Suatu Pagi di Minggu Wage

Muka masam, pipi bengkak dengan bibir menjadi tebal sudah dua hari ini singgah di depan mataku. Tak lain dan tak bukan sedang betah bertamu di tubuh ibu. Jangankan berkata keras-keras, hanya sekedar menggerakan langkah kaki menuju dapur saja sudah bikin telinga ibu  menjadi awas. Sewaktu-waktu kata-kata pedas bisa tiba-tiba saja terlontar dari bibirnya. Jangan sekali-kali perang mulut saat kritis seperti ini, bisa-bisa aku babak belur dengan apa yang terucap dari bibirnya.

Sudah tiga hari ini, ibu sedang merasakan sakit gigi. Penyakit yang kata orang sakitnya, nyerinya luar biasa akan tetapi tak seorang pun yang sudi membesuk. Mungkin karena dikira penyakit biasa, “ah palingan sakit gigi, datang tiba-tiba-hilang juga tiba-tiba”. Malah ibuku sering berujar jika sakit giginya sedang kambuh, “biarlah, sakit giginya singgah hingga bosan, jangan dulu diobati. Jika saatnya belum tiba, mau diobati obat termanjur apapun, takkan pergi itu rasa nyeri”. Entahlah, kata-kata seperti itu sering terlontar begitu saja saat dulu aku pun merasakan sakit gigi hingga sekarang bergantian menimpa ibu.

Setelah mencoba beberapa hari bertahan menghadapi sikap ibu yang dingin, pagi ini aku mencoba “menyogok” ibu dengan kata-kata manis. Percobaan demi percobaan sudah aku jajal satu persatu, tetapi hasilnya masih nihil. Sementara itu langit pagi begitu suram, sisa tanah basah setelah semalaman diguyur hujan masih terasa ketika keluar rumah. Embun-embun pagi pun masih enggan menguap menyambut sang surya pagi. Sinar pagi yang diharap bisa mencairkan suasana dingin itu pun belum juga menampakan batang hidungnya. Ya, minggu pagi ini sepertinya langit mendung masih betah di singgasananya, enggan bergeser barang sejengkal pun. Mungkin sudah terlalu nyaman tinggal di kursi empuknya.

Rutinitas minggu pagi seperti biasa aku lakukan secara berurutan. Mulai dari “nongkrong manis” menyambut panggilan alam hingga aktivitas membersihkan bau sisa semalam. Kegiatan pun dilanjutkan dengan mengurusi cucian pakaian kotor yang sudah menggunung dalam bak besar. Sore hari sebelumnya, aku sudah sempat merendamnya hampir semalaman lebih, hingga pagi hari tiba. Kebiasaan memang, bahkan ibuku sering berujar kalau hobiku ialah merendam cucian kotor. Siang hari sebelumnya, pakaian basah terguyur hujan di hari sabtu. Jas hujan pun tidak cukup ampuh melindungi tubuh dari tetesan air hujan yang turun begitu derasnya. Walhasil pakaian basah kuyup dan berakhir teronggok di bak rendaman cucian kotor.

Setelah badan ini bersih, aku mencoba menyapa lagi ibu. Kebetulan hari ini adalah hari pasaran Wage dalam penanggalan Jawa, ditambah hari minggu pula. Menurutku ini adalah momen yang sangat tepat untuk mengambil hati ibu. Perempuan mana yang tidak senang hatinya jika diajak berbelanja? Entah itu ke pasar tradisional yang becek dan kumuh hingga toko ritel modern yang seakan menjamur di tiap-tiap desa. Kali ini sepertinya kecerdikanku manjur, ibu dengan semangat mengiyakan ajakanku. Hanya dibalas dengan kode “ehem” saja memang, tapi aku paham dan sudah mengenal sifat ibu. Itu adalah pertanda setuju.

Yang namanya perempuan, jika keluar rumah tanpa memakai bedak dan sedikit gincu sepertinya kurang afdol. Begitu juga dengan ibuku, walaupun guratan keriput disekitar mata sedikit terlihat, tapi beliau tetap asyik berdiri di depan cermin sambil sesekali tersenyum. Aku pun hanya tersenyum mengintip dari balik tirai.

“Bu, sudah siapkah?” sengaja aku bertanya karena sudah cukup lama menunggu beliau asyik di depan cermin.

“Iya..ini sudah selesai kok” Jawab ibuku dengan penuh semangat.

Aku pun mengeluarkan motor yang sudah dua minggu ini tidak aku mandikan. Warna putih yang hampir mayoritas menutupi bodi motorku seakan berubah menjadi kusam dan kotor. Terakhir aku memandikan motor kesayanganku itu sesaat sebelum menjelajah ke Pejawaran. Ya…sudah dua minggu lebih. Aku tidak bisa membayangkan jika itu terjadi padaku, sudah seperti apa rupa dan baunya saat ini. Apalagi aku tinggal di negeri tropis dan berada pada tanah yang berbukit-bukit, belum lagi lembabnya karena bumi diguyur hujan semalaman. Bahkan tembok kamarku pun merembas, seperti mengeluarkan mata air.

Tak terasa setelah motor ini aku panaskan beberapa menit, ternyata ibu sudah berdiri persis dibelakangku.

“Ayo..ibu sudah siap ini” jawab ibuku dari arah belakang.

Kami pun asyik berboncengan bak sepasang muda-mudi yang sedang dimabuk asmara. Memang, saudara-saudaraku lebih dekat pada sosok ibu dibanding bapak. Begitu juga aku. Aku bercakap-cakap dengan bapak hanya seperlunya saja. Tapi kami baik-baik saja, bukan karena ada masalah. Seperti sudah tau sifat masing-masing.

Terlihat lubang-lubang yang menganga di tengah dan pinggir jalan yang kami lewati. Di beberapa bagian malah sudah penuh dengan air berwarna keruh bak empang terguyur hujan hingga berwarna coklat. Sementara itu di pinggir jalan masih teronggok sisa galian tanah untuk saluran irigasi yang belum juga ada tanda-tanda akan selesai dikerjakan. Ya..desaku memang sedang berbenah diri, semenjak dana desa dari pemerintah pusat cair, banyak proyek-proyek yang mulai berjalan. Saat ini di desaku sedang dibangun trotoar jalan, persis seperti kondisi jalan di perkotaan. Entah mengapa malah menjadi terlihat sempit jalan raya yang lebar sebelumnya tidak seberapa itu.

Tidak butuh waktu lama untuk kami mencapai pasar tradisional terdekat. Sejurus saja, kami sudah berada di depan pintu masuk pasar yang berupa anak tangga. Di kanan kiri pintu masuk berjejer rapi motor dan becak. Sementara itu si empunya sedang asyik bercengkerama dengan asap tembakau yang terus mengepul keluar dari bibir-bibir yang terlihat menghitam. Mungkin cara itu bisa sedikit menghangatkan tubuh pagi itu. Apalagi cuaca dingin begitu menusuk ditambah sisa hujan semalam yang masih terlihat basah.

Sudah diniatkan sejak sebelum berangkat untuk membawa handhpone, niatnya ingin mengabadikan suasana pasar tradisional yang sudah sejak lama ada hingga saat ini. Baru saja menghabiskan sejumlah anak tangga yang pada bagian bawahnya becek, basah dengan air yang masih menggenang, aku disambut dengan beberapa ibu-ibu yang sedang asyik menawar barang dagangan yang dijual. Ya..tak lain dan tak bukan adalah pedagang petai yang ramai bak ikan asin dikerubuti lalat-lalat hijau. Dengan lapak sederhana beralaskan karung beras dan berjualan persis di bawah tiang listrik, mereka terlihat riang melayani dengan sabar para pembeli yang terkadang menawar harga seenaknya sendiri. Transaksi pun berhasil, ditandai dengan beberapa lembar uang rupiah lecek yang berpindah tangan dari tangan pembeli ke tangan penjual dan berakhir di dompet penjual.

IMG_20151206_065929

Penjual petai dengan sabar melayani pembeli

Saat musim petai begini, orang-orang yang maniak dengan si biji berbau ini akan selalu setia mengerubuti tiap pedagang petai yang berjejer rapi di pinggir jalanan hingga pintu masuk pasar. Mereka bak jamur di musim penghujan dan laron yang keluar sarang saat musim hujan tiba. Sebuah interaksi unik dibalut kebersahajaan di pasar tradisional.

Sementara itu di seberangnya terdapat seorang bapak-bapak yang berkepala botak, jidat terlihat hitam dan berjenggot lebat sedang membungkuk lalu berdiri begitu seterusnya. Dengan celana bahan yang cungklang di atas mata kaki, si bapak tadi begitu asyik melayani pelanggannya yang mayoritas adalah ibu-ibu. Di depannya terdapat bertumpuk-tumpuk ikan pindang yang sukses menarik perhatian ratusan lalat mulai dari seukuran merica hingga sebesar biji jagung. Tak ada yang peduli dengan datangnya lalat-lalat yang hinggap. Mereka asyik memilah-milah ikan pindang yang terbagi-bagi dalam beberapa keranjang kecil. Setiap keranjang yang terbuat dari bambu diisi tiga hingga empat ikan pindang dengan alas koran bekas yang dipotong sedemikian rupa. Terlihat juga ibu-ibu yang memborong beberapa lusin keranjang ikan pindang. Sepertinya itu akan dijual lagi sehabis dari pasar ini.

IMG_20151206_070136

tumpukan ikan pindang dalam keranjang bambu

Ada juga pedagang tempe mendoan, ondol, hingga tempe biasa yang terbungkus daun pisang yang dengan tidak menyerah, terus menjajakan barang dagangannya pada tiap orang yang lewat dihadapannya. Sambil sesekali mulutnya mengunyah sirih hingga bibirnya terlihat merah seperti sedang meminum darah. Begitulah, kaum perempuan sepertinya menguasai seluruh isi pasar ini. Tua muda, jelek-cantik, keriput semua tumplek-plek menjadi satu.

IMG_20151206_070041

penjual  tempe mendoan yang masih mentah

Di ujung barat terlihat deretan lapak-lapak penjual aneka macam sayuran khas pedesaan. Mulai dari daun melinjo muda, daun singkong, daun talas muda (soglog) hingga bunga kecombrang. Mereka berjejer rapi menggelar barang dagangannya di atas tikar yang terbuat dari karung beras bekas. Sesekali sambil berbincang dengan sesama pedagang di sebelahnya.

IMG_20151206_070940

aneka macam sayuran khas pedesaan

Ibu-ibu tua sekitar umur 65 tahunan lebih sedang asyik memilah-milah ikatan sayur daun melinjo muda. Bahkan beliau juga menjual kelapa hingga cething atau tempat nasi yang terbuat dari anyaman bambu.  Aku hanya tersenyum melihat mereka sambil sesekali mengabadikannya dengan kamera. Si ibu-ibu tadi pun tahu kalau sedang difoto, mereka malah makin semangat untuk berpose tanpa arahan apapun.

IMG_20151206_070526

si ibu akan bersiap menimbang barang

IMG_20151206_070744

senyum-senyum ini adalah daya tarik tersendiri

IMG_20151206_070821

menikmati sajian sederhana bersama-sama

IMG_20151206_070244

sambil membungkuk asyik memilih

Sambil menunggu pembeli, mereka terlihat sedang menikmati beberapa nasi bungkus dengan lauk krompyongan tempe, mie dan sayur daun singkong. Mereka duduk bersila berhadap-hadapan dengan tangan satu memegang bungkus nasi dan tangan satunya memegang sendok plastik. Sesekali di iringi dengan tawa sederhana sambil mengobrol dengan sesama pedagan lain yang juga tengah menikmati nasi bungkus. Ah..aku pun hanya ingin menikmati pemandangan ini lama-lama. Padahal sebelumnya seperti sudah biasa melihat pemandangan seperti ini. Entah kenapa kali ini begitu menarik perhatianku, entahlah.

Perempuan muda sekitar umur dua puluhan melintas di depan mataku. Dengan memakai celana jeans, sepatu wedges, berkacamata dan berhijab. Sementara itu tangan kanannya sedang menenteng beberapa sayuran di dalam keranjang belanjaannya. Begitulah pasar, semua jenis manusia ada di sini, mulai dari yang berpenampilan seadanya hingga yang mempersiapkan tampilan agar terlihat maksimal. Semua punya satu tujuan akhir, berbelanja. Ya berbelanja dalam artian sebenarnya, bukan sekedar jalan-jalan cuci mata bak di pusat perbelanjaan modern atau pun mall.

IMG_20151206_071059

si perempuan muda sedang memandangi setumpuk cabe merah

Tak terasa sudah hampir setengah jam aku berdiri  membelakangi para pedagang. Ibu pun tiba-tiba memanggilku dan menawarkan apakah mau beli pecel, kupat dan mendoan untuk dibungkus kemudian dibawa pulang. Aku pun mengiyakan saja, ibu sudah paham dengan makanan kesukaan anak lelakinya ini. Bukan bakso atau soto tapi pecel dan mendoan, ya sebuah makanan sederhana tapi aku sungguh menggemarinya.

Tas belanjaan ibu pun sudah hampir penuh dengan beras, tempe, daun bawang dan aneka bumbu dapur. Tidak banyak memang belanjaan ibu pagi itu, katanya stok di rumah masih banyak, jadi belanja seperlunya saja. Padahal  biasanya ibu kalau belanja bisa berjam-jam, tumbenan kali ini. Dalam hati bergumam, “andai lebih lama belanjanya pasti aku bisa menjelajah pasar ini lebih luas dan mengabadikannya dalam jepretan kamera”.

Kami pun kembali menuruni anak tangga yang licin dan basah itu. Bergegas pulang dengan guratan senyum yang terlihat jelas pada raut muka ibu. Di depan kami terlihat seorang ibu paruh baya yang sedang asyik menata barang dagangannya pada gerobak yang telah dimodifikasi sedemikian rupa hingga bisa diletakan pada bagian belakang motornya. Ya..banyak sekali perempuan-perempuan tangguh di desaku yang berprofesi sebagai penjual sayur keliling. Selepas subuh, mereka dengan penuh semangat mengendarai motor seorang diri menuju pasar terdekat, mulai dari kecamatan sebelah hingga ke pasar kota kabupaten yang jaraknya jauh. Mereka-mereka ini adalah perempuan-perempuan luar biasa. Aku salut pada mereka semua.

Motor kami perlahan pergi meninggalkan pasar yang penuh cerita. Kami pagi itu sama-sama puas dan senang. Ibu senang dengan aktivitas belanjanya dan aku senang dengan beberapa foto yang bisa diabadikan dan menjadi sebuah cerita. Ya pagi itu Minggu Wage.

Advertisements

15 thoughts on “Suatu Pagi di Minggu Wage

  1. Jejak Parmantos

    Kirain tadi mas bergumam begini “andai lebih lama belanjanya pasti aku bisa kenalan dengan perempuan muda berjilbab pink” 😀

    Saya kl pulkam pasti dapat tugas antar Ibuk ke pasar… selain asyik, tentu sebagai sarana latihan kesabaran ketika nantinya nganter isteri ke pasar XD

    Liked by 2 people

    Reply
  2. mawi wijna

    Ibu nggak dibujuk ke dokter gigi po Bro biar sakit giginya sembuh? Gigiku sebenarnya juga bolong (banyak), tapi alhamdulillah nggak sakit klo menjaga makan. Terutama jangan makan yang manis-manis apalagi klo gulanya pemanis buatan. Terus diimbangi dengan rajin gosok gigi dan kumur lama air garam hangat.

    Klo Ibu sakit giginya banget, coba dikumur air garam hangat. Terus hindari makan yang dingin-dingin, nanti tambah sakit.

    Liked by 1 person

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      udah tak bawain obat kok. aku juga gigi geraham bagian bawah-kiri berlubang dan sudah tidak bisa ditambal lagi, walhasil kalau makan pakai geraham kanan terus dan jadinya pipi besar sebelah. mau dicabut sekalian tapi takut

      Like

      Reply
  3. annosmile

    foto pertama petenya melimpah hihihi..
    secara aku juga suka aktivitas di pasar-pasar tradisional..
    cuma kadang mereka malu atau tidak mau difoto hihihi
    rejeki cuma sampai disitu,..sudah lumayan kan ketemu mbak2 berhijab itu :p

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s