Prambanan, Musim Panas September 2014

Panasnya kota Jogjakarta di bulan September 2014 tak menyurutkan niatku untuk menyusuri ramainya lalu lintas kendaraan umum perkotaan. Dengan menggendong tas jaman sekolah dulu di punggung, saya masih semangat untuk melanjutkan penjelajahan saya di kota Jogjakarta ini.

walaupun ingatan akan pesona candi Prambanan sudah sedikit tergerus tapi kenangan akan keindahanmu takkan hilang.

peluh, rasa lelah, kaki pegal dan capek, bukan halangan untuk mengagumi pesonamu.

angin yang berhembus pelan, membawa sedikit kenangan yang takkan terlupakan sampai kapanpun.

dengan sisa memori yang masih membekas di kepala, catatan kecil ini tercipta sore ini sehabis hujan pertama di bulan oktober.

hampir tepat setahun lalu memoriku kembali diingatkan akan masa-masa indah mengunjungimu…Prambanan.

Ini masuk hari ketiga saya berada di kota yang penuh kenangan ini. Sengaja menjadwalkan kunjungan ke candi Prambanan di hari terakhir karena sebelumnya mengunjungi tempat wisata yang jaraknya lumayan jauh terlebih dahulu.

Walaupun candi Prambanan letaknya di kabupaten Klaten, Jawa Tengah serta Jogjakarta. Akan tetapi jika ditempuh dari kota Jogjakarta terbilang lumayan dekat. Bahkan ada halte transjogja yang letaknya di perbatasan kedua kota ini.

Memang sebagai orang kampung, saya lumayan bingung ketika harus bergonta-ganti bis dengan kode trayek dan juga nama halte yang berbeda. Alhamdulillah, walaupun harus menunggu lama di halte tertentu karena frekuensi kedatangan tiap bis yang kadang sangat lama, saya nyampai juga kok di halte dekat Prambanan.

Di dalam bis transjogja, saya bareng dengan salah satu backpacker asal negeri sakura. Sepertinya dia sedang kebingungan mengenai rute yang harus dilewati untuk sampai di halte bandara Adisucipto. Sempat terbersit dalam hati untuk membantu membaca peta jalur transjogja tapi apa daya kemampuan bahasa inggrisku terbatas banget. Selain itu juga saya sebenarnya ikutan bingung juga pas naik transjogja karena ini merupakan pengalaman pertamaku. Di dalam bis, si backpacker jepang tadi sontak menjadi perhatian para penumpang lain, bukan karena dia seorang turis asing tetapi karena tas backpacknya yang super duper besar sering kali nyenggol bahkan nabrak penumpang lain di sebelahnya. Hehehe doi cuma ngangguk-ngangguk sambil membungkuk tanda permintaan maaf tiap kali backpacknya ngeganggu orang.

Setelah sampai di halte Prambanan, saya turun dan mencari alternatif menuju candi yang berada di sebelah timur seberang jalan raya. Sempat juga ditawari sama tukang becak yang berjejer rapi menunggu penumpang di luar halte tadi akan tetapi saya memutuskan untuk jalan kaki saja. Hmmm..padahal aslinya jauh jalan kakinya, sempet nyesel juga kenapa tadi nggak naik becak saja.

Siang itu cuaca sangat terik dan panas, kaki juga sudah pegal banget. Sejenak istirahat sambil mencari minimarket terdekat untuk beli minuman dingin. Yang lumayan bikin deg–degan adalah saat saya harus nyeberang jalan dua jalur yang lalu lintasnya ramai banget. Harus menunggu sekitar sepuluh menitan hingga saya bisa nyeberang dengan selamat. Gila…pada bawa kendaraan super duper ngebut, seperti tidak mengindahkan pejalan kaki yang mau nyeberang. Padahal kalau ada jembatan penyeberangan kan sangat membantu bagi kita–kita sebagai pejalan kaki.

Area wisata candi Prambanan terbilang cukup luas dengan pembatas pagar besi di sepanjang jalan raya. Sempat beberapa kali salah masuk, dikira itu pintu masuk utama menuju candi padahal bukan. Siang menjelang sore di candi Prambanan, pengunjung tidak terlalu ramai. Kebanyakan yang berkunjung adalah turis-turis asing dari luar negeri. Tiket masuknya sendiri sekitar Rp 30,000 nggak beda jauh dengan tiket masuk ke candi Borobudur dan setelah bayar juga diberi semacam kartu yang harus ditempel pada mesin saat masuk.

Menurutku taman wisata dan cagar budaya candi Prambanan terbilang cukup luas dengan pepohonan yang rindang dan sejuk untuk menghalau cuaca panas siang itu. Selain itu hamparan rumput yang masih hijau di depan halaman candi juga menambah keindahan tersendiri bagi pengunjung. Oh ya sebelum masuk, setiap pengujung juga harus diwajibkan memakai kain bermotif batik. Penggunaannya juga mirip-mirip dengan yang ada di candi Borobudur.

Masih terlihat jelas sisa-sisa gempa Jogja beberapa tahun lalu yang mengakibatkan beberapa bangunan candi runtuh dan batu-batunya berserakan di sekitar candi. Kesan pertama saat memasuki candi adalah megah…relief-relief serta patung terlihat begitu detail. Di tengah-tengah halaman candi terlihat sekelompok wisatawan dari luar negeri yang sedang diberi penjelasan oleh tour guide masing-masing. Ada juga yang dari Jepang, Perancis, Belanda juga China semakin menambah unik ketika saya berkeliling di sekitar candi menyusuri beberapa relief.

beberapa turis asing yang sedang mengunjungi candi Prambanan

beberapa turis asing yang sedang mengunjungi candi Prambanan

Di kawasan candi Prambanan terdapat beberapa buah candi yang masih berdiri megah dengan keunikannya masing-masing. Untuk candi utama pada bagian tengah, pengelola sepertinya sengaja membuat pagar dari besi agar pengunjung tidak masuk kedalam candi. Tetapi ada juga candi yang bisa dimasuki oleh pengunjung untuk melakukan ritual agama hindu seperti yang saya lihat ketika seorang pengunjung yang berasal dari Bali.

Karena area halaman candi diurug menggunakan pasir, maka ketika angin berhembus besar membuat seketika udara bercampur dengan pasir halus yang berterbangan. Saya lupa apa nama-nama candi yang berdiri berjajar di area ini karena fokus menikmati udara yang makin sore makin sejuk dengan hembusan angin.

ujung-ujung mengerucut menjadi ciri khas candi Prambanan

ujung-ujung mengerucut menjadi ciri khas candi Prambanan

ujung-ujung mengerucut menjadi ciri khas candi Prambanan

ujung-ujung mengerucut menjadi ciri khas candi Prambanan

Yang membuat takjub adalah candi di sini terlihat sangat tinggi dengan ujung yang meruncing membuat keunikan tersendiri dibandingkan dengan candi Borobudur. Memang setiap candi punya ciri khas masing-masing yang membuat unik, selain itu juga faktor pengaruh agama. Hal lain yang menarik adalah tangga-tangga yang terbuat dari batu menambah keindahan tersendiri dengan stupa-stupa yang unik.

siang itu langit begitu indah

siang itu langit begitu indah diantara orang-orang dan candi

Setelah puas menikmati angin yang berhembus di sela-sela bangunan candi (tentunya sambil sesekali menutup hidung dan mata karena pasir yang berterbangan), saya memutuskan berjalan keluar menuju taman yang berada persis di halaman depan candi. Dengan rumput yang masih terlihat hijau walaupun masih memasuki musim kemarau, saya sejenak melepaskan lelah dan keringat. Sesekali memandang dari kejauhan betapa indahnya peninggalan nenek moyang kita yang masih bisa dinikmati hingga saat ini. Selain itu juga beberapa kali berfoto dengan latar belakang candi Prambanan dan juga jalan lurus yang diapit pohon rindang di kanan kirinya.

jalan rata dan lurus dengan pohon hijau di kanan kirinya

jalan rata dan lurus dengan pohon hijau di kanan kirinya

Ah…puas rasanya siang hingga sore menghabiskan waktu menikmati keindahan sebuah karya manusia jaman dahulu. Dalam hatipun sedikit bersedih karena ini merupakan akhir dari kunjunganku ke kota Jogjakarta.

Advertisements

8 thoughts on “Prambanan, Musim Panas September 2014

  1. omnduut

    Ketika lihat Prambanan di film The Philosophers kok rasanya kereeeen banget padahal di film itu ujung-ujungnya Prambanan dihancurkan 😛 duh pingin balik ke Yogya lagi, belom pernah ke Prambanan huhuhuhu

    Like

    Reply
  2. Pingback: Langit Berkisah | nDayeng

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s