suasana rumah makan lesehan pinggir sungai

Green Canyon, Kami Datang

Petang itu, sehabis sholat isya suasana langit sore sudah semakin gelap.
Langit yang tadinya berwarna merah jingga perlahan berubah menjadi gelap.
Langit pun bertransformasi menjadi penuh kelap-kelip bintang yang tidak teratur, namun selaras.
Perlahan sinar bulat putih muncul dari balik awan hitam, sang bulan sudah menampakan dirinya dari tidurnya.
Malam ini memasuki bulan purnama, keadaan dimana bulan terlihat penuh.
Sepertinya alam memberikan restu pada manusia malam ini untuk menikmati keindahan sang pencipta.
Langit perlahan bersih dari awan gelap sehingga bintang dan bulan saling berharmoni menjadi suatu kesatuan yang indah.

Saya sudah bersiap-siap dengan tas besar di punggung, motor pun sudah siap. Tinggal jaket saja sebagai penghangat cuaca malam yang kadang dingin menusuk tulang. Ya, malam ini saya akan bepergian jauh menuju saudara sang jawa bagian barat. Kali ini saya berkesempatan mencicipi sedikit keindahan salah satu kabupaten di pesisir Jawa Barat, Pangandaran.

Karena titik pertemuan berada di kecamatan tetangga dan perlu menempuh perjalanan sekitar 30 menit, saya meminta diantar saja oleh pamanku. Selain lebih aman karena tidak perlu repot mencari tempat penitipan motor, tentunya tinggal duduk manis di jok belakang motor.

Tepat pukul 19.30 perjalanan dari rumah dimulai. Perlu 30 menit hingga sampai di desa Tapen. Salah satu titik pertemuan sebelum keberangkatan. Karena saya orangnya lebih suka tepat waktu alias lebih baik sampai dulu di tempat yang telah ditentukan daripada harus menjadi orang yang ditunggu. Walhasil saya menjadi orang nomor dua yang sampai duluan di titik pertemuan tadi.

Saya pikir bis yang sedianya akan membawa kami menuju Pangandaran sudah standby, ternyata malah belum ada tanda-tanda keberadaannya. Satu persatu peserta trip mulai berdatangan dengan kendaraan masing-masing. Ada yang membawa mobil sendiri, ada juga yang diantar oleh anggota keluarganya.

Kami harus menunggu  bis lebih dari 1 jam di antara jalan perempatan. Ada juga yang duduk-duduk sambil ngobrol sepanjang trotoar jalan raya. Sementara yang lainnya sibuk membeli perbekalan berupa aneka jajanan. Maklum kebanyakan peserta trip kali ini mayoritas ibu-ibu. Ada yang sempat juga bawa termos katanya untuk bikin kopi.

Akhirnya bis yang ditunggu-tunggu perlahan terlihat dari kejauhan. Saya pikir cuma bis yang biasa digunakan untuk pelesiran sehari-hari. Wah..ternyata kali ini bis nya masih baru dengan body yang lumayan bongsor.

bis terkeren yang pernah saya naiki

bis terkeren yang pernah saya naiki

Sekilas bis ini sepertinya masih baru. Benar saja baik dari tampilan interior maupun eksterior terlihat jelas kalau ini memang benar bis baru. Setelah ditelisik lebih lanjut benar juga perkiraanku ternyata ini bis merek Scania yang terkenal itu. Pantas terlihat sangat mewah dan berkelas sekali menurutku.

Dasar orang yang terbiasa naik bis yang kondisinya ancur-ancuran, baru saja diparkir sudah pada berebut mau masuk hehehe. Mungkin takut nggak kebagian tempat duduk kali ya? Termasuk saya juga begitu kok hehehe.

Sebenarnya jarang sekali bepergian pas malam hari apalagi acara trip seperti  ini. Kekurangannya ya jadi nggak bisa melihat pemandangan sepanjang perjalanan menuju tempat tujuan. Oh ya sebenarnya acara trip seperti ini sudah menjadi agenda rutin tiap tahun di kantorku. Tahun-tahun sebelumnya lokasi kunjungan yang dekat-dekat saja. Tapi kali ini sepertinya ingin suasana dan pengalaman baru jadi ya dipilihlah Pangandaran sebagai tujuan trip tahun ini.

Nggak tua muda tiap kumpul pasti sifat konyol mereka keluar, begitu pun saat ini. Ketika dalam keseharian antara atasan dengan bawahan ada sekat yang membatasi. Kali ini semua melebur menjadi satu..ya kita semua sama rata sama rasa. Semua bercanda dan tertawa bersama-sama, apalagi hampir semua peserta laki-laki berada di bagian belakang semua.

Sementara untuk peserta perempuan duduk di kursi bagian depan semua. Mereka kebanyakan pada ngemil sambil foto-foto. Hmmm sepanjang jalan musik dangdut menemani kami semua memecah keheningan malam sepanjang jalan.

Ketika perjalanan mulai mendekati kabupaten Pangandaran, hal pertama yang kami rasakan adalah jalannya berkelok-kelok dan bergelombang. Malah pada jalan raya tertentu sedang proses pembetonan, walhasil bis kami kendarai harus antri bergantian dengan kendaraan lain. Memang saat malam begini malah saat yang tepat untuk proses pengerjaan perbaikan jalan.

Rombongan bis kami sampai di Pangandaran sekitar pukul 04.30 pagi. Kami istirahat di salah satu penginapan sederhana persis di pinggir obyek wisata green canyon yang terkenal itu. Kebanyakan masih pada ngantuk karena menempuh perjalanan yang lumayan jauh. Malah ada yang tidur lagi sementara yang lain bersiap-siap menunaikan kewajiban sholat subuh.

pemandangan pagi hari sekitar tempat istirahat

pemandangan pagi hari sekitar tempat istirahat

Tujuan pertama kami adalah obyek wisata green canyon, tapi sebelumnya kami sarapan dahulu di pinggir aliran sungai persis dekat obyek wisata tadi. Menunya ya kebanyakan khas sunda seperti lalapan sambal juga aneka macam hasil laut.

Oh ya walaupun Pangandaran secara administratif sudah masuk wilayah Jabar akan tetapi masih ada orang yang berdialek bahasa ngapak Banyumasan. Lucu juga sih pas denger ada yang ngomong ngapak.

Sebelum naik kapal berukuran kecil menuju green canyon, para peserta terlebih dahulu dibagi dalam beberapa kelompok. Selain karena kapasitas kapal yang hanya muat untuk maksimal sepuluh orang tentunya juga agar memudahkan dalam pengawasan.

Kesan pertama melewati aliran sungai ini adalah sejuk, dengan warna air yang berwarna hijau. Sementari di pinggir sungai banyak pohon lebat dari berbagai ukuran. Selain itu mudah ditemui tanaman semacam pandan-pandanan di sepanjang aliran sungai. Sesekali kita juga bisa melihat hewan biawak yang sedang mencari makan di pinggir sungai.

Tidak butuh waktu lama untuk kami sampai di lokasi tujuan. Yah..inilah green canyon sebuah keajaiban alam menurutku. Suasana di sini sejuk tapi lama kelamaan dingin juga. Yang lucu adalah hampir 90% dari kami yang notabene orang pegunungan adalah tidak bisa renang sama sekali. Untunglah kami diselamatkan oleh pelampung-pelampung yang  sudah dipakai sebelumnya.

Kalau ingin lihat sifat asli seseorang, menurutku inilah momen yang sebenarnya. Tua-muda, mas-mas, mba-mba hingga yang tua terlihat ceria sekali saat bermain air. Persis seperti bocah yang dibiarkan bebas main air.

Ah…saya yang aslinya tidak bisa berenang juga nafas jadi ngos-ngosan ketika harus berenang melewati sekitar batu satu ke batu lainnya. Ada juga sih tali tambang yang sengaja terpasang untuk memudahkan saat berenang akan tetapi cuma beberapa meter saja. Sisanya, kami harus berjuang persis seperti anak katak yang baru belajar berenang. Saling berpegangan satu sama lain. Ada juga yang megang kaki kawan di depannya padahal jelas-jelas yang dimintai tolong sendiri sedang berjuang menahan nafas dan berusaha tetap terapung.

Momen paling lucu ya pas kejadian tadi, orang-orang berteriak antara kegirangan main air bercampur orang yang panik karena tidak bisa berenang hehehe. Untuk yang sudah berhasil sampai duluan menuju batuan besar tempat sejenak bernafas, dengan usilnya tertawa terbahak-bahak melihat rekannya yang lain masih harus berjuang mencapai batuan terdekat.

Sayang sekali pas bagian ini kami tidak sempat berfoto-foto. Boro-boro berfoto lah wong bawa badan masing-masing saja pas di air saja sudah pada kerepotan hehehe. Oh ya air disini jernih banget dan tidak terlalu berwarna hijau akan tetapi arusnya memang deras.

Sementara itu kanan-kirinya berupa tebing-tebing tinggi dengan batuan yang terus meneteskan air dari celahnya. Saya sempat shock ketika tanpa sadar ada hewan sejenis kelabang sudah merayap dan baru terasa ketika ada yang bergerak di leher. Secara reflek tangan ini membuang hewan yang berada di leher dan benar saja ini kelabang.

Ada beberapa peserta laki-laki yang mencoba terjun dari tebing yang cukup tinggi menurutku. Saya juga sempat ingin merasakan sensasi terjun dari tebing akan tetapi sampai detik terakhir mengurungkan niat karena deg-deg an.

Setelah puas bermain air dan menikmati green canyon satu persatu kapal mengangkut peserta dan pergi meninggalkan tempat ini. Hmmm kulit kaki dan tangan sudah mengkeret semua karena kedinginan.

Penjelajahan siang itu ditutup dengan makan siang ala masakan sunda. Hmmm..menurutku masakan sunda cocok dengan lidah saya. Nggak terlalu asin dan dominan manis, mungkin karena letak Pangandaran yang masih dekat dengan Cilacap jadi soal rasa masakan saling mempengaruhi.

Advertisements

10 thoughts on “Green Canyon, Kami Datang

      1. Hendi Setiyanto Post author

        karena ini pas kesana beberapa tahun yang lalu dan belum kepikiran buat dokumentasi terus dijadiin tulisan jadi fotonya seadanya dan sebisanya

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s