan. Kami rasa sudah cukup menikmati karya Tuhan ini. Dingin dan basah kuyup seakan semakin mencengkeram erat tubuh ini. Dengan hati-hati kami menuruni tebing licin, berhati-hati agar tidak lengah dan kemungkinan terburuk adalah jatuh menghantam bebatuan keras. Saat turun pun sama susahnya saat naik tadi, sandal licin dan kaki yang belepotan karena lumpur seakan menjadi bumbu dalam penjelajahan kali ini.

***

Sungai yang kami lintasi saat berangkat tadi sudah sepi. Hanya bebatuan dan suara gemericik air saja yang masih ada. Kesempatan buat kami membersihkan kaki ini yang penuh lumpur. Sesampainya di lokasi motor kami parkir, langsung saja kami menuruni jalanan berbatu.

Saat melewati jembatan kayu yang kokoh, mata ini seakan terfokus pada gundukan bebatuan yang tertata rapi-berundak-undak. Di pinggirnya di batasi oleh rerumputan dan anyaman pagar yang terbuat dari bambu. Masih terlihat jelas sisa pembakaran kemenyan di salah satu batu-batu ini. Tidak hanya ada satu undakan bebatuan ini. Melangkah beberapa meter di samping kanan jalan terlihat juga batu berundak. Bentuknya pun hampir mirip dengan yang tadi.

“Mas jalan dulu saja” samar-samar terdengar suara perempuan yang sedang duduk di atas motornya.

“Ya mbak? Sedang ngomong sama aku?”

Kami sempat kaget karena tiba-tiba saja perempuan tadi berujar demikian. Kami pikir perempuan tadi sedang berbicara dengan orang di belakang kami. Tetapi saat menoleh ke belakang tidak ada orang satu pun. Saya baru sadar kalau perempuan tadi berbicara pada kami. Ternyata perempuan tadi sedang belajar naik motor di jalanan berbatu yang sulit ini dan menyuruh kami untuk jalan duluan.

“Permisi mbak, kalau boleh tahu..itu susunan batu yang berundak-undak tadi dan dikelilingi pagar itu apa ya?”

“Oh itu batu-batu sudah ada sejak dahulu kala tetapi bukan kuburan, itu semacam bangunan keramat yang dimiliki dusun ini. Saat malam jumat kliwon dan ketika ada warga sekitar yang meninggal, tetua dusun memberikan sesaji dan membakar kemenyan”

“Oh gitu ya…” Kalau begitu, kami duluan ya mbak..permisi”

Kami pun bergegas meninggalkan dusun ini dengan membawa cerita menarik. Dalam hati masih bertanya-tanya, di jaman yang sudah modern ini masih ada segelintir orang yang tetap menjaga tradisi, mitos dan kearifan lokal peninggalan leluhurnya.

Selesai…

Advertisements

18 thoughts on “Jelajah Pagedongan-Bagian Akhir : Celetuk Curug Pletuk

  1. Halim Santoso

    Kalo batu tersebut menhir atau peninggalan megalitik, bakal gayeng nih. 😀
    Sampah tetap jadi dilema obyek setengah perawan. Entah bagaimana nasibnya jika sudah disiarkan di acara ala ala yang ngaku adventure itu, jadi hits tapi sampah semakin tak terbendung. Semoga karang taruna desa maupun warga setempat sudah siap dengan semua itu dan mampu mengatasinya agar alam di desanya tetap terjaga.
    Btw makin ke sini gaya ceritamu semakin asyik dibaca, Hendi. Sukakk.

    Like

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      apa itu termasuk punden berundak? ah aku lupa macam batu-batu begituan, terakhir tahu ya pas belajar sejarah jaman smp.
      Sebenere curug ini masih belum terkenal, dan aku sih berharap agar jangan terkenal. Lebih suka suasana sepi begini, tanpa tiket masuk juga.
      Hehehe makasih loh atas pujiannya hahahah

      Like

      Reply
      1. Halim Santoso

        Bisa jadi bekas punden berundak. Tahulah sendiri ketidak pahaman warga terhadap situs sering membuat batu-batu itu pindah lokasi. Ada yang jadi pondasi jembatan, pengganti bata di rumah, dll hehehe

        Like

      2. Hendi Setiyanto Post author

        ooo jadi gitu..sayang juga kalau dijadiin batu pondasi gitu, seandainya ada. Tapi kalau dikeramatkan mungkin malah jadi terpelihara dan lestari gitu

        Like

  2. Gara

    Air terjunnya bagus banget. Saya membaca ini jadi bisa membayangkan bagaimana keadaan di sana, kayaknya teduh dan asri sekali. Air terjun deras yang suaranya keras, angin dingin akibat terpaan deras airnya, teduh bayangannya, suara burung-burungnya, pelanginya, wah keren banget. Satu yang saya paling suka ketika jalan ke air terjun ya semua itu, belum lagi udara sejuk yang sangat menyehatkan :)).
    Saya tak terlalu kaget melihat di sana ada punden berundak. Sumber air adalah sumber kehidupan, dan dari yang saya baca masyarakat masa lalu umum membangun altar pemujaan di dekat sumber air. Ini masih in situ banget ya Mas situsnya… jadi ingin bicara dengan orang tua di sekitar sana, minimal mereka tahu sesuatu. Banjarnegara belum pernah saya dengar peninggalan arkeologisnya sebelum ini, jadi kalau situs ini (yang sudah kelihatan bentuk batunya seolah-olah rapi dan dikerjakan manusia) diteliti, bisa jadi booming banget :)). Cuma tentu, mesti tetap menghormati budaya kearifan lokal masyarakat sekitar.
    Doh maaf kalau komentar saya kepanjangan :hehe.
    Soal sampah dan pengelolaan ya… moga-moga ditemukan jalan terbaik. Tapi pada akhirnya saya berpikiran serupa sih, misalkan setelah dibuka untuk umum lebih banyak buruknya daripada baiknya, lebih baik objek ini tersembunyi dulu. Masyarakat kita belum siap.

    Liked by 1 person

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      wah…aku suka deh kalau komen panjang-panjang gitu, berarti tandanya peduli.
      Soal punden berundak gitu memang masih minim informasi karena aku lihatnya pas perjalanan pulang, jadi tidak sempat tanya sana-sini.
      Aku baru tau kalau sumber air sangat dekat hubungannya dengan situs(altar pemujaan jaman dulu).
      Kadang memang banyak sekali jenis batu yang dikeramatkan oleh warga sekitar tapi informasinya masih minim mengenai asal-usul situs/bebatuan tersebut.

      Liked by 1 person

      Reply
    2. Avant Garde

      kemungkinan itu emang punden berundak, di kelenteng ambarawa juga ada punden, tapi cuma sepasang batu, dan emang kelentengnya di bukit kecil di atas sungai
      air terjunnya emang juara 🙂 terleepas dr segala masalah yg ada

      Liked by 1 person

      Reply
  3. BaRTZap

    Akhirnya sampai juga di babak ini, dan bisa melihat curug yang kalian tuju. Ternyata curug nya bagus ya. Aliran airnya deras, bertingkat tiga, dan cukup tersembunyi dari keramaian. Meskipun ada sampah sedikit, tapi dengan suliltnya akses ke curug ini setidaknya kelestariannya bisa lebih terjaga lah. Apakah air yang mengalir dari curug ini menjadi sumber mata air dan pertanian bagi penduduk sekitar, sayang soalnya jika belum termanfaatkan dengan baik.

    Aku setuju dengan Halim, gaya berceritamu makin asyik, dan kemampuanmu mendeskripsikan segala sesuatu pantas diacungi jempol. Terus semangat nulis yaaa 🙂

    Like

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      Krna brda di daerah pgunungan, air hnya dimanfaatkan hnya sbg smbr air minum dan kprluan mandi-mcuci. Sthuku tdk ada sawah.
      Kta mas Halim sih bgtu, syukurlah klo ada sdkt peningkatan : )

      Liked by 1 person

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s