Monumen Tempat Kelahiran Panglima Besar Jenderal Soedirman l Dokumentasi Pribadi

Napak Tilas di Tempat Kelahiran Panglima Besar Jenderal Soedirman

 

“mencari-mencari hiburan minggu pagi”

“jangan jauh-jauh ke Purbalingga saja”

Sedikit penggalan lagunya Bang Haji Rhoma Irama tadi yang sedikit dimodifikasi rasanya cocok untuk dinyanyikan. Kenapa memang? Ya karena pelesiran nggak usah jauh-jauh nyebrang pulau (padahal sih aslinya karena dana terbatas hehehe) cukup ndayeng (ngelayab *jawa banyumasan) ke kabupaten tetangga.

Aslinya saya tinggal di kabupaten Banjarnegara yang terkenal akan wisata alam Diengnya. Akan tetapi berhubung rumah saya diujung barat yang malah lebih dekat ke kabupaten Purbalingga jadi kemana-mana lebih dekat ke kabupaten tetangga tadi.

Hmmm…rumput tetangga terlihat lebih hijau? Sepertinya peribahasa tadi masih cocok untuk menggambarkan keadaan kedua kabupaten tadi. Dimana kabupaten Purbalingga terlihat lebih maju daripada kabupaten Banjarnegara. Lho kok? Bukannya tidak bangga dengan kabupaten sendiri akan tetapi memang kenyataannya demikian adanya.

Contoh nyata perbedaan yang kontras adalah keadaan jalan rayanya. Kalau didaerahku kondisi jalannya banyak yang sudah rusak, ada sih yang masih mulus tapi itu jarang sekali. Sedangkan kondisi sebaliknya terlihat jelas ketika kita memasuki perbatasan antara kabupaten Banjarnegara – Purbalingga lewat jalan Danakerta – Bedagas.

Okelah kita lupakan masalah jalan tadi,biarlah jadi urusan pemerintah kabupaten. Hidupku sudah banyak masalah *halaahh* hahaha. Eh lupa, aslinya kan mau nulis tentang pengalaman pelesiran minggu kemarin ke museum malah jadi ngelantur kemana-mana. Kebiasaan banget ini hehehe.

Jadi minggu kemarin saya dengan sahabat sedari kecil dulu (sekarang udah gede *jempolnya*) bermotoran ria menuju monumen tempat kelahiran Panglima Besar Jenderal Soedirman. Lokasinya berada di Jl Raya Dukuh Rembang, Desa Bantarbarang, Kec.Rembang – Purbalingga. Kalau dari rumahku cuma menempuh jarak kurang lebih 5 kilometer saja jika ditempuh dengan menggunakan sepeda motor.

Jalan menuju monumen tadi sangat mulus banget,bak kulitnya Dian Sastrowardhoyo. Nanti ketika memasuki desa Bantarbarang akan terlihat gapura petunjuk yang tertulis “selamat datang di desa kelahiran Panglima Besar Jenderal Soedirman. Kebetulan atau kelupaan saya tidak sempat mengambil foto gapura tadi..sayang banget tapi ya sudahlah.

Penasaran kan seperti apa suasana didalam monument? Nyok kita lihat bersama sedikit hasil jepretan fotografer dadakan dengan lensa hp tiongkok haha.

Sebelum memasuki monument pengunjung diwajibkan membayar tanda karcis masuk sebesar Rp 2,000 per orang.  Sementara untuk karcis parkir, pengunjung membayar Rp 1,500 untuk hari libur. Kebetulan  saya berkunjung pas hari minggu, saat itu suasana lumayan sepi.

Karcis Masuk Serta Karcis Parkir

Karcis Masuk Serta Karcis Parkir

Pertama kali masuk monument kita akan disambut dengan diorama besar berwarna emas menghiasi halaman depan. Dalam diorama tersebut berisi sekilas cerita mengenai masa kecil hingga usia remaja Panglima Besar Jenderal Soedirman.

Diorama Didepan Monumen

Diorama Didepan Monumen

Selain disambut dengan diorama besar, pengunjung juga akan disambut sebuah pohon beringin raksasa disebelah kanan diorama. Ditengah-tengah halaman terdapat tiang bendera panjang tempat mengibarkan bendera sang saka merah putih.

Hmm mungkin ada yang belum tahu siapa itu Soedirman, kali ini saya akan sedikit mengingatkan kembali siapa itu beliau. Soedirman lahir pada 24 Januari 1916 di desa Bodas Karangjati, kecamatan Rembang, kabupaten Purbalingga. Terlahir dari pasangan suami istri Karsid Kartawiraji dan Siyem, keduanya merupakan orang biasa dan bukan keturunan priyayi. Soedirman kecil diadopsi oleh priyayi bernama Cokrosunaryo yang tak lain dan tak bukan adalah suami dari Tarsem. Tarsem sendiri merupakan saudari ibunya Soedirman.

Soedirman remaja adalah seorang yang rajin, ia sangat aktif dalam berbagai kegiatan termasuk mengikuti program kepanduan yang dijalankan oleh organisasi Muhammadiyah. Pada tahun 1944, ia bergabung dengan tentara Pembela Tanah Air (PETA) yang disponsori Jepang, menjabat sebagai komandan batalion di Banyumas. Selama menjabat, Soedirman bersama rekannya sesama prajurit melakukan pemberontakan, namun kemudian diasingkan ke Bogor.

Beliau dikenal dengan perang gerilyanya selama tujuh bulan,ketika belanda melancarkan agresi militernya di kota Yogyakarta. Beliaulah yang ikut bergerilya menghadapi agresi militer belanda ll.

Beliau meninggal pada tanggal 29 Januari 1950 sekitar pukul 18.30 di  kota Magelang pada usia 34 tahun. Makam beliau sendiri berada di taman makam pahlawan Semaki, Yogyakarta. Pada tanggal 10 Desember 1964, beliau ditetapkan sebagai pahlawan nasional Indonesia. Bahkan patung Soedirman berdiri kokoh disekitar kawasan SCBD Jakarta dan menjadi sebuah ikon.

Tiang Bendera Yang Menjulang Tinggi

Tiang Bendera Yang Menjulang Tinggi

Memasuki gedung utama, pengunjung akan disuguhi dua buah bangunan berbentuk joglo dengan atap terbuat dari seng. Untuk joglo bagian depan sendiri tanpa tembok, jadi suasana sangat sejuk dengan semilir angin yang masuk dari berbagai sisi. Selain itu joglo bagian depan berbentuk seperti pendopo pada umumnya, dengan lantai keramik warna merah menghiasi seluruh isi ruangan.

Gedung Berbentuk Atap Joglo

Gedung Berbentuk Atap Joglo

Oh ya seluruh bangunan ini berbilik bambu yang dianyam sedemikian rupa dengan finishing warna cokelat mengkilap. Dibeberapa bagian Nampak bilik yang sudah mulai keropos karena dimakan rayap.

Di bangunan bagian belakang sendiri terdiri dari tiga kamar dengan satu kamar berisi ranjang tradisional dengan penutup kelambu serta sebuah lemari ukir kayu. Selain itu terdapat penunggu yang duduk dipojok kamar eh salah ding, itu temenku yang iseng minta difoto dengan pose seperti itu hehehe.

Sementara itu diruangan lainnya terdapat sebuah prasasti yang diukir diatas batu marmer warna putih yang isinya sebuah kalimat dari Panglima Besar Jenderal Soedirman. Untuk ruang yang satunya lagi hanya berisi dua buah kursi panjang kuno yang berisi tumpukan layur dan bendera merah putih dengan kondisi yang berantakan.

Sebuah Kalimat Dari Sang Panglima Besar Jenderal Soedirman Terpahat Diatas Marmer

Sebuah Kalimat Dari Sang Panglima Besar Jenderal Soedirman Terpahat Diatas Marmer

Dibagian tengah ruangan terdapat meja kecil dengan buku tamu yang sudah lapuk diatasnya. Dengan latar belakang sebuah partisi yang bisa diubah menjadi lebar, ruangan tersebut terlihat cantik. Dibagian belakang partisi terdapat tiga buah meja rotan kuno dengan meja kayu bundar. Sementara itu dibagian atas terdapat sebuah lampu antik berwarna putih dengan kondisi yang kotor dan berdebu (tapi yang berkunjung waktu itu klimis,bersih dan wangi loh hehe).

Sebuah Partisi Dengan Latar Belakang Seperangkat Kursi Rotan Antik

Sebuah Partisi Dengan Latar Belakang Seperangkat Kursi Rotan Antik

Dibagian depan partisi tadi terdapat sebuah meja bundar yang terbuat dari kayu yang berisi beberapa kendi, seperangkat alat untuk menumbuk ketika menyirih, sepasang teko dan cangkir.

Seperangkat Kendi Minum + Teko Cangkir Serta Alat Untuk Menyirih

Seperangkat Kendi Minum + Teko Cangkir Serta Alat Untuk Menyirih

Menuju ruangan dibelakang sendiri terdapat deretan diorama yang berisi beberapa cuplikan adegan sang Panglima Besar Jenderal Soedirman dalam bentuk patung mini.  Dari kiri kekanan menceritakan ketika sang jenderal lahir,besar dan dewasa. Kondisinya juga kotor, berdebu dan sepertinya kurang terawat.

Beberapa Diorama Yang Terbagi Dalam Beberapa Bagian Adegan

Beberapa Diorama Yang Terbagi Dalam Beberapa Bagian Adegan

Sebenarnya selain bangunan utama,disamping kiri juga terdapat gedung berbentuk joglo pula. Namanya gedung apa saya juga kurang tahu, yang pasti didepan bangunan terdapat sebuah patung sosok lelaki berbalut warna emas.

Sebuah Patung Berbalut Warna Emas

Sebuah Patung Berbalut Warna Emas

Saya sebenarnya penasaran apa isi dari gedung tadi, ternyata cuma ada kereta kuda yang disenderkan ke beberapa meja berbentuk bundar serta replika tandu yang digunakan Panglima Besar Jenderal Soedirman saat perang gerilya. Selain itu siang itu didalam juga dijadikan tempat tiduran beberapa pengunjung, sepertinya mereka kelelahan. Sayapun masuk dengan perlahan-lahan agar tidak mengganggu orang-orang tadi. Heran sih kok tempat umum dijadikan tempat istirahat, mana terlihat nyenyak banget tidurnya.

Selain itu juga terdapat sebuah catatan riwayat hidup sang Jenderal,disamping replika tandu tadi. Sisanya terlihat tembok yang sudah retak dan rusak dibeberapa bagian bangunan.

Siang itu sekitar pukul 11 saya dan teman  memutuskan untuk mengakhiri sekilas napak tilas mengenang kebesaran sang Panglima Besar Jenderal Soedirman. Sebuah perjalanan yang cukup bermanfaat untuk lebih menghargai dan mencintai perjuangan para pahlawan yang telah gugur. Sebenarnya masih banyak tempat wisata menarik di Kabupaten Purbalingga, kali ini baru sempat menulis tentang monumen tanah kelahiran sang jenderal saja. Kita lihat saja tulisan berikutnya ya…semoga masih diberi kesempatan untuk menjelajah kabupaten Purbalingga hehehe.

Advertisements

7 thoughts on “Napak Tilas di Tempat Kelahiran Panglima Besar Jenderal Soedirman

  1. noerazhka

    Wah, ada monumennya ya ternyata. Kalo di Magelang, ada tuh museum Jenderal Sudirman. Itupun saya belum pernah masuk. Hiks hiks ..

    Salam kenal ya, Kak .. 😀

    Like

    Reply
    1. nDayeng Post author

      Emg bnyk monumen jenderal soedirman, di jogja jg ada. Klo yg di rembang monumen tmpt klahirannya.
      Trims mbak..sdh mampir dan komen..sprtnya udh dr bbrpa bln yg lalu knal Noerazka deh tp lma diakun apaan hehe

      Like

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s