Jelajah Pejawaran #Gemericik Air Hangat Alami

 

Perhatian kami tertuju pada sebuah tebing kecil berwarna kuning yang berada kurang lebih 20 meter di depan. Terlihat dari kejauhan gundukan berwarna kuning ini seperti sebuah batu wadas. Samar-samar terlihat gemericik air yang mengalir dari sela-sela batuan yang membentuk semacam saluran air alami.

Sebelumnya, kami baru saja menikmati Curug Genting yang letaknya beberapa puluh meter di belakang kami. Lebih tepatnya berada di desa Giritirta kecamatan Pejawaran-Banjarnegara.

Semakin dekat terlihat jelas jika bebatuan ini mirip sekali air terjun yang terdapat dalam goa-goa. Akan tetapi yang ini lain dari pada yang lain. Aliran air dari sela-sela batu ini merupakan air hangat alami. Kalau di telisik lebih lanjut, sumber airnya berasal dari bukit yang tidak jauh dari lokasi kami berada saat ini.

Bagian lainnya terlihat beberapa pohon pisang yang tumbuh di sisi-sisi gemericik air hangat. Mereka tetap tumbuh meski tersiram air hangat secara terus menerus.

Sementara itu persis di sebelah kanan mata air hangat tadi terdapat kebun cabe hijau yang berukuran besar. Terlihat dua sosok laki-laki, sepertinya antara bapak dan anak lelakinya yang sedang asyik memanen tanaman cabe.

“Permisi, pak!!” Kami memberi salam melalui jalan setapak di pinggir kebun cabe tadi.

“Monggo, mas…” Dengan ramah si bapak tadi membalas sapaan kami.

Tak terasa kami sudah berdiri persis di bawah guyuran mata air hangat yang mengalir deras. Aliran air tadi bermuara pada sungai di bawahnya yang notabene airnya dingin. Sangat kontras sekali pemandangan siang itu. Dua sumber mata air yang berbeda bertemu menjadi satu.

Tubuh ini seakan reflek ketika melihat aliran air hangat yang mengalir bebas. Ya benar-benar hangat air ini, bukan panas sama sekali. Selain itu aliran air ini tidak berbau belerang yang menyengat. Beda jauh dengan mata air panas atau hangat yang sering kita temui yang terkadang berbau belerang. Ketika dicium, air ini beraroma seperti bau besi atau seng. Atau jika ditempat kalian terdapat belik yang biasanya berada di pinggir sawah, seperti itulah baunya.

Kami pun tidak melewatkan begitu saja fenomena aneh ini. Langsung saja tangan ini meraih saku tas tempat menyimpan ponsel kami. Setelah jeprat-jepret beberapa foto dalam pose yang berbeda, kami memutuskan mencoba naik ke atas tebing kecil ini. Kami penasaran seperti apa keadaan pada bagian atasnya.

Tidak butuh perjuangan serta kesulitan untuk menaiki tebing ini, hanya perlu ekstra hati-hati agar kami tidak tergelincir. Itu dikarenakan di beberapa bagian terdapat lumut-lumut yang membuat permukaan bebatuan menjadi licin.

Untuk lebih jelasnya bisa melihat videonya di sini.

Di bagian atas sendiri terlihat selokan alami seukuran paha orang dewasa yang mengalirkan air hangat. Lagi-lagi saya terkagum melihat fenomena yang unik ini. Sebuah selokan kecil yang terbentuk sejak bertahun-tahun yang lalu menciptakan fenomena yang indah.

Dari atas tebing ini, kami merendam kaki menikmati aliran air hangat. Di sekeliling kami terlihat hamparan kebun cabe yang terlihat hijau. Sementara itu di seberang sungai terdapat deretan perbukitan yang pada bagian punggungnya dijadikan lahan pertanian. Mereka tampak terhampar bak permadani dengan aneka motif.

Mata kami terus menerawang jauh menikmati semilir angin khas daerah pegunungan. Di sebelah kiri kami terlihat sebuah obyek berwarna putih di antara rimbunnya pepohonan. Ya itu merupakan sosok sang curug Mrawu.

Siang itu kami ditemani kupu-kupu berwarna orange yang hinggap di antara tanaman cabe. Mata dan tangan seakan gatal ingin menyentuh dan mengabadikan kupu-kupu tadi. Apa daya, mereka lebih lincah gerakannya dari pada tangan kami. Ketika kami mendekat, dengan spontan mereka pergi menjauh berpindah dari satu daun cabe ke daun cabe yang lain.

Samar-samar terdengar langkah kaki yang makin lama makin terasa begitu dekat. Terdengar juga berbagai candaan khas anak muda yang sedang di mabuk asmara. Mereka adalah rombongan muda-mudi yang juga ingin menikmati mata air hangat ini. Kami pun beranjak, mempersilakan yang lain untuk ikut merasakan fenomena alam yang unik ini.

“Yuk ah, kita pindah tempat, sepertinya pengunjung makin rame saja” Saya pun mengajak teman saya berpindah tempat. Sesekali roti sobek dan sebotol air mineral menjadi teman kami sambil terus berjalan.

Advertisements

7 thoughts on “Jelajah Pejawaran #Gemericik Air Hangat Alami

  1. Rifqy Faiza Rahman

    Sepertinya seger ya berendam lama-lama di air hangat itu, sambil sarapan misalnya 😀

    Like

    Reply
      1. Jejak Parmantos

        Statusnya wait n see mas, tinggal tunggu aja negara2 besar ini sampai salah ambil kebijakan, jika terjadi siap2 WW3 mas, siapin bambu runcing 😀

        Like

  2. Pingback: Si Sulung Curug Mrawu | nDayeng

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s