Jelajah Pagedongan-Bagian I : Membelah Hutan

Minggu pagi (20/12/2015) udara pagi tidak terlalu menusuk, langit pagi menunjukan keceriaannya. Sang fajar menampakan dirinya begitu awal. Listrik di rumah sejak semalam padam. Untunglah Tuhan masih bermurah hati menunjukan kuasaNya, menghadirkan dunia pagi yang indah ini di depan mata.

Tas ransel ini hanya berisi sepotong celana pendek, sebotol air mineral, charger handphone dan dompet. Makin ke sini, saya paham, prioritas mana yang lebih penting. Motor sudah diisi bensin sampai full, ban motor pun tidak terlihat kempes. Kegiatan selanjutnya adalah menjemput partner perjalanan (Wedwi) untuk menemani perjalanan saya minggu pagi ini.

Kami melintasi jalan alternatif Karangsari-Sawangan via dusun Siwatu lalu tembus desa Tapen menuju kota Banjarnegara. Jalanan mulus bisa kami nikmati hanya saat melintasi desa Karangsari, sisanya berupa jalanan rusak sampai ke desa Tapen. Kami sudah terbiasa melintasi kondisi jalanan seperti ini, sudah menjadi makanan kami sehari-hari.

Pembangunan memang sedang gencar di tiap-tiap desa, tak salah, ini merupakan imbas dari digelontorkannya dana desa dari pemerintah. Akan tetapi jenis pembangunan masing-masing desa berbeda-beda tergantung prioritas dan kebijakan pemerintah desa masing-masing. Akan lebih bijak jika mengutamakan akses jalan-jalan pedusunan ini menjadi lebih baik saat dilewati. Entahlah, saya hanya bisa berharap demikian, sisanya hanya rasa peka masing-masing pemerintah desa untuk memutuskan.

***

Lalu lintas menuju kota Banjarnegara seakan normal dan sedang, tidak terlalu padat namun juga tidak kosong melompong. Rombongan sepeda motor masih mendominasi jalanan ini hingga sampai kota. Tujuan kami adalah menuju Curug Pletuk yang berada di Desa Pesangkalan-Kecamatan Pagedongan-Kabupaten Banjarnegara. Setelah memasuki perempatan lampu merah pasar wage, kami berbelok ke arah kanan memasuki kecamatan Pagedongan. Kecamatan Pagedongan sendiri berada di sisi utara kota Banjarnegara dan berbatasan langsung dengan perbukitan Banjarnegara-Kebumen.

Karena berada di pinggiran kota, mayoritas bangunan di sini didominasi oleh perumahan-perumahan khas perkotaan dengan ruko-ruko yang menjadi wajah utama pada bagian depannya. Makin masuk jauh ke jantung kecamatan Pagedongan, dominasi perumahan tadi berubah menjadi persawahan dan perkebunan. Di sepanjang jalan yang kami lewati, hampir tiap sisi kanan-kiri jalan ditumbuhi pohon durian yang kebetulan saat ini sedang musim panen.

Saluran irigasi yang banyak melintasi daerah ini membuat geliat pertanian seakan menjadi urat nadi penyokong sektor ekonomi kecamatan ini. Harum semerbak aroma durian yang menyengat, sukses membuat kami terus terjaga di sepanjang jalan. Geliat pembangunan jalan pun terasa di sini. Di beberapa bagian terlihat proyek betonisasi dan pengaspalan jalan yang rusak.

Wajah lain kecamatan ini akan sedikit berubah ketika jalanan semakin menanjak menaiki barisan perbukitan. Kini yang terlihat di kanan-kiri adalah kawasan hutan pinus-damar milik Perhutani. Semerbak getah pinus yang terlihat dan tercium dari sayatan-sayatan panjang pada bagian batang dan tertampung dalam batok-batok kelapa menjadi pemandangan kami saat itu. Deretan pemukiman yang lumayan bagus terlihat berjejer rapi di pinggir jalan. Berundak-undak mengikuti kontur tanah yang makin menanjak.

Semakin menanjak, jalanan pun berliku, perumahan semakin jarang dan yang terpampang kini adalah barisan batang pohon tegak lurus dari pohon damar. Hijau, sejuk, teduh itu yang kami rasakan saat melintasi daerah ini. Barisan pohon damar tadi terlihat masih muda, terlihat dari diameter batang dan tinggi pohon yang tidak terlalu menjulang tinggi.

IMG_20151220_110058

Jalan beraspal yang terlihat masih baru-membelah hutan damar

Sesekali suara deru mobil bak terbuka melintas membawa aneka macam barang kebutuhan sehari-hari. Kami harus hati-hati karena jalanan sempit dan jika dua mobil dari arah yang berbeda datang secara bersamaan, salah satu dari mereka harus legowo untuk berhenti sejenak dan menepi. Bau aspal yang terhampar di jalanan begitu menyeruak memasuki indera penciuman. Untunglah saat kami ke sini jalanan sudah mulus, padahal beberapa tahun yang lalu kondisinya berbanding terbalik. Saya tahu karena pernah membaca keluhan seseorang mengenai kondisi jalan di kecamatan Pagedongan melalui blog yang mereka tulis.

Naik turun, berkelok-kelok dan membelah hutan di punggung bukit ini serasa lebih menyenangkan. Hawa sejuk begitu terasa dimana-mana. Tidak banyak persimpangan jalan di daerah ini hingga tidak menyulitkan pengguna jalan dadakan seperti kami. Setelah mencapai puncak bukit, jalanan berikutnya berupa turunan yang berkelok-kelok. Sesekali kami berpapasan dengan anjing-anjing yang berkeliaran di jalan. Hanya terlihat beberapa rumah di bawah rimbunnya pepohonan di bukit ini.

Bersambung…..

Advertisements

17 thoughts on “Jelajah Pagedongan-Bagian I : Membelah Hutan

  1. Halim Santoso

    Pas scroll sampai gambar hutan damar eh ada salju turun. Jadi melow gitu deh hahaha. Hendi, saran aja mending blogmu tetap beralamat di sini. Lewat WP bisa di-dot-com-kan tanpa kudu beli hosting 🙂

    Like

    Reply
    1. Halim Santoso

      oh nggak reply langsung jadi nggak ada notifnya hehehe. ntar kujapri yah caranya.
      Trus rikues kalo ke Banjarnegara anterin ke hutan damar itu yah 🙂

      Like

      Reply
  2. Gara

    Doh, memang akses yang bagus itu kebutuhan banget bagi orang yang ingin berkunjung! Mudah-mudahan jalannya bisa mulus terus ya Mas. Suasana membelah hutan itu bagi saya dramatis banget lho. Berasa terisap ke tengah kegelapan, terus bertanya-tanya ke mana jalan itu akan menuju. Waaa kalau saya ke sana juga rikues anterin ke hutan damar itu ya Mas! :hihi. Tulisannya bagus, menghanyutkan!

    Like

    Reply
  3. Pingback: Jelajah Pagedongan-Bagian II : Melintasi Sungai | nDayeng

  4. BaRTZap

    Terasa banget segarnya alam pedesaan melalui tulisanmu ini mas, termasuk bau hutan damar muda nya. Ah jadi kangen main-main ke gunung dan pedesaan 🙂

    Like

    Reply
      1. BaRTZap

        Ini juga asik kok mas tulisannya, cuma mungkin lebih baik dipersingkat dan ditambah detailnya, supaya tidak terkesan nanggung untuk bersambungnya. Tapi kalau misalnya ini dijadikan bahan tulisan panjang, bahasanya sudah enak mas 🙂

        Like

      2. BaRTZap

        Ooo kalau itu kemarin saya baca di salah satu postingan blogger lain, dikatakan sebaiknya panjang tulisan yang baik itu minimal 400 kata. Dan jika ingin menerapkan prinsip SEO, agar bisa terindeks dengan baik minimal panjang tulisan sekitar 1285 kata.

        Kalau saya pribadi membatasi paling panjang tulisan di blog sekitar 3000 kata, supaya pembaca tidak bosa mas 🙂

        Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s