suasananya hangat dengan kayu-kayu sebagai interiornya

Apa Yang Bisa Dilakukan di Amplaz Seharian?

Niate dina ngesuk si ndayeng arepan lunga meng kota Jogjakarta.
(rencananya besok si ndayeng akan pergi ke kota Jogjakarta)
Sedina saurunge lunga, si ndayeng nyiapna gawan sing arep degawa  meng Jogja.
(sehari sebelumnya, si ndayeng menyiapkan barang apa saja yang akan dibawa ke Jogja)
Kabeh wis detata rapi terus delebokna maring tas gendong.
(semua sudah ditata rapi kemudian dimasukan ke dalam tas gendong)
Si ndayeng lungane niate arepan nganggo mobil travel bae jerene, emoh repot nek nggawa pit motor dewek.
(si ndayeng ketika pergi niat awalnya akan menggunakan mobil travel saja, tidak mau repot kalau membawa sepeda motor sendiri)
Apa maning nek melu bis ngecer, mengko tekan nganahe malah mbuh jam pira.
(apa lagi jika naik bis omprengan, nanti sampai di sana malah tidak tahu jam berapa)
Urung maning nek melu bis ngecer ndadak ngetem disit nggoleti penumpang.
(belum lagi jika naik bis omprengan bakalan ngetem dahulu, mencari penumpang)
Apa maning nek ana terminal mesti uga mandeg disit.
(apa lagi jika ada terminal, pasti juga berhenti dahulu)


Itulah tadi sepenggal beberapa kalimat dalam bahasa ngapak Banyumasan. Menceritakan tentang persiapan perjalanan ke Jogjakarta.

Ketika pergi ke Jogjakarta dan mengunjungi tempat-tempat seperti Malioboro, Keraton, Titik Nol Kilometer, Taman Sari. itu semua sudah biasa alias terlalu main stream. Kali ini saya juga tidak akan membahas pantai-pantai Jogjakarta yang indah-indah dan sudah terkenal macam pantai Parangtritis.

Sebagai orang yang lahir dan besar di kampung, ketika mengunjungi sebuah kota macam Jogjakarta merupakan hal yang membuatku antusias. Ya wajar lah karena dalam keseharian cuma bisa melihat bangunan yang itu- itu saja.

Toh ketika pergi ke pasar jika di desa yang ada hanyalah pasar tradisional saja. Memang bagi orang perkotaan, pasar tradisional punya keunikan dan ciri khas tersendiri. Tapi bagi saya yang tiap hari terbiasa melihat hal tersebut, merasa biasa saja.

Berikut sedikit pengalaman yang mungkin akan dianggap biasa saja oleh orang yang terbiasa tinggal di kota besar.

Hal pertama yang membuatku antusias ketika pergi ke kota adalah bisa melihat bangunan-bangunan tua jaman dahulu yang masih berdiri kokoh dan juga masih terpelihara dengan baik. Macam pertama kali melihat Gedung BNI 46 di kawasan titik nol kilometer serta di bagian seberang berupa bangunan tua yang sekarang dijadikan Gedung Bank Indonesia. Kesan pertama kali ketika melihatnya adalah rasa takjub karena di jaman yang modern ini masih bisa melihat bangunan tua yang terawat.

Hal berikutnya adalah melihat jalan-jalan yang mulus dan lebar. Jujur saja, bagi orang yang baru pertama kali menginjakan kaki di kota pasti akan merasa itu hal yang menarik. Belum lagi dengan padatnya lalu lintas kendaraan mulai dari mobil, sepeda motor, truk ataupun kereta kuda macam di kota Jogjakarta.

Ditambah lagi ketika kota identik dengan pesatnya pembangunan gedung-gedung yang bagus dan menjulang tinggi. Deretan ruko megah yang banyak berada di pinggir jalan raya seakan menambah ramainya sebuah kota.

***

Mengunjungi Ambarrukmo Plaza

Dan saat sekarang ini kota itu terasa hampa tanpa adanya pusat-pusat perbelanjaan macam Mall, Supermarket. Untuk di kota Jogjakarta sendiri, salah satu mall yang terkenal adalah Ambarrukmo Plaza. Lokasinya yang berada di Catur tunggal, Depok, Sleman – Jogjakarta. Atau berada di Jl. Laksda Adisucipto, Jogjakarta. Untuk sampai ke sini cukup naik TransJogja saja dan turun di halte seberang jalan Ambarrukmo Plaza.

Saat saya main ke Amplaz (istilah kerennya) hal pertama yang ingin dikunjungi pastinya gedung bioskopnya. Karena bioskop terdekat di kotaku hanya ada di Purwokerto setelah itu ya Jogjakarta. Ngeness banget ya… Karena bukan kali pertama mengunjungi Amplaz jadi tidak terlalu malu-maluin lah.

Makan Di Solaria

Karena saat itu perut laper, setelah membeli tiket bioskop sembari nunggu jadwal tayang saya terlebih dahulu menuju restoran Solaria (sumpah nulis ini karena pengalaman pribadi, bukan ngiklan hehehe). Karena selain terdapat nasi dalam daftar menunya, juga banyak pilihan masakan yang bisa dinikmati. Setelah memesan kalau nggak salah saat itu nasi yang ditambah aneka macam seafood diatasnya. Sebenarnya saya mempunyai riwayat alergi terhadap hewan udang, syukurlah saat itu nggak kejadian.

Menu yang saya pesan saat makan di Solaria

Menu yang saya pesan saat makan di Solaria

Ini baru pertama kali juga lho makan di restoran Solaria, itu juga atas rekomendasi teman saat itu selain karena daftar menunya juga. Karena lidah saya sangat njawani banget alias suka dengan masakan yang dominan manis menu yang saya pesan saat itu kurang cocok. Cuma asin plus dominan rasa bawang putih yang mentah serta terlalu banyak penyedap rasanya. Walhasil saya hanya makan beberapa suap saja. Daftar harganya sih masih terjangkau menurutku  jadi nggak masalah walau makanannya kurang enak menurutku.

Nonton Film Di 21 Cineplex

Setelah mengisi perut yang hanya beberapa suap saja acara selanjutnya adalah nonton film. Ada kejadian lucu saat mau menonton film, saat itu daftar film yang akan diputar salah satunya adalah bergenre horror.

Nih film 13 yang horror itu

Nih film 13 yang horror itu

Saya pikir film tersebut berasal dari luar negeri karena kalau dilihat sekilas judulnya “13”. Saya juga baru ngeh ketika melihat poster yang tertempel di lorong menuju pintu bioskop dan ternyata ini adalah film horror Indonesia. Pantesan mbak-mbak yang jaga counter tiket tadi menyeletuk, “mas, nanti kalau yang mau nonton film ini cuma mas saja apa nggak apa-apa?” dengan polosnya saya menjawab “ ya nggak apa-apa mbak, karena saya penasaran kok” padahal aslinya saya nggak tau kalau itu film horror Indonesia.

Bukan nggak suka dengan film-film Indonesia kok, hanya genre nya itu yang kadang berisi horror dibumbui esek-esek.

Pas jam pemutaran film dimulai, benar saja saat itu hanya ada 4 orang penonton yang akan menonton film ini. Walhasil dalam bioskop, kursinya kosong-song hehehe dan hanya terisi 4 orang saja. Karena terpaksa ya ditonton saja filmnya sampai akhir, toh karena ada adegan seksinya jadi suka juga hahaha.

Ngopi-Ngopi Ganteng Di Gerai Kopi Starbuck

Setelah terpaksa nonton film tadi dan (keenakan) saya melanjutkan untuk ngopi-ngopi cantik , ganteng maksudnya, mengambil  istilah anak muda kekinian. Dan mampirlah saya ke gerai kopi yang super terkenal itu, ya tak lain dan tak bukan adalah Starbuck (lagi-lagi ini bukan ngiklan).

biar keren sambil baca buku dong

biar keren sambil baca buku dong

Ini juga karena saat itu janjian dengan teman ketemuan di gerai kopi ini. Selain itu juga karena temenku itu punya beberapa voucher MAP yang belum digunakan jadi ya daripada mubazir dipakai saja. Pokoknya saat itu saya hanya pasrah saja apa yang dipesankan oleh temenku itu. Selain nggak suka ngopi dalam keseharian juga mana ada gerai Starbuck di kota ku.

Saat itu yang dipesankan oleh temenku adalah 2 kopi dingin dengan topping yang macem-macem serta beberapa potong kue coklat. Padahal saat itu cuaca Jogja sedang hujan lebat-lebatnya ya kok malah pesan yang dingin-dingin hehehe.

Oke mari lanjut jalan lagi setelah ngopi-ngopi cantik eh ganteng maksudnya. Rasa penasaran akan tontonan film yang berkualitas pun berlanjut. Ya kali ini saya akan nonton film lagi tapi berdua dengan temenku. Untuk yang ini beneran film luar kok, judulnya saja “Chappie” film yang mengisahkan tentang robot di Afrika Selatan.

Nah setelah beli tiket lagi, *mungkin si mbak-mbak penjaga counter penjualan tiket heran, kok lu lagi lu lagi* kali ini jadwal pemutarannya tidak harus nunggu lama. Baru jalan dikit saja eh, suara pengumuman pintu bioskop dari mbak-mbak sudah samar-samar terdengar. Karena film ini masih premier jadi yang nonton lumayan banyak, dari anak-anak tua-muda juga ada. Pokoknya hampir 90% kursi penuh saat itu.

Baru saja film diputar sekitar 15 menit eh perut ini kok mules banget, sialll ini pasti gara-gara minum kopi dingin yang mahal tadi. Langsung saja setelah beranjak dari kursi, lari seribu langkah menuju toilet terdekat. Hampir 5 menit lebih saya berada di dalam toilet. Mungkin dipikir orang lagi semedi ya di sana.

Tuh kan jadi ke skip beberapa adegan film tadi. Tapi nggak apa-apa yang penting perut sudah tidak mules lagi.

Cari Buku Di Gramedia

Setelah puas nonton tujuan berikutnya adalah mencari buku. Maklum saya orangnya memang rajin baca buku, menabung juga baik hati hehehe. Nah kalau yang ini memang sudah diniatkan saat berkunjung ke Jogja, salah satunya harus wajib beli buku.

beli buku beginian

beli buku beginian

Terus mau cari buku apaan? Kali ini saya lagi cari bukunya mas Ahmad Ghozali yang judulnya “Habiskan Saja Gajimu”. Wih berat banget sih bukunya? Nggak kok hanya beberapa puluh halaman saja hehehe. Ternyata eh ternyata buku yang saya cari sudah nggak ada alias kosong. Agak kecewa sih tapi karena sudah masuk ke Gramedia pokoknya saat keluar harus beli buku titik.

Oke setelah muter-muter dan memilih beberapa judul buku, akhirnya saya membeli buku perencanaan keuangan. Entah kenapa saya suka sekali dengan hal-hal yang berkaitan dengan perencanaan keuangan. Saat itu sudah dapat 2 buah buku yang menurutku cocok kemudian tinggal bayar dan melanjutkan lagi jalan-jalan berikutnya.

Makan Lagi Di Michigo (Korean Food)

Karena hampir beberapa jam muter-muter dan aktivitas yang padat banget *halah padahal habis nonton makan terus makan lagi*, perut jadi lapar lagi tuh kan. Lha kan tadi sudah makan? Tapi kan tadi dikeluarkan lagi karena mules, jadi wajar dong lapar lagi.

Menu yang saya pesan di Solaria

Menu yang saya pesan di Michigo

Kali ini saya dan temenku ingin mencicipi masakan khas negeri gingseng Korea. Atau tepatnya di restoran Michigo. Selain karena restorannya yang kece, mbak-mbak yang jaga juga bening, eh. Kami akhirnya mampir juga setelah kena bujuk rayu si mbak-mbak yang sedang membagikan brosur “mas, silakan mampir, harga makanannya lagi diskon lho” si mbak menawarkan brosur  sambil berbicara.

Tapi beneran lagi diskon kok, menunya juga macam-macam. Setelah memilih dengan bingungnya, saya memutuskan memesan semacam nasi dengan potongan ayam yang dilumuri tepung terus digoreng. Selain itu juga dengan semacam salad sayur plus semangkok kecil sup segar berisi telur dan sayuran.

Sementara itu temenku pesan nasi plus udang besar yang digoreng dengan tepung roti. Kali ini pilihan kami tidak meleset karena memang masakan Korea ini sudah disesuaikan dengan lidah orang Indonesia. Masakannya tidak terlalu manis juga tidak terlalu asin, pokoknya sedang-sedang saja.

suasananya hangat dengan kayu-kayu sebagai interiornya

suasananya hangat dengan kayu-kayu sebagai interiornya

Selain itu, interior restoran ini cukup unik dengan dinding-dinding kayu yang hampir ada di setiap sudut. Semakin menambah hangat suasana Jogja yang dingin karena hujan. Tentunya kalau mendengar kata Korea, identik dengan musik K-Pop nya yang mendunia. Begitu pun di sini, musik-musik K-Pop diputar terus menerus menemani pengunjung menikmati sajian makanan.

Saat itu total harga yang harus kami bayar untuk 2 porsi makanan yang kami pesan tidak lebih dari Rp 70,000,-. Menurutku sebanding antara harga dengan rasa masakannya.

Saat tulisan ini dibuat, sayang sekali karena restoran Michigo cabang Amplaz telah tutup. Jadi sepertinya restoran ini akan menjadi kenangan yang indah sampai kapanpun.

Cari Yang Hangat-Hangat Di Jco Donnuts

Di area ground floor Ambarrukmo Plaza saat itu sedang mengadakan pameran batik. Mulai dari pakaian dewasa hingga anak-anak tersedia dengan motif batik yang beragam. Kami hanya melihat-lihat saja tanpa membeli satu pun.

Walaupun menikmati hidup, ibadah jangan lupa ya teman. Kami mencari mushola di area Ambarrukmo Plaza untuk menunaikan sholat wajib. Lokasinya jauh berada pada area parkir basement selain itu juga hawa di sini panas banget, maklum tidak ada AC sama sekali. Tapi lumayanlah, musholanya bersih dan terawat dengan baik. Alhamdulillah ternyata banyak juga orang-orang yang ingin menunaikan kewajiban alias musholanya penuh.

tapi donatnya masih hangat kok

tapi donatnya masih hangat kok

Setelah sholat, kami mencari sesuatu yang anget-anget. Kali ini kami memutuskan ngemil di Jco Donnuts sambil menunggu hujan reda. Kami pesan 4 roti donat dengan topping yang beragam serta 2 gelas minuman coklat hangat. Sementara temenku sibuk menikmati donat sambil bermain gadget, saya memilih menikmati coklat hangat sambil membaca buku yang tadi dibeli.

Hujan tidak kunjung reda, padahal cemilan kami hampir habis. Setelah membayar donat yang kami pesan, kami memutuskan mencari taksi saja daripada kemalaman karena menunggu hujan reda. Jarum jam di tangan menunjukan pukul 21.00 malam. Gila…hampir seharian saya di Ambarrukmo Plaza ini sampai lupa waktu.

***

Kami menunggu antrian taksi hampir 15 menit-an saking banyaknya pengunjung yang ingin pulang naik taksi juga. Giliran kami pun tiba, taksi yang kami pesan lewat juga di depan Amplaz. Malam itu hujan di sepanjang jalan kota Jogja. Kemacetan pun dimana-mana. Syukurlah macet tidak berlangsung lama. Setelah taksi sampai di depan penginapan, saya hanya membayar argo taksi sebesar Rp 30,000.

Bergegas saya menuju penginapan di tengah hujan deras malam itu. Badan serasa lelah selain itu juga ingin segera mandi karena lengket dengan kotoran dan keringat.

Itulah tadi cerita saya seharian di Amplaz Jogja menikmati sisi lain kota ini. Sesekali boleh saja menikmati Jogja dengan cara tadi. Apalagi untuk saya sendiri yang aslinya tinggal di kampung dan jika pun ke kota kabupaten tidak banyak pilihan hiburan. Akan tetapi jika sering yang ada duit cepat habis bak kepulan asap rokok hehe. Jadi tetap bijak dalam mengatur keuangan ya..seperti isi buku tadi yang saya beli dan baca.

Advertisements

2 thoughts on “Apa Yang Bisa Dilakukan di Amplaz Seharian?

  1. mawi wijna

    Hedon tenan uripmu Bro, ng Amplaz seko esuk nganti wengi, wakakak XD.
    Nek nggawa kendaraan dewe wis piro kae ongkos parkir e. Gek2 ditakoni ro sing jaga parkir, “ora nginep sisan po Mas ng Ambarukmo ben sesuk dolan Amplaz neh iso luwih gasik?”

    Eh, kuwi kok isih ono Michigo? Sakngertiku sing mbiyen Michigo kae (cerak foodcourt) tutupan?

    Like

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      hahaha untunge ngecer numpak transjogja mangkate, terus baline numpak taksi. La kebanjur musim udan dolan ngendi meneh. Iya itu sebelum resto itu tutup dan pindah ke babarsari. Untunge ra enek sing takon-takon hehehe

      Like

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s