warna air hijau di telaga warna

Sore Hari Di Telaga Warna

 

Kesan pertama memasuki telaga warna adalah…mistis… apalagi jika kita memasuki area goa–goa sempit di sekitar hutan pinggir telaga. Tapi sebelum memasuki hawa mistis terlebih dahulu kita harus membeli tiket masuk seharga Rp 7,500/orang.

Menurut beberapa pedagang yang saya temui, kalau hari biasa obyek wisata ini sepi pengunjung. Akan tetapi pas saya kesini yang mana termasuk hari libur, jadi banyak pengunjung yang ingin berwisata. Setelah melewati gerbang utama pintu masuk pembelian tiket, kita akan disuguhi dua jalan setapak yang membagi dua jalur. Jalur kanan menuju tepian telaga warna serta vegetasi rumput liar di pinggir telaga serta jalur menuju lokasi goa–goa untuk bersemedi. Untuk jalur kiri kita bisa menikmati pinggiran danau yang tidak terlalu banyak pepohonan.

Telaga Warna

Tak usah bingung kelaparan ketika memasuki kawasan wisata telaga warna, karena hampir tiap beberapa meter kita akan menemui penjual makanan ringan khas Dieng. Tinggal pilih mau yang digoreng, jagung bakar, atau minuman hangat seperti kopi dan jahe susu.

Saat saya berkunjung air di telaga warna cuma berwarna hijau dengan debit air yang menyusut di beberapa bagian. Salah satu obyek menarik adalah kumpulan  rumput liar yang mengering di pinggiran telaga dan cocok banget untuk berfoto-foto. Selain itu juga beberapa kayu lapuk yang sudah mati menjadi bagian yang menarik di pinggir telaga.

sebuah batu dipinggir telaga warna

sebuah batu di pinggir telaga warna

Area Goa-Goa Tempat Bersemedi

Bagian paling mistis adalah ketika memasuki area goa–goa sempit diantara celah bebatuan sempit yang dijadikan tempat bersemedi sejak jaman dahulu. Bahkan mantan presiden kedua RI Soeharto juga pernah merasakan hawa mistis di salah satu gua di pinggiran telaga ini.

goa semar

goa semar

Pintu masuk goa semar tertutup jeruji besi dengan digembok pada bagian pintunya. Pengunjung hanya bisa menikmati dari luar pagar goa semar. Selain itu juga terdapat beberapa aneka bunga untuk sesaji yang sengaja diletakan oleh pengunjung yang hendak bersemedi baik perorangan maupun berkelompok.

Pengunjung berkelompok menggelar ritual

Pengunjung berkelompok menggelar ritual

Sementara itu pada bagian gua lain juga terlihat sekelompok orang yang sedang mengadakan ritual di depan pintu goa dengan memakai pakaian khas jawa. Saya sempat meminta ijin terlebih dahulu untuk memotret aktifitas yang mereka lakukan dan dengan ramah si ibu mempersilakan saja.

patung Gajah mada

patung Gajah mada

Hampir di tiap pintu masuk goa terdapat patung yang menggambarkan tokoh yang dijadikan nama goa dan hampir semua berwarna emas mencolok. Salah satunya adalah patung Gajah Mada yang berada di pinggir jalan setapak.

warna air hijau di telaga warna

warna air hijau di telaga warna

jalan setapak diantara pepohonan

jalan setapak diantara pepohonan

Pengunjung bisa melewati jalan setapak di tengah hutan yang membuat sejuk sore hari yang panas. Ada juga beberapa goa seperti goa jaran, goa pengantin. Kurang lebih letaknya sama diantara celah sempit bebatuan di pinggir tebing. Goa-goa tersebut paling banyak hanya bisa menampung kurang lebih tiga orang pengunjung. Tetapi pas saya berkunjung, semua pintu masuk ke dalam goa terkunci oleh gembok.

Setelah puas berkeliling telaga warna serta menikmati hawa mistis disekitar goa-goa saya mengakhiri petualangan sore hari ini. Saat pulang menuju Banjarnegara, saya sempat mampir sebentar di area wisata perkebunan teh Tambi, tetapi tutup karena sudah sore. Untuk mengisi perut di sore hari, saya mampir menikmati beberapa tusuk sate ayam di alun-alun kota Wonosobo. Hampir menjelang maghrib perjalanan pulang menuju Banjarnegara lancar tanpa halangan apapun. O ya saya sempat mampir sholat maghrib di pom bensin daerah Sawangan sambil mengisi tangki BBM yang hampir habis. Sampai rumah di daerah Punggelan sekitar pukul 19.30 malam, woww hampir seharian saya berpelesiran sekedar menghilangkan stress dan mencari ketenangan. Puas rasanya hari itu menjelajah dataran tinggi Dieng.

Advertisements

One thought on “Sore Hari Di Telaga Warna

  1. Pingback: Langit Berkisah | nDayeng

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s