Seteguk Dawet Ayu

Panas terik cuaca desa Tapen menemaniku siang itu. Kendaraan besar kecil berseliweran kesana kemari seakan sedang berlomba mengejar waktu. Deretan pertokoan yang terlihat masih baru menjadi pemandangan yang tak bisa dihindari.

Sebuah jalan perempatan lebar tanpa lampu pengatur lalu lintas terlihat di depan mata. Hanya seonggok drum bekas yang sudah mulai berkarat yang dijadikan pemisah keempat lajur jalan ini. Terlihat orang-orang yang sedang berteduh, bersembunyi di bawah papan reklame. Pemandangan pepohonan sudah tidak terlihat lagi di tempat ini. Semuanya kini berubah, jalan beraspal halus, tanah merah yang berganti paving berjejer rapi membentuk lajur-lajur jalan baru.

Deretan lapak-lapak kumuh itu pun sekarang sudah berganti menjadi kios-kios permanen. Hanya yang berduit saja yang bisa menyewa tempat di sini. Masih teringat jelas beberapa tahun lalu, lahan kosong di sekitar jalan ini hanyalah dihiasi gerobak-gerobak pedagang kecil. Pasar kumuh di bagian belakangnya pun masih terlihat becek dan semrawut di sana sini. Tapi jaman sudah berubah, pembangunan dimana-mana. Kenangan masa lalu biarlah berlalu, orang hanya tau masa kini.

Sebenarnya ada empat sisi jalan menuju desa yang berbeda di perempatan ini. Jika dari arah kota Banjarnegara dan berbelok ke kiri, maka kita akan menuju ke desa Rakit. Jika kita memilih berbelok kanan, maka kita akan sampai di desa Wanadadi. Atau malah jika kita memilih jalan di depan yang lurus saja, maka kita akan sampai di desa Punggelan. Ini merupakan sebuah jalur vital penghubung berbagai desa dan kecamatan yang berada di pelosok.

Masih teringat jelas beberapa tahun lalu, ketika jembatan yang menghubungkan Kecamatan Punggelan dan desa Tapen terputus total karena banjir bandang besar yang menghanyutkan tebing-tebing di sisinya. Praktis hampir beberapa bulan, lalu lintas keduanya tidak bisa dilewati dan harus memutar jauh. Yang lebih tragis lagi adalah banjir bandang tersebut merenggut jiwa beberapa orang yang kebetulan saat itu melintas. Hampir berminggu-minggu lokasi ini menjadi tontonan warga dan menjadi buah bibir orang-orang. Kini semuanya telah kembali normal, sudah tidak terlihat lagi sisa-sisa banjir bandang yang hampir menghanyutkan separuh jembatan ini. Yang ada hanyalah sebuah jembatan baru yang terlihat bagus dan kokoh.

***

Memang sudah aku niatkan saat selepas pulang dari kota nanti akan mampir mencicipi kesegaran dawet ayu khas Banjarnegara yang sudah melegenda dan terkenal dimana-mana.  Ada satu penjual dawet ayu yang sudah berjualan selama sepuluh tahun lebih di perempatan jalan ini. Dari berpuluh-puluh penjual dawet yang ada di Banjarnegara dan memakai tagline “dawet ayu”, hanya di sinilah menurutku yang mempunyai ciri khas lain dari yang lain. Selain masih menggunakan gerobak khas yang terbuat dari bambu, di sini juga masih mempertahankan rasa dan bahan sejak dahulu.

Dawet Ayu Kang Jamil, itulah nama yang tertera dalam sebuah spanduk yang terpasang di sebuah gubug sederhana di pinggir jalan. Walaupun sudah berjualan selama sepuluh tahun, tetapi jangan berpikiran kalau tempatnya akan mewah. Ya..hanya sebuah gubuk dengan beratapkan seng saja. Malah beberapa tahun yang lalu masih numpang berjualan di depan penjual bakso yang cukup terkenal di Tapen ini. Saat ini Dawet ayu kang Jamil diteruskan oleh anak lelakinya.

Saat motor ini perlahan menepi ke pinggir jalan, ada rasa ragu yang berkecamuk dalam hati. Antara ragu dan tidak, aku sudah berdiri persis di depan penjual dawet ini. Aku masih belum yakin jika ini memang penjual dawet yang legendaris itu. Setelah berdiam diri selama kurang lebih satu menit, aku pun memutar balik menuju deretan kios di sebelahnya. Saat itu, aku berpatokan jika penjual dawet itu berjualan di depan penjual bakso.

Langkah kaki ini perlahan masuk ke dalam ruko penjual bakso, di samping kiri kanannya hanya terlihat gerobak jus aneka macam buah. “ah pasti ini salah” aku membatin. Karena sudah terlanjur masuk, aku pun terpaksa membeli sebungkus bakso yang dipisah kuahnya. Aku enggan bertanya dimana penjual dawet ayu itu saat ini karena sudah jelas, tempat dimana aku berdiri tadi merupakan penjual dawet itu. Dengan menyerahkan selembar uang kertas sepuluh ribu rupiah, aku bergegas pergi meninggalkan tempat ini setelah sebungkus bakso panas sudah berpindah tangan.

Aku sudah yakin dan bergegas pergi ke tempat semula. “Mas pesen es dawetnya tiga ya, yang dua dibungkus dan yang satu di minum di sini”

“Iya, mas” jawab si penjual dawet itu.

Tanpa butuh waktu lama mulai dari es batu, cendol yang berwarna hijau, santan kental, dan gula cair yang sudah dicampur duren bercampur menjadi satu. Jadilah segelas besar es dawet yang sudah tersaji di atas meja. Ah..segar rasanya siang yang panas dan terik begini, menikmati segelas besar es dawet. Sayang sekali, saat musim penghujan tiba banyak lalat-lalat yang bertebaran di mana-mana. Si penjual pun sibuk mengusir lalat-lalat yang hinggap.

Sambil menikmati segelas es dawet, aku pun menyempatkan tanya ini itu. Selidik punya selidik, ternyata beliau ini asli orang desa Tribuana yang mana satu kecamatan dengan rumahku. Untuk cendol sendiri berbahan dasar tepung aren dan dicampur dengan sedikit tepung beras. Yang membuat berbeda dawet ini dengan dawet lainnya adalah rasa “buket” mulai dari santan, gula cairnya hingga cendolnya. Bagi yang tidak terlalu suka manis, aku sarankan untuk menambahkan sedikit saja gula cairnya karena saking kentalnya. Aroma duren yang tercampur gula cair membuat semerbak wangi, kombinasi yang  pas dengan santan dan cendolnya.

IMG_20151207_103419

Segelas es dawet ini dihargai Rp 5,000,-

Aku menyempatkan diri untuk mengabadikan pengalaman siang itu dengan jepretan kamera handphone. Untuk harga segelas es dawet, kita hanya cukup membayar Rp 5,000,- harga yang pas dan sebanding dengan rasa yang ditawarkan. Saat aku hendak meninggalkan tempat ini, terdapat sebuah mobil mewah yang mampir dan memesan beberapa bungkus es dawet. Memang hampir tiap orang yang kebetulan melintas, sering yang menyempatkan diri untuk sekedar mampir dan menikmati segelas es dawet segar pelepas dahaga.

Aku meninggalkan tempat ini dengan rasa puas, sambil menenteng dua bungkus es dawet. Kalau nanti ada suatu keperluan ke kota, aku pasti akan menyempatkan lagi untuk mampir ke gubuk sederhana ini. Sebuah minuman khas dari daerah Banjarnegara yang sudah terkenal dimana-mana, sebuah harmoni sederhana, bahan sederhana dengan rasa istimewa.

Advertisements

11 thoughts on “Seteguk Dawet Ayu

  1. BaRTZap

    Jadi yang membuat khas itu durennya atau apa mas? Aku penasaran dengan kata buket, maksudnya apa ya? Juga tepung aren, baru dengar kali ini, terdengar eksotis di telinga. Belum terbayang rasanya … O iya, bisa pesan tanpa duren kah? Soalnya saya kurang cocok sama duren hehe

    Like

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      buket itu maksudnya cita rasa cendol dan santennya kental gitu, ya kurang lebih begitu. Bisa saja pesen tanpa duren, kan durennya cuma dicampur ke dalam cairan gula jawa cairnya.

      Liked by 1 person

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s