Kolam ditingkat ll cocok untuk berenang

Mendaki Karang di Curug Kali Karang

Musim kemarau yang kering kerontang begini enaknya memang pergi ke tempat yang banyak airnya. Salah satunya mengunjungi air terjun (curug) dan berharap debit airnya masih banyak jadi bisa memuaskan dahaga bermain air.

Setelah sebelumnya tau lokasi curug hanya dari kabar burung dan dari mulut ke mulut, pagi itu saya akhirnya memutuskan untuk membuktikan sendiri keberadaannya. Lokasinya yang (lagi-lagi) di kabupaten Purbalingga, notabene deket rumah (asal jangan jalan kaki saja) membuat saya makin semangat gimana  suasananya.

Salah satu curug yang terkenal di kecamatan Rembang, kabupaten Purbalingga adalah curug Kali Karang. Dari monumen tempat kelahiran Jenderal Soedirman,  kita tinggal milih belok kanan mengikuti jalan yang ada. Setelah melintasi pertigaan masjid Nurul Iman di desa Sumampir, silakan belok kiri saja terus lurus. Ketika mendekati pertigaan sebuah pasar kita tinggal belok kanan kemudian ikuti saja jalan yang berkelok-kelok naik turun.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit, kita akan sampai di pinggir sungai Kali Karang. Tinggal parkir motor di pinggir kali, lalu berjalan beberapa meter dan sampailah di lokasi curug Kali Karang. Menurutku lokasinya gampang banget di akses baik oleh motor maupun mobil, jika baru pertama kali ke sini disarankan untuk banyak bertanya arah jalan menuju ke sini saja. Karena sedikit sekali plang tanda lokasi curug ini di pinggir jalan.Hanya ada plang di depan akses menuju sungai Kali Karang.

Selamat datang di curug Kali Karang

Selamat datang di curug Kali Karang

Kami harus kesasar beberapa kali ketika mencari dimanakah letak curug Kali Karang. Tiap beberapa meter nanya orang, akan tetapi jawabannya berbeda-beda. Kami akhirnya nekad mengikuti arah angin membawa motor matic ini berputar *halahhh*. Hingga tara….kami akhirnya sampai juga ke lokasi curug Kali Karang (padahal nanya terus, hihhh daripada malu bertanya sesal dijalan).

Kejadian yang lucu adalah ketika kita berdua sudah buntu dan bingung pas di persimpangan jalan (tanpa kenangan). Udah nanya orang (lagi) eh tanda lokasi curug ternyata berada di sebelah tanggul jembatan tertutup coretan gravity tangan-tangan jahil. Syukurlah….kami akhirnya berakhir happy ending kok alias nyampai tujuan dengan selamat dan sentosa.

***

Kondisi sungai yang mengering dimusim kemarau

Kondisi sungai yang mengering di musim kemarau

Karena saat ini masih memasuki musim kemarau dan sepertinya musim penghujan belum menunjukan tanda-tanda, debit air Kali Karang berkurang drastis. Hanya pemandangan bongkahan batu dari yang berukuran bola sepak hingga batu raksasa yang teronggok di sepanjang aliran sungai.

Sementara itu di sisi kanan dan kiri sungai, terdapat beberapa gubuk yang dijadikan tempat berjualan aneka minuman pelepas dahaga serta tentunya Mendoan khas Banyumasan. Hampir tiap warung siang itu beraroma Mendoan yang sedang digoreng, hmm perut ini semakin keroncongan saja.

Suasana siang itu tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa anggota keluarga yang sedang berkunjung serta beberapa remaja ABG yang sedang asyik memadu kasih. Dan saya? Ya..saya cuma menonton saja dengan partnerku alias sahabatku. Ada juga sih sepasang ABG yang memakai kaos couple, dan temenku berseloroh…

”hari gini masih ada yang pakai kaos couple, pasti ABG alay”.

Padahal sih sebetulnya kami iri melihat mereka hahahaha.

Kolam dasar digunakan untuk bermain anak-anak

Kolam dasar digunakan untuk bermain anak-anak

Tanpa menunggu waktu lama kami berdua beranjak menaiki tebing yang tidak terlalu curam. Oh ya sebenarnya curug Kali Karang terdiri dari tiga tingkat. Tingkat pertama terdapat kolam yang cukup lebar dengan kedalaman sebatas betis orang dewasa [saat kemarau]. Tingkat kedua terdapat kolam bundar alami dihiasai oleh tebing cantik serta batuan besar di dasar kolam. Kedalamannya sendiri berkisar satu setengah meter dan sangat asyik untuk berenang disana.

Kolam ditingkat ll cocok untuk berenang

Kolam di tingkat ll cocok untuk berenang

Saya tidak tahu persis berapa total tinggi air terjun tadi, akan tetapi kalau boleh menebak sekitar 20 meter lebih jika ditotal dari tingkat pertama hingga tiga. Makin kebawah memang debit air semakin berkurang, sayang…kami tidak bisa mendaki air terjun di bagian puncak. Padahal di sana juga ada kolam alami dengan dinding berupa cekungan batu-batu yang indah.

Kami sebenarnya tidak bisa berenang sama sekali, hanya bisa renang gaya batu, akan tetapi dengan modal nekat yang menggebu-gebu (temenku yang ngomporin untuk nyoba nyebur kekolam), kami memutuskan nyemplung mencicipi segarnya mata air pegunungan.

Yang bikin pusing adalah saya tidak bawa celana dalam untuk ganti, cuma bawa celana pendek warna khaki. Temenku sih enak udah siap bawa celana boxer, tapi halangan remeh temeh ini nggak akan jadi penghalang hahahaha. Berhubung tidak ada tempat ganti, lagian juga laki kan gampang cari tempat ganti entah dibalik semak atau pohon talas kan bisa. Saya mencari semak belukar untuk dijadikan tempat persembunyian sementara sebelum berubah dengan kostum seksih.. yang memperlihatkan lekuk lemak yang menggelambir.

Tanpa babibu langsung saja kami nyebur, brrrr ternyata airnya dingin banget padahal pas siang-siang gitu loh. Lagi-lagi dan lagi kami disuguhi pemandangan sepasang ABG yang sedang memadu kasih indahnya dunia percintaan. Modusnya sih belajar renang padahal? silahkan anda berimajinasi sendiri saja.

Nih ada beberapa momen kami berdua yang ikutan alay pas lihat air di mana-mana hehehe. Lupakan pemandangan lemak yang menggelambir dan merusak pemandangan anda. Hati-hati juga ya karena batuan di sini sangat licin dan berlumut. Salah-salah bisa terpeleset dan jatuh kayak kejadian yang menimpa temenku, untung nggak apa-apa.

Debit airnya masih lumayan banyak

Debit airnya masih lumayan banyak

Beberapa pengunjung dengan anggota keluarganya

Beberapa pengunjung dengan anggota keluarganya

Kolam lumayan jernih

Kolam lumayan jernih

Hampir sejam lebih bermain air hingga tak terasa kalau sudah siang, maklum kami jarang bermain air. Paling dulu waktu jaman kecil bermain air di kolam-kolam dekat pemandian umum. Makin siang ternyata makin banyak pengunjung yang datang, walhasil makin rame saja kolamnya. Kami akhirnya memutuskan untuk mengakhiri bermain air dan menikmati curug.

Setelah membersihkan diri, saya memutuskan untuk mencari makan siang. Ternyata perut ini sudah keroncongan pakai banget. Dan menu yang tersedia [hanya] soto ayam dengan kuah santan kental berwarna kuning. Dengan makanan pendamping pastinya tempe mendoan yang masih ngebul karena baru saja diangkat dari wajan. Si penjual ibu-ibu setengah baya didampingi anak gadisnya yang kira-kira masih sekolah dasar.

Seporsi soto dengan sambal [cuma sebagai hiasan] habis nggak kuat pedes

Seporsi soto dengan sambal [cuma sebagai hiasan] habis nggak kuat pedes

Tempe mendoan dan ketupat

Tempe mendoan dan ketupat

Saya memutuskan pesan semangkok soto hangat, dua tempe mendoan serta sebotol air mineral ukuran sedang dan cuma membayar total Rp 11,000. Hmmm murah meriah dan lezat tentunya, sangat pas untuk sedikit mengobati kedinginan karena berendam di kolam yang cukup lama.

Ketika kami turun dari curug, terlihat banyak pengendara motor trail yang sedang menjelajah disekitar Kali Karang. Siang itu suasana di sekitar sini makin ramai saja selain berjubelnya orang-orang juga diriuhkan dengan suara knalpot dari ratusan motor yang akan lewat. Pemandangan yang langka dan jarang ketika melihat motor-motor trail beramai-ramai melintasi sungai yang kering dan berbatu.

Beberapa peserta trail adventure

Beberapa peserta trail adventure

Sekitar pukul 13.00 kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan mencari curug lainnya di kecamatan Rembang. Sebuah pengalaman yang luar biasa ketika menikmati berkah alam tanpa perlu jauh-jauh dan menguras dompet.

Advertisements

9 thoughts on “Mendaki Karang di Curug Kali Karang

    1. nDayeng Post author

      heheh begitulah..ini saja pas musim kemarau, gimana pas musim penghujan..mungkin malah ga berani berenang karena aliran airnya deras hehee

      Like

      Reply
  1. fanny fristhika nila

    nah air terjun yg ini lbh bgs nih drpd yg 1 nya yg kamu tulis jg mas…kalo yg itu mungkin krn debit airnya tipis bgt kali ya, jd ga terlihat air terjun malah… yg ini debit airnya msh deras 🙂

    Like

    Reply
  2. Pingback: Obyek Wisata Curug Kali Karang Purbalingga Jawa Tengah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s