Jelajah Pejawaran #Jalan Setapak

Kami bergegas menuruni jalan setapak di bawah tebing bebatuan tempat warga lokal setempat mencari nafkah sebagai penambang batu alam. Sementara itu di sebelah kanan kami terdapat aliran sungai dari tiga sumber air terjun yang letaknya berdekatan. Salah satunya adalah sumber mata air panas alami.

Cerita sebelumnya bisa dibaca di sini.

Beberapa meter berikutnya tumpukan batu bekas para penambang terlihat teronggok di pinggir jalan setapak yang kami lalui. Sepertinya beberapa waktu lalu terjadi longsor pada tebing bebatuan ini. Di bagian atas tebing ini terlihat gubuk-gubuk sederhana yang beratapkan alang-alang serta bekas karung sebagai bilik.

Gubuk-gubuk tadi terlihat menempel di antara bebatuan curam pada tebing. Jika ditelisik lebih jauh, gubuk-gubuk tadi seperti pemakaman yang berada di Tana Toraja. Dengan bertaruh nyawa, orang-orang sekitar sepertinya sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini. Saya hanya membayangkan jika suatu waktu tebing batu ini longsor bagaimana? “Ah…pamali berpikiran negatif seperti ini”.

Semakin jauh kami berjalan, bukan jalan setapak lagi yang harus kami lalui. Kali ini kami berjalan persis di samping saluran air milik warga setempat yang pada beberapa bagian tertentu sudah terlihat rusak.

Si Wedwi pun tiba-tiba menyeletuk “Hend, lihat deh..di prasasti ini tertulis tahun pembuatan 20011, bukan 2011 hehehe”

“Hah…? Yang bener?” Saya pun penasaran.

“Ealah nggak percaya, lihat sendiri gih”

“Eh iya hahaha kok bisa ya?” Saya menyaksikan sendiri dengan mata dan kepala sendiri memang tertulis 20011 bukan 2011.

Ketika kami sudah hampir sampai jembatan gantung yang terbuat dari besi, pemandangan pun berubah. Persis di pinggir sungai yang kami lewati yang ada hanyalah hamparan tanaman sayuran milik warga. Terlihat ibu-ibu paruh baya sedang telaten membersihkan rumput-rumput liar yang tumbuh di sekitar tanaman cabe. Ada juga bapak-bapak yang sedang memanen sayur kubis atau kol.

Kemana sih tujuan kali ini?

Tujuan kami kali ini adalah curug Genting yang berada di desa Giritirta kecamatan Pejawaran-Banjarnegara. Saya pun sebagai orang asli Banjarnegara terheran-heran dengan pemandangan alam yang indah ini. Saya masih belum percaya jika kabupaten kami yang identik dengan bencana tanah longsornya punya curug yang masih lumayan alami dan sepi pengunjung.

Tidak butuh waktu lama menuruni jalan setapak di bawah tebing. Setelah kurang lebih berjalan sekitar 10 menit, sampailah kami pada bibir jembatan gantung. Terdengar suara gemericik air yang lumayan keras pertanda tujuan kami makin dekat.

Ya..selamat datang di Curug Genting!!!

IMG_20151122_100534

Selamat datang di Curug Genting

Kesan pertama kali yang terlihat adalah beberapa bangunan gazebo yang mencolok serta toilet umum yang sepertinya baru saja dibangun oleh pemerintah setempat. Sementara itu di sisi kanan gazebo itulah lokasi curug Genting berada.

IMG_20151122_100724

Bongkahan batu besar di bawah curug

Lokasinya yang tidak terlalu tersembunyi membuat pengunjung dengan mudah menemukan tempat wisata ini. Asal kalian tau, curug Genting sendiri masih begitu sepi oleh pengunjung. Mungkin pemerintah kabupaten Banjarnegara lebih fokus ke kawasan wisata Dieng, sehingga kurang mempromosikan curug ini.

Dalam hati saya membatin “Malah mending begini, sepi, alami dan bisa terbebas dari sampah”.

Saat kami berkunjung awalnya hanya ada 4 orang termasuk kami yang menikmati curug ini. Akan tetapi semakin lama satu persatu rombongan anak muda datang dengan pasangannya masing-masing.

Curug Genting sendiri bentuknya tinggi dengan beberapa bongkahan batu besar yang berserakan di bawah pancuran berukuran raksasa ini. Tidak jelas berapa tinggi dari curug ini, tetapi yang pasti tingginya lebih dari setinggi pohon kelapa pada umumnya. Tidak ada kolam di bawah air terjun seperti pada umumnya sebuah curug, yang ada hanya bongkahan batu saja. Karena itu pengunjung hanya bisa menikmati semburan tetesan air dari jarak  beberapa meter saja.

Setelah berganti baju dan celana pendek, kami berfoto-foto sebentar sebelum pengunjung makin rame. Sementara itu si Wedwi sibuk menikmati roti sobek dan sebotol air mineral yang kami bawa sebagai bekal.

Saya rasa sudah cukup foto-fotonya. Sudah terlalu ramai anak muda yang mulai berdatangan. Sempat juga ingin buang air kecil dan menjajal bangunan toilet baru yang tersedia. Akan tetapi si Wedwi berkata “Hah..kamu mau buang air kecil di situ?”

“Kenapa memang?” Tanyaku heran.

“Memang sih bangunannya masih bagus, tapi sayang di dalamnya kotor tidak terawat ditambah lagi tidak ada air yang mengalir” terus kamu tahan gitu dengan baunya?”

Benar saja si Wedwi tau karena beberapa hari sebelumnya pernah berkunjung ke sini dan “mencicipi” toilet baru yang ternyata kotor dan bau. Sangat disayangkan memang padahal sumber air begitu dekat, bahkan di bawahnya terdapat sungai yang lumayan besar. Mungkin pemerintah setempat masih setengah-tengah dalam membangun fasilitas umum ini. “Ah..saya tidak mau pusing” biarlah menjadi urusan mereka saja.

Cuaca begitu cerah siang itu dengan awan biru yang menaungi beberapa hektar kawasan pertanian sayur mayur milik warga. Suara gemericik air terjun bersahutan dengan arus sungai di bawahnya. Sementara itu aneka bunga liar berwarna-warni di pinggir jalan setapak menambah indah pemandangan siang itu.

IMG_20151122_114400

Bunga liar di pinggir jalan setapak

Kupu-kupu, lebah, serangga hingga kumbang menarik perhatian kami selama berjalan menikmati udara segar khas pegunungan. Ah…masih tidak menyangka jika di Banjarnegara masih banyak tempat indah yang belum pernah saya kunjungi. Dan ini baru pertama kalinya ke sini.

Advertisements

6 thoughts on “Jelajah Pejawaran #Jalan Setapak

  1. mawi wijna

    Waow! Air terjunnya gede! Aku hobinya juga berburu air terjun. Semoga suatu saat nanti bisa sampai sini. Eh, meskipun kondisi toiletnya “mengenaskan”, tapi di seputar air terjun nggak banyak sampah kan?

    Liked by 1 person

    Reply
  2. Pingback: Gemericik Air Hangat Alami | nDayeng

  3. Pingback: Jelajah Pejawaran #Jalan Setapak | nDayeng | SETAPAK Info

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s