suasananya hangat dengan kayu-kayu sebagai interiornya

Ketika Si “Anak Singkong” Mencicipi Secuil Hedonisme

Ini adalah cerita tentang kehidupan masyarakat yang katanya modern pada abad ini atau istilah anak mudanya adalah biar kekinian. Mungkin efek dari arus globalisasi yang semakin merata diseluruh dunia atau bahkan karena semakin mudahnya orang bisa mengakses internet.

Hingga setiap orang yang punya gadget plus bisa punya akun social media dengan mudah akan ikut terpengaruh dengan apa yang diposting orang di akun social media mereka.

Semua orang pasti pernah mengalami kejadian seperti ini entah sering atau malah baru pertama kali. Kita yang hidup di jaman yang katanya serba canggih tapi malah kadang membuat interaksi antar manusia jadi kaku dan tidak alami lagi. Kejadian yang dimaksud adalah nongki-nongki cantik/ganteng di pusat perbelanjaan atau Mall. Semua pernah mengalami kan ? Apalagi bagi generasi muda yang lahir setelah era millennium 2000,pastinya kegiatan nongkrong sudah menjadi suatu aktifitas wajib jika ingin dikatakan anak gaul. Begitupun dengan saya yang notabene bukan anak 2000an keatas tapi 2000an kebawah juga biar tidak sering tapi juga pernah mengalami aktifitas nongkrong sekedar ngobrol ngalor ngidul sambil asyik maen gadget.

Karena kebetulan sekali saya bukan anak yang lahir dan besar dikota alias anak kampung,maka ketika punya kesempatan untuk main-main kekota menjadi suatu kegembiraan tersendiri,biarpun kadang cukup menguras isi dompet. Karena tau sendiri,nongkrong jaman sekarang bukanlah nongkrong secara harfiah melainkan nongkrong ditempat yang kebanyakan berbayar alias harus ngeluarin duit biar bisa menikmati aktifitas tadi.

Siang ini saya dan  teman akhirnya nongkrong setelah berkeliling seisi Malioboro Mall yang penuh sesak siang itu,kebetulan cuma di Jco Donnuts yang terlihat ada bangku kosong untuk 2 orang. Ini bukan nongkrong yang pertama kali dalam 2 hari terakhir. Sebelumnya kami juga nongkrong di Jco Donnuts juga tapi di Ambarukmo Plaza. Karena saya jarang pergi kekota maka ketika pesan makanan atau minuman terkadang cuma menurut saja apa kata teman. Kali ini di pesankan kopi mix gitu dalam keadaan dingin tentunya,sama donatnya juga. Dasar perut yang kagetan alias mungkin perut orang ndeso baru minum beberapa seruputan saja perut ini sudah terasa mules. Mungkin efek kemarin yang juga minum kopi,oh ya asal kalian tau sebenarnya saya nggak suka kopi.

Setelah muter-muter seisi mall yang memang tidak terlalu luas,sebenarnya sih nunggu kursi kosong karena kebetulan siang itu mall sedang ramai oleh pengunjung. Walhasil karena sudah terlanjur diluar kepanasan memutuskan untuk masuk sekedar ngademin suhu tubuh. Hampir semua food court siang itu penuh sesak baik tua muda,bahkan banyak juga bule-bule.

Siang ini saya kebagian tempat duduk yang kebetulan persis sebelahan sama seorang cewek yang asik dengan gadgetnya. Kami nggak banyak omong mungkin ikut latah juga dengan gadget masing-masing. “Duh sebenarnya hati ini berasa mau berontak  dengan keabnormalan ini”. Istilahnya dengan tren Hedonisme atau arti lengkapnya dalam Wikipedia adalah  Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa orang akan menjadi bahagia dengan mencari kebahagiaan sebanyak mungkin dan sedapat mungkin menghindari perasaan-perasaan yang menyakitkan. Hedonisme merupakan ajaran atau pandangan bahwa kesenangan atau kenikmatan merupakan tujuan hidup dan tindakan manusia. Terdapat tiga aliran pemikiran dalam hedonis yakni CyrenaicsEpikureanisme, dan Utilitarianisme.                                                                                                                                

Istilah ini sedikit banyak akrab ditelinga anak muda saat ini entah di kota besar seperti Jakarta atau kota sedang seperti Yogyakarta. Berdasarkan pengamatan semua yang nongkrong di pusat perbelanjaan punya tipe yang sama bahkan khas banget yaitu ngobrol dengan tangan yang terus memegang gadget masing-masing. Jangankan saling sapa sesama pengunjung,dengant teman sendiri juga kadang lupa. Padahal persis duduk berhadap-hadapan. Saking sibuknya mungkin dengan handphone ditangan.

Persis dibelakang tempat duduk kami ada 2 atau 3 orang bule yang sedang ngobrol dalam bahasa jerman,sebenarnya saya sendiri nggak tau apa yang sedang mereka bicarakan. Selain terdengar keras juga lucu  kosakatanya. Sebenarnya saya merasa  muak dengan semua kebohongan ini, dunia dimana jika hanya ingin cari tempat nongkrong kita harus membeli snack atau minuman yang harganya menurut saya nggak murah. Duh arus globalisasi begitu cepat sekali menyebar ke seluruh penjuru dunia ini. Saya sendiri yang notabene merupakan orang yang berasal dari kampung agak kegok dengan semua pengalaman ini hahaha. Cuma 2 kali sih saya nongkrong di Mall itupun kalau pas kebetulan berkunjung ke kota. Eh sebelah meja kami juga ada 2 orang “emak-emak” ndut dengan alis yang super aneh dan  juga bulu mata kece badai yang bikin orang melihat bikin tersenyum haha.

Setelah nongkrong sekitar 1 jam- an akhirnya kami memutuskan untuk pergi. Selain antrian orang-orang yang juga ingin ikut nongkrong makin mengular kebetulan juga siang itu kami harus buru-burau untuk menonton film di bioskop. Dan lagi-lagi ini juga atas rekomendasi teman,saya cuma nurut saja pokoe,asal nggak macem-macem saya ladeni dengan sabar haha.

Akhirnya saya hanya menghela nafas saat semua kejadian tadi terasa begitu asing bagi seorang yang nggak terbiasa masuk dalam kondisi  dimana yang dekat jadi jauh dan yang jauh jadi begitu dekat. Ketika esensi sebuah obrolan adalah secara langsung tatap muka tapi kami malah asik berchatting ria disaat fisik saling berhadapan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s