Senja Terakhir Bulan September Di Malioboro

Suasana gedung tua bersejarah sekitar titik nol kilometer

Suasana gedung tua bersejarah sekitar titik nol kilometer

Penjaja makanan tradisional mulai menggelar lapak dagangannya berjejer rapi sepanjang halaman pertokoan.

Hilir mudik langkah kaki beraneka bentuk berseliweran seakan hendak mendahului satu sama lain.

Lampu-lampu neon sedikit redup satu persatu mulai menyala di sepanjang jalan satu arah ini.

Terdengar sayup-sayup tetabuhan melodi-melodi indah berasal dari bambu-bambu yang dibuat sedemikian rupa hingga menghasilkan harmoni suara penyejuk kalbu.

Satu persatu suara orang sedang  tawar menawar terdengar menyusup telingaku.

Deru kereta besi yang mengeluarkan asap semakin riuh diantara sorot lampu aneka warna.

Suasana njawani semakin kental terasa jika kita semakin peka merasakannya.

Beraneka rupa, bentuk, warna manusia lalu lalang bak laron yang sedang keluar dari sarangnya.

Ya…saat sekarang ini ragaku berada di jalan bersejarah di kota Gudeg ini, Malioboro…….

Setelah melewati rangkaian perjalanan menikmati keunikan kota Jogjakarta dari berbagai macam sudut, malam ini terasa begitu semarak. Selain malam ini bertepatan dengan jam pulang kerja, saat ini adalah malam minggu. Suatu keadaan dimana banyak orang menghabiskan waktu bersama dengan orang terkasih menikmati hari di akhir minggu setelah sibuk selama beberapa hari.

Sehabis membersihkan diri setelah seharian terpapar debu dan sinar matahari, saya mencari keramaian kota ini di malam hari. Sebuah hal yang jamak saya temui saat tinggal di kampung halamanku. Entah itu sekedar menikmati lalu lalang manusia-manusia yang berjalan kesana kemari menikmati romantisme jalan Malioboro.

Tidak ada yang istimewa jika sepintas melihat apa yang ada di pinggir jalan ini. Hanya ada deretan pertokoan serta lapak-lapak para pedagang yang menempati muka ruko. Tapi jika kita lebih peka, ternyata begitu banyak hal yang menarik yang tersembunyi dari jalan Malioboro ini.

Bahkan musisi sekelas Katon Bagaskara yang notabene kelahiran Jogjakarta, terbius dengan suasana kota ini. Hingga beliau bisa mendapatkan ilham untuk menulis lagu yang berjudul “Jogjakarta”. Lagu yang sangat fenomenal sejak tahun 90an hingga kini. Sebuah lagu yang sepertinya menjadi sebuah ikon untuk kota Jogjakarta.

Begitupun dengan orang-orang yang berkunjung ke kota Jogjakarta pasti punya kenangan tersendiri menikmati atmosfer kota ini. Sebuah keinginan untuk kembali…kembali dan kembali lagi ke kota ini. Memang Jogjakarta tidak pernah membosankan untuk mengexplore tiap sudut kota penuh budaya tradisional ini.

Salah satu yang menarik dari kota Jogjakarta adalah suasana njawani nya yang masih tersisa di tengah berbagai macam gempuran kebudayaan asing yang masuk  ke Indonesia. Selain itu peran keraton dan sultan menjadi sebuah lambang kekuasaan tradisional yang masih tetap lestari hingga detik ini.

Memori itu sungguh membekas dalam ingatan saya selama beberapa hari mengunjungi kota Jogjakarta. Pertama kali menginjakan kaki di Malioboro pada siang hari dan menikmati malam terakhir sebelum meninggalkan kota ini.

Dengan duduk bersila sambil lesehan, saya memesan seporsi ayam goreng tradisional lengkap dengan aneka lalapan juga sambal. Malam itu suasana warung lesehan masih sepi oleh pengunjung yang ingin mengisi perut. Untuk menu ayam sendiri tidak begitu istimewa karena hampir tiap kota ada. Yang membuat unik adalah menikmati seporsi ayam goreng dengan atmosfer jalan Malioboro pada malam hari dan hanya di Jogjakarta kita bisa menikmatinya.

Tidak butuh waktu lama untuk menghabiskan seporsi ayam goreng dengan teman minum segelas besar es teh. Mungkin bagi yang suka ngopi akan lebih memilih secangkir kopi tubruk sebagai teman makan. Tetapi saya tidak suka kopi, entah mengapa sejak kecil tidak suka dengan jenis minuman ini.

Dengan memberikan dua lembar uang sepuluh ribu rupiah yang agak lusuh kepada penjual, saya lekas beranjak meninggalkan lesehan menuju titik nol kilometer.

Salah satu yang menarik perhatian adalah sekelompok pemain angklung yang bermain musik di pinggir jalan Malioboro. Suara gendang dan alunan angklung membuat suasana jalan makin meriah. Sebuah hiburan sederhana tanpa perlu mengeluarkan uang yang banyak. Cukup memberi selembar uang lima ribu rupiah ke dalam kardus yang telah tersedia. Itu pun tanpa paksaan alias yang mau sukarela memberi uang sebagai apresiasi.

Terkadang saking asiknya, penonton hampir menutup jalan utama untuk jalur kereta kuda serta becak. Hmm..tenang saja, ada orang yang secara sukarela bertugas mengingatkan penonton ketika ada kereta kuda yang mau lewat. Sambil meniup peluit yang terkalung di lehernya, si bapak dengan lincah mendadak menjadi pengatur lalu lintas. Sebuah pemandangan yang unik sambil menikmati berbagai macam lagu-lagu yang dimainkan sekelompok pengamen tadi.

Makin malam hampir semua orang terkonsentrasi menuju satu titik, ya di sinilah titik nol kilometer itu berada. Di perempatan jalan besar dengan deretan bangunan tua pada seberang kanan kiri jalan. Sementara itu di seberang jalan lainnya terdapat sebuah monumen dan juga gedung Agung.

terkadang sampai lupa menutupi jalan raya saking asiknya

terkadang sampai lupa menutupi jalan raya saking asiknya

Dari pedagang sate, jagung bakar, bajigur hingga sekelompok anak muda yang menyewakan kostum seram macam pocong tersedia di sini. Tumplek plek berbaur dengan orang dari berbagai macam generasi, suku, agama dan budaya. Mereka hanya punya satu tujuan, menikmati atmosfer di titik sentral kota ini.

Tidak ada pertunjukan kembang api, tidak ada alunan panggung hiburan yang megah di sini. Yang ada hanyalah suara pengamen jalanan yang setia mengalunkan nada demi nada untuk menghibur orang. Pada bagian lain terlihat sekelompok remaja yang sedang bermain lincah dengan papan skateboard mereka.

Salah satu yang membuat orang betah adalah interaksi satu sama lain dengan orang yang duduk-duduk di pinggir trotoar jalan. Ada juga yang memilih selonjoran di bawah pohon yang menghiasi sepanjang jalan. Sementara itu di dalam monumen sendiri banyak pasangan muda mudi yang sedang asik bercengkrama di atas rerumputan dalam kondisi cahaya yang redup.

Ah…biarlah mereka menikmati malam di Jogjakarta ini dengan caranya masing-masing. Menghabiskan waktu malam di sepanjang Malioboro akan terasa sangat cepat. Padahal cuma duduk-duduk santai akan tetapi ketika melihat jarum pada jam tangan bergerak, tak terasa sudah jam 01.30 lewat tengah malam lebih.

Keringat mengucur deras membasahi seluruh tubuh, ya Jogjakarta terkenal akan cuacanya yang panas begitupun saat malam hari. Saya harus bergegas pulang menuju hotel kelas melati sebelum jalananan makin sepi.

Ketika berjalan menuju hotel, terlihat para penjual sudah hampir selesai membereskan lapak dagangan mereka. Petugas kebersihan pun sudah hampir selesai menyapu jalan dan memunguti sampah yang berserakan di sepanjang jalan Malioboro.

Ya..memang hampir mayoritas dari orang kita masih belum bisa disiplin dalam menjaga lingkungan, khususnya ketika membuang sampah. Banyak yang membuang sampah semaunya sendiri hingga mengotori jalanan. Sebuah sisi negatif dari salah satu ikon kota Jogjakarta, Malioboro.

Tak terasa langkah kaki ini sudah persis sampai di depan hotel tempat saya menginap. Dengan segera saya masuk untuk membersihkan diri dari keringat dan rasa lelah. Hmmm..besok saya harus kembali ke kampung halaman. Senja terakhir bulan September di Malioboro, ku akan merindukanmu selalu dan ku berjanji suatu saat ini akan kembali ke sini, pasti.

Advertisements

3 thoughts on “Senja Terakhir Bulan September Di Malioboro

  1. Pingback: Langit Berkisah | nDayeng

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s