pemandangan sawah di kecamatan Madukara

Langit Berkisah

Saya percaya jika alam mempunyai kisah dan cerita tersendiri tinggal manusia mau peka atau tidak. Begitu pun dengan beberapa cerita di balik langit biru dihiasi awan putih. Ada sesuatu yang layak diceritakan hanya dengan berbekal sebuah foto.

                                                                                     

Langit biru dengan awan kelabu     

             

Saat kita sedang suntuk dengan rutinitas pekerjaan terkadang rasa bosan melanda. Begitu juga dengan apa yang saya rasakan siang ini. Saya mengasingkan diri sejenak dari hirup pikuk hirarki sebuah organisasi. Yang mana kami dipisahkan dan dibatasi geraknya oleh sebuah kasta, jabatan, senioritas serta hal lainnya. Terkadang saya pun ingin menyerah.

Sebagai pelarian sejenak, saya lebih memilih merenung dan menikmati langit dari atas gedung laundry. Syukurlah, siang itu sepertinya langit bersedia menghibur hati ini. Dengan tanpa syarat, alam menyajikan sebuah pemandangan sederhana penuh makna. Langit biru dengan awan kelabu yang menggumpal. Seperti sedang menerjemahkan apa yang saya rasakan.

Seiring cairnya rasa kelabu dari dalam hati, alam pun seakan mengikuti kata hatiku. Perlahan dia berubah menjadi biru bersih tanpa awan kelabu yang menghalangi. Siang itu langit paham ya..paham.

Langit cerah menjelang hari raya

Kita harus siap sedia menerima tugas dan apa yang diperintahkan atasan. Begitu pun pagi ini. Sudah beberapa hari sebelumnya, kami menyiapkan apa saja keperluan yang akan dibawa menuju bazaar ramadhan. Ya hampir rutin tiap hari raya Idul Fitri, kami mendapat tugas untuk ikut berpartisipasi dalam acara sosial. Kali ini kami harus berkendara jauh ke kota. Tujuan kami adalah lapangan di kecamatan Madukara.

Siang yang terik tidak menghalangi tekad kami bertiga untuk menjalankan tugas. Dengan bagian belakang mobil yang sarat muatan hasil bumi khas daerah kami. Sampai di tempat yang di tuju ternyata sudah banyak orang yang butuh bantuan sedang antri dengan selembar kupon ditangannya.

Dengan cekatan, sang sopir menyetir mobil dengan lincahnya. Kami dapat jatah parkir dan stand untuk menggelar barang hasil bumi dengan nomor 13. Saya percaya ini bukan angka sial karena tujuan kami jelas. Kami ingin ikut meringankan beban kebutuhan mayoritas orang-orang saat menjelang hari raya tiba.

Dagangan kami pun laris bersih tak bersisa. Terlihat guratan senyum bahagia dari mbok-mbok yang sudah keriput wajahnya. Dengan menenteng beberapa bungkus plastik hasil dari berdesakan, mereka satu persatu pergi hingga tersisa sepi.

‘Ah..panas benar memang cuaca siang ini’. Saya berlindung dan berteduh sejenak di balik mobil. Tak sadar jika di depan terpampang sebuah pemandangan sawah hijau dengan kombinasi langit biru. Sementara itu di belakangnya terdapat beberapa barisan perbukitan yang memisahkan antara kabupaten Banjarnegara-Kebumen.

Saya cukup puas dengan pemandangan ini. Siang Itu saya tidak butuh apa-apa. Saya sudah senang dan damai dengan langit di atas sawah hijau siang ini.

Langit romantis di atas Prambanan

Kota Jogjakarta selalu punya cerita yang  tidak bisa hilang begitu saja dari dalam ingatan. Sebelumnya saya sudah beberapa kali menulis artikel tentang kota ini yang dapat di baca di sini.

Siang itu langit di atas Prambanan begitu terik. Semilir angin berhembus menemani langkah kaki ini. Saya sudah meniatkan diri mengunjungi salah satu warisan leluhur yang masih bisa dinikmati hingga saat ini.

Tujuan saya murni untuk berpelesiran. Setelah membeli tiket masuk, saya langsung saja menuju lokasi candi. Awan putih menemani langkah kaki ini menyusuri relief demi relief yang menceritakan kisah masa lalu kejayaan nenek moyang.

Di beberapa sudut candi terdapat beberapa rombongan wisatawan yang sedang menikmati suasana Prambanan. Sayang sekali jika pemandangan indah ini dilewatkan begitu saja tanpa mendokumentasikannya. Untunglah saya bisa mengabadikan beberapa momen yang menurut saya menarik dengan kamera handphone.

Di sisi lain terlihat sepasang muda-mudi yang tengah asik memadu kasih di bawah rimbunnya pohon hijau. Di depannya terhampar sebuah rerumputan hijau yang terawat dengan baik. Saya hanya tersenyum tanpa rasa iri sedikit pun. Saya lebih fokus dengan langit ya langit. Sebuah pemandangan universal yang menitipkan pesan rindu pada belahan tempat lain.

Mahakarya langit Borobudur

IMG_1993

Borobudur dengan background langit berawan

Pagi itu musim kemarau masih berlangsung di Indonesia. Saat yang tepat untuk menjelajahi beberapa sudut wisata terkedat. Kali ini saya memutuskan untuk mengunjungi candi Borobudur. Sebelumnya saya juga pernah menulis perjalanan menikmati candi Borobudur di sini.

Perhatian mata ini tertuju pada sosok-sosok orang asing yang terlihat di antara stupa. Dengan kulit yang cerah, pupil mata yang unik sukses menarik perhatian saya. Ditambah lagi dengan postur tubuh jangkung dengan rambut yang berbeda dengan orang Indonesia kebanyakan.

Mungkin selama ini hanya melihat mereka dari layar televisi. Tapi tidak untuk saat sekarang ini, saya melihat mereka dengan begitu jelas. Sempat ingin berfoto dengan mereka akan tetapi saya mengurungkan niat. Sudah terlalu banyak orang yang ingin berfoto dengan mereka. Saya menyerah.

Berfoto dengan latar belakang candi Borobudur serta dinaungi langit biru dengan awan putih sukses membuat saya terkagum-kagum. Kapan lagi bisa menikmati kombinasi alam dan mahakarya manusia dalam satu kesatuan. Sebuah momen langka jika saja cuaca mendung atau berkabut.

Ya…saya menikmati langit dari atas candi Borobudur siang ini.

Suatu waktu di langit Jogjakarta

Akhirnya menulis lagi tentang kota gudeg ini akan tetapi kali ini berkisah tentang langitnya. Jogjakarta dikenal dengan cuacanya yang cukup terik. Bagi saya yang terbiasa hidup di daerah pegunungan, akan merasa kaget ketika pertama kali menginjakan kaki di kota ini. Hampir di setiap sudut kota dihiasi langit cerah siang itu.

Langit di atas titik nol kilometer, sebelumnya juga pernah menulis tentang artikel ini di sini. Pagi itu saya berencana mengunjungi obyek wisata taman sari dengan naik kereta kuda khas Jogja. Saya melintasi titik nol kilometer-alun-alun utara hingga sampai di lokasi wisata taman sari.

Di taman sari sendiri ketika pertama kali masuk serasa kembali ke jaman dahulu. Waktu seakan berputar kebelakang membayangkan kejayaan keluarga keraton masa lalu. Sebelumnya pun saya pernah menulis artikel tentang taman sari di sini. Saat yang tepat menikmati langit taman sari adalah dari atas gapura pintu masuk. Cukup menaiki beberapa anak tangga yang berada pada sisi kanan-kiri  gapura. Selain bisa menikmati kolam dari atas kita juga bisa melihat langit jogja.

pepohonan buah yang berbentuk seperti jeruk disertai duri berada di sisi kanan-kiri setelah pintu masuk taman sari seperti sebuah harmoni di antara dominan warna kapur bangunan taman sari. Ketika melihat dari atas kita serasa sedang menikmati miniature sebuah maket bangunan. Ya langit jogja selalu punya kisah tersendiri, jangankan langitnya, suasana orangnya saja bisa membuat kita terpikat dan ingin kembali lagi ke kota ini. Hingga berkunjung sekali saja tidak cukup, bisa dua atau tiga kali pun tidak akan pernah bosan menikmati sudut kota ini.

Langit janur kuning

IMG_20141018_140810

janur kungin melengkung dengan langit mendung

‘Selama janur kuning belum melengkung di depan rumahmu, saya tidak menyerah untuk mendapatkanmu’ sepertinya guaruan tadi memang benar adanya. Sore ini langit mendung menghiasi langit desa Karangsari. Kali ini saya kebagian tugas menemani nyonya kondangan ke salah satu saudara. Dari rumah hujan rintik-rintik sudah menemani deru motor sesaat setelah keluar dari halaman rumah.

Hampir menunggu lebih dari setengah jam saya berteduh di bawah pos ronda. Menunggu sang nyonya selesai kondangan. Saat pulang pun hujan masih betah dan awet hingga ketika motor ini menepi di pinggir jalan. Saat itu nyonya ada urusan sebentar, salah saya memang ketika menepi persis di sebelah genangan air dan lumpur. Dari arah belakang terdengar suara roda truk melintas dan dengan cepat tercipratlah air tadi ke seluruh tubuh ini. Ah..sial!!!! mengumpat dalam hati. Badan basah kuyup dengan air dan lumpur.

Hijaunya pantulan telaga warna

Sore itu telaga warna memantulkan warna hijaunya di tengah langit sore. Musim kemarau belum berakhir. Rerumputan di pinggir telaga terlihat mengering. Sementara itu debit air berkurang drastis.

Baru kali pertama saya mengunjungi telaga warna. Hawa mistis begitu menyeruak di kawasan wisata ini. Cerita lebih lengkapnya bisa di baca di sini. Saya dan teman kecil saya hanya asik berfoto dengan latar belakang telaga. Ya kali ini saya hanya ingin rileks setelah seharian menjelajahi kawasan Dieng.

Ingin rasanya merenung di pinggiran telaga ini. Menikmati keindahan alam yang terpampang nyata. Langit pun seakan kalah dengan pantulan warna hijaunya sehingga terlihat samar di balik awan kelabu. Sementara itu sang surya yang akan kembali ke peraduannya terlihat mengintip. Langit sore ini menutup perjalanan kami sedari pagi, semoga suatu saat nanti saya bisa kembali lagi ke sini, semoga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s