beberapa keramba dipinggir telaga

Menemukan Vitamin Untuk Mata, Hati Dan Pikiran Di Telaga Menjer

 

Sebagai putra daerah asli Banjarnegara, saya merasa gagal menjalankan kewajiban untuk mempromosikan potensi wisata di daerahku. Bagaimana tidak, untuk mengunjungi salah satu obyek wisata yang sangat ikonik yaitu kawasan Dieng saja baru sempat menjelajah minggu kemarin. Dalam batin ingin berkata “helooo…kemana saja selama ini?“ hmmm..tapi saya percaya bahwa tidak ada kata terlambat selama hayat masih dikandung badan. Untuk itu kemarin menebus rasa bersalah dengan seharian mengunjungi sudut-sudut menarik obyek wisata di kawasan Dieng.

Dengan kondisi tubuh yang sedang kurang fit karena batuk, flu dan sedikit demam, saya memberanikan diri bersepeda motor [berdua dengan teman]  ria menuju dataran tinggi Dieng. Dari rumah yang masih sekitar jam 08.00 pagi, kami dengan penuh semangat menyusuri jalan yang rusak dan berlubang di sana sini. Lagi-lagi kondisi jalan di Banjarnegara terasa sangat tidak bersahabat apalagi bagi kami yang notabene pengendara motor.

Sebenarnya bisa saja kami memilih rute keberangkatan dari daerah Banjarmangu naik terus hingga sampai ke Batur lalu Dieng. Akan tetapi karena jalur yang harus kami lewati merupakan jalan yang mayoritas kondisinya rusak dan berkelok–kelok, akhirnya kami memutuskan lewat Wonosobo saja. Ketika memasuki perbatasan Banjarnegara dengan Wonosobo terlihat jelas perbedaan kondisi jalannya. Kondisi jalan di kabupaten Wonosobo rata dan nyaman ketika berkendara melewatinya bahkan sampai kelokasi wisata di daerah Dieng sendiri.

Tujuan penjelajahan pertama kami kali ini adalah telaga Menjer yang berada di desa Garung atau di PLTA  Garung kabupaten Wonosobo. Lokasinya sendiri persis di pertigaan sebelum memasuki jalur utama tanjakan menuju kawasan Dieng. Akses menuju telaga Menjer sendiri terdiri dari jalan yang mendaki terus dan berkelok–kelok mengitari sekitar PLTA Garung.

suasana damai dan tenang cocok dengan kepribadianku

suasana damai dan tenang cocok dengan kepribadianku

Setelah kurang lebih menempuh perjalanan sekitar lima belas menit, akhirnya kami sampai juga di lokasi wisata telaga Menjer. Untuk memasuki kawasan lokasi wisata tersebut, pengunjung harus membayar tiket sekitar Rp 5,000,- dan untuk tarif parkir roda dua sebesar Rp 2,000,-.

Walaupun saat kami berkunjung merupakan hari minggu akan tetapi kondisinya lumayan sepi. “Ahh…pas banget rasanya sejenak mencari ketenangan di tengah hiruk pikuk lalu lintas kota. Setelah melewati areal taman serta beberapa macam lokasi permainan untuk keluarga di sekitar telaga Menjer, kami harus menuruni beberapa meter anak tangga yang terbuat dari batu alam.

Suasana telaga yang tenang dengan di kelilingi pemandangan bukit kawasan Dieng terasa pas dengan bebatuan alam dan tebing yang beberapa ruas mengelilingi telaga. Rasanya cocok banget suasananya untuk berbagi cerita dengan orang yang terkasih. Syukurlah saat itu kami tidak menjumpai pemandangan sepasang anak manusia yang sedang berpacaran. Hanya ada beberapa rombongan keluarga yang sedang asyik berfoto ria di pinggir telaga.

suasana telaga yang tenang dengan warna abu - abu

suasana telaga yang tenang dengan warna abu – abu

Di pinggir telaga sendiri terdapat beberapa buah gubuk–gubuk  sederahana nan serasi dengan tiang yang terbuat dari bambu serta atap dari ilalang kering. Diatasnya dipenuhi pohon pinus berukuran besar sebagai peneduh serta penahan tebing telaga. Di telaga sendiri hanya ada beberapa keramba ikan air tawar yang di atasnya dijadikan restoran yang menyajikan kuliner dari ikan air tawar. Sementara di sisi lainnya terdapat perahu–perahu sedang yang  bersender di tepian telaga. Memang saat itu kondisinya benar–benar sepi hingga tak ada seorangpun  yang menikmati telaga dengan berperahu.

beberapa keramba dipinggir telaga

beberapa keramba di pinggir telaga

temenku berpose diatas batu dipinggir telaga

temenku berpose diatas batu di pinggir telaga

Sementara di ujung barat di bawah tebing–tebing batu, terdapat beberapa orang yang berteduh di bawah cekungan batu untuk berlindung dari sengatan panas matahari sambil memancing ikan. Beberapa onggokan batu besar sangat cocok untuk dijadikan latar belakang saat berfoto, kami pun tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut.

Hampir satu jam lebih menikmati suasana tenang telaga, kami mengakhiri kunjungan siang itu. Walaupun tidak terlalu ramai tapi menurut kami suasana  telaga Menjer tadi menjadi vitamin untuk mata, hati dan pikiran siang itu.

Nyala mesin motor kami perlahan mengiringi  jalan yang menurun dan berkelok di kelilingi beberapa pemandangan berupa pipa gas panas bumi yang beberapa melintang di bawah jembatan yang kami lewati. Perjalanan berikutnya sudah menunggu di depan, dengan penuh semangat  kami melanjutkan perjalanan yang menanjak di depan sana.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s