Pelataran candi Borobudur

Catatan Kecil Perjalanan Menuju Candi Borobudur

 

Banyak yang masih salah kaprah menyebut lokasi candi Borobudur berada di wilayah Jogjakarta. Tidak salah memang karena orang-orang sudah kadung mengasosiasikan Borobudur ya termasuk Jogjakarta, padahal yang sebenarnya adalah candi Borobudur masuk wilayah desa Borobudur kabupaten Magelang Jawa Tengah. Karena akses dari kota Jogjakarta yang lumayan mudah serta banyak tempat wisata menarik, maka orang lebih suka jika berkunjung ke Jogjakarta ya sekalian saja mampir ke candi Borobudur.

Saat saya berkunjung, waktu itu perjalanan dimulai dari terminal Jombor Jogjakarta. Sebelumnya saya naik transjogja yang juga ada rute menuju ke halte terminal jombor. Di sana terdapat beberapa macam bis yang bisa anda pilih. Tiap lima belas menit sekali bis-bis berukuran sedang akan bergantian ngetem dan melanjutkan perjalanan ke terminal dekat pintu masuk kawasan wisata candi Borobudur.

Perjalanan menuju candi Borobudur bisa ditempuh kurang lebih sekitar satu jam, itu dikarenakan bis menurunkan dan menaikan penumpang di sembarang tempat. Belum lagi di tiap terminal pasti berhenti dan ngetem mencari penumpang. Pagi itu kondisi bis  sedikit penumpang yang menuju ke candi Borobudur, hanya ada beberapa orang saja yang menuju kesana.

Setelah satu jam menempuh perjalanan, akhirnya saya sampai juga di terminal dekat pintu masuk candi Borobudur. Untuk menuju kelokasi candi disarankan memilih angkutan berupa delman ataupun becak motor. Waktu itu saya memilih naik becak motor karena ongkosnya lumayan murah. Setelah kurang lebih sepuluh menit naik becak motor, sampailah saya di lokasi candi Borobudur. Ternyata pengunjung sudah banyak yang ingin menikmati salah satu daftar tujuh keajaiban dunia versi UNESCO beberapa tahun yang lalu.  Sekarang memang sudah tidak masuk dalam tujuh keajaiban dunia lagi akan tetapi pesona magis dan mahakarya nenek moyang kita ini masih menarik para wisatawan lokal serta dari berbagai belahan dunia.

Untuk tarif masuk sendiri tiap pengunjung dewasa, kebetulan saat itu pas hari libur dikenai tarif masuk sekitar Rp 30,000,-. Setelah membayar tarif masuk, tiap pengunjung akan mendapatkan semacam kartu yang bisa di scan dimesin yang disediakan oleh pengelola wisata. Kurang lebih mirip-mirip kartu yang digunakan saat kita mau naik transjogja maupun transjakarta gitu.

Karena saat itu masih memasuki musim kemarau suasana sekitar candi Borobudur terasa sangat panas dengan rerumputan yang sudah kering. Sebelum memasuki lokasi utama candi yang berada di atas bukit,  kita bisa menyempatkan dahulu mengunjungi museum serta tempat memutar film dokumenter tentang candi Borobudur. Tentunya dengan membayar karcis masuk terlebih dahulu, akan tetapi saya melewatkan kesempatan ini dan memilih langsung berjalan kelokasi utama.

Sebelum menaiki anak tangga menuju candi, pengunjung diwajibkan memakai sarung khas bermotif candi Borobudur. Pengelola sudah menyediakan banyak sarung disana, o ya saya lupa untuk laki-laki cara memakai dan mengikat sarungnya kalau nggak salah di sebelah kiri.

Selanjutnya kita akan menaiki beberapa buah anak tangga yang cukup menguras tenaga sebelum ke pelataran utama candi Borobudur.  Kesan saya pertama kali ketika melihat mahakarya ini adalah takjub luar biasa. Nggak bisa membayangkan bagaimana cara nenek moyang kita membangunnya dengan sangat indah dan rapi.

Pelataran candi Borobudur

Pelataran candi Borobudur

Mulailah kaki ini melangkah naik menuju satu persatu anak tangga yang terbuat dari batu, kita harus bergantian dengan pengunjung lain yang akan turun karena akses masuk yang sempit. Saya tidak sempat atau lupa mengikuti cerita relief yang mengitari dinding candi..hmm agak nyesel rasanya karena waktu itu cuma asik berfoto-foto.

Beberapa stupa dibagian puncak

Beberapa stupa dibagian puncak

Mayoritas bangunan candi baik berupa stupa maupun relief masih sangat terjaga keasliannya. Cuma ada beberapa stupa dan patung yang sudah rusak karena tangan–tangan jahil. Selain itu kapasitas tempat sampah yang terbatas membuat beberapa botol bekas air mineral berserakan dimana–mana. Sangat disayangkan memang. Akan tetapi saya tidak bisa berbuat lebih dan cuma memunguti beberap botol yang masih terjangkau dan mengingatkan diri ini agar bertanggung jawab terhadap sampah sendiri.

Dua buah patung yang mengapit pintu masuk

Dua buah patung yang mengapit pintu masuk

Saat itu saya cuma fokus melihat turis asing yang sedang berkunjung dan yang paling menarik perhatian adalah sosok dua orang cewek jepang. Hampir tiap ada rombongan pemuda yang datang pasti meminta foto bareng dua cewek jepang tadi. Hmmm…sebenarnya saya juga ingin ikutan foto bareng tapi sayang setelah nunggu sepi eh dua cewek tadi malah sudah menghilang entah pergi kemana.

Salah satu patung didalam stupa

Salah satu patung di dalam stupa

Setelah saya mencapai puncak dengan stupa yang paling besar, tidak lupa untuk berfoto sebagai oleh-oleh saat pulang nanti. Makin siang  makin panas selain itu juga pengunjung semakin banyak saja, okelah …mungkin sudah saatnya mengakhiri penjelajahan ini. Untuk turun kita juga harus antri lagi dan bergantian dengan pengunjung yang akan naik.

Sesampainya di pelataran candi, saya ngadem sejenak dibawah pohon rindang di sekitar anak tangga menuju pintu masuk. Dengan berbekal sebotol air mineral yang cukup meredakan hawa panas siang itu saya kembali memandangi sesosok bangunan megah dan masih menerawang bagaimana caranya bangunan sebesar ini bisa berdiri kokoh. Ah…sudahlah..kemampuan berpikir saya sudah terbatas selain sudah capek juga perut terasa lapar banget.

Ketika menuruni anak tangga menuju pintu keluar, saya disambut oleh penjual souvenir yang terkadang memaksa pengunjung untuk membeli. Menurut saya itu sangat mengganggu para wisatawan yang hendak keluar. Heran juga kenapa pengelola mengijinkan para pedagang tadi masuk, padahal di luar pintu keluar sendiri sudah disediakan tempat yang luas untuk para penjual souvenir serta makananan berjualan.

Jalan yang digunakan untuk karnaval budaya

Jalan yang digunakan untuk karnaval budaya

Kebetulan saat itu di area parkir candi Borobudur sedang diadakan festival budaya dari beberapa daerah di Indonesia. Saya tidak melewatkan kesempatan yang langka ini untuk sejenak melihat karnaval budaya serta hiburan musik tradisional. Ada juga beberapa stand yang menjual cinderamata khas daerah masing–masing yang berjejer rapi di pinggir jalan.

Lauknya hampir habis hehehe

Lauknya hampir habis hehehe

Untuk akses menuju terminal saya memilih naik delman, saat itu cukup membayar Rp 30,000,- dengan pak kusir yang sudah sepuh saya bisa berbincang-bincang dengan santainya. Setelah turun dari delman, saya langsung mencari warung makan karena perut sudah sangat terasa lapar. Hmmm menu yang saya pilih tentunya gudeg lagi hehe, ditambah segelas es teh selain itu juga oreg tempe favorit saya.

Setelah kenyang, saya menuju terminal dan menunggu bis yang akan berangkat ke terminal Jombor. Sore itu saya dapat bis terakhir yang menuju ke Jogja, walhasil mau tak mau harus berdiri berdesakan dari pada tidak bisa pulang hehehe. Ada juga terlihat bule eropa serta wisatawan Jepang yang ikut naik bis ini, hmmm terlihat muka merah dan berkeringat karena saking panas dan penuh sesaknya.

Sore itu saya pulang dengan rasa puas yang mendalam, bisa menikmati salah satu mahakarya nenek moyang kita yang masih eksis keberadaannya hingga saat ini. Sebuah perjalanan yang luar biasa dan berkesan, hmmm semoga saya masih bisa kembali kesini lagi suatu saat.

Advertisements

13 thoughts on “Catatan Kecil Perjalanan Menuju Candi Borobudur

  1. bay

    kini banyak pernungjung yang berburu sunrise di borobudur, katanya bagus kalau pas sunrise
    jadi sunrise di borobudur sunset di boko

    Like

    Reply
  2. fanny fristhika nila

    Aku tuh sbnrnya bangga dgn keberadaan borobudur mas..tapi jujur aja rada kapok jg kesana :D… pertama dulu itu dtgnya salah bgt pas agustus, puasa pula… yg ada kita teler dan hampir pingsan krn terik matahari yg super duper menyengat -___-. Kedua, pas kluar dr borobudur, sebel bgt diikutin ama penjual2 souvenir yg ga ngerti arti kata GAK PENGEN BELI -__-.. hihhh, suamiku malah ga tega..pdhl aku udh sngaja jalan cepet msk k mobil… bkannya ga mw beli, tp aku ga suka kalo dipaksa dan mrk pasang hrg jg gila…masa brg yg tdnya 300 rb , akhirnya diturunin sndiri sampe 40 rb… gmn aku ga lgs marah -__-..

    Like

    Reply
  3. Pingback: Langit Berkisah | nDayeng

  4. Gara

    Terima kasih ya infonya Mas soal transportasi umum ke Candi Borobudur. Ngomong-ngomong itu sore bis terakhirnya jam berapa? Supaya bisa memperkirakan waktu kunjungan seandainya ke sana, hehe. Itu kalau memang niat muterin reliefnya Borobudur, gempor kali yak, secara candinya gede banget, hehe. Ah jadi pengen ke Borobudur lagi nih setelah baca postingan satu ini, hehe.

    Liked by 1 person

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s