Tempat berkumpul para abdi dalem

Berkunjung Ke Keraton Jogjakarta, Menikmati Suasana Masa Lampau

Salah satu bangsal diareal keraton Jogjakarta

Salah satu bangsal di area  keraton Jogjakarta

Berkunjung ke kota Jogjakarta tidak lengkap rasanya jika belum mengunjungi pusat pemerintahan dalam bentuk kesultanan ini. Agenda berkunjung ke keraton Jogjakarta  harus masuk daftar kunjungan ketika berpelesiran  kesini.

Untuk masuk ke komplek keraton sendiri pengunjung bisa menggunakan kereta kuda yang banyak mangkal di sekitar jalan Malioboro. Atau jika anda ingin memilih berjalan kaki bisa saja menyusuri pinggiran trotoar jalan raya akan tetapi jaraknya lumayan jauh. Angkutan umum seperti Transjogja sendiri tidak melewati jalur dekat alun-alun utara serta keraton. Jika budget anda terbatas disarankan naik becak saja karena harganya terjangkau.

Sebelum memasuki keraton, pengunjung harus membeli karcis masuk dahulu atau tepas keraton. Jika anda ingin mengabadikan tempat-tempat menarik di dalam keraton, anda juga harus membayar biaya untuk setiap jenis alat perekam baik berupa kamera ataupun handycam.

Pertama kali masuk kita akan disambut berupa gapura dengan penjaga berupa patung raksasa bertaring di sisi kanan. Kita akan melihat banyak abdi dalem yang tersebar disekitar komplek keraton dan dengan ramah mereka akan menjelaskan tempat-tempat yang ada di sana.

Memasuki areal dalam pengunjung bisa melihat beberapa gazebo dengan bentuk yang khas campuran budaya jawa, eropa diantara halaman keraton. Pada saat saya berkunjung, saat siang hari cuacanya sangat panas apalagi area halaman bukan berupa tanah tetapi berupa pasir yang disebar.

Salah satu gazebo

Salah satu gazebo

Ada juga aula besar atau bangsal yang digunakan untuk acara tertentu yang diadakan oleh pihak keraton. Pengunjung hanya bisa melihat dari batas yang diperbolehkan dan tidak boleh menginjak lantai bangsal. Selain itu juga ada bangunan mirip seperti dapur yang digunakan untuk memasak air untuk para abdi dalem, tentunya dengan tungku tradisional.

Salah satu bangsal

Salah satu bangsal

Bangsal dengan arsitektur yang khas

Bangsal dengan arsitektur yang khas

Ada juga area khusus tempat abdi dalem duduk berjejer rapi dengan latar belakang bilik kotak-kotak berwarna hijau. Entah apa yang sedang mereka lakukan, akan tetapi semua abdi dalem duduk rapi sambil berbincang-bincang dengan ditemani beberapa gelas kopi. Pengunjung diberi peringatan agar tidak membelakangi para abdi dalem yang sedang duduk ketika hendak berfoto.

Tempat berkumpul para abdi dalem

Tempat berkumpul para abdi dalem

Semakin masuk kedalam kita akan melewati sebuah gapura lagi dengan beberapa penjaga abdi dalem di sisi kanan kiri. Selain itu juga terdapat sebuah kios kecil tempat menjual aneka minuman dingin pelepas dahaga. Ada juga beberapa macam souvenir khas keraton yang dijual di sisi lain gapura bagian dalam.

Salah satu lukisa koleksi keraton

Salah satu lukisan koleksi keraton

Sepasang kursi antik

Sepasang kursi antik

Abdi dalem yang berjaga didalam bangunan museum

Abdi dalem yang berjaga di dalam bangunan museum

Salah satu koleksi wayang

Salah satu koleksi wayang

Untuk di bagian dalam sendiri mayoritas beberapa bangunan digunakan untuk menyimpan berbagai macam koleksi keraton baik berupa foto, batik, patung dan barang lainnya. Pengunjung diperbolehkan masuk dan melihat-lihat koleksi yang dipamerkan. Tentunya dengan tetap mematuhi beberapa aturan yang tidak boleh dilanggar antara lain menyentuh barang koleksi keraton karena bisa saja ditegur oleh abdi dalem yang berjaga di dalamnya.

Beberapa abdi dalem sedang mengadakan rapat

Beberapa abdi dalem sedang mengadakan rapat

Rata-rata para abdi dalem sudah berusia sepuh alias tua dengan seragam khas keraton dan tidak menggunakan alas kaki. Ada juga calon abdi dalem yang masih anak-anak, mungkin dia adalah cucu dari salah satu abdi dalem yang sudah puluhan tahun mengabdi di keraton.

Hampir tiap hari diadakan pertunjukan gamelan di area aula di tengah-tengah keraton. Rata-rata penabuh gamelan juga sudah sepuh-sepuh. Dengan pakaian jawa khas bagian atas berwarna hitam untuk perempuan. Walaupun saya kurang mengerti arti dari lirik yang ditembangkan oleh sinden tadi tapi alunan gamelan di tengah keraton menambah suasana yang khas dan unik. Banyak juga wisatawan asing yang duduk di sekitar aula melihat pertunjukan tadi, dengan kursi-kursi yang telah disediakan.

Setelah cukup puas berkeliling di sekitar area keraton, saya memutuskan untuk mengakhiri perjalanan siang itu. Di pintu keluar keraton sendiri banyak sekali penjual aneka macam souvenir  yang berjejer rapi menawarkan dagangan. Tetapi saya tidak membeli aneka macam souvenir tadi, saya hanya pulang membawa beberapa puluh foto yang menurutku lebih berharga dan berkesan. Selain itu pastinya tidak menguras kantong hehehe, karena budget saya terbatas untuk membeli sekedar oleh-oleh.

Advertisements

4 thoughts on “Berkunjung Ke Keraton Jogjakarta, Menikmati Suasana Masa Lampau

    1. nDayeng Post author

      hooh begitulah jogja..rasanya biar udah terkenal banget tapi kalau belum berkunjung satu-satu tempat terkenal tadi rasanya belum sah

      Like

      Reply
  1. annosmile

    aku malah udah lama banget ga masuk ke kraton jogja meskipun deket..
    tempatnya menarik sih..cuma kurang nyaman kalau terlalu banyak wisatawan 😀

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s