adem banget dari pinggir tebing ini

Mencari Susi Pudjiastuti Dari Pantai Pangandaran Hingga Pasir Putih

Sore itu matahari sudah hampir berada di ujung barat. Perlahan tapi pasti Bis yang kami tumpangi berjalan menyusuri jalanan menuju Pangandaran yang tidak mulus serta berdebu.

Walaupun bis sudah memasang AC, tapi saat itu hawanya masih panas. Banyak yang berkipas-kipas memakai barang  seadanya. Mulai dari buku, topi, atau kertas karton, pokoknya apa saja asal bisa digunakan.

Setelah memasuki kawasan wisata pantai yang berada di daerah Pangandaran, terlihat sisa-sisa kejayaan beberapa tahun lalu saat infrastruktur menuju daerah wisata dibangun. Kanan kiri jalan terlihat bangunan-bangunan serta taman yang kalau dilihat lebih seksama kondisinya sudah tidak terawat dan dibiarkan mangkrak.

Kami pikir, perjalanan berikutnya adalah ke Pantai Batu Hiu yang notabene pantainya masih sepi, sejuk dan tidak terlalu ramai. Tetapi tujuan berikutnya sudah makin jelas terlihat, kami akan menuju pantai Pangandaran.

Masih ingat betul, saat itu merupakan masa-masa awal  pemerintahan kabinet kerja Jokowi-Jk. Sudah bisa ditebak kalau menyebut nama Pangandaran, semua orang akan tertuju pada sosok wanita tegas dan juga seorang pengusaha sukses.

Ya..Susi Pudjiastuti, nama ini seakan identik dengan Pangandaran. Seorang pengusaha perikanan serta pemilik maskapai penerbangan Susi Air. Sejak beliau diangkat menjadi menteri kelautan dan perikanan oleh kabinet kerja Jokowi–JK, kepopulerannya makin bertambah. Sepanjang jalan menuju pantai Pangandaran pun, kami asik membahas sepak terjang beliau mulai dari yang cuma tamatan SMP hingga kekayaannya yang wah.

Tak terasa karena terlalu asik membahas beliau, bis kami sudah sampai ke tempat tujuan. “Selamat datang di Pantai Pangandaran”.  Suasana pantai pangandaran saat itu sudah mulai sepi pengunjung. Selain saat kami sampai sudah sore, sepertinya karena hawa panas yang menerpa kawasan Pangandaran membuat orang enggan keluar rumah.

Hanya ada deretan pedagang-pedagang mulai dari yang beratapkan terpal hingga yang sudah permanen. Sementara itu di seberang terdapat hotel-hotel yang beragam, mulai dari kelas melati hingga hotel berbintang. Ah…kami bergumam…”apa salah satu hotel megah di sini kepunyaan bu Susi ya?”. Hmmm pikiran kami belum bisa lepas memikirkan sosok bu Susi.

Kami termasuk telat melihat pantai, sementara yang lain sudah berada di pinggir pantai. Saya, mas Udin dan Rois memilih berkeliling dahulu melihat-lihat jalanan pinggir pantai Pangandaran menggunakan sepeda yang bisa ditunggangi oleh 3 orang. Cukup membayar sewa Rp 15,000 saja untuk berkeliling menikmati cuaca panas serta semilir angin.

Niat awal mencari pantai yang lumayan sepi di ujung sana “kata mas Udin,” akan tetapi setelah berputar-putar selama 15 menit, tanda-tanda keberadaan pantai “khayalan” tersebut tidak kami temui keberadaannya. “Ah..mungkin mas Udin cuma berkhayal”,  sahutku dalam hati.

Nafas sudah ngos-ngosan karena mengayuh sepeda ditambah cuaca panas membuat kami segera mengakhiri bermain sepeda. Tanpa pikir panjang kami langsung saja menuju pinggiran pantai. Pantai yang kami bayangkan tidaklah seperti pantai yang berpasir putih dengan suasana tenang. Yang ada hanyalah pasir hitam dengan ombak yang besar serta dijadikan sandaran kapal-kapal nelayan.

***

Menyeberang Ke Pantai Pasir Putih

“Ah..kalau begini mana asik buat  main-main di pinggir pantai” gumamku menggerutu. Kami pun berinisiatif menyewa kapal untuk menyeberang ke pulau sebelah yang jaraknya tidaklah jauh. Pantai pasir putih namanya. Untuk menyewa kapal, tiap orang dikenai tarif Rp 15,000 per orang.

Saat itu kami terdiri dari sepuluh orang dewasa yang berombongan menuju pantai pasir putih. Yang lain sih mungkin biasa saja menikmati ganasnya ombak pantai selatan. Tapi bagi saya ini merupakan pengalaman pertamaku naik kapal di tengah lautan. Sebelumnya saya pasti menolak, karena selain tidak bisa berenang juga ngeri lihat ombak plus dalamnya lautan lepas ihhh bikin merinding pokoknya.

Setelah dibujuk oleh teman-teman akhirnya saya memutuskan ikut naik kapal, pertimbanganku adalah nekat saja dan karena disediakan rompi pelampung jadi merasa aman lah. Setidaknya jika kemungkinan terburuk adalah tenggelam, amit-amit* *ketok-ketok meja* jumlah kami yang banyak minimal bisa saling membantu saat tercebur ke laut.

Untuk menggerakan kapal di pinggir pantai yang ombaknya besar itu penuh pengorbanan dan perjuangan lho. Tidak cukup sekali kapal didorong dan mesin dinyalakan agar bisa bergerak melawan arus ombak yang berlawanan. Walhasil setelah badan kami basah kuyup terkena air dan mencoba beberapa kali akhirnya kapal bisa melewati ombak.

Hmmm kalau sudah hampir di tengah gini kondisi kapal sudah mulai stabil dan saya bisa melihat terumbu karang dari atas kapal. Wah…ternyata laut itu indah juga “maklum pengalaman pertamaku” air jernih banget hingga ikan-ikan terlihat jelas.

Tidak butuh waktu lama hingga kami sampai di pinggir pantai pasir putih. Benar-benar pasirnya putih bersih walaupun tidak halus dengan ombak yang tenang. Walaupun pantai ini tidak terlalu luas akan tetapi karena suasana yang sepi  saat itu menjadikan pantai ini favorit orang-orang.

Dengan latar belakang pepohonan bakau khas pesisir menjadi suatu kombinasi yang pas menyejukan hawa panas khas pantai. Sementara itu terlihat juga beberapa ekor monyet penunggu pantai ini yang sedang berkeliaran mencari makan.

Saat di sini kami lebih asik berfoto ria dengan pose yang aneh-aneh. Maklum sifat asli kami keluar semua saat itu. Tua muda berbaur jadi satu, tidak ada sekat. Mereka mungkin lupa kalau ada keluarga dan anak di rumah hehehe.

DSC_0136

Pasirnya beneran putih lho

Ada juga beberapa orang yang menyewakan peralatan untuk snorkeling di pinggir pantai. Akan tetapi kami hanya menikmati pasir putih serta semilir angin dan juga ombak yang tenang sore itu. Tidak lupa juga untuk berfoto-foto bersama mengabadikan keindahan. Ya..walaupun kebanyak foto groufie hingga lupa berfoto dengan indahnya pemandangan pantai.

Hari makin sore, matahari pun sudah mulai tidak terlihat. Kami pun harus bergegas pergi meninggalkan pantai yang indah ini sebelum kapal sewa kami satu persatu pergi. Ah..rasa takut itu perlahan berubah menjadi rasa takjub melihat keindahan alam ciptaan Tuhan.

Kami bergegas menuju bis untuk membersihkan diri dan berganti baju. Karena kamar mandi terbatas, kami harus rela antri satu persatu hanya sekedar untuk membilas tubuh dari hawa panas. Sementara yang lain sedang asik berbelanja hasil laut di toko yang tersedia di pinggir jalan.

Hari makin gelap, perlahan bis kami meninggalkan pantai Pangandaran menuju kota kami berasal, Banjarnegara. Semua orang terlihat kelelahan malam itu setelah seharian menikmati panasnya cuaca pinggir pantai. Saya sendiri sampai rumah sekitar pukul 01.00 dini hari, wih..udah larut malam padahal besoknya harus langsung masuk kerja.” Tetap semangat” membatin dalam hati, padahal fisik sudah sangat kelelahan malam itu.

Advertisements

7 thoughts on “Mencari Susi Pudjiastuti Dari Pantai Pangandaran Hingga Pasir Putih

  1. cumilebay.com

    Jakarta pangandaran, duduk cakep di velakang sukses bikin gw mual ama jalanan berkelok2 dan akhir nya gw nyetir aja aman hehehe
    Jadi kangen makan seafood di pantai pangandaran

    Like

    Reply
  2. Akarui Cha

    Rencananya hari ini insha Allah saya mau ke Pangandaran. Habis baca post ini jadi makin ga sabar. Bismillah, semoga liburan singkat saya menyenangkan.

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s