Jelajah Pejawaran #Menembus Sarang Babi Hutan

Kisah ini dimulai dari ketidaksengajaan. Setelah kami mengkhatamkan trio curug di desa Giritirta, tak dinyana cuaca masih terang benderang tanpa awan kelabu yang membuntuti kami. Berbekal dari blog walking kepunyaan Idah Ceris, kami antara penasaran dan juga menyangsikan keberadaan curug di desa Sarwodadi masih di kecamatan Pejawaran-Banjarnegara.

“Wed, gimana nih lanjut atau nggak?” Saya pun menegaskan kembali maksud tujuan kami berikutnya.

“Kepalang basah sudah jauh-jauh ke sini, kenapa tidak dicoba cari tau dulu letak curug Penaraban/Sipawon”

“Oh gitu…ya okelah mari kita lanjut saja”

Sebelum berangkat menuju lokasi curug di desa Giritirta, kami sempat melihat titik terang sebuah tanda lokasi desa Sarwodadi saat kami melintas di pertigaan. Tidak tertulis memang keberadaan curug Penaraban dalam plang tersebut. Hanya ada tulisan MIM Giritirta Desa Sarwodadi pada anak panah sebelah kiri.

IMG_20151122_094240

Berbekal plang ini, kami nekat mencari curug yang tersembunyi

Berbekal tanda tersebut, kami membulatkan tekad mencari tau keberadaan curug ini. Dalam hati saya pun sudah membayangkan bakalan tidak mudah jalur yang akan kami lewati karena curug ini masih jarang di kunjungi orang.

Jalanan yang harus kami lewati adalah berupa jalanan aspal yang di beberapa bagian sudah mulai rusak dan menanjak.

Jarum penunjuk indikator bahan bakar pada motor sudah berhenti pada tulisan empty di garis merah. Kami pun mencari penjual bensin eceran terdekat sambil numpang tanya tentang keberadaan curug ini.

Kami berhenti pada sebuah toko kelontong kecil yang menyatu dengan rumah. Sementara itu di halaman depannya terdapat sebuah etalase sederhana terbuat dari kayu sebagai tempat jerigen dan botol bensin di pajang.

“Asalamualaikum…permisi…” sekali dua kali saya memberi salam belum juga ada tanda-tanda keberadaan sang penjaga toko.

Dengan suara yang makin keras saya pun kembali mencoba. “Permisi pak, Asalamualaikum!!!….saya mau beli bensin!!!”

Lalu munculah, sosok lelaki yang belum terlalu tua dari pintu rumah.

“Ada apa mas?, Mau beli bensin?”

“Iya mas, mau isi bensin ini”

“Berapa liter mas” dengan sopan si penjual pun kembali bertanya.

“Dua liter saja mas”

Sambil si penjual tadi menuang bensin ke dalam tangki, saya pun sambil bertanya mengenai keberadaan curug Penaraban/Sipawon di sekitar sini.

“Mas, di sekitar sini apakah ada curug lagi?”

“Oh ada mas, itu di daerah Giritirta, kalau hari libur ramai pengunjung kok”

“Bukan yang itu mas, kalau itu tadi kami baru saja ke sana” “Yang berada di desa Sarwodadi apakah ada?” Saya pun bertanya lagi karena dikira curug Genting di Desa Giritirta.

“Oh…mau cari curug Penaraban/Sipawon toh?” Si mas akhirnya mudeng juga dengan maksud kami.

“Iya bener yang itu mas” Saya makin girang karena ada titik terang.

“Mas nanti tinggal lurus saja, saat ada pertigaan nanti terdapat sebuah gapura pintu masuk desa Sarwodadi, terus tinggal ikuti jalan di depannya saja”

“Oh gitu….terima kasih ya mas” Dengan mengangguk antara mudeng dan ngeblank saya pun mengiyakan saja.

Setelah membayar bensin sebesar Rp 17,000,- saya bergegas melanjutkan perjalan berikutnya. Kali ini saya yang dapat jatah menjadi supir karena si Wedwi sudah kelelahan katanya.

Ternyata jalan yang kami bayangkan sebelumnya hanya berupa jalan yang lurus, aslinya banyak sekali pertigaan. Di pertigaan pertama, kami hanya menggunakan insting dan memilih tidak berbelok. Benar saja kali ini benar pilihan kami.

Di pertigaan kedua, kami terpaksa bertanya pada bapak-bapak yang sedang mengangkut kayu di pinggir jalan. “Permisi pak, mau tanya..arah menuju curug di sekitar sini dimana ya”

“Lurus saja mas, nanti ada gapura desa Sarwodadi kok”

“Terima kasih ya pak” Lumayan lega.

Memang sepanjang pertigaan masih banyak terdapat gapura-gapura bentuk unik mulai dari pesawat, petani, kapal juga ada. Sepertinya kemeriahan saat 17 Agustusan beberapa bulan lalu masih terasa meriah.

IMG_20151122_133138

Desa terakhir sebelum memasuki hutan

“Nah…itu gapura  dusun Tlodas desa Sarwodadi sudah terlihat” Saya berteriak kegirangan saat itu.

“Siip lah…kami makin dekat, yeayyy!!!” Padahal aslinya tidak sedekat yang kami kira hehehe.

Kali ini jalanan menurun terus, untungnya permukaan aspal masih terasa halus saat motor matic kami melewatinya. Agak lucu juga sih, kami berpetualang ke gunung tetapi memakai motor matic. Tapi mau gimana lagi, adanya itu sih.

Kebingungan pun mendera kami lagi. “Nah loh banyak banget pertigaan ini, kita pilih yang mana?”

“Udah ambil kiri saja” dengan mantap si Wedwi memberi saran.

Kali ini insting si Wedwi salah, kami salah arah. Kami bertanya pada ibu-ibu yang sedang menjemur pakaian di pelataran rumah. “Permisi bu, arah menuju curug Penaraban lewat mana ya?”

“Ambil belok kanan mas, ketika ada pertigaan ambil kanan terus” dengan mantap si ibu tadi menjawab.

Untung belum jauh, jadi kami berbelok lagi hihihi.

Benar saja bingung, lah jalannya berbelok-belok diantara pekarangan rumah warga. Setelah itu baru kami menemui jalan yang lumayan besar dan lagi-lagi ada pertigaan lagi.

“Eh itu ada rombongan anak kecil lagi maen, tanya yuk”

“Misi dek, tau dimana curug Penaraban berada”

Dengan mimik bingung si dedek menggelengkan kepala, lah iya lah…bocah berumur sekitar lima tahun ditanya seperti itu pasti ya bingung. Kami saja yang terlalu pinter.

Berganti ke bocah yang lumayan gede lagi. “Dek, tau curug Penaraban?”

“Yang banyak babi hutannya kan?” dengan polos si adek malah menjawab begitu.

“Eh..iya mungkin itu..itu” Dengan agak merinding karena takut bertemu babi hutan.

“Udah deket kok”

“Makasih ya dek..”

Ah kali ini mungkin sudah dekat, kalau dilihat jalan ini sudah batas paling akhir aspal terhampar. Di pertigaan akhir ini juga terlihat bapak-bapak yang sedang mencuci mobilnya di pinggir jalan. Ah tanya lagi keknya daripada tersesat.

“Misi, pak…arah ke curug Penaraban ke mana ya?”

“Itu tinggal belok kiri, nanti juga sampai…tapi jalannya berbatu dan juga agak susah kalau lewat mas”

“Oh gitu..makasih ya pak”

Benar saja kondisi jalan saat ini sudah berbatu… ya batu yang ditata lebih tepatnya. Menanjak terus jalannya. kami yang saat itu pakai motor matic, makin terasa berat saat menarik kemudi gas. Kami juga sempat bertemu pasangan kakek-nenek yang sehabis pulang dari kebun. Akan tetapi mereka malah tidak tahu curug yang kami maksud.

Perlahan tapi pasti, motor ini melewati terjalnya jalanan berbatu yang naik turun. Sesekali kami bergantian jalan kaki dan juga mendorong motor karena susah untuk dilewati. Mungkin jika kami membawa motor bebek atau trail akan terasa lebih pas. Yah..mau gimana lagi..

IMG_20151122_121315

Memang ada yang lumayan, jalannya seperti ini

“Ini jalan kok makin lama makin jauh terus belum ada tanda-tanda keberadaan sungai” Saya hanya bisa menggerutu dalam hati saja. Saking terus dipaksa menaiki jalanan menanjak ini, motor saya mengeluarkan bau gosong seperti karet yang terbakar. Saya pun makin ketar ketir takut sewaktu-waktu motor kami mogok di tengah jalan hutan.

Memang sih di beberapa tempat masih ada petani yang sedang menggarap kebunnya tapi itu jauh di belakang kami tadi. Yang ada sekarang adalah semak belukar di sisi kanan kiri jalan. Saya sempat menyesal karena membawa motor sampai sejauh ini. Gimana nanti parkirnya, takutnya dibegal orang.

IMG_20151122_123328

Makin masuk ke hutan, di samping kiri itu jurang

“Apa kita balik saja ya” Saya hampir menyerah dan berujar pada si Wedwi.

“Nanggung, mungkin bentar lagi sampai kok”

Jalan berbatu berganti menjadi jalanan tanah yang licin, selain itu juga  kali ini berupa jalan setapak. Sepertinya motor kami harus di parkir di sini. Sudah tidak bisa dipaksakan masuk lagi ke hutan. Kami akhrinya memutuskan meninggalkan motor di pinggir jalan setapak dan berharap aman sampai kami kembali.

Kami berdua jalan kaki menyusuri tanah yang licin. Saya berinisiatif mengambil sebatang kayu sebagai antisipasi jikalau bertemu hewan liar. Apalagi tadi si bocah bilang kalau di sini banyak babi hutan berkeliaran.

Sekeliling kami berupa hamparan semak belukar dan pepohonan. Beberapa bagian berupa aneka tanaman kopi liar yang rimbun hingga membuat gelap suasana jalan yang kami lewati. Terdengar samar-samar suara gemericik aliran sungai yang sepertinya berada masih jauh. Akan tetapi kami belum juga sampai di pinggir sungai tersebut. Kali ini jalanan sudah tidak bertanda bekas sering diinjak. Kami hanya mengikuti naluri mencari sumber air terdekat.

IMG_20151122_123333

Curugnya sudah terlihat, tapi aslinya masih jauh

Batu-batu besar di antara semak belukar terlihat teronggok begitu saja. Di celah-celahnya mengalir berupa aliran air yang tidak begitu deras. Kami akhirnya sampai juga di bibir sungai dan dari kejauhan terlihat samar-samar air terjun.

“Alhamdulillah….”

Langkah kaki kami makin cepat dan semangat karena tujuan kami makin dekat. Tetapi rute yang harus kami lewati makin berat. Di depan kami terdapat satu-satunya jalan yang terbentuk dari semak belukar mirip sarang hewan liar. Kami menganggapnya sarang babi hutan karena kami harus berjongkok saat masuk. Di dalam semak ini lembab, gelap, mistis dan juga hawanya dingin. Saya sempat takut jika tiba-tiba ada hewan liar yang menghadang kami. Syukurlah…semua ketakutan tadi tidak terbukti, kami selamat.

Perlahan tapi pasti, cahaya terlihat dari ujung semak belukar ini sebagai pertanda kami segera meninggalkan situasi ini. Saat sekarang ini kami sudah berada di bibir sungai lagi. Lega rasanya karena kami bisa mencuci kaki kami yang penuh lumpur dan basah.

Di depan kami tersaji pemandangan bebatuan sungai yang tidak terlalu besar, sementara itu fokus utama kami adalah sosok air terjun yang kini sudah persis di depan mata.

IMG_20151122_125427

Curug Penaraban/Sipawon

“Alhamdulillah..!!!!…Allahuakbar….!!!!” kami teriak sekencang dan sekeras mungkin saat itu.

Tidak sia-sia perjuangan kami menyusuri hutan hingga sampai tempat ini. Karena aliran air curug begitu deras, di tempat kami berdiri saat sekarang ini basah karena cipratan air. Kami tidak mempedulikan semua itu walaupun langit juga saat itu mendung. Tanpa menunggu lama, saya mengambil air yang tidak terlalu jernih pada aliran sungai di depan curug untuk membasuh muka, segar rasanya.

IMG_20151122_125610

Di depan kolam banyak terdapat tanaman seperti ini

Lebar tebing pengapit curug ini tidak begitu luas, persis seperti cekungan tungku tradisional (pawon) hingga ada orang yang menyebut curug ini sebagai Sipawon. Hanya ada pepohonan pada bagian atas curug, sementara itu di sampingnya hanya berupa rerumputan hijau yang menutupui sebuah gundukan kecil. Persis di depan kolam tumbuh aneka macam tanaman hijau yang tidak terlalu tinggi, mirip seperti tanaman teh.

Kami tidak melewatkan begitu saja pemandangan indah ini, berbekal kamera handphone, kami mengabadikan suasana curug saat itu. Bahkan untuk berfoto sebentar saja, lensa kamera kami basah karena embun dari tetesan air curug.

Setelah puas berfoto, kami memutuskan untuk segera mengakhiri kunjungan di tempat ini. Tidak lama memang kami di sini karena takut kalau keburu hujan lebat. Kami pun harus melewati kembali “sarang babi hutan” yang gelap tadi.

Saat berjalan pulang, waktu terasa begitu cepat. Kami tidak mempedulikan kaki yang lecet-lecet dan pegal. Kami lebih fokus untuk sesegera mungkin keluar dari hutan ini dan menuju tempat motor kami yang terparkir di pinggiran jalan setapak. Alhamdulillah, motor kami masih ada pada tempatnya. Padahal saya sudah was-was kalau sampai hilang.

Untuk jalan pulang, kami harus bergantian menaiki motor karena tidak memungkinkan jika berboncengan. Saat saya naik motor, teman saya berjalan di belakang, begitu juga sebaliknya hingga kami menemukan jalan yang cukup aman. Untungya biarpun mendung tapi tidak sampai turun hujan.

Dengan masih memakai celana pendek dan kaos, kami mengendarai motor hingga terminal Karangkobar. Padahal saat itu kondisinya masih basah serta dingin. Di terminal Karangkobar kami mampir di warung makan pinggir jalan. Perut sudah keroncongan, badan juga lemas karena terakhir makan roti saat di curug Genting.

IMG_20151122_141332

Mampir makan di depan terminal Karangkobar

“Pesan teh hangatnya dua gelas ya bu..” Kami langsung masuk warung dan memesan teh hangat.

Karena warung makan ini menggunakan konsep prasmanan, kami jadi bebas mengambil berapa banyak centong nasi yang bisa masuk dalam piring. Lauknya pun masih lengkap, akan tetapi saya lebih memilih ikan tongkol, gudeg, balado kentang dan juga tempe goreng. Hmmmm..nikmat rasanya santap siang yang sudah telat.

Kami pun mengobol dengan si ibu pemilik warung ini, beliau banyak bertanya tentang apa yang telah kami lakukan sedari pagi tadi. Kami pun menjelaskan, kalau sehabis menjelajah curug yang ada di desa Giritirta dan Sarwodadi kecamatan Pejawaran. Bahkan si ibu tadi tidak tau kalau ada curug di daerah tersebut hehehe.

“Berapa bu total semuanya?” tanya Wedwi pada si ibu tadi.

“Makan pakai apa saja mas?”

“Nasinya 2 pakai tongkol, tehnya 2, tempe gorengnya 5”

“Oh…totalnya Rp 25,000,- saja, mas” Jawab si ibu sambil tersenyum.

“Ini bu, uangnya, terima kasih ya, bu”

“Sama-sama, mas..hati-hati pulangnya ya”

Kami pun memutuskan segera pulang dan saat di depan lokasi longsor Sijemblung kami berhenti untuk ganti baju dan berfoto-foto. Kebetulan di pinggir jalan terdapat masjid yang masih lumayan baru. Kami pun menyempatkan bersih-bersih tubuh kemudian dilanjutkan sholat Dzuhur walau jarum jam menunjukan pukul 14.30.

Saat melewati jalan di desa Latri, kami  harus bergantian dengan pengendara lain karena jalur hanya dibuka satu arah saja. Hampir 20 menit kami menunggu di pinggir jalan hanya untuk bergantian lewat. Syukurlah ternyata hujan masih enggan untuk turun, hanya langit mendung saja yang menemani kami di sepanjang perjalanan pulang.

Kami sampai rumah sekitar pukul 16.00 sore dengan disambut cuaca yang mendung juga. Alhamdulillah, akhirnya sampai rumah dengan selamat. Puas rasanya perjalanan kami sejak pagi hingga sore. Sebuah pengalaman yang berkesan.

Advertisements

12 thoughts on “Jelajah Pejawaran #Menembus Sarang Babi Hutan

  1. Rifqy Faiza Rahman

    Seru! Serasa ikut nyasar, was-was 😀
    Saya sengaja baca perlahan, gak langsung scroll sampai bawah. Penasaran, berhasilkah kedua orang ini menemukan air terjun? Bahkan ketika curugnya mulai terlihat di kejauhan? Akhirnya ketemu juga ya, debitnya gede juga 🙂

    Like

    Reply
      1. ishomil

        Iaa, di curug memang seger.
        Apalagi bawa nasi bungkus plus kopi. duduk disekitaran bebatuan disana. duuhh sedap

        *awas sampahnya dikumpulin lg >.<

        Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s