Jelajah Pejawaran #Jalan Berliku

Minggu pagi (22/11/2015) sang surya belum juga menunjukan sinarnya. Jarum jam yang terpasang di dinding kamar menunjukan pukul 04.30 pagi. Saya masih terlena dengan hangatnya selimut yang menemani udara dingin saat pagi yang menusuk hingga ke tulang.

‘Hoammmmmmm…….’ Saya masih ngantuk.

‘Hendi, bangun!!! Sholat subuh dahulu, keburu keduluan matahari!!!’. Sudah menjadi rutinitas tiap pagi tiba, Ibu ‘sayang’ denganku.

‘Ya..bu…’ langsung saja bergegas lari dari kasur dengan badan yang masih senggoyongan dan mata yang masih terpejam. Persis seperti zombie, saya berjalan menuju kamar mandi.

Setelah menyelesaikan ‘ritual wajib’ pagi hari dan menunaikan sholat subuh, saya melanjutkan kegiatan mencuci baju kemudian mandi. Dalam otak masih berpatokan kalau sekarang bukan hari minggu. Tubuh, pikiran seperti sudah terprogram melakukan rutinitas harian.

‘Astaghfirulloh….pagi ini kan sudah ada janji dengan teman’ saya benar-benar lupa dengan apa yang sudah kami rencanakan malam hari sebelumnya. Kami berencana menjelajahi alam Banjarnegara yang pada bagian tertentu masih perawan dan belum terjamah manusia. Lebih khususnya mencari curug yang masih tersembunyi di hutan belantara.

Gerak tangan ini pun dipercepat ketika sedang mengucek setumpuk pakaian kotor yang sudah direndam semalaman.

‘Byar..byur..byar..byur’ suara gayung membuat riuh suasana pagi itu.

Dari ruangan sebelah terdengar suara wajan dan galo *jawa atau spatula. ‘kalau mandi jangan byar..byur gitu, hemat air!!! Sayup-sayup terdengar suara ibu dari ruang dapur.

‘Ya..bu..ini juga mandinya hemat air kok’

Wajar jika ibu khawatir kalau-kalau air di bak mandi cepat habis. Teringat beberapa hari lalu ketika dana desa sudah cair dan selokan air depan rumah diperbaiki. Tanpa sengaja pipa PDAM ikut tercangkul dan bocor hingga berhari-hari. Akibatnya bisa ditebak, air PDAM dimatikan selama beberapa hari.

***

Kaos yang akan dipakai sudah diseterika, celana juga sudah tertata rapi di atas kasur. Handuk,celana dalam, celana pendek,kaos,peralatan mandi juga sudah terbungkus rapi di dalam tas ransel. Saya sudah siap untuk menjelajah hutan minggu pagi ini.

‘Jadi berangkatnya jam berapa?’ kurang lebih seperti itulah isi dari BBM teman yang kalau ditelisik lebih jauh, sudah terkirim sejak malam hari sebelumnya. Maklum semalam saya tidur gasik. Apalagi hujan rintik-rintik menemani malam itu.

‘Jam 07.30 pagi saja biar tidak terlalu siang soalnya takut keduluan hujan’ Mungkin dia sudah menunggu jawaban dari BBM semalam hehehe.

‘Tut..tut..tut’ suara handphone berbunyi. Sepertinya dia setuju dengan jam keberangkatan yang tadi saya BBM. Kali ini gantian, BBM dari saya cuma di ‘R’ doang.

‘Perihhhhhhhh….’ Dalam hati membatin hahaha…

Tanpa menunggu lama, sepeda motor yang sudah bersih karena kemarin baru saja di cuci sudah dipanaskan (tanpa kompor). Langsung saja bergegas menuju rumah teman yang tidak terlalu jauh jaraknya.

‘Piing!!!!’ dengan kode begini saja, dia sudah paham kalau saya saat ini berada di depan rumahnya.

‘Masuk saja!! Tidak dikunci kok’

‘Oke, baiklah’

Yaelah, dia baru saja mandi. Padahal saya sudah dari subuh bangun, mandi. ‘Kebiasaan memang dia’. Dalam hati membatin.

‘Kamu yang nyupir kan?’ tiba-tiba saya menyeletuk.

‘Males ah, gantian kamu yang nyupir’ dengan muka datar, dia menjawab.

‘Okelah…’

***

Jalanan menuju kecamatan Wanadadi begitu hancur dengan lubang dimana-mana. Ditambah lagi semalam habis hujan, walhasil genangan air menyapa kami pagi itu. Belum lagi perbaikan jalan di beberapa bagian.

‘Permisi mas’ sambil menyodorkan jala kecil yang biasanya untuk memancing, mas-mas di pinggir jalan mengatur lalu lintas yang hanya bisa satu arah. Ditambah harus mengisi ‘uang tol’ yang dimasukan ke dalam jala tadi. Saya menyodorkan selembar uang lecek dua ribuan. Hingga kami bisa lewat.

Setelah melewati jalanan kecamatan Wanadadi, motor ini melaju dengan mulus hingga pertigaan Banjarmangu. Kami berhenti sejenak untuk membeli perbekalan. Perjalanan kami menanjak menuju pegunungan, jarang sekali ada pedagang makanan yang berjualan saat sampai nanti. La kok tau? Tau, karena sebelumnya teman saya sudah pernah ke sana.

***

Perjalanan kami berikutnya akan terus menanjak dengan tikungan yang sangat tajam dan curam karena jalan berada pada pinggir perbukitan. Sepanjang perjalanan, kami di suguhi perkebunan salak pondoh. Memang kecamatan Banjarmangu terkenal akan salak pondohnya.

IMG_20151122_143012

Jalanan berliku melewati bekas longsor Sijemblung

Baru saja beberapa ratus meter melewati kecamatan Banjarmangu, tiba-tiba ban motor bagian depan terlihat kempes.

‘Hend, sepertinya ban motor bagian depan kempes deh’ tiba-tiba teman saya berhenti dan menepi ke pinggir jalan.

‘Oke, kita cari bengkel motor terdekat kemudian isi angin buat jaga-jaga’ saya pun menanggapi dengan cepat, takut jika bisa menghambat perjalanan yang masih jauh.

Setelah dirasa cukup angin dan membayar jasa seribu rupiah, kami melanjutkan perjalanan. Tak terasa motor kami melaju dengan cepat dan kini mulai memasuki kawasan hutan pinus yang mengapit sisi kanan dan kiri jalan. Tidak bisa dibayangkan jika malam-malam bermotoran sendirian ditambah lampu penerangan jalan yang terbatas.

Sementara itu pada bagian tertentu, jalanan yang longsor juga sedang diperbaiki. Kendaraan hanya bisa lewat jalur satu arah secara bergantian. Masih terlihat jelas sisa-sisa bencana alam tanah longsor yang beberapa waktu lalu mengubur dusun Jemblung-Banjarnegara. Hanya tersisa satu buah rumah di antara hamparan tanah yang mengubur dusun tersebut.

Makin menanjak, motor kami terasa semakin berat. Dalam hati hanya bisa berdoa ‘ya Allah, semoga perjalanan kami lancar tanpa halangan apapun’. Saya selalu berusaha berpikiran positif selama perjalanan. Namun terkadang cerita berkata lain, ternyata ban motor bagian depan bocor. Mana ini bocornya di tengah-tengah hutan lagi. Mana ada tukang tambal ban terdekat? Palingan ada ketika pemukiman penduduk sudah terlihat.

Tiba-tiba temanku berkata ‘wah ini gimana Hend’? Ban bagian depan bocor’?.

‘Terus gimana dong?’ saya kaget.

‘Ya udah saya yang turun saja dan menunggu disini, kamu naiki saja motornya mumpung masih ada angin dan cari bengkel terdekat’

‘Oke, saya akan cari bengkel terdekat, mudah-mudahan tidak terlalu jauh’ kamu tunggu sebentar di sini’. Saya pun pelan-pelan menaiki motor menuju bengkel terdekat. Mudah-mudahan saja tidak terlalu jauh.

Alhamdulillah, di seberang jalan terlihat sebuah kios kecil dan di sampingnya terdapat tukang tambal ban. Dengan cekatan, bapak-bapak setengah baya langsung mengutak-atik ban motor saya.

IMG_20151122_084817

Ban motor bagian depan harus ditambal karena bocor

‘Wah..mas, ini mah tambalan sebelumnya yang mengelupas’ sambil menunjukan bekas tambalan sebelumnya, bapak tadi bertanya. Sepertinya tukang tambal sebelumnya belum berpengalaman, kok bisa bekas tambalannya mengelupas begini.

‘Iya mungkin saja pak’ saya menjawab

‘Mau kemana sih mas? Si bapak bertanya.

‘Mau ke daerah Pejawaran, pak’

‘Ada acara kesana?’ si bapak makin kepo.

‘Hehehe niatnya mau nyari curug pak’ dengan tertawa basa-basi saya meladeni setiap pertanyaan si bapak tadi.

Obrolan kami pun sampai ngalor ngidul. Mulai dari membahas trayek bis Karangkobar-Banjarnegara kota hingga proyek perbaikan jalan yang di beberapa bagian menggunakan dana desa.

Saat obrolan kami sedang serius-seriusnya datanglah teman si bapak tukang tambal tadi. Nah makin rame dong. Saya hanya mendengarkan dengan seksama obrolan mereka saat ini. Sesekali juga ikutan komentar sambil membunuh waktu menunggu ban motor saya selesai di tambal.

Setelah kurang lebih 30 menit, akhirnya selesai juga si bapak menambal ban motornya.

‘Berapa pak, ongkosnya?’ Tanya saya pada si bapak dengan riang gembira hehehe.

‘Tujuh ribu saja, mas’ ternyata si bapak ramah juga, soalnya sambil tersenyum gitu.

‘Terimakasih ya pak?’

‘Sama-sama, mas’

Bergegas motor saya gas dengan kecepatan penuh, tujuannya menjemput teman yang sedari tadi menunggu di pinggir jalan. Takutnya sih diculik atau diapa-apakan orang.

Alhamdulillah, dia selamat. Sambil cengengesan dia melambai-lambaikan tangan dari depan ruko yang berada persis di seberang jalan. Padahal jarak dari tempat dia tadi saya turunkan lumayan jauh. Dalam hati bertanya, cepat sekali jalannya ya? Kok sudah sampai sini?. Untung saja mata ini awas lihat kanan-kiri.

‘Woi…kok sudah ada di sini?’ tanyaku pada dia.

‘Hehehehe, tadi kesini naik sepeda onthel. Kebetulan tadi ada dua orang anak kecil yang sedang main sepeda lha terus menawarkan sepedanya padaku. Nah, akhirnya bisa sampai sini. Nih kaosku hingga basah karena keringat’

IMG_20151122_085359

dua bocah penyelamat kami

‘Oalah…pantesan, syukurlah masih ada orang baik’ yuk ah keburu siang terus turun hujan!!!’

 

***

Kurang lebih 45 menit perjalanan yang harus kami tempuh menuju kecamatan Pejawaran dari titik tempat tukang tambal ban tadi. Ternyata cuaca siang itu sangat bersahabat, tidak terlalu panas juga tidak mendung. Cocok banget lah!!.

Untung kami tidak kesasar. Setelah melihat gapura desa Giritirta dan plang lokasi curug Genting dan Mrawu, kami langsung belok kiri. Jalanan ke depan juga masih terus menanjak dengan aspal yang mengelupas di sana-sini ditambah batu-batu kecil yang berserakan.

Karena sudah hafal jalan menuju kesini, kami dengan santai berkendara menikmati suasana siang itu. Tapi bagi saya, ini merupakan pengalaman pertama kalinya mengunjungi curug Genting dan Mrawu.

Hingga saat motor kami berhenti di pertigaan tertuju pada plang bertuliskan MIM Giritirta dan  Desa Sarwodadi. Sebelumnya temanku pernah bercerita jika di desa Sarwodadi terdapat curug yang indah dan jarang di kunjungi orang akan tetapi akses menuju ke sana tidaklah mudah.

‘Hend, nih ada plang menuju desa Sarwodadi’ tiba-tiba temanku bertanya.

‘Lha terus?’ dengan nada datar saya menjawab sekenanya.

‘Ah kamu..bukanya di desa Sarwodadi ada juga curug yang masih perawan.’ Kemarin aku sudah browsing di internet.’

‘Jadi……..?’

‘Jadi nanti kita coba menjelajah ke sana, kok aku tidak ngeh ya pas dulu kesini kok nggak kepikiran ada curug di daerah Sarwodadi?’ ditambah lagi tidak ada plang lokasi curug Panaraban?’

‘Ya mungkin dulu pas kamu ke sini belum ada plangnya’atau nggak yang nulis plang tadi kemungkinan dari pihak desa Giritirta, jadi ya nulis lokasi wisata di desanya sendiri’ saya berargumen ngasal hehehe.

‘Bisa jadi juga sih’

‘Nah…nanti saja membahasnya. Kita pergi ke curug Genting dan Mrawu saja dulu yang sudah dekat.’ Lagian kalau nanti cuacanya bersahabat, kita bisa mencoba ke sana pas pulangnya’.

Motor kami pun melaju terus melewati para warga sekitar yang mayoritas berprofesi sebagai petani dan penambang batu ceper untuk hiasan dinding.

Jangan bayangkan ini seperti lokasi wisata yang sudah terkenal seperti di daerah lain. Di pintu masuk hanya ada sebuah gubuk kecil sederhana dengan berlantaikan tanah becek. Tempat ini digunakan oleh pemuda sekitar untuk menjaga parkir kendaraan dan menjual karcis masuk secara swadaya.

‘Mas, berapa karcis masuknya’ Tanyaku pada mas-mas yang berada di gubuk.

‘Per orang Rp 3,000 saja sedangkan parkirnya Rp 4,000’

‘Baiklah, ini mas uangnya’ saya menyodorkan selembar uang Rp 10,000 dan diberi kembalian seribu perak.

Akhirnya sampai juga….setelah perjalanan ke sini penuh perjuangan ditambah ban gembes dan bocor plus jalan yang rusak. Tidak sia-sia kami jauh-jauh dari daerah Punggelan.

Advertisements

3 thoughts on “Jelajah Pejawaran #Jalan Berliku

    1. Hendi Setiyanto Post author

      jauh..banget mas, butuh sejam lebih menuju ke sini dari rumah.
      Penduduknya ya terkubur sebagian…itu yang dibawah aslinya pemukiman penduduk tapi sekarang sudah tertutup longsoran.
      Ada juga yang direlokasi.

      Like

      Reply
  1. Pingback: Jalan Setapak | nDayeng

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s