tumpukan piring khas rumah makan padang

Cerita Dalam Sepiring Nasi Padang

tumpukan piring khas rumah makan padang

tumpukan piring khas rumah makan padang

Siang itu (12/11/2015) awan putih menghiasi langit biru desa Punggelan. Cuaca akhir-akhir ini tidak bisa ditebak. Pagi mendung, siang terik, selepas bedug luhur tiba-tiba langit berubah menjadi awan gelap yang membawa tetesan air hujan disertai petir.

‘hari ini jadwalnya rapat bulanan ya?’ Amelia tiba-tiba berucap.

‘iya hari ini memang jadwalnya rapat bulanan’ ‘apa sudah pesan sesuatu buat konsumsi pas rapat nanti?’ Saya spontan merespon ucapan Amelia. Maklum sudah menjadi kebiasaan tiap rapat bulanan tiba, saya selalu mendapat jatah untuk mengurusi keperluan konsumsinya.

‘ya ampun!! Aku lupa belum pesan sesuatu’ dengan nada kaget Amelia tiba-tiba berteriak.

Kalau saya sih sudah paham dengan sifat dan kebiasaan Amelia. Ya orangnya memang pelupa, bahkan kadang menaruh dompet sama handphone saja sering lupa ditaruh di mana.

Pernah sekali waktu mungkin dia sehabis buang air kecil di WC, tiba-tiba ada orang yang habis dari WC tadi bertanya, ‘ini handphone siapa ya yang ketinggalan?’ ‘oh itu sepertinya kepunyaannya si Amelia.’ ‘Tadi sepertinya sebelum kamu masuk WC, orang terakhir yang keluar ya si Amelia.’

Hmmm…padahal si empunya sudah pulang sedari tadi. Biarin saja, paling nanti pas sudah sampai rumah baru ingat dan biasanya buru-buru menelepon orang kantor.

Oke..karena saya merasa sudah menjadi kebiasaan dan tugas menjadi seksi konsumsi, maka siang itu saya menawarkan pilihan menu apa untuk rapat siang ini.

‘kali ini mau menu apa untuk rapat siang ini?’ tanyaku pada Amelia.

‘hmmm..apa bakso saja ya seperti biasa?’ terserah sih, saya cuma menurut saja. Lalu ada yang tiba-tiba ikutan memberikan pendapatnya.

‘sekali-kali ganti dong, jangan bakso terus, bosen!!!’

‘terus mau menu apa? Lagian mendadak begini paling yang cepat dan bisa untuk 40 porsi ya bakso’ saya ikutan berpendapat.

‘nasi ayam juga boleh lho…’ beberapa teman lain ikutan berpendapat juga.

‘okelah jadi deal ya..nasi ayam?’ Saya menegaskan kembali deal pesanannya.

Kebetulan lokasi kantor dekat dengan rumah makan langganan, namanya Kedai Salsa. Di sana menunya bermacam-macam tiap harinya. Ada ayam, ikan, telur, bebek dan aneka sayuran tentunya. Kedai Salsa ini bisa dibilang salah satu warung makan yang cukup laris dan menjadi favorit orang-orang di daerah Punggelan. Tidak heran sih karena selain harganya terjangkau, masakannya juga cocok dengan lidah orang Punggelan. Mereka suka dengan masakan yang kaya bumbu, pedas, manis, bersantan dan sedikit berminyak.

Tanpa butuh waktu lama, saya bergegas menuju Kedai Salsa. Dengan membawa sepeda motor tidak sampai 2 menit sudah sampai. Apalagi siang itu jalanan tidak terlalu ramai dengan kendaraan bermotor yang biasanya mendominasi.

‘assalamualaikum…’ ada nasi ayam untuk 40 porsi? Tanya saya kepada pemilik Kedai Salsa.

‘wah..ya nggak ada kalau untuk 40 porsi, palingan adanya sekitar 25 porsi saja’ ‘memang untuk pesanan jam berapa?’

‘untuk sekitar jam 1 siang’

‘lah kenapa mendadak begini sih? Kami kan jadi nggak siap’

Padahal siang itu saya pesan makan untuk konsumsi rapat sekitar pukul setengah dua belas hahaha. Mana ada coba yang bisa sekali waktu buat nasi kotak dengan menu yang sama jumlahnya sampai untuk 40 porsi. Yang ada saya diketawain pemilik Kedai Salsa hehehe. Ya kalau pesannya jauh-jauh hari sih tidak masalah. Lah ini pesannya mendadak gini, di mana-mana pasti bakalan sulit kecuali rumah makan yang ada di kota besar, mungkin mereka bisa.

Sempat saya berunding cukup lama antara pemilik Kedai Salsa, dengan koordinator rapat mbak Amelia lewat handphone. Awalnya saya mengusulkan, bagaimana jika yang 20 porsi pakai ayam terus sisanya pakai ikan mujair. Hehehe yang ada saya malah diketawain sama mbak Amelia. Lah daripada bingung-bingung mending pilih jalan tengah saja.

Karena masih belum deal juga, saya juga menyarankan untuk pakai telur balado saja. Hitung-hitung irit malah. Eh malah pada nggak mau. Setelah berunding cukup alot, akhirnya kami tidak sepakat. Jadi saya harus mencari alternatif rumah makan lain yang bisa menyediakan menu ayam sekaligus untuk 40 porsi dalam waktu 1 jam.

Mungkin Tuhan masih sayang denganku. Saya mencoba mampir ke rumah makan Padang yang letaknya tidak jauh dari Kedai Salsa, namanya Rumah Makan Talago Sari. Dulu memang di tempat yang sama ada juga rumah makan Padang dengan nama yang berbeda, akan tetapi karena ada insiden ditemukannya belatung dalam salah satu masakan rendangnya, walhasil orang-orang enggan makan di sana. Dan akhirnya mereka pun harus gulung tikar.

Setelah beberapa waktu tutup, kios yang digunakan oleh rumah makan terdahulu kembali direnovasi kembali. Kali ini dibuat lebih menarik dan rapi dengan mengganti beberapa interiornya. Hingga detik ini menjadi tempat berjualan rumah makan Talago Sari.

Awan semakin gelap di langit, saya buru-buru masuk ke rumah makan Padang tadi dengan harap-harap cemas. Semoga kali ini bisa deal dan nggak harus repot-repot nyari rumah makan lain.

‘permisi..ada nasi padang plus rendang untuk 40 porsi?’

‘wah..untuk 40 porsi ya nggak ada, memang untuk jam berapa?

‘untuk sekitar jam 1 siang’

‘adanya nasi plus ayam, gimana?’ si mbak menawarkan alternatif lain.

‘ya udah nggak apa-apa deh mbak, dari pada kami keburu lapar hehehe’

Syukurlah, akhirnya deal juga walaupun dengan nasi ayam bukan pakai rendang. Padahal kalau makan di rumah makan padang terus nggak pesan rendangnya terasa hampa. Karena sudah identik menu tadi menjadi yang utama. Maklum karena lokasi berjualannya di pinggiran kota, jadi mereka tidak begitu banyak menyiapkan menu dalam berjualan. Takutnya kalau pas nggak laku malah jadi mubazir dan merugi.

Ini juga si mbak tadi harus pesan dulu ke warung ayahnya yang letaknya di kecamatan sebelah. Ya lumayan jauh jaraknya, dengan jalanan yang naik turun apalagi saat musim penghujan seperti ini.

Sempat beberapa kali handphone si ayah dari mbak-mbak tadi sulit dihubungi. Lah..saya makin ketar ketir saja takut gagal. Perlu lebih dari 5 kali untuk mencoba menghubunginya. Alhamdulillah akhirnya nyambung juga, saya sedikit lega dan bisa kembali ke kantor sebentar untuk sholat dzuhur kemudian meneruskan pekerjaan.

Sekitar pukul 12.45, saya kembali lagi ke rumah makan padang Talago Sari. Selain untuk memastikan pesanan saya sudah siap apa belum, juga untuk berteduh. Karena pas saya sampai di sana diiringi hujan lebat disertai petir yang menggelegar. Kebetulan juga seharian ini saya belum makan apa-apa, cuma segelas teh manis tadi pagi.

Dengan senyum yang agak dipaksa si mbak tadi bercerita, ‘sorry ya mas, pesanannya belum datang ini, mungkin masih terjebak hujan di jalan’ ‘paling sekitar 10 menit lagi, apa mas masuk saja dulu terus tak bikinin teh hangat?’ hmmm sepertinya si mbak ini merayu saya, hehehe. Karena di luar memang hujan makin lebat, lah saya ngapain juga duduk di emperan malah nggak masuk untuk berteduh.

Lagi-lagi dengan senyum yang manis, si mbak tadi membuat segelas teh hangat dan terlihat sudah berada di atas meja. Saya sebenarnya agak kikuk, karena saat itu hanya ada saya, si mbak dan 1 lagi asistennya. Mana ditambah listrik padam, walhasil di dalam ruangan menjadi gelap.

Hmmm sepertinya segelas teh manis hangat yang sudah tersedia di atas meja ini nikmat juga di seruput sedikit apalagi saat dingin begini. Beberapa tegukan teh hangat yang dibuatkan si mbak tadi tak terasa sudah habis hampir setengah gelas. Ini haus apa doyan? Hehehe.

La kok perut malah keroncongan begini ya? Oh ya saya kan sejak pagi belum makan. Saat itu tiba-tiba ada 2 orang lelaki yang juga dalam kondisi lapar seperti saya dan tentunya sedang mencari tempat untuk berteduh. Kalau dilihat-lihat sih sepertinya mereka berdua adalah seorang sales rokok. Lah kok tau? hehehe itu bajunya ada logo peniti, eh jarum ding.

tempatnya rapi dan bersih, saya suka

tempatnya rapi dan bersih, saya suka

 

IMG_20151112_110421

saat itu sedang sepi pengunjung

Mereka memesan beberapa porsi nasi padang lengkap dengan rendang. Kalau dilihat sekilas mereka terlihat sangat kelaparan, soalnya masing-masing orang pesan 2 porsi nasi. Setelah teh saya hampir habis, kok kepingin ikut makan nasi padang juga ya. Langsung saja panggil si mbak tadi lalu memesan nasi padang lengkap dengan ayam bakar. Entah habis atau apa, sialnya saya tidak kebagian daging rendangnya. O ya saya sebelumnya tidak terlalu suka dengan masakan padang karena menurut saya rasanya kurang manis. Maklum sebagai orang jawa, saya suka dengan masakan yang dominan manis.

Sesuap dua suap kok enak juga ya nasi padang ini, dasar katrok. Apalagi nasinya masih ngebul dan pulen sekali rasanya. Tidak butuh beberapa menit seporsi nasi padang dengan ayam bakar sudah lenyap dari atas piring. Mmmm..ini enak juga rasanya. Lain kali boleh lah mampir lagi saat jam makan siang.

Dari depan rumah makan terlihat sesosok anak lelaki yang terlihat masih bocah turun dari motornya. Dia basah kuyup di sekujur tubuhnya, mana tidak pakai helm dan jas hujan. Dengan menenteng kardus, dengan cepat si bocah tadi masuk kedalam.

‘mbak, ini nasi padangnya sudah datang’ si bocah tadi dengan menggigil kedinginan memanggil si mbak.

‘oalah..lha kok kamu tidak pakai jas hujan?’ jadi basah kuyup begini kan’

‘iya mbak, tadi di sana masih terang benderang, eh pas hampir sampai sini malah hujan lebat, ya terpaksa lewat terus’

Dengan kembali tersenyum, si mbak memanggil saya. ‘mas ini pesanannya sudah datang’ kebetulan sehabis saya mengantuk, dasar!!. ‘eh iya mbak, oke’ jawabku dengan kaget.

Karena hujan belum ada tanda mau berhenti saya menyuruh si bocah tadi untuk mengantarkan sekalian ke kantor karena toh dia sudah basah kuyup. Eh..malah tak disangka temanku menyusul kali ini dengan membawa mobil. Syukurlah….ada bantuan, padahal saya tidak menelponnya untuk menjemputku. Mungkin mereka tau, kalau saya sudah terlalu lama pergi mengambil pesanan nasi tapi kok nggak balik-balik.

Dengan buru-buru, saya membayar seporsi nasi padang dengan segelas teh hangat tadi. ‘berapa mbak total semuanya yang saya makan?’

‘dua belas ribu saja, mas’ si mbak dengan ramah membalas pertanyaanku.

Dalam hati saya membatin, kok murah amat ya hehehe. Setelah menyodorkan selembar uang sepuluh ribu dan selembar dua ribuan, saya buru-buru pergi. Hujan masih lebat, untunglah saya sudah sedia jas hujan dalam bagasi motor. Jadi tidak perlu takut basah kuyup.

Saat sudah sampai kantor, ternyata rapat sudah selesai dan orang-orang dengan muka kelaparan sudah menunggu, ada yang di dalam ruangan, bahkan ada yang duduk-duduk di serambi aula. ‘nih pesanannya datang’ ucapku dengan nada tegas karena sudah kenyang duluan hehehe.

Akhirnya siang itu dalam kondisi hujan masih terus turun, kami tidak jadi kelaparan hahaha. Raut muka tidak bisa dibohongi, mereka benar-benar terlihat kelaparan. Hmmm..seporsi nasi padang  menyelamatkan kami semua dari kelaparan.

Advertisements

14 thoughts on “Cerita Dalam Sepiring Nasi Padang

  1. Johanes Anggoro

    jadi ingat dr kecil ketika berpergian ga pernah sekalipun di ajak bapak makan di warung makan padang, lebih condong ke bakso/soto. sampe saat ini masih menjadi misteri 😀
    tp pas udh gede malah sering makan di warung makan padang :3

    Liked by 1 person

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s