Berkawan Dengan Rumput Hijau dan Sampah

Laju motor ini terhenti persis di depan portal penghalang jalan. Padahal aku sudah memasuki sepertiga perjalanan menuju Padang Golf Waduk Mrica Banjarnegara. Terpaksa motor ini aku hentikan di sini. Di pinggir jalan beraspal yang berupa rerumputan hijau, aku memarkir motor begitu saja. Dalam benak diri ini berharap, ini tempat aman untuk sekedar menitipkan motor.

Di samping kiri-ku berjejer perumahan penduduk yang dibatasi dengan pagar besi setinggi lebih dari satu meter. Terdapat parit yang cukup dalam sebagai pemisah jalan besar di sampingnya. Hanya ada beberapa pintu masuk yang berukuran lebar tidak lebih dari dua meter sebagai pintu masuk bagi para penduduk untuk beraktivitas sehari-hari.

Suasana pagi menjelang siang saat itu begitu sepi, hanya terlihat seorang nenek tua renta yang sedang mengorek-ngorek tanah di samping rumah. Sepertinya beliau sedang membersihkan rerumputan liar yang tumbuh subur setelah beberapa minggu ini diguyur hujan deras. Hanya terlihat beberapa tanaman seperti cabe, tomat yang terlihat kurus.

Sementara itu di samping kanan-ku saat sekarang berdiri ini terlihat sebuah bangunan peristirahatan dan juga sebuah monumen besar yang terbuat dari batu alam. Monumen batu besar tersebut terlihat teduh dan sejuk karena dinaungi pohon beringin raksasa. Persis di belakang tempat peristirahatan tadi terhampar luas padang rumput hijau yang naik turun tak beraturan. Hanya ada beberapa barisan pepohonan pinus yang bisa dijadikan sebagai tempat berteduh kala cuaca terik melanda.

IMG_20151207_102526

Monumen peresmian padang golf mrica

Dengan tas ransel yang masih tergendong di punggung dan jaket tebal, aku berjalan gontai di tengah terik matahari. Mata ini pun seakan tak kuasa menerjang pancaran sinar matahari hingga menyengir tanda mataku ini sangat sensitif terhadap cahaya terang.

Baru berjalan beberapa langkah, aku berpapasan dengan perempuan sekitar usia 25 tahunan yang terlihat lusuh dengan hanya memakai kaos dan celana pendek. Dari gelagatnya, sepertinya dia menderita gangguan kejiwaan. Itu terlihat dari tatapan matanya yang kosong dan cara berjalannya yang tak jelas arah. Ah…aku hanya menerka saja, siapa tau memang dia sehabis dari kebun dan bergulat dengan tanah hingga pakaiannya kotor begitu. Entahlah….

Jalan beraspal di depanku ini terlihat bak garis lurus, ya garis lurus dengan ujung membentuk huruf T. Hanya ada dua pilihan saat sampai berada di ujung jalan ini, memilih berbelok ke kiri atau ke kanan. Sementara itu di pinggir jalan tersebut terdapat tanggul sekitar satu meter sebagai pembatas antara daratan dan waduk.

Aku pun memilih naik tanggul tadi dengan usaha ekstra karena susah dijangkau. Sambil berjalan tak jelas di atas tanggul tadi, terlihat beberapa orang yang sedang menaiki perahu sambil memunguti aneka sampah. Ya, tempatku saat sekarang berdiri ini bak tempat pembuangan sampah raksasa. Mulai dari bekas popok bayi, sampah rumah tangga, bantal hingga bekas botol air mineral semuanya ada. Waduk yang mulai dangkal ini pun sudah seperti TPA sampah, tidak terlihat air yang memenuhi waduk ini. Semuanya tenang, dalam diam, dalam tumpukan sampah yang mengapung.

IMG_20151207_101219

Hamparan sampah di tepian

Tanggul ini memang tidaklah sesejuk lapangan golf tadi dengan pepohonan yang rindang. Hanya ada barisan lampu penerangan jalan. Sementara itu dibawahnya berupa tumpukan batu beraneka bentuk sebagai penahan abrasi di pinggir tanggul. Tapi sepertinya tidak mungkin air melampaui tanggul ini. Saking dangkalnya pada bagian tertentu malah sudah berubah menjadi sebuah daratan baru.

IMG_20151207_101327

Tempat pembuangan sampah di balik tanggul

Sambil duduk termenung, mata ini memandang jauh barisan perbukitan nun jauh di sana sambil ditemani lalu lalang pemulung yang mengayuh sampan melintasi tumpukan sampah yang mengapung. Aku meraih tas ranselku sambil mengeluarkan sebuah buku bacaan menikmati semilir angin. Tapi sayang teriknya panas matahari menyurutkan keinginanku tadi. Aku salah tempat jika ingin menjadikan lokasi ini sebagai taman bacaan.

IMG_20151207_100713

Duduk di atas tanggul di tengah terik matahari

Bak orang yang sedang putus asa, aku duduk sendiri, hening dan suasana damai begitu terasa. Lupakan sejenak realita hidup di tempat ini yang terkadang begitu susah dan perjuangan. Ini bukan tempat wisata yang penuh dengan suka-suka. Kita berdampingan dengan kenyataan yang  tak selalu manis. Masih banyak sesama kita yang harus terus bersemangat mencari nafkah, apapun caranya.

Pemandangan kontras justru terlihat di ujung tanggul sana. Ya..di ujung sana terlihat sepasang muda-mudi sedang menikmati manisnya jatuh cinta. Tidak ada yang salah dengan apa yang mereka lakukan. Sudah menjadi hal yang manusiawi ketika kita sebagai manusia punya rasa tertarik satu sama lain.

Perlahan satu persatu pemulung menepi meninggalkan waduk penuh sampah. Ada gurat senyum dan peluh yang terlihat dari wajah-wajah hitam legam dan penuh keringat. Sambil menggendong “harta berharga” dalam kantong-kantong lusuh. Mencari jalan rezeki tidak membedakan gender, tua-muda, laki-laki dan perempuan semua punya satu tujuan, memenuhi kewajiban untuk menyambung hidup hari demi hari.

Sebenarnya persis di balik padang golf sebelah kiri saat sekarang aku berdiri merupakan jalan raya yang menghubungkan desa Wanadadi-Tapen. Terakhir melewati jalan di seberang ini masih berupa jalanan yang rusak di bagian sana-sini. Entahlah saat ini seperti apa keadaannya. Aku jarang melewati jalan utama ini, lebih sering menggunakan jalan alternatif yang kondisinya masih bagus. Dari kabar yang pernah aku dengar, pemerintah sedang membangun jalan beton di sepanjang perbatasan kedua desa tadi. Seperti apa hasilnya hingga saat ini?, aku belum tau.

***

Bergeser beberapa puluh meter saja, pemandangan sudah berubah. Dari tumpukan sampah yang menepi di pinggir waduk berubah menjadi hamparan rumput hijau yang tertata apik dengan tinggi yang hampir sama persis. Di sekelilingnya terdapat selokan air sebagai pemisah.

Bebunyian mesin pemotong rumput saling bersahutan dari kejauhan. Laki-laki bertopi dan bersepatu boots berputar-putar bak mencukur rambut kepala raksasa. Hanya butuh beberapa menit saja, rerumputan yang dilewati mesin tadi sudah berubah menjadi rapi sama tinggi. Tidak hanya satu-dua orang saja yang menggantungkan hidup dan bekerja di sini. Akan tetapi terlihat puluhan orang yang tersebar karena saking luasnya hamparan padang golf ini.

IMG_20151207_101711

Pepohonan pinus sebagai tempat berteduh

Dari pinggir jembatan yang berada persis di bawah aliran sungai Serayu bendungan Mrica yang menghubungkan jalur ke kota hingga perempatan desa Tapen, terhampar padang rumput untuk olahraga golf. Bukan hamparan rata bak lapangan sepak bola, akan tetapi berupa lereng naik turun bukit yang saat musim penghujan terlihat apik bak permadani hijau.

Orang akan mengerutkan dahi jika kebetulan melintasi padang golf ini pada musim kemarau. Rumput yang terlihat hijau berubah menjadi kecoklatan dan kering kerontang. Ditambah lagi beberapa penduduk memanfaatkan tanah lapang di pinggirnya untuk dijadikan sebagai lahan penjemuran ampas hasil pemerasan tepung tapioca (gaber) yang baunya menyengat menusuk hidung. Tapi itu beberapa tahun yang lalu, sekarang pengelola telah melarang penduduk sekitar ketika ingin menjemur gaber di sini.

IMG_20151207_101859

Bagian yang tidak boleh diinjak pengunjung

Aku duduk dengan alas hamparan rumput hijau dan atap berupa pepohan pinus rindang. Mata seakan menerawang jauh ke depan. Suasana ini sangat cocok untuk dijadikan taman bacaan saat ini, apalagi di dalam ranselku terdapat buku tebal sebagai pengusir rasa bosan. Oh ya tidak ada tarif atau tiket masuk mengunjungi padang golf ini, hanya saja kita harus mematuhi larangan yang terpampang. Diantaranya dilarang menginjak rerumputan yang berada khusus di area Teeing Ground, Green, Fairway, Rought. Sisanya, silakan berjalan seperti biasanya asal tidak merusak pepohonan dan membuang sampah sembarangan.

IMG_20151207_102232

Paling asik baca buku di bawah pepohonan

Matahari semakin beranjak, jam di layar handphone menunjukan pukul 12 lewat. Perut sudah semakin keroncongan karena hanya makan nasi uduk saat sarapan tadi pagi. Perlahan aku pergi meninggalkan padang rumput hijau ini menuju tempat terakhir meninggalkan motor sendirian. Lumayan, persinggahan sejenak di tempat ini bisa sedikit menyegarkan pikiran kembali. Aku siap, aku semangat lagi menjalani realita hidup lagi.

Advertisements

2 thoughts on “Berkawan Dengan Rumput Hijau dan Sampah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s