Asap Dupa

W
aktu menjelang siang ketika hati ini terbersit untuk mampir ke sebuah gerbang warna merah mencolok di pinggir jalan. Sebenarnya sudah sedari jaman sekolah sering melewati bangunan mencolok ini. Sayang…dulu belum tertarik sama sekali untuk sekedar menengok apa gerangan di sana

Dengan membulatkan tekad, perlahan laju motor diperlambat. Sambil sesekali kepala ini menoleh ke samping. Aku pun berhenti sebentar di pinggir trotoar. Di sebelah kanan terlihat seorang ibu yang sedang khusyuk duduk menunggu lapak dagangannya. Di sampingnya lelaki setengah baya tengah asik menikmati sebatang rokok. Dengan asap yang terus mengepul dari bibirnya, lelaki tersebut terlihat lincah tangannya sambil memarkir kendaraan yang akan menepi.

Setelah berdiam diri duduk di atas jok motor, aku pun memberanikan diri masuk. Pelataran yang luas dengan diapit dua buah bangunan berwarna merah pada sisi samping kiri kanannya. Terdengar suara nenek tua renta yang sedang mengoceh sendiri sambil memunguti kok bulutangkis yang hampir memenuhi tangannya. Nenek tua tersebut terlihat sedang mengejar cucu buyutnya yang sehabis pulang dari sekolah.

IMG_20151207_085730

Dua buah patung hewan penjaga pintu masuk

“Aku wis tuo, tapi tetep nuturi kok iki nggo cucu buyutku” terdengar si nenek tadi meracau sendiri.

Dengan jalan yang sempoyongan nenek tadi mendekatiku sambil berceloteh, “Aku wis tuo, ora mati-mati padahal buyutku wes akeh”.

Aku pun sempat bertanya berapa umurnya akan tetapi si nenek malah asik berceloteh sendiri. Mungkin sapaanku kurang keras, sepertinya pendengarannya sudah mulai berkurang.

Bangunan di sebelah kananku adalah berupa gedung olahraga yang biasa digunakan untuk bermain bulutangkis. Wajar jika banyak kok bulutangkis yang sudah rusak berserakan. Si nenek pun dengan telaten memungutinya.

Motor sudah terparkir di bawah pohon palem. Helm sudah aku gantung di atas spion. Aku pun bertanya lagi dengan si nenek, kali ini dengan nada suara yang keras. “Mbah, nuwun sewu, nopo kulo angsal mlebet teng klenteng terus foto-foto?” Kali ini aku semakin mendekat dan berbicara persis di telinganya.

“Oh..olih..olih…” Wingi mawon enten rombongan bocah wedok enom-enom poto-poto nang kene” jawab si nenek dengan bahasa yang campur aduk dan tidak jelas.

“Mbah umure pinten saniki” tanyaku.

“Aku wis ndue buyut, wis tuo ora mati-mati” entah kenapa si nenek dari tadi menjawab begitu.

Beliau adalah nenek Turni, perempuan senja penjaga klenteng tua satu-satunya di kota Banjarnegara. Sebenarnya nama klenteng ini adalah Hok Tek Bio, akan tetapi karena banyak umat dari tiga agama yang sering datang berkunjung, maka nama resmi yang tertera di plang adalah Tempat Ibadah Tridharma Banjarnegara. Berada di Jl. Letjend Soeprapto no 88 – Banjarnegara.

Walaupun nenek Turni sudah berusia senja, beliau dengan ramah menemaniku berkeliling seisi ruangan klenteng ini. Saat itu pagar terbuat dari besi masih terkunci rapat. Aku pun dengan sabar menunggu di bawah pohon yang rindang.

Tanpa menunggu lama, langkah kaki perempuan senja tersebut sudah semakin jauh. Beliau sudah masuk dari pintu belakang. Terdengar suara pintu besi yang terbuka. Waktu itu hanya ada seorang jemaat laki-laki berusia sekitar empat puluhan yang hendak bersembahyang.

Langkah kaki ini semakin mendekat. Kali ini aku sudah berdiri persis di bawah tangga  lima tingkat. Tangga masuk ini dijaga oleh dua buah patung berbentuk singa berwarna biru yang sudah memudar. Disampingnya terdapat sebuah tempat minum atau kendi khas negeri Tiongkok warna merah dan berukuran setinggi orang dewasa.

Saat kaki ini menaiki anak tangga, aku disambut dengan seonggok meja tinggi. Di atasnya terdapat guci besar tempat menaruk dupa. Sementara itu di langit-langitnya dihiasi ornament lampion warna merah yang terlihat sudah makin lapuk.

“Permisi, koh..apa aku boleh masuk dan melihat-lihat?” aku menyapa jemaat tadi yang hendak bersembahnyang.

“Oh silakan-silakan”

Aku tidak berani terlalu dekat, takutnya mengganggu jemaat tadi yang sedang khusyuk memegang dupa sambil memejamkan mata. Terlihat lelaki tadi bersembahnyang sampai beberapa kali. Mulai dari depan anak tangga, pintu masuk utama hingga barisan patung yang berjejer rapi di dalamnya.

IMG_20151207_090416

Bersembahyang di depan pintu masuk

IMG_20151207_090108

Deretan tahun pembangunan dan renovasi

Aroma dupa merasuk menusuk hidung. Suasana hening bercampur menjadi satu. Aku pun hanya terdiam sambil melangkahkan kaki secara perlahan. Berkeliling melihat sejarah bangunan ini dari masa ke masa. Ada begitu banyak kaligrafi khas Tiongkok yang tertata rapi di dinding. Dalam sebuah frame besar berjejer aneka macam klenteng dari seluruh pulau jawa.

Terlihat dewa berukuran besar dengan altar rumah yang cantik dan aneka macam ornamen warna merah. Tertulis Hok Tek Tjieng Sin di bawah altar ini. Sepertinya ini adalah dewa utama klenteng ini, entahlah aku kurang paham. Di belakangnya terdapat altar untuk sang Budha yang tersenyum lebar dengan tubuh yang subur. Pasangannya adalah patung Dewi Kwan Im di samping kirinya.

IMG_20151207_092540

Altar nabi-nabi konghucu

Langkah kaki semakin jauh ke belakang, aroma dupa dan asap semakin mengepul memenuhi seisi ruangan. Pada bagian belakang ini terdapat banyak dewa yang berjejer rapi dengan altar yang megah. Sekilas tertulis ini merupakan altar untuk para nabi khongucu.

Ada hal yang menarik mata ini, alas altar ternyata berupa kain batik dengan motif dewa-dewi khas negeri Tiongkok. Sungguh, baru pertama kali aku melihatnya. Ada juga yang berupa kain songket berwarna emas mencolok yang dijadikan alas altar.

Mata ini pun puas berkeliling. Ada setumpuk buku-buku agama yang tertata rapi dalam lemari kaca. Aku pun menyempatkan diri membacanya. Belum lama membaca buku-buku, aku mengintip keluar jendela. Betapa kagetnya, sepeda motor yang terparkir sudah hilang dari pemandangan. Dengan reflek kaki ini beranjak lari seribu langkah. Hampir pingsan rasanya, keringat dingin mengucur deras. Takut motorku hilang. Tetapi semua itu hanya rasa takutku saja, motorku ternyata tergeser di belakang sebuah mobil hingga tak terlihat. Begitulah, ketakutan terbesar saat bepergian adalah keberadaan motor yang terparkir.

Aku pun duduk sebentar sambil menghela nafas. Muka mendadak pucat karena syok. Aku pun memutuskan untuk mengakhiri kunjungan siang itu. Sambil menuntun motor, aku keluar gerbang secara perlahan. Lemas rasanya..ketakutan-ketakutan itu terkadang membuat kesadaran kita sedikit menghilang secara tiba-tiba.

Advertisements

13 thoughts on “Asap Dupa

  1. ijeverson.com

    jadil.. atlas altarnya merupakan perpaduan dua budaya yang menciptakan harmoni :”)
    biasa kalau di jawa yang poaling banyak jejak tiongkoknya paling.. semarang atau surabaya

    Like

    Reply
  2. Pingback: Dari Nasi Uduk Jakarta Hingga Semerbak Aneka Wewangian | nDayeng

    1. Hendi Setiyanto Post author

      betul..aku juga harus minta ijin dulu, boleh foto gak? boleh lihat-lihat sampai dalam ga? terus boleh foto saat ibadah dan mereka malah dengan senang hati memperbolehkan, tapi ya beda-beda kali ya…

      Like

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s