Bernostalgia Dengan Wayang Kulit

 

Memori Masa Lalu

Kalau ditanya kapan terakhir kali menonton pertunjukan Wayang Kulit, saya akan menjawab, sudah sekitar 10 tahun yang lalu. Malah bisa lebih karena kalau tidak salah terakhir kali menonton pertunjukan wayang ya.. saat masih SD dulu.

Saya masih ingat betul, ketika waktu itu ada tetangga yang mengadakan ritual Ruwatan dan harus menanggap Wayang Kulit.

IMG_20151107_134928

Saat itu pertunjukan wayang dilakukan pada saat siang hari. Lah kok pada siang hari?  Karena pertunjukan wayang dalam rangka Ruwatan untuk anak lelaki tunggal. Yang mana  saat itu masih ada segelintir orang yang percaya, jika seorang anak lelaki tunggal dan tidak melakukan ritual Ruwatan ceritanya anak tersebut akan mendapat celaka atau nasib buruk. Yang disimbolkan seorang anak akan dimakan oleh Buta Kala atau raksasa.

Terus kenapa saya suka wayang? Hmmm…agak susah untuk dijelaskan, tapi kalau boleh sedikit cerita saat saya masih kecil, karena permainan masih banyak yang bersifat tradisional jadi mau tidak mau dalam keseharian akrab dengan hal tersebut. Sedikit sekali permainan seperti sekarang ini yang banyak jumlahnya dan beragam bentuknya.

Salah satu memori yang masih jelas dalam ingatan saya adalah saat teman sepermainan dulu bermain wayang dengan menggunakan bahan-bahan sederhana antara lain:

  1. Untuk wayang menggunakan daun dukuh dipilih yang lebar, berwarna kuning atau hijau. Selain itu juga dikombinasikan dengan daun singkong karet yang bentuknya lebar-lebar.
  2. Lidi dari daun pohon kelapa yang digunakan sebagai rangka untuk menusuk daun dukuh tadi.
  3. Batang pohon pisang atau gedebog pisang yang digunakan untuk tempat menancapkan wayang-wayang.
  4. Untuk kelir atau layar menggunakan upih atau pelepah pohon pinang yang sudah tua dan bentuknya putih kekuningan.
  5. Untuk kecrekan menggunakan bekas batu baterai yang berukuran besar kemudian bagian luarnya dipipihkan sedemikian rupa dan ditumpuk hingga menghasilkan bunyi kecrek-kecrek.
  6. Gamelannya sendiri menggunakan mainan gamelan sederhana yang saat jaman saya masih kecil banyak dijual di pasar-pasar.

Pada saat itu antara laki-laki dan perempuan sering bermain bersama-sama. Untuk bocah laki-laki bertugas sebagai penabuh gamelan, dalang, atau yang menyanyikan kidung-kidung walaupun apa yang keluar dari mulut tidak jelas hehehe. Sedangkan bocah perempuan kebagian tugas menjadi sinden, jangan tanya seperti apa hasilnya. Yang jelas permainan saat itu dilakukan dengan riang gembira di tengah keterbatasan mainan modern. Selain itu juga kebersamaan di antara kami begitu hangat dan akrab.

Masih ingat jelas dalam ingatan, Mislam, teman kecil saya bertindak sebagai dalang. Bangkring (nama kecil temanku) menjadi penabuh gamelan. Banggreng (juga nama teman kecilku) bertugas sebagai pemain kenong. Saya sendiri saat itu bertugas sebagai asisten sang dalang, tugasnya menyiapkan wayang-wayang yang terbuat dari daun dukuh kemudian satu persatu diserahkan ke dalang saat akan dimainkan. Sementara teman perempuan saya yang bernama Sutesri, Misri, Satri dan Mujiah memerankan peran sebagai sinden.

Tembang-tembang yang dimainkan berupa lagu-lagu tradisional seperti gundul-gundul pacul, bapak pocung dan terkadang menyisipkan lagu campursari milik Didi Kempot. Memang tidak nyambung akan tetapi begitulah yang terjadi.

Lokasi permainan berada di antara lorong rumah tetangga, di sampingnya terdapat kandang kambing milik tetangga. Jadi ketika kami sedang asik bermain, terkadang harus terganggu suara kambing dan bau kotoran kambing. Sering juga kami dimarahi tetangga karena merusak tanaman singkongnya untuk dijadikan bahan pembuat wayang. Dan setelah bermain wayang selesai terkadang kami diberi beberapa potong kue lapis milik ibunya Misri, o ya kebetulan ibunya Misri pedagang kue lapis dan juga seorang dukun bayi.

Hingga saat ini saya masih berteman baik dengan mereka, teman masa kecilku. Walaupun ada yang merantau di Jakarta. Tiap lebaran tiba dan mereka pulang kampung, kami seperti reuni kembali mengingat memori indah jaman kecil dulu hehehe.

***

Sekilas Tentang Wayang Kulit

Wayang kulit adalah salah satu seni tradisional khas Indonesia yang berkembang di Pulau Jawa.  Wayang berasal dari kata “Ma Hyang” yang artinya menuju kepada roh spiritual, dewa, atau Tuhan. Ada juga yang mengartikan wayang sebagai bayangan dalam istilah bahasa jawa. Karena penonton bisa menyaksikan pertunjukan wayang dari balik kelir dan hanya bayangan saja.

Wayang kulit dimainkan oleh seorang dalang yang berperan juga menjadi narrator dialog tokoh-tokoh wayang yang dimainkannya. Sebagai pengiring adalah musik gamelan yang dimainkan oleh sekelompok nayaga. Selain itu terdapat tembang yang dinyanyikan oleh sang sinden.

Secara umum pertunjukan wayang menggunakan cerita  Mahabharata dan Ramayana. Tetapi kadang sang dalang memainkan sendiri lakon gubahan. Seperti saat kemarin saya menonton pertunjukan wayang dengan cerita lokal banyumasan.

Pertunjukan wayang kulit telah diakui oleh UNESCO pada tanggal 7 November 2003. Sebagai karya kebudayaan (Masterpiece of oral and intangible heritage of humanity).

Wayang juga bisa ditemui di jawa barat dalam bentuk wayang golek. Atau dalam kebudayaan China pun mengenal sejenis pertunjukan wayang, salah satunya wayang potehi.

***

Bernostalgia Dengan Pertunjukan Wayang Kulit

 

Pupuh dandhanggula- podo siji.

Ana kidung sun angidung wengi / Bebaratan duk amrem winaca / Sang Hyang Guru pangadege / Lumaku Sang Hyang Bayu / Alambeyan asmara  ening / Ngadeg pangawak teja / Kang angidung iku / Yen kinarya angawula / Myang lelungan / Gusti gething dadi asih / Setan sato sumimpang.
 
Melantunlah sebuah kidung mantera di malam hari / Angin berhembus saat kidung berlantun / Yang menembangkan menjadi berwibawa bagaikan Sang Hyang Guru / Jika berjalan bagaikan Sang Hyang Bayu / Lambaian tangan penuh cinta kasih tanpa pamrih / Berdiri badannya dilimputi cahaya / Yang melantunkan kidung / Jika bekerja, penuh pengabdian kepada Tuhan / Segala yang membenci menjadi kasih sayang / Setan dan binatang buas pun menghindar.

Memori jaman kecil seperti terulang kembali dan terputar dalam otak ketika siang itu saya menonton pertunjukan wayang dalam rangka ruwatan bumi. Kebetulan hari itu merupakan hari  sabtu yang mana jam kerja hanya setengah hari. Setelah pulang kerja, saya menyempatkan diri menonton pertunjukan wayang di tengah cuaca mendung dan angin yang berhembus kencang.

Karena lokasi pertunjukan wayang berada di belakang kantor, jadi bukanlah suatu halangan ketika cuaca mendung dan angin kencang melanda. Tidak banyak orang memang yang menonton pertunjukan wayang ini. Mungkin mereka sudah tidak tertarik lagi dengan kesenian asli suku Jawa ini. Tetapi fakta tadi tidak berlaku untuk diri saya pribadi. Saya merasa ini merupakan sebuah nostalgia mengingat jaman kecil dulu sehingga merasa menarik untuk diikuti.

Saya tinggal di sebuah desa kecil di kabupaten Banjarnegara, lebih tepatnya di desa Karangsari kecamatan Punggelan. Letaknya di ujung utara bagian barat kabupaten Banjarnegara atau berbatasan langsung dengan kabupaten Purbalingga. Kontur tanah di kecamatan Punggelan sendiri terdiri atas bukit-bukit serta lereng-lereng. Jalan menuju kecamatan ini juga naik turun dengan kondisi jalan yang tidak rata karena aspal mengelupas di mana-mana.

Siang itu cuaca di sekitar pendopo balai desa Punggelan, mendung menggelayut sejak pagi hari. Kebetulan beberapa hari ini sepertinya sudah mulai memasuki musim penghujan. Tak ayal sudah 4 hari cuaca mendung dari pagi hingga siang. Saat siang hari, hujan lebat disertai angin kencang merata terjadi di kecamatan Punggelan.

Deretan wayang kulit berjejer rapi di kanan kiri

Deretan wayang kulit berjejer rapi di kanan kiri

Terdengar sayub-sayub suara gamelan perlahan semakin keras diiringi senandung sinden yang dengan luwesnya menyanyikan tembang jawa. Ya kali ini desa Punggelan punya hajatan besar berupa ritual Ruwatan Bumi.

Apa sih ruwatan bumi itu? Menurut penjelasan sang dalang sesaat sebelum pertunjukan wayang    dimulai, ruwatan bumi artinya adalah merawat bumi.
Kenapa bumi harus dirawat? Karena bumi merupakan tempat kita dilahirkan, dibesarkan, dan tempat manusia dikubur ketika di dunia.

Sudah menjadi tradisi ketika ruwatan bumi ataupun ruwatan manusia, maka diselenggarakan pertunjukan wayang kulit sebagai salah satu syarat ritual. Namun seiring berkembangnya jaman, saat sekarang ini ritual ruwatan bumi hanya sebagai sebuah pertunjukan seni untuk melestarikan budaya, khususnya kesenian wayang kulit dalam tradisi jawa.

Pertunjukan wayang kulit dimulai pukul 12.30 siang dengan digawangi oleh grup kesenian  wayang kulit Samiaji yang berasal dari Punggelan.  Samiaji sendiri yang artinya Sami=podho atau sama dan Aji=harga atau jika boleh diartikan bebas kurang lebih artinya sama-sama berharga antara penabuh gamelan, sang dalang, sinden dan alat yang digunakan dalam sebuah pertunjukan wayang. Kesemuanya adalah satu kesatuan dan tidak bisa dipisahkan dalam jalannya  sebuah pertunjukan wayang.

Saat itu pertunjukan wayang dipimpin oleh sang dalang ki Sukiat yang berasal dari kecamatan Pandanarum dan mendapat tugas saat pertunjukan wayang pada siang hari. Sementara itu ada beberapa Waranggana antara lain ibu Warlimah, Mursinah, salah satunya adalah istri dari sang dalang sendiri. Untuk penabuh gamelan sendiri terdiri dari 20 orang lebih yang masing-masing mempunyai spesialisasi dalam memainkan berbagai macam alat gamelan.

 

Untuk bahasa yang digunakan oleh sang dalang sendiri mayoritas menggunakan bahasa jawa banyumasan. Jadi menurut saya sangat mudah dicerna karena dalam keseharian, saya biasa menggunakan bahasa banyumasan.

Dalam sebuah pertunjukan wayang, terdapat kelir yang dibentangkan sedemikian rupa berwarna putih, terbuat dari kain mori putih. Di pinggirnya terdapat ornament ukiran berwarna merah. Sementara sebagai pigura berupa ukiran kayu berwarna emas menyala yang menutupi pinggiran kelir.

Dalam satu kelir ditancapkan banyak wayang dalam sebatang gedebog pisang panjang. Sementara itu di sisi kanan dan kirinya terdapat 2 kelompok besar wayang beraneka bentuk yang dijejer rapi sedemikian rupa mulai dari ujung yang berukuran besar hingga makin ke kiri berukuran kecil.

Untuk bagian kanan sang dalang terdiri atas wayang yang bermuka hitam, dengan perawakan kurus menyimbolkan tokoh-tokoh yang berlakon kebaikan. Kemudian di sebelah kiri sang dalang terdiri dari wayang yang bermuka merah menyala dengan perawakan besar, bertaring, mata besar dan menyimbolkan tokoh-tokoh yang berlakon keburukan atau jahat.

Kedua kelompok wayang tadi dipisahkan dan dibatasi oleh gunungan yang berjumlah  4 buah masing-masing berada pada sisi kiri dan kanan. Di antara gunungan tadi terdapat area kosong tempat lakon wayang dimainkan. Sementara itu di ujung pigura pengapit kelir tadi terdapat 4 buah bonggol jagung dan 2 ikat batang padi, entah apa maksud di balik simbolisasi tersebut , saya kurang paham.

Si dalang sendiri duduk diapit oleh dua buah peti tempat menyimpan wayang. Di atasnya sudah disiapkan sedemikian rupa berbagai tokoh wayang yang akan digunakan dalam sebuah pertunjukan. Terdapat beberapa wayang berbentuk hewan yang digunakan dalam pertunjukan siang itu. Antara lain wayang berbentuk hewan ular berkepala besar dan bertaring, kuda hitam, babi hutan, macan, serta burung garuda.

Saat sekarang ini berbagai macam sesaji sudah tidak digunakan lagi dalam pertunjukan wayang, begitu kata sang dalang bercerita. Saat pertunjukan berlangsung, hujan lebat disertai angin mengiringi pertunjukan wayang dan bersahutan di antara suara gamelan.

Ah…saya lupa menanyakan lakon atau judul apa yang dimainkan siang itu. Akan tetapi kalau boleh sedikit menyimpulkan, mayoritas cerita tentang kehidupan sehari-hari masyarakat jawa. Ada juga tentang kehidupan sang dalang dari beberapa daerah tetangga. Tetapi inti dari semua cerita di atas adalah tentang lakon kebaikan melawan keburukan yang digambarkan dengan wayang berwatak baik melawan sang buta kala simbol keburukan.

Dan bagian yang paling menarik dalam sebuah pertunjukan wayang menurutku adalah saat Bagong, Semar, Gareng dan kawan-kawannya tampil. Saat mereka tampil, menceritakan tentang asal-usul penyebutan nama pohon, bunga, tanaman atau minuman badeg (air nira) dalam bahasa banyumasan. Ada juga yang menceritakan tentang asal-usul penyebutan nama senjata tradisional seperti gaman, arit, golok. Setiap sesi penyebutan nama tadi akan diakhiri dengan lantunan tetabuhan gamelan yang ritmenya cepat dan keras.

Di akhir kisah sang raksasa buta kala pun muncul diiringi dengan ritme gamelan yang keras cepat dan menggelegar. Pas sekali dengan watak sang raksasa buta kala tersebut. Saat sang buta kala datang pun diiringi dengan rombongan hewan buas yang sifatnya merusak tanaman dan alam seperti babi hutan. Akan tetapi mereka semuanya kalah karena ketamakan dan keserakahan mereka sendiri. Ini mengajarkan pada manusia agar selalu hidup serasi dengan alam. Karena alam tidak butuh manusia, yang ada manusia yang butuh alam. Sebuah petikan kisah yang mempunyai makna mendalam.

***

Setelah pertunjukan selesai sekitar pukul 17.00 sore, saya menyempatkan diri berbincang-bincang dengan sang waranggana yaitu ibu Warlimah dan suaminya yang merupakan penabuh beberapa alat gamelan.

“Sejak kapan bu Warlimah menjadi sinden?” “ Saya sudah menyukai dunia seni menyinden sejak jaman masih remaja dulu. Awalnya ikut orang tua yang notabene seorang seniman jawa”

Apa yang membuat ibu Warlimah tetap konsisten hingga saat ini menekuni dunia persindenan dan sering tampil dalam pertunjukan wayang?” “karena sudah konsisten semenjak remaja hingga saat ini sudah berumah tangga dan mempunyai cucu, saya merasa inilah jalan hidup saya dan dunia saya. Walaupun banyak orang menganggap ini sebuah hal yang kuno akan tetapi inilah takdir saya dan saya menyukainya” “bahkan dari menjadi sinden dan sering mengikuti pertunjukan wayang, saya bisa bertemu dengan belahan jiwa saya yang menemani masa tua saya sekarang ini yaitu, suami, bapak ,kakek dari cucu-cucu saya yaitu bapak Siswomihardjo.

Berlanjut mewawancarai Bapak Siswomihardjo yang notabene suami dari Ibu Warlimah dengan pertanyaan yang sama.

“Sejak kapan Bapak Siswomihardjo menyukai alat musik gamelan?” “saya awalnya hanya iseng saja saat masih muda mengikuti kursus karawitan yang diadakan oleh desa. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, saya makin menyukai dan mulai tertarik untuk menekuni karawitan ini.

“Alat musik tradisional apa saja yang bisa bapak mainkan?” “saya bisa memainkan saron, kenong atau kethuk dan suling.

“Apakah sulit memainkan alat musik tadi?” “kalau dibilang sulit, memang iya pas awal-awal dan belum belajar akan tetapi jika mau belajar dan konsisten memainkannya maka lama kelamaan akan menjadi terbiasa dan mahir” “intinya harus terus konsisten dan mau terus belajar serta pastinya sering dimainkan alat musik tadi”.

“Tips apa saja bagi kami generasi muda agar suka dengan pertunjukan wayang serta bisa memainkan alat musik  tradisional tadi?” “Pastinya harus belajar terlebih dahulu kepada orang yang ahli, selain itu sekali-kali seringlah menonton pertunjukan wayang ketika digelar, gimana mau suka kalau kenal saja tidak?.”Sekarang ini kan jaman sudah serba online, cobalah sekali-kali menyaksikan wayang di youtube, disitu banyak sekali video-videonya tinggal kita mau apa enggak?”. “Setelah belajar tentunya konsisten dengan alat musik apa yang ditekuni, jangan cuma menjajal kemudian ditinggal begitu saja tanpa rutin dimainkan”. “kalau bukan kalian-kalian anak muda yang meneruskan seni tradisi ini terus siapa lagi? Apa iya orang luar negeri? Terus kalau kebudayaan kita di klaim Negara lain baru kalian kebakaran jenggot”.

Saya hanya bisa manggut-manggut mendengarkan kedua senior penekun kesenian tradisional tadi. Dalam hati memang merasa tertohok karena sebagai generasi muda, terkadang kita lupa dengan kebudayaan dan kesenian milik sendiri. Atau malah bangga dengan kebudayaan asing yang notabene bukan kepribadian kita. Tidak salah memang menerima kebudayaan asing, tentunya selain menambah wawasan serta bisa saling mewarnai kebudayaan dan kesenian yang telah ada dalam negeri ini. Akan tetapi jangan sampai lupa dengan kesenian dan kebudayaan negeri kita sendiri.

***

Sehabis pulang menonton wayang badan pun basah kuyup kehujanan, saya langsung mandi saja biar lebih segar. Dingin memang sore itu tetapi saya harus mandi biar nanti malam saat nonton pertunjukan lanjutan wayang kulit bisa enakan. Ibuku pun tiba-tiba bertanya dengan bahasa ngapak banyumasan

“Bar sekang ngendi, ayawene nembe bali?” (dari mana saja, jam segini kok baru pulang?)

Bar nonton wayang mak, miki bar bubar kantor labas nonton dari pada udan-udan mati lampu terus palingan nang ngumah turu” (tadi habis nonton wayang, mak. Tadi sehabis pulang kerja langsung saja nonton, dari pada hujan-hujan mana mati lampu, lagian paling di rumah cuma tidur”. sahut ku menjawab.

Setelah seharian tadi menonton wayang, baru sore ini sempat makan. Dilanjut istirahat sebentar sambil menghangatkan tubuh. Sekitar pukul 19.30, saya bergegas menghidupkan motor menuju desa sebelah melanjutkan sesi wayang saat malam hari.

Alhamdulillah ternyata hujan sudah reda malam ini, jadi penonton pun perlahan semakin banyak berdatangan menuju balai desa Punggelan. Terlihat juga pedagang yang  menggelar barang dagangannya satu persatu. Kata panitia malam ini Bupati, Ketua DPRD Dan Pak Camat akan datang dan menyaksikan pertunjukan wayang kulit.

Ah kebetulan kursi di belakang tamu kehormatan tadi masih kosong. Langsung saja saya menempatinya, walau dalam hati berkata “awas saja nanti pas tamu kehormatan datang, kamu bakalan diusir”. Tapi bodo amat juga yang penting saat ini bisa menikmati pertunjukan wayang persis berada di belakang para Nayaga. Jadi bisa melihat dengan nyaman jalannya pertunjukan wayang kulit malam ini.

Ada yang beda dengan pertunjukan wayang kulit malam ini karena seluruh Nayaga berbusana jawa lengkap dengan blangkonnya. Selain itu juga para sinden sudah berdandan rapi dengan kebaya dan sanggul yang terlihat cantik dan luwes. Sementara itu di sisi pojok kanan kelir terdapat panggung kecil untuk pentas organ tunggal.

Untuk malam ini pertunjukan wayang terkesan serius karena bahasa yang digunakan hampir semuanya menggunakan bahasa krama inggil. Tentu saja saya tidak terlalu mudeng dengan apa yang diucapkan sang dalang. Toh saya bisa menikmati pertunjukan wayang malam itu hingga pukul 00.00 dini hari.

Sebenarnya malam itu, saya sempat ingin mengabadikan jalannya pertunjukan wayang dari jarak dekat. Sayang, setelah saya pergi sebentar mengecek kondisi motor di parkiran, pas masuk kembali pengunjung sudah berjubelan. Walhasil hanya bisa menonton di pinggir dan harus tertutup oleh gamelan gong, sayang banget.

Saya juga agak kaget karena malam itu warga sekitar serta warga kampung sebelah sangat antusias menonton pertunjukan wayang kulit. Tua-muda berjubel dengan anteng menonton jalannya pertunjukan wayang. Mungkin mereka juga kangen dan ingin ikut bernostalgia seperti saya hehehe.

***

Perspektif Wayang Dalam Kaca Mata Anak Muda

Sebelumnya saya sudah mengenal kedua pasangan suami istri Bapak Siswomihardjo dengan Ibu Warlimah beberapa tahun lalu. Saat itu bapak saya menjadi salah satu pemilik peralatan gamelan di desa Karangsari. Karena sebagai pemilik, mau tidak mau harus sering memainkan peralatan gamelan tadi. Kebetulan tempat penyimpanan dan latihan berada di rumah nenek saya.

Karena sering melihat, saya menjadi tertarik ikut mencoba beberapa gamelan tadi. Saya memilih memainkan gong, karena boleh dibilang mudah (padahal lumayan susah sih) Cuma memukul tiap akhiran sebuah lagu. Dan dari situlah saya bertemu dengan pak Sis (panggilan akrab) dan bu Warlimah. Untuk memainkan instrument gamelan sebagai pengiring pertunjukan wayang kulit, tidaklah mudah karena ada pakem-pakem tertentu yang harus diikuti.

Maka saya hanya bisa memainkan instrument saat lakon wayang dalam adegan perang saja. Dengan tempo yang cepat dan memainkan gamelan dengan keras. Sisanya praktis hanya bisa memainkan melodi sebagai pengiring ebeg alias tembang eling-eling banyumasan.

Menurut saya wayang kulit merupakan sebuah pertunjukan yang lengkap dari seni suara, musik, pertunjukan, cerita, acting, kerajinan tangan  juga seni tata panggung. Pokoknya lengkap semua ada di sini. Cobalah sekali-kali menonton pertunjukan wayang dan nikmatilah adegan demi adegan dengan konsentrasi penuh. Maka anda akan menemukan sebuah karya yang luar biasa indahnya.

Saya sendiri kemarin malam sampai betah duduk anteng dari jam 13.00 sampai 17.00. Kemudian dilanjutkan dari pukul 20.00 sampai 00.00 dini hari. Itu merupakan rekor terlama untuk diri saya sendiri menonton sebuah pertunjukan wayang seumur hidup.

Untuk pas sesi malamnya saya hanya kuat sampai pukul 00.00 karena mata sudah lelah dan ngantuk, selain itu juga keesokan paginya harus bekerja. Padahal kalau mau diikuti sampai selesai bisa rampung pukul 03.00 pagi. Ya mungkin itu saja sudah cukup bagi saya menikmati sebuah pertunjukan yang lengkap pas siangnya.

Menurut saya ada beberapa hal yang membuat “orang-orang” enggan menyaksikan pertunjukan wayang. Yang pertama adalah:

  • Banyak dari kita yang tidak paham dengan bahasa yang digunakan dalam sebuah pertunjukan wayang. Itu berlaku juga dengan saya kemarin, walaupun dibesarkan sebagai orang jawa tetapi merasa asing dengan bahasa krama atau bahasa halus.
  • Durasi pertunjukan yang terlalu lama apalagi jika mulai saat malam hari hingga semalam suntuk. Siapa coba yang akan betah sambil menahan ngantuk mengikuti jalannya sebuah pertunjukan wayang? Mungkin ada saja yang betah, tetapi hanya segelintir orang saja.
  • Tata panggung yang tidak menarik dan terkesan asal-asalan. Saya yakin jika pertunjukan wayang dimainkan dalam sebuah teater khusus, tempat duduk nyaman maka cepat atau lambat bakal banyak orang yang mau menyempatkan diri menikmati pertunjukan wayang.
  • Kalau soal kuno atau ketinggalan jaman itu tergantung persepsi orang, menurutku pertunjukan wayang merupakan sebuah karya yang indah dan lengkap semua ada. Bahkan saat ini setiap jeda wayang diiringi dengan organ tunggal sebagai variasi. Toh menurutku sah-sah saja tanpa mengurangi ciri khas pertunjukan wayang.

Terlepas dari itu semua, saya sebagai anak muda merasa bangga dengan salah satu warisan kebudayaan dan kesenian khas jawa ini. Di tengah gencarnya kebudayaan asing yang masuk, masih ada beberapa orang yang mau menekuni seni pertunjukan wayang ini. Minimal kita sebagai generasi muda mau menyaksikan seni pertunjukan wayang ini, sekali-kali lah menyempatkan diri, barang sejam dua jam toh kita tidak akan rugi.

Satu kalimat pamungkas dari Bapak Siswomihardjo dan Ibu Warlimah “Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Apa harus nunggu punah atau di klaim bangsa lain terlebih dahulu, baru kita peduli?”. Silakan masing-masing dari kita menjawab dalam hati dan merenungkannya.

                       

Advertisements

3 thoughts on “Bernostalgia Dengan Wayang Kulit

  1. Pingback: Pesta Rakyat Kecamatan Punggelan | NDAYENG

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s