Ketika Curug Aul Mengering

Sebelumnya jika ditanya apakah kamu tau apa itu binatang Aul? Saya dulu menjawab jika Aul adalah sejenis binatang mirip beruang yang tinggal di hutan dan suka menakut-nakuti manusia. Atau kalau orang Banyumasan menjadikan kata Aul sebagai kata makian untuk perumpamaan yang buruk.

Masih ingat betul ketika masih kecil dulu, jika saya rewel maka akan ditakut-takuti oleh para orang tua dengan binatang Aul. Tapi sebenarnya Aul itu apa? Menurut beberapa orang yang saya tanya, Ya..Aul adalah memang sejenis anjing hutan yang tentunya sering ditemukan di hutan. Mereka tentunya termasuk hewan buas dan berbahaya bagi manusia jika kebetulan bertemu dan mengganggunya.

Tapi saya tidak akan membahas Aul berupa nama binatang, akan tetapi kali ini saya akan menceritakan perjalanan yang baru saja dilakukan. Kali ini nama Aul diabadikan untuk sebuah nama air terjun [curug] yang berada di desa Tanalum, kecamatan Rembang, kabupaten Purbalingga.

Desa Tanalum dengan pemandangan bukit dan hutan

Desa Tanalum dengan pemandangan bukit dan hutan

Lokasinya sendiri berada diantara hutan pinus dan berada pada sebuah bukit di atas desa Tanalum. Untuk mencapainya, dari depan monumen tempat kelahiran jenderal Soedirman lurus saja mengikuti jalan raya menuju ke kecamatan Rembang. Ketika sudah sampai dipertigaan masjid Nurul Iman di desa Sumampir, silakan pilih jalan lurus saja dan sedikit menanjak. Akses jalan sampai tempat tujuan kondisinya sangat bagus dan mulus karena baru saja diperbaiki.

Jika anda masih bingung, berhenti saja dan tanya pada orang yang berada dipinggir jalan. Dengan ramah (berdasarkan dari pengalaman) mereka akan menunjukan di mana letak curug Aul berada. Kami berdua saat itu bertanya di mana letak curug berada kepada serombongan anak-anak yang sepertinya akan pergi bermain. Walaupun masih kecil tetapi ketika ditanya mereka menjawab dengan jelas dan ramah. Bahkan kami menanyakan kira-kira berapa jarak yang harus ditempuh kemudian mereka menjawab sekitar setengah jam saja.

Setelah dirasa cukup jelas, kami melanjutkan perjalanan dengan menggunakan motor. Kali ini temenku yang nyetir, sementara saya duduk di jok belakang. Rute yang harus ditempuh memang naik turun dan sedikit berkelok akan tetapi karena jalannya mulus, kami menikmatinya siang itu.

Hingga pas nyampai pertigaan jalan kami memutuskan berhenti sejenak karena bingung kemana arah jalan yang harus dilewati. Sembari menunggu orang lewat kami menepi di pinggir jalan, syukurlah ada seorang ibu dengan anaknya yang naik motor dan sepertinya sehabis pergi berbelanja. Setelah dengan sopan kami bertanya, akhirnya kami di antarkan hingga pertigaan jalan berikutnya. Kami mengikuti si ibu tadi dengan motor secara pelan-pelan.

Kami sampai di pertigaan yang dimaksud si ibu tadi dan atas sarannya supaya lurus saja mengikuti jalan di depan. Jika menemui pertigaan lagi silakan pilih jalan yang lurus saja jangan belok ke kanan dan sebuah lapangan menjadi tanda jika lokasi sudah dekat. Kami pun mengikuti saran si ibu dan benar adanya pas di pertigaan terdapat plang lokasi curug Aul berada.

Awalnya kami memutuskan akan naik ke bukit dengan motor [jalan menuju bukit dan curug beraspal akan tetapi sudah rusak] tapi kata bapak-bapak yang berada di pinggir jalan sebaiknya jalan kaki saja. Karena selain jalannya rusak juga biar motor aman dan dengan ramahnya si bapak tadi menawarkan halaman rumahnya untuk dijadikan tempat penitipan motor. Oh ya..si bapak yang baik tadi bernama pak Sandi, lelaki berperawakan pendek dan sudah agak tua tapi sangat ramah. Selain ramah pak Sandi juga menjelaskan bahwa saat ini kondisi curug Aul sedang kering karena musim kemarau. Kami pun mengiyakan saja akan tetapi rasa penasaran seperti apa kondisi curug membuat kami terus melanjutkan perjalanan.

Jalan menanjak dan berbatu

Jalan menanjak dan berbatu

Kami harus berjalan menaiki bukit dengan jalan berbatu dan sedikit bekas aspal yang masih tersisa. Sepertinya tempat ini dulunya pernah diperhatikan oleh pemerintah sebagai tempat wisata akan tetapi saat ini kondisinya sedikit mangkrak.

Yang membuat berat untukku selain nafas terengah-engah karena capek dan panas adalah, sepertinya saya terkena dehidrasi. Itu dibuktikan dengan rasa kepingin buang air kecil terus disertai rasa sakit pada bagian bawah perut. Dengan menahan sakit dan berharap segera menemukan sumber mata air untuk minum, saya menahan semua rasa sakit tadi.

Pepohonan yang rindang dibukit

Pepohonan yang rindang di bukit

Semakin naik bukit, kami disuguhi pemandangan berupa rimbunnya pohon pinus yang menjulang tinggi di sisi kanan kiri jalan. Beberapa kali kami berpapasan dengan penduduk sekitar yang sehabis pulang dari berkebun. Karena ada beberapa lahan yang digarap oleh penduduk sekitar untuk bercocok tanam pohon singkong.

Saat itu rasanya waktu berjalan lambat, kami tertipu beberapa kali karena mengira suara gemericik air terjun sudah dekat. Akan tetapi itu semua hanya berupa suara daun-daun pohon bambu yang tertiup angin hingga menghasilkan suara seperti gemericik air.

Setelah hampir setengah jam berjalan, akhirnya kami sampai pada sebuah gubuk yang sudah rusak akan tetapi pemandangannya luar biasa indahnya. Kami bisa melihat  dari atas  beberapa desa sekitar dibawah bukit yang tinggi. Woww..sebuah ciptaan Tuhan yang luar biasa indahnya..rasa lelah dan menahan sakit sedikit hilang sejenak.

Berfoto dengan latar belakang pemandangan yang luar biasa

Berfoto dengan latar belakang pemandangan yang luar biasa

Kami pun tak ingin menyia-nyiakan pemandangan yang indah ini tanpa berfoto dengan latar belakang sebuah lembah. Semilir angin sore itu menambah sejuk dan membuat rasa lelah sedikit terlupakan dan digantikan sebuah mahakarya yang indah.

Menikmati segarnya mata air pegunungan

Menikmati segarnya mata air pegunungan

Setelah puas berfoto-foto, kami harus menuruni jalan setapak dengan semak belukar di kanan kirinya. Tak butuh waktu lama kami pun tiba di tempat yang dituju yaitu curug Aul. Ah…lega rasanya, akhirnya kami sampai juga. Sayapun langsung mengisi persediaan botol air minum dengan mata air yang mengalir jernih disekitar curug.

Curug Aul

Curug Aul menyisakan batu-batu kecil

Curug Aul

Curug Aul yang mengering

Kondisi curug Aul sendiri memang benar-benar berkurang drastis airnya. Hanya terdengar sedikit gemericik air yang mengalir mengikuti celah bebatuan tebing.  Curug Aul jika dilihat dari bawah terlihat sangat tinggi dan tanpa tingkatan.  Di bawahnya terdapat  sebuah kolam kecil yang masih menyisakan air. Kami pun mencuci muka menikmati kesegaran air pegunungan sore itu.

Setelah puas berfoto-foto dan menaklukan rasa penasaran seperti apa curug Aul , kami memutuskan untuk turun karena kebetulan sudah sore. Tapi ketika kami turun ternyata masih ada beberapa pengunjung yang naik dengan berombongan. Beberapa pasangan muda-mudi yang tengah pacaran sepertinya tidak mempedulikan jika waktu sudah sore.

Kami memutuskan istirahat sebentar sambil mau mengambil motor yang ditiipkan di rumah pak Sandi dan berbincang-bincang sebentar. Ternyata beliau kenal dengan tetanggaku yang asli orang Banjarnegara, maka semakin akrablah kami saat itu. Sambil berbincang kami disuguhi air putih, kopi dan rempeyek kacang. Baik banget memang pak Sandi ini padahal kami baru saja kenal akan tetapi terasa akrab.

Pak Sandi yang ramah

Pak Sandi yang ramah

Setelah berbincang sebentar dengan pak Sandi, kami pamitan dan segera pulang karena badan rasanya sudah capek banget. Sebuah perjalanan yang luar biasa walaupun harus ditempuh dengan susah payah [menurutku]. Rasa penasaran seperti apa curug Aul , terbayarkan sudah dan ternyata namanya tak seseram seperti apa yang saya bayangkan sebelumnya. Semoga kami bisa kembali lagi ke sini pas musim penghujan tiba dan debit air sudah banyak sehingga keelokan curug Aul semakin terlihat. Dan kami berharap akses jalan menuju bukit segera diperbaiki agar memudahkan para wisatawan berkunjung sehingga nama curug Aul semakin dikenal orang.

Advertisements

6 thoughts on “Ketika Curug Aul Mengering

  1. fanny fristhika nila

    ini sayang bgt debit airnya dikiiit bgt…jd ga gitu terlihat air terjun sih… paling suka ya kalo air terjun yg kita dtangin itu deras, untung2 kalo tinggi :D.. jd kliatan gagah perkasa 😀

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s