Minggu Produktif

S
udah 2 hari ini badan dan pikiran ini terasa produktif banget. Bayangkan saja, selama 2 hari ini saya pulang ke rumah hanya sekedar tidur dan mandi. Sisanya seharian waktu saya habiskan di tempat gawe.

Sejak hari sabtu yang biasanya kebanyakan orang pada libur dan menikmati akhir pekannya, seperti terbalik dengan apa yang saya alami. Akan tetapi saya cukup menikmati semua kesibukan ini. Cuaca mendung-gerimis-cerah seperti sudah akrab dengan keseharian saya.

Niatnya minggu ini ingin pergi ke suatu tempat, tapi sayang partner saya sudah kembali ke kota Atlas. Dialah satu-satunya teman yang paling gampang diajak kemana-mana. Menjelajah hutan? Oke. Pergi ke kota? Oke juga. Naik gunung? Oke. Ke museum? Oke juga.

Pagi itu. Setelah sejak subuh sudah berkutat dengan cucian yang menumpuk, saya melanjutkan  kegiatan minggu pagi dengan bersih-bersih rumah. Sebuah rutinitas yang jamak jika dilewatkan begitu saja tiap minggunya. Mulai dari mencuci piring, menyapu, mencuci pakaian hingga mengepel seperti sudah menjadi makanan pokok.

Setelah semua beres terus ngapain lagi? Bersantai? Tentu tidak. Kali ini saya mendapat jatah tugas dari bapak untuk mengambil bibit tanaman merica di desa tetangga. Jalanan becek, aspal yang mengelupas dan jalan yang naik turun sudah menjadi hal yang biasa.

Berhubung sekarang musim penghujan, hampir semua petani berbondong-bondong membeli bibit tanaman yang akan ditanam di kebun masing-masing. Begitupun dengan bapak, sudah beberapa minggu sebelum musim hujan datang, beliau menyiapkan beberapa bibit tanaman merica yang sudah siap tanam. Untuk tanaman merica sendiri bisa dibeli lewat mobil khusus penjual bibit aneka tanaman yang tiap pagi berkeliling di jalan raya.

Jika ingin lebih lengkap, bisa saja tiap hari pasaran Legi (berlangsung tiap 5 hari sekali dalam penanggalan jawa) berkunjung ke penjual khusus bibit tanaman yang banyak tersedia di pinggir-pinggir jalan raya. Mulai dari bibit pohon albasia, tanaman cabe, jambu air, dukuh, mangga, hingga duren semua ada bibitnya.

Selain itu, saat ini di daerah Punggelan sedang musim petai. Hampir tiap pasaran banyak penjual yang menjajakan petai di pinggir jalan dan di pasar-pasar. Harganya bervariasi dari Rp 10,000 – 20,000 per gandeng, tergantung jumlah bijinya dan tampilannya. Maka tidak heran jika tiap-tiap rumah getol memasak menu masakan yang berbahan petai. Ada yang memasak petai dibuat menjadi sambal, dibuat sambal ati,disemur,direbus, digoreng atau kalau yang suka malah bisa dimakan begitu saja disajikan dengan nasi panas yang masih mengepul. Bisa dibayangkan bagaimana baunya WC tiap-tiap rumah tadi ckckckck.

Kembali lagi ke bibit tanaman merica, pagi itu saya dan bapak niatnya mau mengambil beberapa bibit merica yang sudah tertanam pada polibag-polibag kecil. Sebelumnya, bapak sudah membayar beberapa puluh ribu rupiah kepada penjual akan tetapi barang diambil beberapa kali. Kebetulan pagi ini kami berniat mengambil sisa bibit yang tersedia. Saya sudah siap dengan motor sambil menenteng tas yang diletakan pada jok motor bagian belakang. Bapak juga sudah siap dengan kardus yang diletakan dan diikat pada bagian belakang jok sepeda onthelnya. Saya sengaja menyusul belakangan, niatnya jika sudah sampai pada tempat tujuan jadi tidak menunggu terlalu lama.

Saat kami berniat mengambil bibit tanaman tadi, ada rasa kecewa karena bibit yang sedianya kami ambil ternyata sudah dijual kepada orang lain. Walhasil kami hanya dapat sisa bibit yang sudah rusak. Karena kami sudah terlanjur membayar, mau tidak mau terpaksa kami ambil saja bibit-bibit tadi. Si penjual berkilah jika bibit-bibit tadi ada yang mati tapi kami tidak percaya karena polibag-nya juga ikutan raib tanda sudah laku terjual. Ah..kami pun malas untuk protes dan dengan terpaksa kami pulang dengan hanya membawa 50 bibit tanaman merica dalam polibag kecil.

Setelah pulang dan istirahat sebentar, saya langsung saja mengambil makanan yang sudah tersedia di meja makan. Pagi itu perut sudah keroncongan karena lapar. Saya termasuk tipe orang yang susah untuk menahan lapar. Baru saja istirahat sebentar, handphone pun tiba-tiba berbunyi.

“Hend, bisa nggak kamu ke kantor? Ikutan bantu-bantu pindahan ruangan”

“Baiklah” saya pun menyanggupinya. Saya pikir daripada suntuk di rumah.

Kebetulan ruangan sedikit dirubah menjadi lebih leluasa dan lebar. Tadinya sempit dan masih tidak teratur di sana-sini. Saya harus memindahkan beberapa file-file serta barang-barang yang sudah tidak berguna. Kebetulan saya kenal dengan tukang loak yang sudah terbiasa menjadi langganan. Lumayanlah saya bisa menjual barang-barang bekas lebih dari 70 kg. Harga perkilogramnya sendiri Rp 1,000,- saja. Saya bisa mendapat uang Rp 70,000 dan bisa digunakan untuk membeli minuman, buah serta makan siang saat kami beres-beres.

Hujan lebat disertai petir saat siang hari, tidak menjadi halangan bagi kami untuk terus kesana-kemari memindahkan perkakas mulai dari meja, kursi, etalase hingga memindahkan berkarton-karton cairan infuse. Lelah? Tidak sama sekali, justru saya merasa semangat. Entah mengapa seharian itu begitu menyenangkan selain berkeringat juga bisa merasa puas saat ruangan menjadi baru dan lebih tertata.

Tak terasa jarum jam di dinding menunjukan pukul 16.30 sore. Hampir 8 jam lebih, saya menghabiskan waktu beres-beres memindahkan barang-barang. Saat pulang pun saya disambut dengan hujan deras hingga sampai rumah. Kaki baru terasa pegal-pegal saat malam hari tiba. Sibuk memang minggu itu, tapi saya puas dengan apa yang telah bisa saya lakukan agar menjadi orang yang terus produktif.

Advertisements

10 thoughts on “Minggu Produktif

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s