Taman Sari, Pesona Pemandian Keluarga Raja Jogjakarta

Jogjakarta seperti sudah  menjadi destinasi wajib bagi para wisatawan ataupun backpacker untuk menjelajah berbagai sudut kota budaya dan pelajar ini. Boleh dibilang belum sah ke Pulau Jawa kalau belum mengunjungi salah satu sisa kerajaan yang masih eksis hingga detik ini.

Begitupun dengan saya, sudah dari SMP pernah berkunjung ke Jogjakarta walaupun saat itu dalam rangka wisata liburan sehabis ujian kenaikan kelas. Pas SMK pun lagi-lagi Jogjakarta menjadi destinasi favorit saat sekolah mengadakan kunjungan kerja, walaupun dilanjutkan dengan mengunjungi kota Solo.

Sepuluh tahun memori tentang Jogjakarta begitu membekas dalam benak saya, kota yang penuh kenangan dan membuat ingin kembali lagi..lagi dan lagi. Hingga tahun 2014 lalu saya kembali lagi kekota ini akan tetapi kali ini saya bepergian sendirian.

Tulisanku tentang Jogjakarta sebelumnya pernah aku publish di blog ini, silakan dibaca-baca lagi hehehe. Salah satu destinasi favorit setelah keraton Jogjakarta adalah tempat pemandian para raja dan keluarga raja atau lebih dikenal Taman Sari. Lokasinya yang tidak terlalu jauh dari Malioboro, keraton dan alun-alun utara menjadikan tempat ini  seperti tur wajib saat ke Jogjakarta.

Pagi itu setelah mandi dan berdandan [tanpa bedak dan gincu] saya memutuskan untuk berkunjung ke Taman Sari. Kali ini saya ingin merasakan cara yang berbeda menuju kesana, yaitu naik delman [tanpa istimewa kududuk dimuka] . Waktu itu saya cukup membayar Rp 50,000,- saja entah itu kemahalan atau tidak, saat itu saya menyanggupi saja.

Suasana pagi itu termasuk agak lengang karena kebetulan bukan hari libur tapi hari kerja, jadi hanya ada orang yang akan pergi beraktifitas. Wisatawan saat itu masih jarang dan lumayanlah bisa merasakan naik delman dengan santai bak putera mahkota keraton [ngayal].

O ya delman di Jogja dengan di kotaku Banjarnegara sangatlah berbeda. Kalau di sini delmannya mirip kereta kuda para bangsawan jaman belanda dan kereta keraton. Yang mana ukurannya saja sudah berbeda dengan posisi tempat duduk menghadap depan belakang, beda dengan delman kebanyakan yang duduknya kanan kiri saling berhadapan.

Setelah menikmati kereta kuda khas Jogja, akhirnya saya sampai juga di depan lokasi Taman Sari. Saat itu suasana sepi dan hanya ada beberapa pengunjung dari mancanegara yang datang.  Sebelum masuk, kita terlebih dahulu harus membeli tiket pada sebelah kanan pintu masuk. Counter penjualan tiket pun berada dalam bangunan yang menurutku antik, dengan tembok tebal berwarna putih yang di beberapa bagian sudah lapuk dan berlumut dimakan usia.

Bapak tour guide diTaman Sari

Bapak tour guide di Taman Sari

Di pintu masuk sudah menunggu beberapa laki-laki paruh baya dan beberapa sudah sepuh alias tua. Sebelumnya saya pikir mereka merupakan bagian dari paket tour ketika mengunjungi Taman Sari atau karyawan lokasi tersebut. Akan tetapi ternyata mereka merupakan pekerja freelance alias kita harus membayar tip ketika ingin menggunakan jasa tour guide mereka. Saya pun baru sadar setelah selesai tour mengelilingi lokasi Taman Sari selama hampir satu jam.

Kolam utama

Kolam utama

Pertama kali masuk kita akan disambut dengan rindangnya pohon sejenis buah mirip jeruk kecil-kecil dan berduri. Dengan ramah bapak tour guide tadi menjelaskan satu persatu pohon  yang ada di samping kanan dan kiri pintu masuk pertama. Saya lupa apa saja nama bangunan yang dijelaskan satu persatu oleh si bapak tadi tapi saya masih punya beberapa foto yang sengaja diabadikan.

Rimbunnya pohon dari atas gapura

Rimbunnya pohon dari atas gapura

Di pintu masuk tadi terdapat bangunan dua lantai, saya pun naik ke lantai atas mirip gapura atau gerbang dengan warna putih ini. Beberapa kali saya jepret sana sini menyimpan obyek yang terlihat menarik selain itu juga menyempatkan selfie hehehe.

Setelah berjalan beberapa langkah akhirnya saya memasuki bangunan utama berupa kolam pemandian yang cukup luas dengan arsitektur perpaduan jawa dan portugis [kata sibapak tour guide]. Saat itu air di kolam tidaklah banyak karena habis diperbaiki di beberapa bagian sudut kolam yang bocor. Terdapat dua buah kolam yang dipisahkan jalan untuk melintas di tengahnya. Kalau tidak salah yang sebelah kolam kanan untuk para pangeran dan kolam sebelah kiri untuk para putri raja.

Menara pengawas yang digunakan Raja

Menara pengawas yang digunakan Raja

Berlanjut ke bagian bangunan di ujung kolam putra, ada dua buah kamar yang katanya tempat berganti para pangeran pada jaman dahulu. Aroma dupa kemenyan begitu menusuk hidung saat itu, sepertinya bangunan ini masih dianggap sakral oleh pihak keraton.

Di depan kolam  untuk putri terdapat sebuah bangunan kecil yang di bawahnya terdapat pancuran berbentuk kepala naga atau  ular. Di atas pancuran tadi bangunan kecil digunakan untuk memantau para putra dan putri raja yang sedang mandi di kolam.

Berlanjut ke menara tempat raja mengamati sekeliling bangunan kolam pemandian. Untuk menuju kesana kita harus menaiki beberapa anak tangga yang terbuat dari kayu. Di bagian bawahnya terdapat tempat atau ruang sauna tradisional bagi raja yang menggunakan tungku dan kayu. Menara di bagian atas tadi ternyata penuh dengan coretan tangan-tangan jahil pengunjung yang tidak bertanggungjawab. Sayapun menyanyangkan sebuah tempat yang penuh sejarah dan bagus ini harus rusak oleh para pengunjung yang usil.

Setelah turun dari menara, saya melanjutkan ke bagian bangunan yang berada pada tanah yang berundak. Kita hanya perlu naik anak tangga beberapa bagian saja, ternyata bagian ini sudah bercampur dengan pemukiman penduduk sekitar. Ada juga beberapa rumah penduduk yang berada di  komplek Taman Sari dijadikan galeri seni untuk menjual aneka macam lukisan karya kreatif warga sekitar.

Saya tidak sempat mengunjungi masjid dibawah air karena saat itu harus melanjutkan perjalanan menujun keraton. Agak menyesal memang karena penasaran dengan bentuk masjid bawah air peninggalan sultan Jogja ini.

Setelah hampir pukul 11.00 siang saya memutuskan mengakhiri kunjungan di Taman Sari ini, tidak lupa saya memberikan tip kepada bapak tour guide tadi sebesar Rp 25,000 . Hmm …semoga cukup ya pak hehehe dan sepertinya si bapak juga terlihat tersenyum berarti tip nya cukup. Keluar dari Taman Sari saya memutuskan makan siang berupa nasi kucing dan segelas es teh yang kebetulan berjualan di sekitar pintu masuk. Cukup membayar Rp 10,000 saja untuk  dua nasi beberapa gorengan dan segelas besar es teh manis. Rasanya cukup untuk mengganjal perut sebagai bekal perjalanan ke destinasi berikutnya yaitu keraton Jogjakarta.

Advertisements

5 thoughts on “Taman Sari, Pesona Pemandian Keluarga Raja Jogjakarta

  1. Fahmi (catperku)

    terakhir kesini rada kecewa, karena nggak bisa nikmatin banyak gegara sama guide. diajakin ke toko-toko di sekitar sini sih, daripada diajak keliling taman sari. harus balik kesini lagi deh kapan-kapan~

    Like

    Reply
  2. Pingback: Langit Berkisah | nDayeng

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s