“Bencana Alam” di Hutan Pinus Baturraden

 

Kebun raya Baturraden l Sumber foto : mongabay.co.id

Kebun raya Baturraden l Sumber foto di sini

Pagi itu, akhir bulan November tahun 2013, masih teringat jelas dalam pikiranku walaupun sudah beberapa tahun yang lalu. Iringan mobil pribadi satu persatu keluar dari gang sempit kampung.

Tiap mobil terisi kira-kira 5 orang dewasa, ya lumayan tidak terlalu berdesakan lah.

Jika beruntung, beberapa orang bisa merasakan bagaimana rasanya naik mobil tipe terbaru. Saya termasuk orang yang bisa dibilang kurang beruntung karena saat itu kebagian mobil yang sudah tua apalagi bermesinkan diesel. Akan tetapi bersyukur juga karena biar mobil tua tapi tidak mogok di tengah jalan, toh akhirnya saya sampai juga ke tempat tujuan.

Karena semalam habis hujan yang cukup lebat, suasana jalan pagi itu agak becek. Tapi hawanya menjadi cocok sekali untuk dinikmati karena adem sejuk dan semilir angin yang perlahan berhembus. Dan satu lagi yang mendukung yaitu kondisi jalan yang halus tidak ada lubang sama sekali wih..jarang banget nemuin kondisi seperti ini.

Ketika iring-iringan mobil sudah sampai kota Purbalingga, kami harus menunggu rekan-rekan lain yang mau ikut lewat kota ini. Tujuan kami hari ini adalah ke bumi perkemahan di hutan pinus kawasan Baturaden, Purwokerto.

Rute yang akan kami lewati nantinya akan menanjak karena kami menuju lokasi yang berada pada dataran tinggi di lereng Gunung Slamet. Ketika iring-iringan mobil sudah hampir mendekati lokasi tujuan, kami disuguhi pemandangan peternakan sapi yang dibiarkan bebas berkeliaran di padang rumput yang luas. Wih…jarang sekali melihat pemandangan seperti ini sebelumnya.

Sementara itu di pinggir jalan yang berkelok-kelok terdapat banyak penginapan serta vila  yang berjejer rapi di antara hutan pinus milik Perhutani. Kayaknya tempat ini cocok untuk pasangan yang ingin berbulan madu. Selain hawanya sejuk suasananya juga romantis. Makanya sepanjang jalan banyak terlihat pasangan muda-mudi yang sedang asik berpacaran. Wih…cuma bisa ngiler melihat mereka asik bermesraan, lah wong pacarannya di pinggir jalan gitu.

Emang ada acara apa di sana? Kami akan mengikuti pelatihan kegawatdaruratan penanganan bencana alam. Maklum sebagian besar wilayah kabupaten Banjarnegara merupakan daerah yang rawan bencana. Apalagi mayoritas lahan di sini adalah berbukit-bukit dengan kontur tanah yang labil ketika musim penghujan tiba.

Masih ingat kan bencana longsor di  desa Sijeruk, Banjarmangu beberapa tahun lalu? Pastinya tau lah karena saat bencana ini terjadi, beberapa media tv dan cetak meliput kejadian ini berhari-hari.

Terus agenda apa saja yang dilakukan di sana? Tentunya banyak sekali agenda yang sudah disiapkan panitia saat kami tiba. Yang pertama adalah tentunya pemberian materi dahulu oleh pakar kebencanaan. Karena lokasinya di dataran tinggi jadi kegiatan awal yang lumayan serius tersebut menjadi sedikit berbeda dan tidak monoton.

Acara berikutnya adalah permainan yang melatih kekompakan (ini benar-benar menyenangkan banget, nggak seperti di Pantai Batu Karas dulu kok). Peserta yang saat itu berjumlah hampir 45 orang harus berbaris rapi membentuk lingkaran. Sementara itu sang pelatih berdiri di tengah-tengah barisan sambil memberikan penjelasan.

Ada sesi dimana beberapa peserta diberikan kesempatan untuk sekedar bercerita mengenai dirinya. Kemudian dilanjut dengan permainan melatih konsentrasi dan kewaspadaan satu sama lain. Jadi tiap peserta mulai dari ujung kanan menyanyi kemudian bergantian dengan teman di sebelahnya. Jika pas teman yang di sebelah kebagian jatah menyambung lagu, maka dia harus melanjutkannya dan jika salah maka akan kena hukuman, begitu seterusnya. Nah…di sinilah momen kehebohan tersebut dimulai karena ketika ada yang kena hukuman, membuat peserta yang lain ikut riuh berteriak-teriak.

Ada juga permainan gendong-gendongan, iya gendongan. Jadi tiap peserta harus punya pasangan yang akan menggendong dirinya ketika sang pelatih memberikan aba-aba tanda berhenti untuk menyanyi. Kebayang dong kalau pas kebagian harus bergendongan dengan lawan jenis entah itu ibu-ibu atau yang masih muda hehehe. Wih…makin ke sini makin ramai pokoknya. Mana ada juga peserta yang harus digendong sama atasannya lagi hehehe kapan lagi coba bisa dapat kesempatan langka seperti ini.

Permainan berikutnya adalah melatih konsentrasi dengan cara tiap peserta dibagi dalam 2 kelompok yang masing-masing terdiri dari 10 orang. Tiap 10 orang tadi harus berdiri pada 2 buah bilah bambu yang sudah tersedia.

Titik kesulitannya adalah, peserta harus mengurutkan nama dari awal abjad A sampai Z. Jadi jika nama peserta berawalan A tapi berada di ujung, maka peserta harus berpindah tanpa kaki menyentuh tanah menuju ujung yang satunya.

Peserta diperbolehkan melompati rekan di sampingnya atau bisa juga saling berpelukan ketika akan bergerser. Nah…lagi-lagi karena pesertanya dicampur cowok-cewek maka bisa anda bayangkan sendiri gimana hebohnya saat itu hehehe. Belum lagi harus melangkahi kepala bos kita yang ada di samping hehe.

Karena hari sudah siang dan juga sudah masuk waktu makan siang, peserta satu persatu beristirahat menuju pendopo di puncak bukit. Di sana sudah tersedia aneka macam hidangan mulai dari ikan laut, ayam, lalapan, sambel dan sop segar. Untuk hidangan pencuci mulut juga tersedia aneka macam kue-kue kecil, buah-buahan. Untuk mengusir hawa dingin pegunungan, panitia telah menyiapkan aneka minuman hangat mulai dari kopi, teh hangat dan jahe susu.

Setelah peserta istirahat makan dan menunaikan sholat dzuhur, kegiatan berikutnya dilanjutkan. Kali ini peserta akan diuji keberaniannya dengan menaklukan ketinggian.

Ya..permainannya adalah Flying Fox yang berada pada bukit di antara pohon pinus. Peserta harus meluncur dari ketinggian tadi dan akan turun di pinggir tempat istirahat. Memang tidak tinggi-tinggi banget tapi ketika kita sudah berada di atas, nyali kita sekali lagi diuji hehe.

O ya sebelumnya tiap peseta harus mengenakan alat keselamatan tentunya. Selain itu untuk yang mempunyai penyakit jantung serta punya berat badan yang berlebihan maka tidak diperbolehkan menjajal permainan ini.

Tapi ada juga peserta ibu-ibu yang sudah berumur 50 tahun, namanya ibu Yanti dengan berani beliau terjun dari ketinggian dan Alhamdulillah aman hehehe, salut pokoknya beliau. Saya sendiri juga agak deg-deg an ketika sudah antri pas naik ke atas. Alhamdulillah pas sudah meluncur malah asik banget dan bikin ketagihan pokoknya.

Nah..setelah beberapa permainan tadi, peserta akhirnya memasuki inti dari pelatihan penanganan saat terjadi bencana. Tiap peserta dibagi dalam beberapa kelompok yang terdiri dari 7 orang campur cowok-cewek. Peserta akan ditantang untuk mencari jejak dengan menaiki  bukit di antara belantara pohon pinus.

Ditiap-tiap pos peserta akan ditantang oleh panitia untuk menyelesaikan aneka macam permainan. Antara lain membuat tandu dan menggotong peserta yang seolah-olah mengalami kecelakaan. Momen pas di sinilah tiap peserta diuji kemampuan dan kerjasamanya karena dengan peralatan sederhana dan medan yang tidak mudah, mereka dituntut harus bisa menyelesaikan tantangan tepat waktu.

Antara pos satu dengan pos lainnya tantangan yang diberikan panitia berbeda-beda dan semua peserta harus bisa melaluinya hingga diperbolehkan melanjutkan perjalanan berikutnya. Persis saat jaman Pramuka dulu, ketika siswa-siswa mengikuti acara “mencari jejak”.

Total ada 4 pos dengan masing-masing tantangan yang berbeda-beda. Saya saja yang notabene masih muda harus ngos-ngosan saking capeknya. Kasihan ketika melihat  peserta yang sudah tua harus mendaki bukit dengan medan yang licin dan di antara semak belukar. Saat itu benar-benar sedikit merasakan bagaimana rasanya menjadi relawan saat terjadi bencana alam.

Setelah beberapa jam kelelahan dan berkeringat, pelatihan pun berakhir. Jarum jam tangan saat itu menunjukan pukul 15.00 sore ditambah cuaca di sekitar hutan yang mendung dan gelap.

Setelah beristirahat sebentar dan membersihkan diri, peserta satu persatu menikmati sajian minuman hangat di antara cuaca dingin dan mendung. Sesi berikutnya adalah acara penutup kegiatan selama hampir seharian. Kemudian dilanjutkan dengan berfoto bersama di atas bukit dengan rumput yang hijau serta background pepohonan pinus milik Perhutani.

Satu persatu mobil yang membawa peserta meninggalkan kawasan hutan milik Perhutani. Baru saja mobil berjalan beberapa ratus meter, kami disambut hujan lebat disertai petir. Brrrr.. antara hawa panas di dalam mobil bercampur dengan hawa dingin karena hujan.  Belum lagi sekujur tubuh yang mulai terasa pegal-pegal, maklum banget jarang bekerja berat seperti ini.

Setelah hujan mulai reda dan mobil kami sudah sampai kota Purbalingga, beberapa ibu-ibu mampir ke toko roti untuk berbelanja. Saya hanya tiduran saja di dalam mobil saking capek dan ngantuknya.

Ketika mobil sudah hampir sampai rumah, di kanan-kiri jalan terlihat pohon-pohon dan ranting yang berserakan karena hujan disertai angin tadi. Ternyata saat itu hujan angin merata dari daerah Baturaden, Purbalingga hingga Banjarnegara. Syukurlah, hujan angin tadi tidak menimbulkan kerusakan yang cukup berarti.

Apakah ini tanda jika pelatihan penanganan bencana tadi harus selalu diingat dan jika diperlukan suatu saat nanti harus dipraktekkan?

Advertisements

4 thoughts on ““Bencana Alam” di Hutan Pinus Baturraden

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s