Melayat ke Kota Atlas

Saat itu (17/08/2014) setelah menyaksikan upacara hari kemerdekaan 17 Agustus melalui layar televisi, ada kabar duka yang tiba-tiba saja membuat kaget seluruh karyawan di kantor. Salah satu orang tua rekan kami meninggal dunia karena sakit yang sudah menahun serta faktor usia yang sudah tua.

Tiba-tiba handphone yang berada di atas meja berbunyi, ‘kring…kring….kring..’ dengan rasa penasaran, saya langsung saja meraih handphone tadi. ‘hallo, asalamualaikum?, ada apa ya Rud?’ saat itu ternyata yang menelepon adalah Rudi, rekan kami yang mengabarkan perihal berita duka ini. ‘mas..gini, tadi aku dapat kabar kalau salah satu orang tua dari rekan kita di kantor baru saja meninggal dunia’ ‘inalillahi wainailaihi roji’un’ dengan kaget saya terkejut menerima kabar duka ini.

‘Terus niatnya kami dan beberapa rekan kerja akan pergi melayat, apa kamu mau ikut? Kalau kamu ikut siap-siap ya, nanti aku jemput di depan rumah’ Rudi menawarkan perihal rencana pergi melayat kepada saya. ‘oke, saya segera siap-siap ganti baju dulu ya..’ dengan nada terburu-buru, saya bergegas ganti baju serta cuci muka secepat kilat.

Karena acaranya mendadak begini, saya menjadi orang terakhir yang ditunggu mobil jemputan yang sudah standby di depan rumah. ‘duh, maaf ya menunggu lama, habisnya mendadak begini’ saya berkilah ketika rekan kami sudah menunggu hampir 10 menitan. Oh ya karena tujuan kami melayat berada di ibukota propinsi Jawa Tengah atau berada di kota Semarang, jadi kami harus berangkat lebih awal agar sampai sana tidak terlalu malam.

Setelah saya masuk mobil, saat itu hanya terdiri dari 7 orang saja dalam mobil yang saya tumpangi. Sementar itu sisanya berada pada mobil yang berbeda. Total saat itu 2 mobil yang ikut pergi melayat ke kota Atlas-Semarang.

Karena acaranya mendadak begini, praktis kami harus jemput satu persatu rekan kami yang lain. ‘syukurlah..berarti bukan saya saja yang  membuat repot mereka karena harus menunggu bersiap-siap terlebih dahulu’ dalam hati saya berujar.

Kami berangkat dari daerah Punggelan sekitar pukul 10.30 pagi. Kebetulan saat itu bertepatan juga dengan selesainya upacara hari kemerdekaan RI. Walhasil sepanjang jalan yang kami lewati penuh dengan siswa sekolah yang baru saja keluar dari lapangan upacara.

Untungnya sebagai warga Jawa Tengah bukan kali ini saja saya mengunjungi ibukota propinsi ini. Sebelumnya juga pernah mampir ke sini dalam rangka acara kondangan pernikahan teman. Tapi kalau hanya sekedar berwisata, saya belum pernah sama sekali menikmati berbagai macam tempat wisata di Semarang. Banyak juga teman di kampung yang kuliah di kota ini bahkan ada yang menikah dan menetap hingga sekarang ini.

Karena kami berangkat buru-buru dan belum sempat sarapan maka saat mobil memasuki kabupaten Wonosobo, kami mampir makan serta menunaikan sholat Dzuhur. Saat itu kami mampir di daerah Kertek yang berada pada lereng pegunungan, maka tak heran jika hawanya dingin padahal waktu sudah menunjukan pukul 12.15 siang.

Hmmm..untungnya segelas teh hangat ditambah beberapa potong tempe kemul cukup membuat kami tidak terlalu kedinginan. Jadi cuma makan tempe kemul doang di warung? Enggak lah, kami juga menyempatkan makan nasi kok. Apalagi warung makan yang kami singgahi menyediakan menu yang beraneka ragam dengan sajian makan secara prasmanan. Mau ayam goreng, mie ongklok, gudeg, soto, opor ayam semua tersedia di sini dengan harga yang terjangkau.

Setelah perut kenyang, kami melanjutkan perjalanan berikutnya menuju kota Semarang. Saat kami akan memasuki wilayah Bandungan, di sepanjang jalan yang kami lewati saat itu dalam kondisi macet. Itu dikarenakan hampir tiap tempat yang kami lewati sedang mengadakan perlombaan untuk memeriahkan hari kemerdekaan. Ada juga beberapa panggung hiburan serta pertunjukan kesenian tradisional seperti wayang kulit. Kami harus sabar karena mobil harus berjalan merayap di sepanjang beberapa tempat tadi.

Alhamdulillah, kami akhirnya bisa melewati keramaian tadi. Setelah sampai di daerah Bandungan yang identik dengan buah kelengkengnya, kami memutuskan mampir sejenak untuk mencicipi buah kelengkeng yang dijual di sepanjang jalan kawasan Bandungan.

Salah satu trik agar bisa puas mencicipi buah kelengkeng yang super manis ini adalah dengan terlebih dahulu mencicipi sebanyak mungkin buah kelengkeng tadi. Dengan syarat tidak kemudian dibungkus ya!!! Nah setelah puas baru kita membelinya, jadi jangan cuma icip-icip saja. Salah-salah kalau bertindak curang, yang ada kita bakalan kena marah si penjual tadi.

Sepanjang jalan kawasan Bandungan terdapat banyak penginapan mulai dari kelas melati hingga hotel berbintang.  Selain itu juga ada beberapa family karaoke, private karaoke, bahkan bar hingga café. Tidak salah memang selain hawa di sini cukup dingin, banyak juga orang-orang yang sekedar ingin mencari “kehangatan”. Bahkan salah seorang rekan menyeletuk ‘hmm..paling enak pas cuaca dingin begini memang pergi bareng “orang tersayang” terus booking salah satu penginapan di sini’ seluruh orang yang berada di dalam mobil sontak tertawa terbahak-bahak.

‘Wah, ini sudah masuk waktu sholat maghrib, bagaimana kalau kita mampir sebentar di pom bensin depan sambil istirahat sebentar’ Mas Lucky menyarankan untuk mampir sholat maghrib terlebih dahulu. ‘baiklah’ pak sopir dengan sabar melayani permintaan mas Lucky dan rekan-rekan yang lain. Karena luas mushola yang tidak terlalu luas, kami harus rela bergantian menunaikan sholat maghrib.

Saat memasuki kota Semarang jalanan pada waktu itu dalam proses pembetonan, walhasil terjadi antrian panjang kendaraan menuju arah kota. Selain itu bertepatan juga dengan jam pulang kantor ditambah hujan rintik-rintik yang menyelimuti kawasan kota. Lengkap sudah kondisi yang kami rasakan pada waktu itu. Selain punggung  dan bokong sudah panas karena duduk terlalu lama, kepala juga agak pusing. Mungkin kami kena mabuk perjalanan, semoga saja tidak.

Tujuan melayat kami sendiri lokasi rumahnya berada di dalam komplek perumahan veteran prajurit TNI. Setelah kesasar beberapa kali karena lokasi rumah yang nyempil di antara gang sempit, akhirnya mobil kami pun sampai di tempat tujuan.

Mayoritas perumahan di sini merupakan bangunan lawas jaman penjajahan Belanda. Ada beberapa memang yang sudah di renovasi menjadi rumah yang modern. Kebetulan rumah yang kami layat masih mempertahankan bangunan lawas tadi. Kesan pertama saya melihat rumah ini adalah, besar, tembok yang tebal dan tinggi dengan jendela dan pintu yang berukuran besar. Di dalam ruangan pun sama, dengan langit-langit yang tinggi membuat sirkulasi udara menjadi lebih sejuk. Akan tetapi memang entah kenapa hawa mistis begitu menyeruak ketika pertama kali masuk ke rumah ini. ‘Ah..mungkin ini cuma perasaan saya saja’ membatin dalam hati.

IMG_20140817_172530

jendela besar dengan bahan kayu

Kami disambut dengan hangat oleh keluarga yang kami layat. Memang saat kami ke sini, acara pemakaman sudah selesai sejak sore hari. Tinggal beberapa anggota keluarga saja yang terlihat sedang mempersiapkan acara tahlilan untuk nanti malam. Baru saja duduk sebentar, kami sudah disuguhi aneka macam cemilan serta beberapa cangkir teh hangat.

‘Silakan dicicipi mas, hidangan sederhana kami’ salah seorang keluarga dengan ramah menawarkan kami untuk mencicipi hidangan yang sudah tersedia.

Agak rikuh memang, karena selain ini acara melayat orang yang sedang tertimpa musibah juga kami menjadi merepotkan anggota keluarga di sini. Dalam hati membatin ‘Hmm..inilah keramahan rata-rata orang Indonesia sesungguhnya’.

Keringat, bau tubuh sudah bercampur menjadi satu. Dengan rasa kurang enak, saya meminta ijin untuk mandi sekedar menghilangkan keringat. Ah..syukurlah dengan ramah mereka mempersilakan saya menuju kamar mandi. Malah yang lain jadi ikut-ikutan mau mandi hehehe.

Setelah membersihkan diri, lagi-lagi kami disuguhi beraneka macam hidangan yang sudah tertata rapi di atas meja bundar terbuat dari kayu yang terlihat antik. ‘monggo pak, bu, mas makan dulu, kami sudah menyiapkan masakan sederhana di atas meja’ kali ini adik dari bu dokter yang menawarkan.

Mungkin karena kami terakhir makan saat mampir di Kertek-Wonosobo jadi perut sudah lapar lagi. Dengan lahapnya kami menikmati hidangan yang sudah tersedia.

Kami kembali lagi ke ruang depan. Satu persatu kami duduk melingkar. Kali ini orang yang dituakan dalam rombongan akan memberikan ucapan belasungkawa.

‘Asalamualaikum warohmatullohi wabarokatu, saya beserta perwakilan rekan-rekan kerja mengucapkan turut berbelasungkawa atas meninggalnya ibu dari salah satu rekan kami. Sebelumnya kami minta maaf karena kedatangan kami merepotkan keluarga besar yang sedang terkena musibah. Kami berharap keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan serta  yang meninggal diberi tempat yang terbaik di sisiNya’.

Hanya sekitar 1 jam di sini, setelah memberikan ucapan belasungkawa kami berpamitan. Saat itu waktu menunjukan pukul 19.00. Sebelum pergi lagi-lagi kami diberi beberapa oleh-oleh berupa aneka roti dan buah. Katanya untuk cemilan saat di perjalanan. Bukan jarak yang dekat memang antara Banjarnegara-Semarang. Butuh waktu tempuh sekitar 5 jam lebih dalam kondisi jalan yang normal dan tanpa macet.

Satu persatu iring-iringan mobil yang membawa kami keluar dari perumahan menuju jalan raya kota Semarang. Semakin malam, lalu lintas malah semakin ramai dengan berbagai macam kendaraan.

Setelah mampir mengisi bahan bakar di pom bensin, kami memutuskan untuk mampir sebentar membeli oleh-oleh tahu bakso. Kali ini toko tahu bakso ibu Pudji yang kami pilih. Sementara rombongan ibu-ibu berbelanja, saya beserta rekan yang lain menunaikan sholat Isya di musholla yang persis berada di belakang tempat parkir.

Saya tidak membeli tahu bakso karena kurang suka. Saya lebih memilih membeli beberapa kilogram buah kelengkeng saat mampir di kawasan Bandungan.

Kami sampai kota Banjarnegara sekitar pukul 00.00 malam. Hmm..perjalanan yang cukup melelahkan. Walaupun saya hanya duduk anteng akan tetapi punggung rasanya pegal.

Satu hal pelajaran yang bisa saya petik dari cerita perjalanan ini. Bahwa yang namanya suatu musibah atau kejadian yang tidak menyenangkan bisa dilihat dari sudut pandang yang lain. Dengan adanya orang-orang ataupun rekan kerja, setidaknya bisa menghibur keluarga korban yang ditinggalkan. Dan satu lagi, kami bisa sekalian berpelesiran singkat. Ibaratnya sekali dayung, dua pulau terlampaui.

Advertisements

7 thoughts on “Melayat ke Kota Atlas

  1. doni eko

    wah jadi ingat beberapa tahun lalu pernah hidup di semarang,,banyak kenangan di kota itu,, dan kini suda beberapa tahun meninggalkan kota semarang

    Like

    Reply
  2. fanny fristhika nila

    kenapa sih semarang dikasih julukan kota atlas? Btw aku jg ga suka tahu bakso semarang. dulu sih suka mas, tp lama2 kok rasanya berubah.. tahunya jd ga seger gitu, berasa ama -__-.. jd males beli lg tiap ke semarang..mnding lumpia de

    Like

    Reply
  3. Pingback: Minggu Produktif | nDayeng

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s