Cerita Nasi Uduk Sederhana

Nama aslinya  Ibu Siti Waryanti, tapi orang-orang dan pelanggannya lebih sering memanggil beliau sebagai bu Endang. Tak salah juga memang, itu merupakan nama anak perempuannya satu-satunya. Dengan perawakan tambun, cara berjalan yang khas, berkerudung dan murah senyum. Beliau adalah penjual nasi uduk yang cukup terkenal di sekitar Pasar Manis-Punggelan. Pelanggannya mulai dari orang biasa, karyawan bank, hingga para PNS di komplek perkantoran di sekitar daerah Pasar Manis.

Saat sekarang ini beliau tinggal dengan anak perempuannya dan juga cucunya. Suaminya sudah meninggal dunia sejak 3 tahun yang lalu. Dulunya bu Endang ini merupakan perantau yang tinggal di ibukota Indonesia, Jakarta. Semenjak menikah, beliau memutuskan untuk pergi merantau dan mengadu nasib dengan suaminya. Hingga anak perempuannya lahir dan besar di sana.

IMG_20151203_133228

Ibu Siti Waryanti tengah asik melayani pembeli sambil bertelepon ria

Walaupun sebagai janda, tapi beliau orangnya sangat rajin dan telaten untuk terus berusaha menjemput rejeki dengan cara yang halal tentunya. Karena sudah terbiasa hidup di perantauan dan berdagang, maka saat memutuskan kembali ke kampung halaman beliau melanjutkan kebiasaan berdagangnya. Sebelumnya beliau berdagang mie ayam, warung nasi rames, bakso hingga nasi uduk saat masih tinggal di Jakarta.

Namun, terkadang kenyataan harus berkata lain. Suaminya tiba-tiba terkena stroke hingga menyulitkan sebagian anggota tubuhnya untuk digerakan seperti semestinya. Maka mereka memutuskan untuk kembali ke kampung halaman dan terus berikhtiar mencari pengobatan di daerah sendiri.

Semenjak anak perempuan satu-satunya itu memutuskan untuk menikah dan lebih memilih tinggal di kampung, perlahan ketiga orang tersebut dapat berkumpul kembali. Selain itu karena tinggal dengan anaknya, maka dapat meringankan beban bu Endang dalam merawat suaminya.

IMG_18122015_063146

Anak perempuan ibu Siti Waryanti, namanya Endang

Anaknya sendiri membuka usaha toko kelontong, kos-kosan, penggilingan kopi, beras dan kelapa di dekat rumahnya. Kemudian bu Endang juga ikut membuka warung nasi uduk kecil-kecilan di depan toko anaknya itu. Namanya Warung Nasi Uduk Sederhana , selaras dengan pemiliknya yang sederhana, ramah, dan suka memberi.

Setelah dirawat selama bebarapa tahun di kampung, suaminya itu pun akhirnya harus menyerah dengan penyakitnya. Namun keluarga sudah pasrah dan mengikhlaskan segalanya pada kehendak Tuhan. Hari-hari pun berlalu, rasa duka itu perlahan berubah menjadi rasa optimisme untuk terus berjuang melanjutkan hidup dan mimpi-mimpinya.

***

Aku termasuk orang yang gampang lapar, apalagi jika saat pagi hari tiba dan beraktivitas tanpa terlebih dahulu perut diisi makanan. Rasanya tidak ada tenaga sama sekali, lemas. Padahal dulu saat masih sekolah, aku sudah terbiasa tidak sarapan pagi dan perut biasa-biasa saja tanpa terasa lemas. Namun saat sekarang ini, kebiasaan tadi sungguh sudah tidak bisa dilakukan lagi. Pokoknya tiap pagi harus sarapan, harus.

Hanya ada satu penjual nasi uduk di sekitaran Pasar Manis. Ya satu-satunya penjual nasi uduk itu adalah si ibu Siti Waryanti atau orang lebih sering memanggilnya bu Endang. Tidak ada yang istimewa dengan penampilan nasi uduknya. Hanya nasi yang dimasak dengan santan dan rempah-rempah. Lauknya beragam mulai dari mie, balado kentang, oreg tempe, perkedel atau pun ayam. Namun karena di buat dengan rasa cinta kasih dan senyum, rasa nasi uduk bu Endang ini disukai banyak orang.

Aku sendiri hampir tiap pagi hari sebelum berangkat beraktivitas, menyempatkan diri mampir dan membeli sebungkus nasi uduk. Si ibu pun sudah tau keinginanku, lauknya oreg tempe, balado kentang dan kesukaanku perkedel kentang. Cukup membayar Rp 4,000,- saja untuk sebungkus nasi uduk yang cukup mengenyangkan. Malah kalau cuma nasi uduk standar, harganya Rp 3,000,- saja dan porsinya bukan seukuran nasi kucing tapi malah seperti nasi Padang.

IMG_20151203_130904

Di sinilah tempat untuk memasak nasi uduk

Tapi walaupun sederhana, jangan tanya larisnya. Jarang orang yang makan langsung di warungnya. Kebanyakan mereka beli untuk dibawa pulang. Jadi sekitar jam 10.00 pagi biasanya nasi uduk sudah ludes dan hanya tersisa nasi biasa itu pun karena baru memasak lagi.

Beliau memulai aktivitas memasak sejak pukul 03.00 pagi. Mulai dari menanak nasi uduk hingga membuat aneka macam lauk juga sayuran. Ya semuanya dilakukan seorang diri tanpa asisten, hanya anaknya yang terkadang ikut membantu saat berjualan. Kemudian saat siang hingga sore, beliau juga memasak kembali tetapi untuk nasi rames biasa memenuhi langganan catering karyawan Bank di sebelah rumahnya.

Satu nilai plus dan daya tarik orang-orang untuk terus berlangganan menikmati nasi uduk ini, beliau itu sangat royal, suka memberi dan tidak pelit sama sekali. Sering kali pelanggannya diberi lauk ayam, gorengan, sayur secara cuma-cuma. Aku pun sering kali mendapatkan bonus-bonus itu. Kata beliau, semakin kita banyak memberi, murah senyum, ramah dan berbuat baik, maka keberuntungan dan keberkahan akan selalu mengiringi usahanya.

Untuk urusan keberkahan, aku percaya. Beliau sudah merasakan sendiri hasil dari perbuatan baiknya itu. Belum lama ini beliau bisa berangkat umrah ke tanah suci Mekah dan membangun deretan kamar kos di samping rumahnya. Untuk ukuran seorang wanita yang sudah tidak muda lagi, aku sampai terkagum-kagum dengan usahanya yang ulet dan tidak mau menjadi beban anaknya. Malah beliau bercerita kalau sebentar lagi akan pergi haji. Alhamdulillah…tidak ada yang sia-sia dari hasil berikhtiar disertai doa-doa itu.

Karena keramahannya itu, aku sering memberi beliau orderan pesanan nasi uduk atau pun paket ayam goreng saat kebetulan kantorku sedang ada acara dan membutuhkan konsumsi makan. Selain itu juga melayani orderan makan untuk siswa-siswa sekolah yang sedang praktek di instansi-instansi sekitar daerah Pasar Manis. Kadang malah pesannya mendadak saat jam makan siang tiba hingga 20an porsi. Karena saat siang barang dagangannya terkadang sudah ludes, beliau kadang dengan sabar saat itu juga memasak lagi. Aku pun rela menunggu dengan sabar.

Bahkan beberapa waktu lalu, aku juga sempat berjualan nasi uduk bu Endang ini. Jadi tiap pagi sebelum berangkat, aku menyempatkan membeli berbungkus-bungkus nasi uduk kemudian aku jual lagi ke teman-teman saat pagi hari tiba. Lumayan lah, minimal aku tiap hari bisa makan nasi uduk gratis. Kadang saat pulang, aku disuruh mampir ke warungnya sebentar dan diberi aneka macam sayur hingga lauk. Terlebih lagi saat hari raya Idul Fitri tiba, aku semacam diberi THR oleh beliau berupa beberapa toples kue-kue hasil buatannya sendiri. Hmmm aku salut sekali dengan keuletan si ibu ini.

Semoga ibu Siti Waryanti ini selalu diberi kesehatan terus, pelanggan setianya terus setia berkunjung dan menikmati nasi uduknya. Semoga juga ibu Siti Waryanti bisa terus memasak nasi uduknya yang penuh berkah. Selain itu juga semoga kebiasaan berbaginya selalu menjadi ciri khasnya hingga ke anak cucunya kelak, aamiin.

Advertisements

20 thoughts on “Cerita Nasi Uduk Sederhana

    1. Hendi Setiyanto Post author

      di sekitar pasar manis ada 4 warung makan yang memakai nama “sederhana” tapi hanya nasi uduk ini yang menurutku sederhana tapi luar biasa hehehe

      Like

      Reply
  1. Gara

    Cerita tentang orang yang sederhana tapi membekas banget. Untuk bisa berbuat baik memang tidak perlu repot-repot ya Mas, cukup lakukan apa yang kita bisa, sering berbagi, jangan berharap pamrih, dan akhirnya Tuhan akan memberi hadiah yang berlipat ganda. Ah pelajaran baru lagi dari Bu Endang, terima kasih sudah menuliskannya dengan sangat baik dan runut ya Mas, saya sangat menikmati membacanya :)).

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s