Jelajah Pagedongan-Bagian II : Melintasi Sungai

Cerita sebelumnya di sini

B

eberapa anak sungai yang jernih dan deras kami lewati dari atas jembatan-jembatan. Ini pertanda bahwa lokasi curug sudah lumayan dekat. Di sisa perjalanan menanjak menuju curug hanya ada jalan berbatu yang terata rapi. Karena kami menggunakan motor matic, satu persatu harus naik turun bergantian menaklukan jalanan batu ini. Akan sangat riskan jika kami memaksakan naik berboncengan, yang ada bisa rusak motornya.

IMG_20151220_091159

Jembatan kayu dengan aliran sungai yang deras

Rumah-rumah kecil tersembunyi diantara rimbunnya pepohonan damar. Dari atas sana hanya terlihat atap-atap kecil berwarna merah bata dari genting-genting yang tertata rapi. Anjing-anjing liar terlihat bermalas-malasan di bawah rimbunnya pepohonan. Cuaca yang sejuk dengan semilir angin gunung membuat siapa saja merasa terbius. Waktu seakan lambat, dunia seakan begitu damai hingga bersantai-santai seakan sudah menjadi hal yang wajib.

Sering kali kami berpapasan dengan penduduk sekitar yang hendak pergi ke kebun masing-masing. Tua-muda dengan penuh semangat dan senyum simpul sederhana berjalan menuruni aspal yang sudah mengelupas. Sesekali dari arah yang berlawanan terlihat ibu-ibu yang menggendong rumput hijau sambil berjalan terbungkuk-bungkuk. Mereka seakan heran melihat kami yang melintas di depan mereka sambil memakai jaket plus helm menuju daerah yang tersembunyi dan terpencil di ujung bukit.

Sebuah toko kecil berada persis di pertigaan jalan menurun menuju aliran sungai deras. Kami harus berbelok ke arah kiri jalan berganti jalanan berbatu. Niat hati mampir sebentar ke toko tadi untuk sekedar membeli cemilan untuk dibawa menuju curug. Akan tetapi saking asiknya menikmati jalanan ini sampai lupa dan baru ingat saat kami sudah jauh meninggalkan toko kecil itu.

Kami pun sampai di lokasi rumah terakhir yang paling dekat dengan jalan setapak menuju curug Pletuk. Usaha kami hingga sampai tempat ini berkat telaten bertanya arah saat menemui orang di pinggir jalan. Selain itu juga saat melewati jalanan yang hancur, kami bergantian menaiki motor. Salah satu dari kami harus rela jalan kaki sambil menggendong tas ransel.

Terlihat seorang nenek tua yang sedang duduk menikmati cuaca sejuk pagi menjelang siang di halaman rumahnya. Dengan rambut yang sudah memutih, beliau menatap kami dengan awas saat melintas di depan rumahnya.

“Permisi, nuwun sewu mbah, kulo badhe nderek nitip motor teng mriki nopo angsal?” (Permisi mbah, kalau aku mau nitip motor di sini apa boleh?).

“Oh monggo mawon, pancen teng mriki biasa nggo tempat nitip motor bocah-bocah sing arep meng curug” “lha njenengan saking pundi?” (Oh silakan saja, di sini memang sudah biasa jadi tempat penitipan motor orang-orang yang mau ke curug).

“Kulo saking Punggelan mbah” (aku dari Punggelan, mbah)

“Oh Punggelan, la sedulurku mawon enten sing nikah kalih tiyang Punggelan, saniki manggon teng desa mriki” (Oh dari Punggelan, saudaraku juga ada yang nikah dengan orang Punggelan, saat ini menetap di desa ini)

“Oh ngono tho mbah, nggih mpun kulo langsung mawon badhe teng curug” (Oh gitu mbah, ya sudah aku langsung saja mau ke lokasi curugnya)

Kami tidak sendiri, setelah berjalan kaki beberapa meter meninggalkan nenek tadi seorang diri, terlihat beberapa motor aneka bentuk dan merk yang terparkir di atas sana. Memang ada yang nekat menitipkan motor mendekati jalan setapak menuju lokasi curug. Kami enggan ikutan karena jalanannya cukup susah.

***

Tidak ada karcis masuk, karcis parkir sama sekali. Kami bukan mengunjungi sebuah kawasan wisata terkenal, kami benar-benar mengunjungi salah satu sumber mata air  vital bagi penduduk sekitar. Bahkan di lokasi kami menitipkan motor sama sekali tidak ada warung atau macam toko kecil sekedar menjual minuman ringan, snack. Padahal jika jeli melihat peluang, bisa saja warga sekitar membuka toko. Akan tetapi siapa juga turis yang mau berkunjung ke sini? Boro-boro ada plang lokasi wisata, lha jalan saja sepertinya hasil swadaya masyarakat sekitar dusun sini yang bahu membahu menata bebatuan yang berserakan bebas di pinggir sungai-sungai milik warga. Mungkin hanya satu dua “turis” lokal yang kesasar hingga sampai di ujung bukit seperti kami ini.

Selang-selang air dan pipa-pipa berwarna putih melintang di sepanjang jalan setapak becek. Sementara itu jalan setapak yang kami lewati merupakan aliran air untuk mengaliri beberapa kolam warga yang berada di depan rumah. Orang di sini menyebut saluran air ini sebagai kalen. Hamparan tanaman singkong terlihat hijau dedaunannya. Di antara tanaman singkong terdapat tanaman kapulaga, sementara itu di pinggir-pinggirnya ditanami pepohonan kayu albasia. Sungguh rindang dan teduh pemandangan jalan setapak ini.

Bersambung…..

Advertisements

21 thoughts on “Jelajah Pagedongan-Bagian II : Melintasi Sungai

  1. Jejak Parmantos

    Perlu dipromosikan ke anak-anak yang mw KKN mas, kisah sukses air terjun sri gethuk (yg sekarang ngehits) juga berawal dari program KKN yang kemudian dilanjutkan oleh warga… dan lagi, curug ini kayaknya potensinya bagus.

    Like

    Reply
  2. jonathanbayu

    itulah gunanya travel blogger ya mas..tanpa campur tangan pemerintah aja udah bisa tersebar luas..tinggal pemerintah daerahnya aja yang mau atau tidak mengembangkan daerahnya

    Like

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      aku sih lebih fokus kalau pemda setempat memperbaiki jalan hingga dusun terakhir dekat curug pletuk ini. Kalau dikomersilkan juga nggak suka, selain sampah bakalan lebih banyak karena budaya disiplin membuang sampah masih rendah jg bakalan terlalu ramai heheh

      Like

      Reply
      1. jonathanbayu

        benar mas, paling tidak penduduk setempat perekonomiannya jadi lancar dan berkembang..kalau melihat kejadian taman bunga yang heboh di medsos itu jadi pesimis ya sama promosi wisata baru 😦

        Like

      2. Hendi Setiyanto Post author

        hahaha kenyataannya sekarang begitu, edukasi pengunjung untuk disiplin dan menjaga tempat wisata yang dikunjungi masih rendah. Untuk tempat wisata buatan sih terserah saja mau dikomersilkan 100% tapi kalau wisata alam kok ya gimana gitu hehehe

        Like

      3. jonathanbayu

        setuju, saran saya buar Kemenpar mungkin selain promosi wisata, yang harus ditonjolkan edukasinya, khususnya buat orang indo hahaha

        Like

      4. Hendi Setiyanto Post author

        semoga saja masih banyak individu2 yang peduli dengan lingkungan saat berkunjung ke tempat wisata, mulai dari diri sendiri lah kalau bisa : )
        Eh..met tahun baru 2016 ya mas Joe..hehehe

        Like

  3. Avant Garde

    aku suka mas blusukan ke desa2, mandi air panas, nyebur ke air terjun… ya keceh doang sih, gak suka berenang soalnya gak bisa 😦 mas, kalo aku ke banjar temenin yah hehehe

    Like

    Reply
  4. Gara

    Airnya jernih dan bening banget ya Mas, seru buat cuci muka atau rendam kaki di sana, apalagi dengan hijau-hijau hutan di sekitarnya itu bakal membuat hati jadi tenang banget :hehe. Saya membayangkan jalan-jalan di sana sambil menghirup udara segar khas hutan, kan jadinya tenang banget ya :hehe. Mudah-mudahan tempat ini tetap lestari abadi sampai kapan pun, pun jikalau tempat ini sudah jadi alternatif wisata yang baru.
    Ah membaca tulisan ini pun saya sudah jadi ikutan tenang :hehe.

    Like

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      hehehe makasih ya…sebenere sih aku pengin berendam gitu, tapi keburu temanku nggak mau ikutan nyebur jadi ya batal. Padahal banyak anak-anak yang juga sedang main air dengan cerianya

      Liked by 1 person

      Reply
  5. Pingback: Jelajah Pagedongan-Bagian Akhir : Celetuk Curug Pletuk | nDayeng

  6. BaRTZap

    Kalene resik yo mas? Suka iri dengan kalen-kalen di desa yang isinya air jernih dan mengalir lancar, tidak seperti di kota yang kalennya berair keruh terkadang hitam dan tidak mengalir kemanapun kecuali banjir atau hujan datang.

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s