Titik Nol Kilometer, Siang Itu!

Tak dipungkiri perkembangan teknologi saat ini mau tidak mau membuat kita juga harus selalu update dengan pesatnya arus informasi yang datang tiap detiknya. Salah satunya adalah lewat media sosial twitter, ya media sosial yang satu ini memang sedikit banyak telah menggeser kepopuleran facebook yang sudah lumayan lama boleh dibilang merajai media sosial didunia khususnya masyarakat Indonesia.

Dengan adanya twitter yang makin terkenal dan juga makin akrab dengan keseharian kita tentu saja berdampak yang positif maupun negatif. Kasus yang masih lumayan hangat adalah tentang kasus salah seorang mahasiswi asal Sumatera Utara yang sedang menempuh studi di kota Jogjakarta. Yang asal muasalnya adalah gara-gara antrian pembelian BBM di SPBU.Saya tidak akan membahas lebih detail mengenai kasus tersebut karena saya yakin masyarakat kita sudah tahu semua mengenai berita ini.Saya akan lebih menitikberatkan pembahasan mengenai dampak twitter bagi saya pribadi sebagai seorang yang boleh dibilang aktif di media sosial ini.

Saya sangat tertarik dengan banyaknya informasi yang bisa didapatkan dengan hanya memantau twitter ini,salah satunya yang saat ini membuat saya antusias adalah mengenai akun-akun yang memposisikan diri sebagai travell blogger. Ya kata ini mungkin tidak asing lagi bagi para pecinta petualang yang juga suka mencatatkan apa yang dialaminya dalam perjalanannya lewat tulisan dan foto.

Sebagai seorang yang boleh dibilang baru mengenal komunitas ini,saya merasa sangat terinspirasi dengan  aktifitas yang mereka lakukan. Salah satunya adalah dengan memfollow akun-akun mereka,salah satunya adalah @catperku @duaransel dan masih banyak lagi. Saya sungguh sangat ingin sekali minimal mengikuti jejak mereka,biar belum bisa berpelesiran sendiri ya minimal bisa ikut ketularan untuk juga menekuni hobi menulis.

Dari situlah dengan segala keterbatasan sedikit demi sedikit saya mulai memberanikan diri untuk mulai belajar menulis. Ini bukan dengan belajar seperti di sekolah-sekolah tapi dengan cara banyak membaca blog-blog mereka dan kemudian mencoba untuk menulis,tentu dengan tidak meniru gaya tulisan atau bahasa mereka. Saya berusaha untuk menjadi diri sendiri biarpun belum layak.

Dan dari merekalah akhirnya saya memberanikan diri untuk melakukan perjalanan sendiri atau saat ini yang lebih populer disebut backpacker. Lebih gampangnya melakukan perjalanan wisata sendiri ke kota yang lumayan dekat yaitu Jogjakarta,ya kota yang satu ini sudah tidak asing lagi bagi para pelancong baik dalam maupun luar negeri.

Perjalanan ini saya mulai dari banjarnegara tanggal 20-23 September 2014. Tentu saja dimulai dengan persiapan yang lumayan njelimet menurut saya,karena ini pengalaman pertama dan harus tahu apa-apa saja yang perlu dipersiapkan sebelum hari H. Dimulai dari persiapan uang,alat transportasi,barang bawaan,kesehatan,tempat penginapan,tempat-tempat mana saja yang harus dikunjungi dan  masih banyak lagi hal-hal kecil yang harus dipersiapkan.

Pas hari H (Sabtu,20 September 2014) saya bangun pukul 04.30 pagi,tujuannya sih agar punya waktu luang untuk persiapan. Saat itu saya memilih untuk menggunakan jasa transportasi travell,tadinya sih ingin naik bus tapi dipikir-pikir makan waktu dan juga tenaga. Akhirnya saya putuskan untuk memilih travel saja.

Dari rumah saya berangkat jam 05.30pagi naik motor menuju Proyek Mrica,dan itupun saya minta dianter paman,sempat terjadi gangguan dikit saat pagi itu karena mobil travell sudah menunggu di Proyek Mrica jam 06.00 pagi. Dan saat itu paman lupa kalau pagi itu harus nganter , mungkin dia lupa atau bagaimana saya juga tidak tahu.

Sampai di Proyek Mrica ternyata tepat jam jam 06.00 dan disana sudah menunggu seorang supir yang bertubuh gemuk dan sebuah mobil Suzuki APV warna merah,saya adalah penumpang pertama yang mulai dijemput dari total 6 kursi yang tersedia dalam mobil tersebut.

Didalam mobil tersebut saya disuruh duduk di samping kursi supir dan lumayan juga jarang-jarang duduk disamping supir saat perjalanan menggunakan mobil. Dari Proyek Mrica perjalanan dilanjutkan menuju daerah Nggayam,Banjarnegara atau lebih tepatnya di agen QQ Travell. Disana mobil harus berhenti dulu untuk melakukan cek penumpang dan pembelian tiket. Oh ya tiket Banjarnegara-Jogjakarta dikenakan tarif  Rp. 75.000,sebenarnya sih tergantung dari mana titik penjemputannya. Semakin Dekat ya semakin murah. Dengan tarif tersebut penumpang mendapatkan fasilitas yang cukup,mobil yang dilengkapi AC,mendapat sebotol air mineral juga,yah lumayanlah.

Perjalanan dilanjutkan menuju Wonosobo,disana sudah menunggu seorang penumpang yang juga akan ke Jogjakarta. Didaerah perbatasan Wonosobo- Magelang juga harus menaikan penumpang yang berjumlah 4 orang. Selama perjalanan yang ada adalah rasa sejuk dan nyaman karena cuaca pada pagi itu lumayan mendung walau nggak sampai turun hujan.

Sampai dikota Jogjakarta sekitar pukul  10.00 pagi,itu merupakan perjalanan yang lumayan cepat. Pemberhentian pertama adalah kampus Universitas Ahmad Dahlan untuk mengantar salah seorang penumpang yang akan mengikuti seminar. Kemudian mengantar penumpang selanjutnya ke Bandara Adisucipto Jogjakarta. Kedua tempat tersebut merupakan pengalaman pertama bisa melihat dan mengunjunginya walau cuma di sekitarnya saja.

Dan akhirnya saya adalah penumpang terakhir yang minta diantar ke Amplaz atau Ambarukmo Plaza,niat awalnya sih turun ditempat tersebut tapi atas saran sang sopir katanya lebih enak menunggu di sekitar perempatan lampu merah gedung kantor pos dan gedung BNI 46. Saya sih akhirnya menurut saja dan turun persis di halaman gedung BNI 46 sekitar jam 12.00  sambil bawa ransel yang lumayan berat dan disambut cuaca panasnya kota Jogjakarta.

IMG_20140920_105545

Terlihat remaja sedang bermain skateboard

IMG_20140920_111755

Ibu-ibu penjual nasi kucing dengan dagangannya

IMG_20140920_105831

Tampak gedung Agung dari luar pagar

Ngadem Sejenak Di Monumen Batik Depan Gedung Agung

Ngadem Sejenak Di Monumen Batik Depan Gedung Agung

Kemudian saya menyeberang ke depan Gedung Agung , dan saya turun disitu untuk istirahat. Ternyata perut ini sudah mulai keroncongan mana dari rumah nggak bawa bekal makanan hanya sebotol air minum yang saya tengteng di ransel. Tak disangka persis di depan Gedung Agung terdapat seorang penjual nasi kucing yang baru saja menggelar lapak dagangannya. Tanpa pikir panjang saya langsung meminta sebungkus nasi kucing yang isinya lauk ikan teri dan cabe hijau ditambah sepotong telur dadar. Tak butuh waktu lama untuk melahap seporsi nasi kucing yang lumayan cukup untuk mengganjal perut yang lapar. Dan saya cukup membayar uang Rp. 5000 lumayan murah menurutku.

Sambil menunggu temanku yang naik ojek ke depan Gedung Agung,saya menyempatkan untuk mengabadikan suasana siang itu dengan kamera hp yang murahan itu. Oh ya sebelumnya saya lupa tidak memberi tahu bahwa sebenarnya saya sudah janjian dengan teman di twitter ,kami sebelumnya belum pernah bertatap muka langsung. Kami hanya akrab dan kenal satu sama lewat twitter.

Bersambung….

Advertisements

2 thoughts on “Titik Nol Kilometer, Siang Itu!

  1. fanny fristhika nila

    sekali nyoba, traveling pasti ntr jd ketagihan 😉

    aku buktinya… awal dari baca bukunya trinity traveller, ampe skr jd rutin traveling k tempat/negara yg belum prnh aku visit sebelumnya… pokoknya tiap thn udh bertekad hrs ada 1 tempat baru yg aku bakal datangin…;)

    ampe skr udh 4 thnan jd ga bs berenti ;p

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s